
"Bismillahirrahmanirrahim.... Saya Jaki Al Fathir menginginkan putri Bapak dan Ibu menjadi makmum sholat saya, saya ingin putri Bapak dan Ibu mencium tangan saya setelah selesai sholat, serta saya menginginkan dia sebagai istri dan Ibu dari anak-anak saya kelak. Bersediakah Bapak dan Ibu menerima lamaran saya?" dengan suara lantang dan tegas Ustadz Jaki mengatakannya di hadapan Papa dan Mama Shinta.
Papa dan Mama Shinta tersenyum mendengar kesungguhan Ustadz Jaki. Mereka menoleh ke arah Shinta dan menanyakannya pada putrinya itu.
"Gimana Sayang, apa Shinta mau menerima Nak Jaki menjadi suami kamu?" Papa Shinta bertanya pada Shinta yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya saja.
Beberapa detik mereka menunggu jawaban dari Shinta, akhirnya Shinta mengangguk dengan posisi kepala masih menunduk malu. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Shinta, namun anggukan kepalanya menjadi jawaban dari pertanyaan yang diajukan padanya. Yang artinya Shinta menerima lamaran dari Ustadz Jaki.
"Alhamdulillah....," ucap syukur semua orang mengiringi jawaban Shinta dari anggukan kepalanya.
"Ini sebagai tanda pengikat, Umi pakaikan ya Shinta," Umi Sarifah mengambil kotak yang berisi gelang dan cincin untuk dipakaikan pada Shinta.
Shinta pun berdiri di sebelah Umi Sarifah dan menerima gelang serta cincin yang dipakaikan oleh Umi Sarifah dengan perasaan yang bercampur aduk, antara sedih, senang dan takut.
Sedih karena akan meninggalkan Papa dan Mama nya sebagai anak kesayangan mereka, senang karena akan menjadi istri lelaki yang dicintainya dan takut jika akan terluka karena patah hati. Maklum saja, Shinta belum pernah berpacaran, sehingga dia belum pernah merasakan patah hati.
"Ya sudah, lalu kapan acara pernikahan kalian diadakan?" Papa Shinta bertanya pada Ustadz Jaki dan Shinta.
"Kalau saya sih maunya cepat-cepat Pak," Ustadz Jaki terkekeh setelah mengucapkannya.
"Bagaimana kalau sebulan lagi?" Umi Sarifah memberikan usulnya pada mereka.
"Gak bisa lebih cepat lagi Umi?" Ustadz Jaki menawar agar lebih dipercepat pernikahannya.
"Kamu ini Le maunya cepet-cepet aja, gak tau apa kalau kita harus menyiapkan semuanya," Umi Sarifah mengomeli Ustadz Jaki yang ingin dipercepat pernikahannya.
"Minta bantuan Ayah Rhea aja biar cepat. Wedding Organizer Pak Adrian kan t.o.p b.g.t, pasti mau deh bantuin," Ustadz Jaki memberikan sarannya.
__ADS_1
"Iya nanti aku yang pasang tarif tiga kali lipat sama Ustadz Jaki karena maunya cepat-cepat," tawa Rhea pecah ketika melihat wajah Ustadz Jaki yang mendadak kesal karena menurutnya terlalu lama waktu satu bulan itu.
"Ck, mau jadi lintah penghisap darah Bu?" sindir Ustadz Jaki pada Rhea.
"Ogah, darahnya Ustadz Jaki kan pahit," Rhea menjawab candaan dari Ustadz Jaki.
Semua orang yang sedari tadi senyum-senyum mendengar keinginan Ustadz Jaki, kini tertawa karena mendengar Ustadz Jaki yang sebegitu inginnya menikahi Shinta sehingga meminta acara pernikahannya dipercepat. Akhirnya mereka menyepakati tanggal pernikahan untuk Ustadz Jaki dan Shinta.
Setelah pembicaraan acara khitbah selesai, mereka makan bersama hidangan yang disiapkan khusus oleh keluarga Shinta untuk menyambut kedatangan keluarga dari Ustadz Jaki.
Papa dan Mama Shinta mengobrol dengan Umi Sarifah untuk membahas kelanjutan acara pernikahan anak mereka dan mereka ingin saling lebih mengenal keluarga calon besan mereka. Sedangkan Rhea dan Shinta mengobrol berdua membicarakan kandungan Rhea dan hal-hal lucu tentang Ustadz Jaki yang tidak diketahui oleh Shinta.
Di teras rumah Shinta, Ustadz Fariz sedang gelisah, termenung sendiri dalam beberapa waktu dan hal itu terlihat oleh Ustadz Jaki.
"Kenapa gelisah begitu? Aku yang mau nikah kok situ yang gelisah," Ustadz Jaki tiba-tiba datang mengagetkan lamunan Ustadz Fariz.
"Eh Ustadz, ngagetin aja," jawab Ustadz Fariz tanpa menjawab pertanyaan dari Ustadz Jaki.
"Ustadz, harusnya Ustadz Jaki cepetan balik ke Pondok Pesantren saat kita menyelesaikan masalah santri waktu itu. Coba kalau Ustadz Jaki waktu itu ada, pasti gak akan jadi pikiranku sekarang ini," Ustadz Fariz berwajah gusar saat ini dihadapan Ustadz Jaki.
"Ada masalah apa Ustadz di Pondok Pesantren?" Ustadz Jaki mencoba mencaritahu karena dia juga khawatir jika mengenai Pondok Pesantren Al-Mukmin.
"Bukan masalah Pondok, ini masalah Ustadzah Indri," Ustadz Fariz mulai memberitahu Ustadz Jaki tentang kejadian waktu itu.
Saat itu Rhea merasa ingin sekali mencari suaminya, sehingga dia menyudahi obrolannya dengan Shinta dan pergi menghampiri suaminya yang dia ketahui sedang berada di teras.
Rhea menemukan suaminya sedang berbicara serius dengan Ustadz Jaki. Sengaja Rhea ingin tahu apa yang mereka sedang bicarakan dengan bersembunyi dan mendengarkan obrolan mereka. Karena setahu Rhea, Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki tidak pernah seserius itu jika berbicara berdua.
__ADS_1
"Ustadzah Indri? Ada apa dengan dia?" tanya Ustadz Jaki kaget mendengar nama Ustadzah Indri disebut oleh Ustadz Fariz, karena Ustadz Jaki tahu jika nama Ustadzah Indri didengar oleh Rhea, pasti dia akan cemburu lagi seperti waktu itu.
"Pada saat aku akan pulang, dia menghentikanku dan dengan lugasnya dia mengatakan perasaannya padaku. Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak akan mencintai wanita lain selain istriku, setelah itu aku tinggalkan dia walaupun dia memanggilku," Ustadz Fariz menceritakannya pada Ustadz Jaki.
"Wong edan, nekat banget dia. Kok gak ada malu-malunya sih jadi wanita?" Ustadz Jaki kesal mendengar cerita dari Ustadz Fariz.
"Entahlah, sekarang aku bingung harus bagaimana. Huffft....," Ustadz Fariz menghela nafasnya berat.
"Bingung? Jangan bilang Ustadz ada rasa sama dia?" Ustadz Jaki bertambah kesal.
Rhea kaget mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Ustadz Jaki untuk Ustadz Fariz. Matanya kini sudah berkaca-kaca, dadanya terasa terhimpit, sesak dan berat sekali untuk bernafas. Rhea mencengkeram ujung hijabnya. Namun, jawaban dari Ustadz Fariz membuatnya langsung lega, dadanya kini bisa bernafas lega dan air matanya menetes ke pipinya. Air mata kebahagiaan itu menetes tanpa disadari oleh Rhea.
"Ngawur! Sampai kapanpun cintaku buat Zahra gak akan bisa terbagi dengan siapapun. Ustadz sendiri tau kan perjuangan kami untuk bisa bersatu bagaimana. Aku hanya memikirkan Zahra, karena aku tidak ingin dia berpikiran macam-macam dan sedih. Aku tidak mau melukai hatinya. Aku tidak mau dia menangis," Ustadz Fariz kesal mendengar pertanyaan Ustadz Jaki.
Tidak disadari oleh Rhea ternyata Shinta berada di belakangnya sedari tadi karena Shinta melihat Rhea yang malah bersembunyi bukannya menghampiri suaminya. Shinta memegang kedua pundak Rhea dan berbisik padanya,
"Sudah bisa dipastikan suami kamu setia 100% sama kamu, jadi bumil ini gak boleh terlalu banyak pikiran. Ingat bayi yang ada di kandunganmu harus merasa bahagia selalu. Untuk masalah wanita-wanita itu, kita bisa saling membantu untuk menyadarkan mereka bahwa kitalah yang dipilih dan dicintai oleh lelaki yang mereka inginkan."
"Ya udah kalau gitu sebisa mungkin Ustadz Fariz harus menghindar dari Ustadzah Indri dan tidak berinteraksi langsung dengan dia. Biar aku bantu nanti. Tapi Ustadz Fariz juga harus bantu aku jika Ustadzah Farida mendekati aku, karena aku gak mau rencana pernikahanku dengan Shinta batal hanya gara-gara salah paham," Ustadz Jaki pun membantu memecahkan masalah Ustadz Fariz dengan mengajukan permintaannya juga.
"Ternyata dua lelaki itu setia ya. Apa perlu kita marah pada mereka jika kita cemburu seperti waktu itu?" Shinta berbisik pada Rhea.
"Aku rasa tidak perlu, karena itu hanya bisa menjauhkan kita dari mereka. Kita harus menjaga mereka dengan mengawasinya agar wanita-wanita itu tidak bisa mendekati mereka," Rhea pun berbalas berbisik pada Shinta.
"Shinta, Rhea kenapa ada disitu? Ayo masuk ke dalam," tiba-tiba Mama Shinta berseru dari jarak yang tidak jauh dari Rhea dan Shinta berada.
Rhea dan Shinta kaget dan mereka pun memberikan senyum kikuk ketika menoleh pada Mama Shinta, mereka merasa seolah ketahuan sedang menguping. Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki pun tak kalah kaget mendengar seruan dari Mama Shinta yang memanggil nama Rhea dan Shinta.
__ADS_1
"Apa mereka mendengar obrolan kita?" tanya Ustadz Fariz khawatir.
Ustadz Jaki menggelengkan kepalanya dan berkata, "Semoga aja enggak."