
Ustad Fariz menghempaskan tangan Mirna yang mencekal tangannya.
"Maaf Mirna, semuanya udah jelas dan kamu tidak perlu bersandiwara lagi."
Ustad Fariz meninggalkan ruangan kantornya dengan kesal namun hatinya merasa lega. Dengan langkah lebarnya yang kini merasa ringan, Ustad Fariz bergegas pulang menuju rumah Umi Sarifah.
"Mas... Mas Fariz... Mas..," teriak Mirna yang berniat menghentikan suaminya untuk pergi.
"Mirna, tenangkan dirimu. Sebaiknya kamu ikut Paman pulang ke rumah agar lebih tenang," Pak Ratmo mencegah Mirna untuk mengejar suaminya.
"Tapi Paman-"
"Sudahlah Mirna, kamu harus mendinginkan pikiranmu dulu dan mengintropeksi dirimu dulu. Setelah tenang kamu boleh bicara lagi dengan suamimu," sahut Pak Ratmo untuk menghentikan Mirna yang masih saja ngeyel.
Aku tidak akan mau diceraikan Mas. Lihat aja, pasti kamu menyesal jika menceraikan aku, Mirna membatin penuh emosi.
"Mirna, ayo....," Paman Mirna mengajak Mirna untuk segera pergi dari ruangan tersebut.
"Tunggu Paman, aku masih belum bisa terima. Aku tidak bisa pergi begitu saja. Aku-"
"Mirna... Ayolah jangan buat Paman malu. Kamu ikut paman dulu saja ke rumah," Paman Mirna menarik tangan Mirna, namun Mirna bertahan sekuat tenaga, dia tidak mau bergerak dari ruangan itu.
"Tapi aku difitnah. Aku tidak terima. Aku ingin tahu siapa yang tega memfitnahku," seru Mirna setengah histeris.
"Kalau udah tau siapa orangnya, lalu mau apa?" sahut Ustad Jaki yang geregetan melihat Mirna sedari tadi tidak mau menerima keputusan dari Ustad Fariz.
Mirna menoleh ke belakang, dimana Ustad Jaki dan orang-orang yang lainnya masih ada pada tempatnya. Sebenarnya mereka hendak pergi meninggalkan ruangan itu, namun mereka merasa tidak enak karena masih ada Mirna di depan pintu menghalangi jalan keluar mereka.
"Apa Ustad tau siapa mereka? Aaaah... tidak mungkin kan Ustad tidak tau," Mirna tersenyum meremehkan.
"Untuk apa kamu tau?" ucap Ustad Jaki tegas.
"Akan aku temui mereka," ucap Mirna tidak kalah tegas dari Ustad Jaki.
"Mirna... sudah. Ayo...," Pak Ratmo kembali menarik tangan Mirna, namun Mirna masih saja bertahan di tempatnya.
__ADS_1
"Paman, lepas-"
"Untuk apa? Apa kamu akan meneror mereka?" Ustad Jaki kembali tersenyum meremehkan.
"Kenapa mereka memfitnahku? Atau jangan-jangan ini hanya karangan semata agar Mas Fariz bisa menceraikan aku dengan mudah?" kini Mirna mulai terbawa emosi, dia berbicara dengan nada menantang dan matanya setengah melotot.
"Terserah kamu! Males aku berdebat sama wanita yang selalu ingin menang sendiri," Ustad Jaki meninggalkan ruangan itu dengan perasaan kesal.
"Sudah,sekarang kamu ikut dengan Paman," akhirnya Pak Ratmo tidak lagi melunak, dia menarik tangam Mirna sekuatnya sehingga Mirna tidak bisa bertahan lagi.
Tadinya Pak Ratmo tidak mau mempermalukan Mirna dengan cara menarik paksa seperti ini, agar dia masih memiliki martabat di depan orang lain. Namun semuanya sia-sia, karena Mirna tetaplah Mirna yang dengan keras kepalanya masih bertahan dengan egonya.
Langkah kaki Ustad Fariz kini menjadi ringan, beda dengan langkah kakinya sewaktu berangkat tadi. Rasanya beban yang ada di hatinya sudah hilang. Sudah tidak ada lagi kekhawatiran yang akan menyakiti Zahra nya, istri tercintanya. Ibu dari anak-anaknya.
"Umi, Ayah sama Ibu kok belum datang ya? Padahal kemarin bilangnya mau datang hari ini," Rhea duduk di samping Umi Sarifah yang sedang melihat acara televisi.
Rhea menyandarkan kepalanya di bahu Umi Sarifah seperti layaknya seorang anak yang manja pada Ibunya sendiri. Tentu saja Umi Sarifah sangat senang, karena inilah harapannya sedari dulu, memiliki anak perempuan yang dekat dengannya.
Umi Sarifah mengusap lembut kepala Rhea yang berbalut hijab dengan penuh kasih sayang.
"Sebentar lagi pasti mereka datang. Sabar ya, sekalian kita nanti makan malam bersama," ucap Umi Sarifah dnegan lembut seraya menampilkan senyumannya.
"Belum Nduk, mungkin juga sebentar lagi mereka pulang," jawab Umi Sarifah mengalihkan pandangan matanya dari layar TV menuju wajah Rhea.
"Mmm... Umi, apa Rhea boleh tanya sesuatu?" ucap Rhea ragu.
Umi Sarifah mengangguk dan berkata, "Tentu saja boleh Nduk," sambil tangannya mengusap kepala Rhea.
"Mmm... Umi, apa Umi tau kenapa Ustad Fariz menyuruh Mbak Mirna ke ruangannya sekarang?" tanya Rhea kembali dengan nada ragu-ragu.
Umi Sarifah tersenyum penuh arti menatap Rhea.
"Bukan Umi, bukan seperti yang Umi kira. Rhea gak cemburu kok, beneran, Rhea... Rhea cuma ingin tau aja," ucap Rhea gugup seperti ketahuan melakukan sesuatu.
Umi Sarifah tertawa lepas mendengar perkataan Rhea.
__ADS_1
"Cemburu juga gapapa Nduk, memang Ustad Fariz kan suami kamu, jadi kamu berhak cemburu."
"Tapi Mbak Mirna kan juga istrinya Umi, jadi Rhea gak boleh cemburu. Eh... enggak Umi, Rhea gak cemburu kok, beneran," Rhea tergagap kembali, sepertinya dia tertangkap basah ketahuan cemburu.
Umi Sarifah tertawa lebar melihat Rhea yang seperti itu, keceplosan mengakui tapi masih juga mengelak.
"Udah gak usah dipikirin. Pasti nanti suamimu memberitahumu tentang itu. Ingat, kamu tidak boleh berpikiran yang tidak-tidak, kasihan dedek bayinya," Umi Sarifah memegang perut Rhea sembari mengusap-usapnya dengan pelan.
Rhea pun mengangguk dan tersenyum, kemudian dia ikut menyaksikan acara TV yang ditonton oleh Umi Sarifah sejak tadi.
Umi Sarifah memang dimintai tolong oleh Ustad Fariz untuk menjaga Rhea di rumah. Karena dia tidak mau jika Rhea tahu tentang keputusannya untuk menceraikan Mirna hari ini karena perbuatannya pada Rhea kemarin yang membahayakan Rhea dan kandungannya.
Ustad Fariz tahu jika Rhea pasti akan menghalanginya untuk menceraikan Mirna karena Rhea memang sosok yang pengertian, dia tidak pernah menyalahkan Mirna atas rasa sakit hatinya selama ini. Dia hanya merasa memang kesalahannya hadir dalam hubungan Ustad Fariz dan Mirna.
Namun Ustad Fariz tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana reaksi Rhea jika dia tahu bahwa Mirna yang sengaja membuat dia dan anak yang ada dalam kandungannya celaka.
Ustad Fariz tidak mau membuat Rhea menjadi serba salah dan terlalu banyak pikiran. Jadi dia putuskan untuk merahasiakan niatnya menceraikan Mirna dari Rhea sampai ucapan talak itu sudah dia berikan pada Mirna.
"Assalamu'alaikum...," salam Ustad Fariz berbarengan dia masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumussalam...," jawab Umi Sarifah dan Rhea bersamaan.
Ustad Fariz segera melangkah menuju sumber suara yang menjawab salamnya tadi. Ketika dia sudah menemukan sosok yang dia cari, segera Ustad Fariz memeluk Rhea dengan erat dan penuh perasaan.
Selang beberapa menit, Ustad Fariz mengurai pelukannya dan mengambil tangan Umi Sarifah yang ada di samping Rhea untuk mencium punggung tangannya.
Umi Sarifah tersenyum bahagia ketika melihat raut wajah putranya itu penuh dengan kebahagiaan dan kelegaan.
Setelah itu Ustad Fariz kembali meraih tubuh Rhea dan kembali memeluknya, dengan senyuman bahagianya dia mengecup dahi Rhea tanpa malu pada Umi Sarifah yang ada di sebelah mereka.
"Bie, tumben, kenapa?" tanya Rhea heran.
Ustad Fariz hanya tersenyum sambil memandang penuh kebahagiaan dengan tatapan intens pada Rhea, istri tercintanya, Zahra nya yang kini akan menjadi satu-satunya istrinya.
"Bie... iih gak dijawab, kok malah senyum-senyum sih?" Rhea gemas melihat suaminya.
__ADS_1
Rhea mencubit kedua pipi suaminya secara bersamaan karena gemas pertanyaannya malah di jawab dengan senyumannya yang tentunya membuat Rhea sangat menginginkannya.
"Assalamu'alaikum..."