Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 139 Couple yang luar biasa


__ADS_3

"Sayang, ini aku bawakan baju buat ke acara reunian nanti," seru Ustadz Jaki ketika masuk ke dalam kamar dengan membawa dua paper bag.


"Baju? Baju apaan?" tanya Shinta heran.


"Baju untuk datang ke acara reuni nanti, kan dress code nya warna putih. Katanya kamu mau datang. Kalau gak mau datang alhamdulillah," jawab Ustadz Jaki sambil tersenyum lebar.


"Kan udah punya warna putih," jawab Shinta tanpa mengambil paper bag tersebut dari tangan Ustadz Jaki.


"Itu kan dulu masih single. Sekarang udah ada pasangan, bajunya harus couple dong," jawaban dari Ustadz Jaki ini sukses membuat Shinta membelalak.


Shinta tidak mengira jika suaminya yang bergelar Ustadz ini mengajaknya untuk memakai baju couple seperti pasangan-pasangan yang lainnya.


"Kenapa Sayang, kamu berubah pikiran? Kamu gak jadi mau pergi ke acara reuni nanti? Tentu saja dengan senang hati aku akan mengabulkannya," Ustadz Jaki dengan percaya dirinya mengucapkannya.


"Eh siapa bilang, orang aku pengen banget datang ke reuni mau ketemu-"


"Ketemu siapa?" sahut Ustadz Jaki dengan cepat.


"Ketemu.... ketemu... teman-teman lah," Shinta berpura-pura gugup untuk menjahili suaminya yang pastinya akan cemburu.


Dan benar saja, kini wajah Ustadz Jaki sudah kesal. Dia mendekati Shinta dan memberikan dengan kesal paper bag yang dia bawa.


"Ini, pokoknya harus dipakai," ucap Ustadz Jaki kesal.


Shinta menahan tawanya, sebisa mungkin dia menetralkan ekspresinya. Matanya membelalak sempurna ketika menjembreng baju yang dia ambil dari dalam paper bag tersebut.


"Beneran aku harus pakai ini?" tanya Shinta pada Ustadz Jaki dengan mengeluarkan semua yang ada di dalam paper bag tersebut.


Ustadz Jaki mengangguk dan tersenyum lebar sambil berjongkok di depan Shinta yang sedang duduk di ranjang.


"Hebat kan pilihan suamimu ini?" ucap Ustadz Jaki dengan bangganya.


"Kenapa gak pakai baju biasa aja sih?" tanya Shinta dengan membolak-balikkan baju yang sedang dipegangnya.

__ADS_1


"Untuk istriku harus luar biasa," jawab Ustadz Jaki sambil tersenyum lebar.


"Apa gak terlalu mencolok pakai ini ke acara reuni?" tanya Shinta yang sebenarnya keberatan jika memakai itu nanti ke acara reuni mereka.


"Enggaklah, kamu kan spesial," jawab Ustadz Jaki.


Kemudian Ustadz Jaki mendekat dan lebih mendekat ke arah Shinta. Sedangkan Shinta sedang sibuk membolak-balik dan mengeluarkan semua yang ada di dalam paper bag yang ada di depannya.


Merasa diacuhkan, Ustadz Jaki semakin mendekatkan dirinya pada Shinta, sehingga tubuh Ustadz Jaki sekarang berada persis di hadapan Shinta.


"Mau ngapain?" tanya Shinta heran melihat suaminya berada di hadapannya dengan memajukan bibirnya.


"Minta bayaran buat beliin baju itu tadi," jawab Ustadz Jaki, setelah itu dia memajukan kembali bibirnya di hadapan Shinta.


"Berapa?" tanya Shinta yang sangat suka menjahili suaminya.


"Bukan pakai uang, pakai ini," jawab Ustadz Jaki sambil menunjuk bibirnya, setelah itu memajukan kembali bibirnya.


"Oh gini..," ucap Shinta sambil tangannya mencakup bibir Ustadz Jaki dengan jari-jari tangannya sambil menahan tawanya.


Lama-kelamaan Ustadz Jaki mendekat dan lebih mendekat sehingga apa yang Ustadz Jaki mau tadi terlaksana sudah. Akhirnya Shinta terlena oleh perlakuan suaminya dan terjadilah apa yang diinginkan oleh suaminya di hari yang masih disinari oleh matahari.


Sore harinya Shinta dan Ustadz Jaki keluar dari kamarnya menggunakan pakaian yang sudah disiapkan oleh Ustadz Jaki. Mata Rhea membelalak kaget melihat Shinta menggunakan gamis pesta warna putih beserta cadarnya. Sedangkan Ustadz Jaki memakai kemeja warna senada yang memang Ustadz Jaki beli untuk pasangan.


Ustadz Fariz menahan senyumnya karena dia takut Shinta akan malu jika dia tertawa sehingga dia tidak mampu berkata-kata untuk menjahili Ustadz Jaki, karena jika dia berkata pasti tawanya tidak bisa tertahankan.


"Shin, kamu mau ke acara pesta atau reunian?" tanya Rhea yang masih saja melihat Shinta dari atas sampai bawah.


"Tuh kan, dibilangin gak percaya ih... sebel....," Shinta merengek pada Ustadz Jaki sambil memukul-mukul lengan Ustadz Jaki.


"Kenapa sih, bagus gini loh. Rhea nih bikin perkara aja," ucap Ustadz Jaki sambil memandang Rhea dengan kesal.


"Lah masa' ke acara reuni kayak mau ke acara pesta. Lagian tumben banget pakai cadar," ucap Rhea heran melihat Shinta.

__ADS_1


"Huss... Sayang, gak boleh gitu, kali aja Shinta udah dibuka pintu hatinya jadi pakai cadar sekarang. Semoga kamu juga bisa seperti itu," Ustadz Fariz menyahuti ucapan Rhea.


"Apaan, ini dipaksa tuh sama dia," Shinta melirik tajam Ustadz Jaki yang ada di sebelahnya.


"Hahaha... aku tau kenapa kamu dipaksa pakai cadar," Ustadz Fariz akhirnya tidak bisa menahan tawanya.


"Biar gak ada yang tau kalau itu Shinta. Habisnya dulu kan banyak cowok yang suka sama dia. Tiap acara reuni mereka selalu ngerubutin Shinta. Kalau pakai gini kan aman," Ustadz Jaki menjelaskan idenya dengan bangga.


"Aman apanya? Justru dengan Shinta berpakaian seperti ini malah akan mengundang perhatian mereka semua," ucap Rhea dengan gemas.


"Lagian nih ya, Shinta tuh datangnya sama kamu. Pastilah mereka tau kalau itu Shinta," Ustadz Fariz ikut menyahuti dengan gemas.


"Iya ya... tapi kan seenggaknya mereka gak bisa lihat wajah cantik istriku," ucap Ustadz Jaki yang kemudian menjulurkan lidahnya pada Ustadz Fariz untuk mengolok-olok Ustadz Fariz.


"Tetap aja, pe-mak-sa-an," ucap Rhea dengan menekankan kata 'pemaksaan'.


"Dasar suami istri kompak bener saling membela," ucap Ustadz Jaki yang membuat Ustadz Fariz dan Rhea tersenyum bangga dan kemudian Ustadz Fariz melingkarkan tangannya di pundak Rhea.


"Masya Allah cantiknya menantu Umi... mau menghadiri pesta ya?" tiba-tiba Umi Sarifah berseru senang melihat Shinta ketika keluar dari kamarnya.


Ustadz Fariz dan Rhea kembali tertawa, dan itu membuat Shinta bertambah kesal dan malu.


"Tuh kan cantik banget kata Umi. Udah yuk berangkat," Ustadz Fariz tersenyum bangga mengatakannya pada Shinta.


"Gak mau. Mau ganti aja," Shinta merengek dan bertahan ketika tangannya ditarik Ustadz Jaki untuk berjalan.


"Gak ada. Udah cantik gini masa' mau ganti. Kalau ganti malah gak jadi berangkat," Ustadz Jaki memberi ancaman pada Shinta sehingga dengan terpaksa Shinta menuruti perintah suaminya.


Sebenarnya Shinta sangat senang menghadiri acara reuni tersebut karena dia akan bertemu dengan sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu karena berada di luar pulau. Dan tidak bisa hadir pada saat Shinta menikah. Sehingga sahabatnya itu tidak mengetahui jika Shinta menikah dengan Ustadz Jaki, karena pada saat Shinta mengundang melalui pesan dan telepon, Shinta hanya mengatakan dia akan menikah dan dia harus datang untuk mengetahui siapa pengantin prianya.


Dan dikesempatan inilah sahabatnya itu khusus datang karena ingin bertemu dengan Shinta yang katanya sudah menikah.


Di tempat acara itu diadakan, benarlah kini Shinta mengundang perhatian mereka. Semua mata tertuju pada Shinta.

__ADS_1


"Jaki...! benar kan kamu Jaki? Ih tambah keren aja deh kamu. Bisa kita ngobrol sebentar?" suara wanita itu membuat Shinta menjadi senang, bibirnya tersenyum ketika melihatnya, namun dia menjadi kesal ketika wanita itu mengajak Ustadz Jaki untuk ngobrol bersama dirinya.


__ADS_2