
"Padahal aku dulu itu mengidam-idamkan punya menantu yang rumahnya jauh biar bisa ikut mudik. Eh gak taunya sekarang punya menantu yang rumahnya teramat sangat jauh," ucap Ustadz Jaki sambil berjalan ke rumah Ustadz Fariz.
"Ini kan jauh banget Bi," tukas Shinta sambil berjalan di sebelah Ustadz Jaki.
"Iya, saking jauhnya kita sampai naik helikopter. Nanti mendaratnya di situ tuh, di lapangan Pondok Pesantren Al-Mukmin," sahut Ustadz Jaki sambil menunjuk lapangan Pondok Pesantren Al-Mukmin yang akan mereka lewati.
Shinta dan Salsa terkekeh mendengar perkataan Ustadz Jaki. Mereka sangat tahu jika Ustadz Jaki tidak pernah bisa marah pada orang-orang yang disayanginya.
"Assalamu'alaikum...," ucap salam Ustadz Jaki diikuti oleh Shinta dan Salsa.
"Wa'alaikumussalam...," jawab Rhea dan Ustadz Fariz dari dalam rumah.
Mereka berdua berjalan ke arah pintu menyambut tamu yang memberi salam.
"Eh ada tamu dari jauh," ucap Rhea setelah melihat Ustadz Jaki, Shinta dan Salsa sudah duduk di ruang tamu.
"Kok kita gak dengar suara kendaraan? Jangan-jangan kalian naik sepeda ya ke sini," ucap Ustadz Fariz sambil terkekeh.
"Siapa bilang? Kami tamu dari tempat yang sangat jauh, jadi kami ke sini naik helikopter. Tuh helikopternya nangkring di lapangan Pondok Pesantren," sahut Ustadz Jaki dengan bangganya.
"Wah kaya dong. Pinter dong Izam pilih mertua kaya," tukas Ustadz Fariz sambil terkekeh.
"Kaya mony-"
"Stop. Jangan mulai deh," Ustadz Jaki menyela ucapan Rhea sambil mengarahkan telapak tangannya ke arah Rhea agar berhenti bicara.
"Udah... udah... kita ini mau berangkat apa berdebat? Kebiasaan deh kalau udah kumpul," tukas Shinta setelah melihat jam yang terdapat di dinding ruang tamu tersebut.
"Sebentar, tunggu Izam sama Yasmin dulu, mereka lagi siap-siap di kamar," jawab Rhea sambil menengok ke arah dalam rumahnya.
"Salsa, kamu panggil aja ya mereka di kamar. Suruh cepetan, kita udah nunggu di sini," tukas Rhea pada Salsa.
"Eh, i-iya Bun," jawab Salsa ragu.
"Gak usah gugup gitu, kayak gak pernah masuk kamar Yasmin sama Izam aja," ucap Ustadz Fariz sambil terkekeh.
"Jangan digodain mulu anak gadis orang," sahut Ustadz Jaki sambil memberi jalan Salsa yang hendak melewatinya.
"Oh situ orang rupanya," ucap Ustadz Fariz sambil kembali terkekeh.
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim... ini calon besan ngajakin gelut nih," ucap Ustadz Jaki sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Ustadz Fariz, Rhea dan Shinta tertawa mendengar Ustadz Jaki yang kesal pada lawan bicaranya. Mereka senang jika membuat Ustadz Jaki kesal, karena biasanya Ustadz Jaki lah yang suka sekali membuat orang lain menjadi kesal.
Sesampainya di lantai atas, tepatnya di depan kamar Izam dan Yasmin, Salsa ragu akan mengetuk pintu yang akan dia ketuk lebih dahulu.
Yasmin dulu atau Kak Izam dulu? tanya Salsa dalam hatinya sambil menunjuk pintu kamar Yasmin dan Izam secara bergantian.
Setelah beberapa detik dia berpikir, akhirnya dia memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Yasmin terlebih dahulu.
Tok... tok... tok...
Pintu kamar Yasmin diketuk oleh Salsa dan terdengarlah suara Yasmin dari dalam kamarnya.
"Siapa?" tanya Yasmin berseru dari dalam kamarnya.
"Salsa," jawab Salsa menyebutkan namanya sambil tangannya bersiap di gagang pintu untuk membuka pintu kamar tersebut.
"Masuk!" seru Yasmin dari dalam kamarnya.
Dari dalam kamar, Izam mendengar suara calon istrinya itu, terbersit lah kejahilan Izam saat ini.
Dengan segera Salsa melihat ponselnya itu, dia tersenyum melihat nama Izam pada layar ponselnya. Segera dibukanya pesan yang dikirim Izam untuknya.
Matanya melotot membaca pesan yang dikirimkan oleh Izam untuknya.
"Humairah? Siapa Humairah?" tanya Salsa lirih dan sedikit ada rasa cemburu dalam hatinya.
"Ada apa Kak?" tanya Yasmin yang sudah berada di dekat Salsa.
"Ehemmm... pesan dari calon suami nih," tukas Yasmin sambil terkekeh menggoda Salsa.
Namun, Salsa tidak tersenyum ataupun tertawa, dia hanya diam memikirkan nama Humairah yang disebutkan oleh Izam.
Melihat ekspresi wajah Salsa seperti itu, Yasmin jadi penasaran dengan pesan yang dikirimkan oleh Kakaknya. Yasmin mengarahkan ponsel yang masih dipegang oleh Salsa lebih mendekat padanya agar dia bisa membacanya.
"Humairah, aku mendengar suaramu. Apa itu benar-benar kamu?" ucap Yasmin membaca pesan yang dikirimkan oleh Izam pada Salsa.
"Hahahaha...."
__ADS_1
Tiba-tiba saja Yasmin tertawa setelah membaca pesan tersebut. Salsa memandang Yasmin dengan tatapan bingung.
"Kak Salsa pasti mengira Kak Izam salah kirim ya? Kak Salsa pasti cemburu ya?" tanya Yasmin pada Salsa sambil terkekeh.
Salsa mengernyitkan dahinya, dia tidak mengerti dengan apa yang membuat Yasmin tertawa.
"Kamu ini Yasmin, udah tau aku lagi kesel, kamu malah tertawa," tukas Salsa yang bibirnya mengerucut karena kesal.
"Ih Kak Salsa yang lucu, orang Kak Izam gak salah kok," ucap Yasmin sambil terkekeh.
"Maksudnya?" tanya Salsa dengan memicingkan matanya melihat Yasmin.
"Humairah, itu nama panggilan kesayangan Kak Izam pada Kak Salsa. Masa' Kak Salsa lupa dengan nama sendiri sih? Nama Kak Salsa kan Salsabila Humairah," tutur Yasmin sambil terkekeh melihat Salsa yang kaget ketika mendengar ucapannya.
"Kok bisa?" celetuk Salsa yang masih terlihat kaget.
"Kan nama panggilan kesayangan. Kemarin Kak Izam menanyakan Kak Salsa pada Yasmin dengan menyebut nama Humairah bukan Salsa. Mangkanya Yasmin tau kalau sekarang Kak Izam mempunyai panggilan kesayangan buat Kak Salsa," tukas Yasmin yang kini tersenyum geli melihat raut malu pada wajah Salsa.
"Ya udah yuk Kak, kita turun. Kelamaan nanti dimarahin Abi," ucap Yasmin sambil menggandeng tangan Salsa keluar dari kamarnya.
Salsa kembali dikagetkan oleh Izam ketika keluar dari kamar Salsa. Ternyata pada saat bersamaan Izam pun keluar dari dalam kamarnya.
Izam tersenyum manis pada Salsa, sedangkan Salsa salah tingkah, dia gugup dan malu bertemu dengan Izam, calon suaminya.
Yasmin yang mengetahui kegugupan Salsa, mencoba membantunya. Yasmin menarik tangan Salsa untuk berjalan menuju ruang tamu di mana semuanya sudah menunggu mereka.
"Lama banget sih, kalian gak ngapa-ngapain kan?" tanya Ustadz Jaki dengan wajah serius.
"Husss... lambemu," sahut Ustadz Fariz sambil memukul pelan bibir Ustadz Jaki.
"Ya kali aja mereka ngapa-ngapain, jadi sekarang aja langsung kita nikahin mereka," ucap Ustadz Jaki sambil terkekeh.
Setelah guyonan itu, mereka berangkat menuju Pondok Pesantren Al Hikmah, tepatnya ke rumah Kyai Anwar.
Di sana semua keluarga sudah menunggu keluarga Ustadz Fariz. Mereka menyambut keluarga besar Pondok Pesantren Al-Mukmin itu dengan sangat terhormat.
"Jadi, bagaimana keputusanmu Izam?" tanya Kyai Anwar pada Izam ketika mereka sudah duduk berkumpul di ruang tamu.
"Maaf Kyai, saya menolak perjodohan ini," ucap Izam dengan tegas dan menatap mata Kyai Anwar dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Kyai Anwar dengan sedikit menaikkan nada suaranya.