
Pintu ruang operasi sudah ditutup. Mirna berharap-harap cemas di dalam ruang operasi tersebut. Namun Anita yang selalu menemaninya, kini menunggunya di depan ruang operasi dan berdoa untuk kelancaran operasi Mirna.
"Dok, kondisi pasien menurun," seorang bidan tergopoh-gopoh lapor pada dokter Shinta.
Dengan segera Shinta berlari dari ruangannya menuju bed Ani yang sudah ada dokter Dion sedang memeriksa di sana.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya dokter Shinta pada dokter Dion.
"Sepertinya yang harus segera ditolong bayinya dok. Ibunya baik-baik saja," ucap dokter Dion setelah memeriksa kondisi Ani.
Segeralah dokter Shinta memeriksa kondisi kandungan Ani, dengan paniknya dia memerintahkan para perawat untuk menyiapkan ruang operasi.
"Cepat siapkan ruang operasi sekarang juga!" seru Shinta pada perawat yang ada di sana.
"Tapi dok-" sahut Ani yang seolah keberatan.
"Kenapa Bu? Bayi Ibu harus cepat ditolong sekarang juga," tukas Shinta dengan meninggikan suaranya.
"Baik dok lakukan," sahut Pandu.
"Tapi biayanya-" ceplos Ani tidak sadar.
"Saya yang akan menanggungnya!" seru Shinta setelah itu dia pergi meninggalkan Ani dan Pandu yang terbengong seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Dokter Dion pun ikut terbengong tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia tidak mengira jika dokter Shinta akan membantu membiayai perawatan orang yang tidak dia kenal sama sekali. Dokter Dion tersenyum dan merasa kagum dengan dokter Shinta.
Ani dibawa masuk ke ruang operasi berpapasan dengan bed Mirna yang dibawa keluar oleh perawat.
"Bu Mirna!" Hana berseru memanggil Mirna yang masih belum sadar karena pengaruh dari obat.
"Hana?!" Anita memanggil nama Hana ketika mendengar Hana memanggil nama Mirna.
"Mbak Anita....," Hana berlari menuju Anita dan memeluknya.
"Ibu Hana mau melahirkan Mbak. Adek Hana mau lahir," Hana memberitahu Anita.
__ADS_1
"Wah, selamat ya Hana. Semoga Ibu Hana dan adek Hana selamat ya," Anita mengatakan doanya pada Hana.
Hana pun mengangguk dan merangkul Anita. Pandu merasa tidak enak pada Anita melihat Hana yang selalu bergelayut padanya.
"Hana, ayo kita menunggu Ibu di sana," Pandu menunjuk kursi tunggu yang berada di depan ruang operasi yang tidak jauh dari kursi yang ditempati oleh Anita.
"Hana sama Mbak Anita aja ya Pak," Hana berbicara pada Pandu.
"Tapi Mbak Anita sedang sibuk Hana, dia sedang menunggui Bu Mirna," Pandu mencoba menjelaskan pada Hana.
"Hana, Mbak Anita ke Bu Mirna dulu ya. Nanti Mbak Anita janji akan ke sini lagi. Kalau Bu Mirna sudah sadar pasti Mbak Anita datang ke sini," Anita menjelaskan pada Hana.
"Janji ya Mbak Anita?" Hana bertanya pada Anita.
"Iya, Mbak Anita janji," jawab Anita dengan senyum manisnya yang bisa membuat Hana luluh.
Anita pergi ke ruangan Mirna setelah Hana melepaskan pelukannya. Sebenarnya Anita tidak tega melihat Hana yang mengharapkan kehadirannya ketika dia membutuhkan seseorang untuk menguatkannya, namun dia harus menemani Mirna yang juga sangat membutuhkannya.
Selang beberapa menit saja, tiba-tiba mata Mirna terbuka. Mirna mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan binar cahaya dari lampu kamarnya yang masuk ke dalam retina matanya.
"Mbak... Mbak Mirna sudah sadar?" Anita segera mendekati Mirna.
"Nit, apa aku masih hidup?" pertanyaan Mirna ini membuat Anita terkekeh.
"Alhamdulillah Mbak Mirna masih hidup," ucap Anita dengan terkekeh.
"Sebentar Mbak, Anita mau panggil dokternya dulu," sambung Anita kemudian.
Mirna hanya diam, dia merasakan rasa yang bercampur-campur setelah dioperasi tadi. Mata Mirna menelusuri seluruh ruangannya, dia tidak percaya jika dia berada di tempat ini lagi, tempat yang beberapa tahun lalu dia tempati untuk menjalani operasi yang sama.
Kadang dia berpikir jika Allah tidak adil dengannya. Dia telah mengambil kedua orang tuanya, dan telah membuatnya berpisah dengan suaminya.
Dan kini dia harus berjuang sendiri untuk menyembuhkan penyakitnya, tanpa ada pasangan yang bisa memberikan dukungan padanya.
Kadang dia juga membayangkan bisa berjalan bergandengan tangan dengan suaminya dan anak mereka, serta bercanda bersama dengan bahagia.
__ADS_1
Mirna menghela nafasnya melihat disekelilingnya yang hanya kosong dan terasa hampa tanpa kehadiran siapapun kecuali.... Anita dan Pak Ratmo, pamannya.
Anita masuk bersama dengan perawat dan dokter yang menanganinya. Dengan senyumnya dokter tersebut memeriksa keadaan Mirna.
"Sekarang Bu Mirna sudah baik-baik saja. Dan untuk ke depannya masih sama seperti yang dulu ya Bu, harus rutin memeriksakan. Semoga setelah ini Bu Mirna terbebas dari penyakit yang sama. Saya tinggal dulu Bu, diminum ya obatnya. Kalau ada apa-apa bisa menghubungi perawat-perawat yang sedang bertugas," ucap dokter tersebut setelah memeriksa kondisi Mirna saat ini.
"Terima kasih dok," ucap Anita mewakili Mirna yang masih kelihatan lesu.
Dokter tersebut mengangguk, setelah itu keluar dari kamar inap Mirna bersama perawat yang sedari tadi menemaninya.
"Mbak Mirna kenapa?" tanya Anita yang sedari tadi memperhatikan Mirna yang terlihat lesu dan sedih.
Mirna hanya menggeleng, namun beberapa detik kemudian dia berkata,
"Nit, aku gak mau sakit gini lagi. Aku ingin hidup normal dan sehat seperti yang lain Nit," ucap Mirna dengan lesu dan wajah sedihnya.
"Mbak Mirna akan sembuh. Tenang aja Mbak, kita akan sama-sama berdoa dan berusaha agar Mbak Mirna bisa terbebas dari penyakit ini," Anita mencoba menenangkan Mirna.
"Apa aku juga bisa kembali mempunyai keluarga? Aku ingin mempunyai suami dan anak Nit. Aku ingin merasakan kebahagiaan bersama keluarga utuh yang di dalamnya ada aku, suamiku dan anak-anak," Mirna memberitahukan keinginannya dengan membayangkan dirinya bersama Ustadz Fariz dan anak-anak mereka.
"Pasti bisa Mbak. Yakinlah Mbak, Allah pasti akan mengabulkan permintaan Mbak Mirna untuk mempunyai keluarga dan anak," Anita kembali menenangkan Mirna.
Semoga apa yang kamu katakan bisa terwujud Nit. Aku ingin sekali kembali bersama Mas Fariz dan hidup bahagia dengan anak-anak kami, Mirna berdoa dalam hatinya.
Di ruang operasi, dokter dan perawat yang sedang melakukan operasi kelahiran bayi Ani merasa lega karena bayi tersebut bisa tertolong.
Dari ruang tunggu di depan ruang operasi terdengar suara tangis bayi ketika ruang operasi dibuka untuk memindahkan bayi tersebut ke ruang perawatan bayi.
"Itu adek bayi Hana Pak?" tanya Hana pada Pandu ketika melihat bidan membawa keluar bayi tersebut dari ruang operasi.
"Sepertinya iya. Hana sekarang sudah jadi kakak," ucap Pandu terharu dan memeluk Hana.
Beberapa saat kemudian dokter Shinta keluar dari ruang operasi dan menghampiri Pandu serta Hana yang sedang berpelukan.
"Selamat Pak anak Bapak sudah lahir, dia-"
__ADS_1
"Dok! Pasiennya.....," seru perawat dari dalam ruang operasi memanggil Shinta.