Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 214 Adu mulut khas ibu-ibu


__ADS_3

Tangan Mirna meraih tangan salah satu anak yang berbicara buruk tentang Hana.


"Eh, aduuuh sakiiiiit...." ucap anak tersebut sambil meringis kesakitan.


"Tante, tante apa-apaan sih? Lepasin tangan teman saya!" ucap teman si anak yang tangannya ditarik oleh Mirna.


"Tante, lepasin dong tangan teman saya. Lihat dia kesakitan!" sahut si teman anak tersebut yang lainnya.


"Enak aja, kalian tuh masih kecil omongannya udah kayak tukang gosip aja. pasti ibu kalian ngajarinnya gak bener. Awas kalau kalian ngomongin Hana lagi!"


"Ibu.... Ibu... tolong....!"


Si anak yang tangannya ditarik oleh Mirna berteriak meminta tolong pada ibunya.


"Pokoknya awas kalau kalian berbicara buruk lagi tentang Hana, saya ibunya Hana tidak akan tinggal diam. Ingat itu!"


Mirna berseru memperingatkan pada ketiga anak yang membicarakan Hana hingga membuat Hana menjadi sedih dan takut.


"Lepaskan tangan anak saya! Berani-beraninya kamu menyentuh anak saya, mau saya laporkan polisi kamu?"


Tiba-tiba ada suara ibu-ibu di belakang Mirna yang mengaku sebagai ibunya anak tersebut dan berteriak marah pada Mirna.


Ibu itu tidak rela anaknya disentuh apalagi disakiti oleh Mirna hingga anaknya mengadu kesakitan.


Tangan Mirna dihempaskan oleh si ibu tersebut dari tangan anaknya. Dengan wajah penuh amarah si ibu tersebut mengatakan kata-kata pedasnya pada Mirna.


"Ibu ini siapa? Berani-beraninya nyakitin anak saya. Saya aja sebagai ibunya gak pernah nyakitin dia."


Si ibu anak tersebut memarahi Mirna dengan mata yang melotot sempurna dan wajah kemarahannya pada Mirna membuatnya terlihat sangat menakutkan.


Kurang ajar, dia melototi aku. Mana menakutkan lagi mukanya kalau marah. Dipikir aku gak berani apa sama dia? Lihat aja, meskipun begini-begini aku juga jago marahin orang, Mirna menggerutu dalam hatinya ketika si ibu tadi marah padanya.


"Saya Ibunya Hana. Saya gak terima anak Ibu membicarakan hal buruk tentang anak saya. Anak Ibu menjelek-jelekkan anak saya. Anak saya sampai gak mau berangkat sekolah gara-gara anak Ibu yang selalu mengoloknya. Jadi jangan salahkan saya jika saya memperingatkan anak Ibu yang kurang ajar itu."


Mirna membalas perkataan ibu si anak tersebut agar tidak kalah dengannya.


"Ibu... jangan bertengkar. Ayo kita pulang saja. Hana gak mau sekolah lagi. Hana pindah saja sekolahnya."

__ADS_1


Hana berlari ketika mendengar keributan dan melihat Mirna sedang menarik tangan temannya serta memperingatkannya.


Tadinya Hana ingin segera mendekati Mirna dan menyuruhnya untuk melepaskannya, namun Hana mengurungkan niatnya karena melihat ibu si anak tersebut mendekati Mirna dan anaknya itu serta marah pada Mirna.


Suara lantang dari Si ibu anak tersebut dan Mirna membuat baby Emir menangis, dan tangisannya semakin menjadi ketika mereka berdua beradu mulut membenarkan sikap mereka dan anak mereka masing-masing.


"Anak Ibu memang pembawa sial. Lihat saja nenek Izam meninggal karena menyelamatkan dia. Dan Izam, kasihan dia masih kecil harus merasakan masa pemulihan setelah kecelakaan karena menyelamatkan neneknya yang menyelamatkan anak pembawa sial itu. Jadi apa namanya kalau bukan anak pembawa sial?"


Dengan suara lantangnya si ibu anak tersebut berbicara enteng sesuai dengan pikirannya.


"Ibu jangan sembarangan ya, anak saya bukan pembawa sial. Nenek Izam meninggal karena sudah waktunya saja dia meninggal, dan memang kan sudah tua, jadi wajar saja jika meninggal. Jangan salahkan anak saya yang masih berumur panjang karena bukan dia yang ingin meminta untuk ditolong. Nenek Izam sendiri yang menolongnya."


Mirna melawan dengan bangganya semua perkataan si ibu anak tersebut agar tidak terlihat kalah dari ibu tersebut.


Tangisan baby Emir tidak membuat mereka berdua berhenti beradu mulut. Dan banyaknya anak-anak serta ibu-ibu yang mengantar anaknya sekolah pun turut menyaksikan perdebatan sengit antara Mirna dan ibu dari anak tersebut.


"Ibu... ayo pulang. Jangan bertengkar. Ayo pulang Bu. Adik Emir menangis Bu, dia ketakutan."


Hana menggoyang-goyangkan lengan Mirna untuk memintanya menghentikan pertengkaran mereka. Namun sayangnya Mirna tetaplah Mirna, dia tidak mau diremehkan orang lain dan dia tidak akan pernah mengalah karena itu akan melukai harga dirinya.


"Halah, namanya anak pasti dibelain. Coba kalau Ibu situ yang meninggal, bisa belain kayak gitu gak? Palingan situ juga pasti bilang kalau anak ini pembawa sial."


"Enak aja, an-"


"Astaghfirullahaladzim... Mbak Mirna! Sudah hentikan Mbak. Gak malu apa dilihat orang banyak?"


Tiba-tiba Ustadz Jaki berada di sana dan menghentikan Mirna ketika dia akan melawan kembali ucapan ibu tersebut.


"Ustadz?!"


Si ibu anak tersebut kaget melihat Ustadz Jaki yang melerai mereka.


Semua orang tahu jika nenek Izam, yang meninggal dalam kecelakaan itu adalah ibu dari Ustadz Jaki. Sehingga ibu tersebut merasa sungkan pada Ustadz Jaki karena membawa-bawa nama ibunya ketika bertengkar dengan Mirna.


Berbeda dengan ibu anak tersebut yang sungkan pada Ustadz Jaki, Mirna melirik Ustadz Jaki dengan tatapan sinis dan tidak suka.


"Ngapain ikut-ikutan? Apa tidak boleh seorang ibu membela anaknya?" ucap Mirna dengan sewotnya pada Ustadz Jaki.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim, bukan itu Mbak. Kalian Ibu-ibu harusnya tidak memberikan contoh yang buruk pada anak-anak kalian. Dan apa ini? Kalian bertengkar di hadapan anak-anak kalian. Dan parahnya lagi kalian tidak mempedulikan tempat di mana kalian berada. Sekarang ini kalian berada di sekolah, apa pantas kalian bertengkar seperti itu?"


Ustadz Jaki mengatakannya untuk menyadarkan Mirna dan ibu anak tersebut. Namun Mirna menganggapnya berbeda. Mirna menganggap Ustadz Jaki ikut campur urusannya seperti biasanya.


"Halah, situ ngapain ke sini? Gak usah ikut-ikutan urusan orang lain deh. Kebiasaan banget sih mencampuri urusanku?"


Mirna menjawab dengan sewot dan tatapan kesalnya melihat Ustadz Jaki.


"Astaghfirullahaladzim, pantas saja anaknya seperti itu, Ibunya saja tidak menghormati seorang Ustadz," cibir ibu anak tersebut pada Mirna.


Sontak saja Mirna memelototi ibu anak tersebut dengan lebarnya. Dan hal itu membuat ibu anak tersebut bergidik ngeri melihatnya.


"Sudah, bubar semua. Biar anak-anak kita bisa belajar dengan tenang."


Ustadz Jaki kembali bersuara untuk membubarkan mereka semua. Dan semuanya pun bubar kecuali Mirna dan ibu anak tersebut.


Beberapa detik kemudian datanglah pihak guru yang ingin melerai mereka berdua, namun sudah dilerai oleh Ustadz Jaki.


"Maaf Ibu-Ibu sekalian, bisakah kita berbicara di kantor saja? Jangan sampai mengganggu ketenangan anak-anak yang sedang belajar Bu. Kita bisa menyelesaikan semua permasalahan dengan baik-baik."


Guru tersebut memberikan solusi untuk mendamaikan mereka berdua.


Salsa menatap kesal pada Hana yang berada di samping Mirna.


Pagi ini Hana memang sudah mulai bersekolah lagi karena Izam sudah bertambah membaik dan akan bersekolah kembali dalam beberapa hari lagi jika keadaannya jauh lebih baik lagi.


Ustadz Jaki lah yang mengantarkan Salsa pagi ini sekalian mengantar Shinta berangkat ke rumah sakit untuk bekerja.


Dan hal yang tidak disangka, ternyata di sekolah Ustadz Jaki mendapati Mirna yang sedang beradu mulut dengan ibu-ibu yang juga tidak mau kalah dengan Mirna sehingga dia merasa harus melerainya.


"Maaf Bu, anak saya sedang menangis, lain kali saja kita membicarakannya."


Mirna menolak keinginan guru tersebut yang ingin mendamaikan Mirna dengan ibu anak tersebut.


"Gimana anak gak nangis, udah tau lagi gendong anak bayi malah suaranya menggelegar kayak petir, gimana bayinya gak nangis?" ucap Ustadz Jaki dengan suara lirih berjalan melewati Mirna.


Mirna yang mendengar ucapan Ustadz Jaki bertambah kesal dan menatap kepergian Ustadz Jaki dengan sejuta kemarahan dalam hatinya.

__ADS_1


Awas kamu ya, lihat saja pasti akan ku balas!


Teriak Mirna dalam hatinya untuk meluapkan kemarahannya pada Ustadz Jaki.


__ADS_2