
Pandu mencari akun yang bernama Rheina Az Zahra ataupun Rhea. Dia mencari satu persatu dengan melihat foto profil mereka. Dan dia menemukan satu akun media sosial berlambang huruf F yang sudah tidak pernah digunakan oleh Rhea. Akun tersebut merupakan akun lama Rhea semenjak dia bersekolah hingga dia menikah dengan suaminya yang pertama.
Dibukanya akun tersebut dan dia mulai melihat setiap yang ada pada media sosial Rhea. Pandu tersenyum melihat foto-foto Rhea yang sama persis dengan ingatannya. Dan matanya membelalak ketika melihat foto dirinya bersama dengan Rhea.
Jadi benar aku ada hubungannya dengan wanita ini? Rhea namanya, dan apa hubungan kita? Pandu berkata dalam hati ketika melihat foto Rhea dengannya sebelum mereka menikah.
Foto pernikahan memang tidak pernah diunggah oleh Rhea di media sosialnya, hanya foto-foto mereka berdua saja yang ada, itupun bukan Rhea yang mengunggahnya, melainkan suaminya lah yang menandai Rhea dalam foto tersebut sehingga ada dalam akun media sosial Rhea.
Sedangkan sekarang, Rhea hanya tidak menggunakan akun media sosial itu lagi karena endorse-endorse yang datang padanya menggunakan media sosial yang lain. Dan di media sosial itu Rhea menggunakan nama Zahra yang di dalamnya terdapat foto-foto kehidupannya masa kini bersama keluarganya.
Lama Pandu melihat-lihat foto-foto Rhea hingga dia menemukan bio Rhea yang menyebutkan bahwa dia sudah menikah dengan seseorang.
Tanpa pikir lama Pandu menekan akun yang ada dalam bio pernikahan Rhea. Matanya membelalak sempurna ketika mendapati dirinyalah yang ada dalam akun tersebut. Foto-foto yang terpampang dalam akun tersebut adalah dirinya, dan ada beberapa fotonya bersama dengan Rhea.
Pandu mengernyitkan alisnya menahan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya ketika dia melihat nama pada akun media sosial tersebut, Andri Brahmana.
"Kanapa Mas?" tanya remaja laki-laki tersebut ketika melihat Pandu menahan kepalanya dengan kedua tangannya.
"Tidak, tidak apa-apa. Apa aku bisa meminjamnya kembali kapan-kapan? Dan tentunya kamu harus membantuku kembali untuk mencarikannya," ucap Pandu sambil menahan rasa sakit di kepalanya.
"Boleh Mas jika saya ada di rumah tentunya. Mas cari saja saya jika ke sini," jawab remaja laki-laki tersebut.
"Oh iya nama kamu siapa? Saya Pan-, eh An-" ucap Pandu menggantung karena ragu dan bingung.
"Siapa Mas namanya? Saya Bimo," ucap remaja laki-laki tersebut memperkenalkan namanya dan mempertanyakan nama Pandu yang sebenarnya adalah Andri.
__ADS_1
Pandu ragu menyebutkan nama Pandu atau Andri karena kini dia sudah tahu dan benar-benar ingat namanya yang sebenarnya. Tapi untuk ingatan yang lainnya, dia masih harus mencari tahu dan berjuang kembali untuk mengingatnya.
"Emm.... Pandu, panggil saja Pandu," ucap Pandu memperkenalkan dirinya.
"Baiklah Mas Pandu, apa ada yang bisa saya bantu lagi? Ini mumpung saya masih ada di rumah," Bimo menawari Pandu bantuannya.
"Emmm... bisakah kamu mencari tau di mana dia tinggal dan bekerja?" Pandu bertanya pada Bimo dengan penuh pengharapan dengan memperlihatkan akun Andri Brahmana pada Bimo.
"Sebentar Mas, biasanya sih mereka memperlihatkan lokasinya atau kadang memperlihatkan suatu tempat yang merupakan jawaban dari pertanyaan dari Mas Pandu tadi," Bimo menjelaskan pada Pandu.
"Coba kamu lihat siapa tau ada di sana," Pandu menyuruh Bimo dan tanpa pikir panjang Bimo pun melakukan apa yang Pandu minta.
"Bukannya ini Mas Pandu? Kok namanya Andri Brahmana? Kalian mirip sekali," ucap Bimo sambil membandingkan wajah Pandu dengan foto yang ada pada akun media sosial tersebut.
"Dia... dia saudara kembarku. Aku sedang mencarinya karena kami sudah lama tidak bertemu," Pandu mencoba berbohong pada Bimo, dan ternyata Bimo percaya begitu saja.
"Eh kok ini seperti ada di daerah tempat kerjaku ya Mas? Sebentar... sebentar... eh benar ini, tempat ini ada di daerah tempat kerja saya Mas," ucap Bimo tanpa ragu ketika melihat-lihat foto-foto yang ada pada akun media sosial Andri Brahmana.
"Benarkah? Di mana?" tanya Pandu dengan sangat antusias.
"Di kota tempat saya bekerja Mas. Ini, tempat yang ada di foto-foto ini kebanyakan diambil di daerah tempat saya bekerja," Bimo menjelaskan pemikirannya.
"Di kota mana?" tanya Pandu dengan antusias.
"Pandu, Bapak sudah selesai. Ayo kita pulang saja. Sudah jam segini kasihan Ani dan Hana di rumah sendiri," tiba-tiba suara Pak Minto terdengar bersamaan dengan Pak Minto yang sedang keluar dari dalam rumah.
__ADS_1
Bimo tidak menjawab pertanyaan Pandu karena lupa akan pertanyaan Pandu setelah disela oleh perkataan Pak Minto barusan.
"Bagaimana keadaan kaki Bapak saya Pak? Apa perlu saya bawa ke rumah sakit saja?" Bimo bertanya pada Pak Minto tentang keadaan Bapaknya sehingga dia lupa akan menjawab pertanyaan dari Pandu sebelumnya.
"Bapakmu sudah agak mendingan. Paling juga setelah ini sudah bisa jalan. Besok Bapak kamu saya obati dan saya pijat lagi biar bisa cepat sembuh. Sekarang saya mau permisi dulu," ucap Pak Minto sebelum dia berjalan meninggalkan rumah tersebut.
Pandu tidak berani bertanya kembali pada Bimo karena ada Pak Minto diantara mereka, dan Pandu rasa dia bisa menanyakannya kembali besok pada saat mereka kembali datang ke rumah tersebut.
"Hari ini kita belum bisa mencari pekerjaan untukmu, besok saja kita mencari lagi. Kasihan Ani sendiri bersama Hana di rumah," ucap Pak Minto pada Pandu sambil berjalan beriringan dengan Pandu.
Pandu mengangguk dan tersenyum ketika Pak Minto menoleh padanya.
Gapapa Pak, saya sudah mendapatkan dua petunjuk dan dua ingatan saya. Rheina Az Zahra, Rhea, wanita yang ada dalam hidup saya saat itu, yang ternyata adalah istri saya dan nama saya yang sebenarnya, Adrian Brahmana, Pandu berkata dalam hatinya dengan senyum yang terbit di bibirnya.
Pak Minto pun tersenyum. Dia lega karena Pandu sudah tidak membicarakan kembali tentang keinginannya untuk bekerja ke kota. Pak Minto hanya khawatir jika Pandu akan meninggalkan Ani bersama Shinta sendiri, sedangkan Pak Minto sudah tua, dia khawatir jika dia meninggalkan Ani dan Hana sendiri sewaktu-waktu karena dia tidak tahu kapan ajalnya akan tiba.
Setibanya di rumah, Ani sudah berdandan cantik agar suaminya mengurungkan keinginannya untuk pergi ke kota. Dia ingin suaminya berat untuk meninggalkannya.
Pandu dan Pak Minto menatap heran pada Ani yang penampilannya tidak seperti biasanya, namun mereka tidak mengambil pusing ataupun mempertanyakannya pada Ani. Mereka hanya bersikap seperti biasanya pada Ani.
Pada malam harinya, ketika Hana sudah tertidur, Ani mulai melaksanakan aksinya. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa membuat Pandu tidak bisa jauh darinya.
Tampak Pandu yang sedang meminum obat ramuan dari Pak Minto, dia sangat bersemangat meminumnya agar dia cepat mendapatkan kembali ingatannya yang hilang itu.
Tiba-tiba saja Ani membuka bajunya dihadapan Pandu, dan melakukan hal yang sama pada Pandu, serta memulai aksinya untuk membuat Pandu terbuai padanya. Pandu kaget karena Ani tidak seperti biasanya, dan Pandu merasakan hal yang sama setiap selesai meminum obat tersebut.
__ADS_1
Ani tersenyum bahagia karena apa yang dilakukannya disambut oleh Pandu tanpa paksaan darinya. Namun satu hal yang tidak diketahui oleh Ani, wajah yang ada dihadapan Pandu adalah wajah Rhea, Rheina Az Zahra yang wajahnya selalu terbayang di matanya.