
"Minggat lagi?" seru Ustad Jaki kaget.
Ustad Fariz mengangguk sambil meneruskan memberi minum Rhea. Ustad Jaki menoleh pada Umi Sarifah seolah bertanya padanya dam Umi Sarifah menggeleng karena dia memang tidak tahu.
"Gak dijemput?" tanya Ustad Jaki penasaran.
"Biar dia pulang sendiri," jawab Ustad Fariz sembari menggeleng.
"Bagus, kalau dia bisa pergi pasti dia bisa kembali. Gak usah dijemput, nanti jadi kebiasaan," ucap Ustad Jaki.
"Tadi aku juga udah ngomong gitu ke Pamannya," ucap Ustad Fariz menimpali perkataan Ustad Jaki.
"Udah dua kali ini loh dia minggat gak pamit," ucap Ustad Jaki sambil memakan puding buatan Rhea.
"Namanya juga minggat, ya gak pamit lah," ucap Ustad Fariz sambil mengelap mulut Rhea dengan tisu.
"Ibarat kerja nih dia udah dapat SP, Surat Peringatan. Berarti bisa dapet talak 1 tuh," canda Ustad Jaki.
"Ustad!" seru Rhea memperingatkan Ustad Jaki.
"Iya... iya. Lagian kamu tuh peduli banget sama dia, padahal dia aja gak pernah peduli sama kamu," ucap Ustad Jaki sambil mengunyah pudingnya.
"Karena dia istri suamiku, dia yang menemani dan merawat suamiku sejak beberapa tahun yang lalu sebelum aku menikah dengannya," jawab Rhea.
Jawaban Rhea tentu membuat Ustad Fariz dan Umi Sarifah sangat bahagia, karena mereka merasa tidak salah pilih.
Ustad Fariz mengusap-usap lembut kepala Rhea yang berbalut hijab. Rhea memberikan senyumannya dan senyum itu menular pada suaminya.
"Waah... kamu sungguh istri yang sempurna," ucap Ustad Jaki dengan mengacungkan kedua jempolnya.
"Istri siapa dulu dong," sahut Ustad Fariz.
"Bingung kalau ditanya itu, soalnya kemarin aja yang nurutin ngidamnya aku," canda Ustad Jaki sambil tersenyum meledek.
Seketika Ustad Fariz menatapnya dengan tatapan tajam. Rhea menunduk, takut jika suaminya kembali cemburu dan marah.
"Jaki...."Umi Sarifah memanggil nama Ustad Jaki untuk memperingatkannya.
"Guyon... guyon... ah pada spaneng aja nih semua," Ustad Jaki tertekeh.
"Guyon mu membangkitkan sesuatu Le," sahut Umi Sarifah sambil menggelangkan kepalanya heran.
"Cemburu! Hahaha...," seru Ustad Jaki setelah mencium tangan Umi Sarifah.
"Umi, Jaki mau tadarus dulu. Assalamu'alaikum....," ucap Ustad Jaki ketika akan keluar dari rumah.
"Wa'alaikumussalam..," jawab mereka bertiga bersama.
"Dasar anak itu gak berubah. Kamu jangan terpancing sama dia Le. Kamu tau kan kalau dia memang seperti itu?" Umi Sarifah khawatir jika Ustad Fariz terpancing candaan Ustad Jaki.
"Tidak Umi, aku tidak akan terpancing," jawab Ustad Fariz tersenyum sambil tangannya menggapai untuk menggenggam tangan Rhea.
Kepala Rhea tidak lagi menunduk, dia menatap ke arah suaminya yang tiba-tiba menggengam tangannya. Rhea memberikan senyumnya ketika melihat senyuman dari suaminya yang menenangkannya.
"Umi masuk ke kamar aja deh daripada mengganggu," ledek Umi Sarifah membuat pipi Rhea bersemu merah.
"Ah Umi, disini aja sama Rhea, aku mau ke Masjid ikut tadarusan dulu sebentar," Ustad Fariz memegang tangan Umi Sarifah yang sudah berdiri hendak berjalan ke kamarnya.
"Loh Le gak ngaji di rumah aja?" tanya Umi Sarifah.
"Sebentar kok Umi, setelah itu ngaji di rumah," jawab Ustad Fariz sembari mencium punggung tangan Umi Sarifah.
__ADS_1
"Sayang, aku tinggal sebentar ya ke Masjid, kamu disini aja sama Umi. Kalau udah pengen istirahat, langsung ke kamar aja ya. Aku janji cuma sebentar kok," pamit Ustad Fariz sembari mengecup dahi Rhea.
Rhea mengangguk dan tersenyum manis.
"Hati-hati Bie," ucapnya melepas kepergian suaminya.
Ustad Fariz balas tersenyum dan mengangguk. "Assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikumussalam....," jawab Rhea dan Umi Sarifah bersamaan.
Sebenarnya Ustad Fariz hanya memberi waktu untuk Umi Sarifah berkumpul dengan Rhea, karena dari dulu impiannya adalah mempunyai anak perempuan yang bisa menemaninya di rumah agar tidak kesepian.
Dan terbukti dengan kehadiran Rhea di rumah Umi Sarifah untuk pertama kalinya waktu itu, Umi Sarifah sangat senang dan nyaman seperti anaknya sendiri.
Hal itu berbanding terbalik dengan Mirna. Selama bertahun-tahun Mirna berada di Pondok Pesantren Al-Mukmin, dia tidak pernah bisa membuat Umi Sarifah sebahagia seperti saat Umi Sarifah bersama Rhea.
"Bie... Bie udah tidur ya?" Rhea menggoyang-goyang lengan suaminya.
"Mmmm... ada apa sayang? Apa ada yang sakit?" tanya Ustad Fariz yang langsung terbangun dari tidurnya karena khawatir.
"Enggak Bie... emmm cuma...i-itu...," ucap Rhea ragu.
"Kenapa sayang? Ada apa?" tanya Ustad Fariz sambil membelai pipi istrinya.
"Itu... lagi pengen sesuatu," ucap Rhea lirih.
"Kenapa sih? Pengen apa sayang?" tanya Ustad Fariz penasaran.
"Pengen martabak Bie," ucap Rhea semangat dengan senyum lebarnya yang memperlihatkan giginya.
"Hah, malam-malam gini? Ini udah jam satu loh sayang, bentar lagi juga sahur. Pasti penjualnya juga udah pulang," Ustad Fariz membawa tubuh Rhea ke dalam pelukannya agar istrinya tidak sedih.
"Besok aja ya martabaknya, sekarang yang lain aja yang bisa aku masakin mungkin," tawar Ustad Fariz agar istrinya tidak bersedih.
"Mmm... nasi goreng aja deh, kayak yang pagi pertama kita masak waktu itu. Mmm.. tapi yang pedes ya Bie, kayaknya aku pengen banget makan yang pedes-pedes," Rhea mengatakan sambil membayangkan makan makanan yang pedas.
"Besok kan kamu puasa sayang, gak baik makan yang pedes-pedes," tutur Ustad Fariz.
"Tapi pengen Bie, ya... ya... ya...," rengek Rhea dengan muka mengiba.
"Kasihan dedek bayinya sayang...," bujuk Ustad Fariz.
"Sekali aja Bie... ya... ya...," rengek Rhea sambil mengalungkan tangannya ke leher suaminya dan mengerjap-ngerjapkan matanya untuk merayu suaminya.
"Aduuuh... gak nahan deh kalau kayak gini," ucap Ustad Fariz sambil menganggukkan kepalanya.
"Yeee...," seru Rhea kegirangan serta mencium pipi kanan suaminya.
"Yang sini belum, iri nanti, kasihan," ucap Ustad Fariz sambil menunjuk pipi kirinya.
Setelah itu Rhea mencium pipi kiri suaminya.
"Yang ini belum juga, kasihan Yang," ucap Ustad Fariz menunjuk dahinya.
Rhea menggelengkan kepala melihat suaminya yang pintar menerapkan kejahilannya dalam situasi yang menguntungkannya.
Langsung saja Rhea mencium dahi, mata kiri, mata kanan, pipi kiri, pipi kanan, hidung dan bibirnya.
"Udah, biar gak pada iri semua, biar adil," ucap Rhea sumringah.
Ustad Fariz tertawa mendapatkan ciuman bertubi-tubi dari istri tercintanya.
__ADS_1
"Ya udah tunggu disini ya, aku masakin nasi gorengnya dulu," ucap Ustad Fariz sambil beranjak dari ranjang.
"Bie, tunggu...," seru Rhea menghentikan langkah kaki suaminya yang baru berjalan selangkah.
"Ada apa sayang....," tanya Ustad Fariz sambil menoleh ke belakang dimana istrinya berada.
"Sini...," Rhea melambaikan tangannya agar suaminya mendekat ke arahnya.
Ustad Fariz kembali mendekat pada istrinya.
"Hadap sana," perintah Rhea dengan menunjuk ke arah depannya ketika suaminya sudah mendekat.
Ustad Fariz berbalik dan tanpa aba-aba Rhea telah naik ke punggung suaminya dengan tangan yang sudah melingkar pada leher suaminya dan kakinya sudah terkait untuk menahannya agar tidak terjatuh.
"Gendoooong....," rengek Rhea saat sudah naik di punggung suaminya.
"Ya ampun sayang, kamu ini ada-ada aja. Ya udah kamu pegangan yang kuat agar tidak jatuh," Ustad Fariz mengarahkan kedua tangannya kebelakang untuk menahan tubuh istrinya agar tidak jatuh.
"Siap Hubby ku tersayang," seru Rhea dengan riangnya.
"Kamu hamil tambah manja deh sayang," ucap Ustad Fariz sambil berjalan.
"Gak suka?" tanya Rhea.
"Suka banget malah," jawab Ustad Fariz sambil terkekeh.
Tiba-tiba Rhea mengecup pipi suaminya. Ustad Fariz tertawa kecil mendapatkan ciuman dari istrinya. Namun tidak hanya sekali, tiap suaminya menuruni anak tangga, saat itu juga Rhea mengecup bergantian pipi kanan dan kirk suaminya.
"Kalau kayak gini sih aku gak bakalan nolak sayang," ucap Ustad Fariz sambil tertawa geli.
"Harus dikasih hadiah biar semangat nurunin tangga," jawab Rhea sembari mempererat pegangan tangannya dan menyandarkan kepalanya di ceruk leher suaminya.
"Sayang, kalau kayak gini mending kita makan di kamar aja yuk," ucap Ustad Fariz sambil berjalan menuju dapur.
"Masak aja belum, udah ngajak makan di kamar," ucap Rhea yang kini sibuk mengendus-endus aroma tubuh suaminya di lehernya.
"Sayang, kamu menyentuh daerah berbahaya. Makan kamu aja yuk di kamar," ucap Ustad Fariz sambil mendudukkan Rhea di meja counter dapur kemudian dia mengecup singkat bibir istrinya dan menatap bibir itu lama seolah-olah memanggilnya untu memberikan uang lebih dari kecupan sekilas saja.
"Bie gak usah ngadi-ngadi deh. Ayo masak dulu," ucap Rhea dengan gusar ditatap seperti itu oleh suaminya.
Ustad Fariz tersenyum melihat kegusaran istrinya yang terlihat jelas di matanya. Kejahilan Ustad Fariz pun bertambah. Dia mulai perlahan-lahan mendekatkan wajahnya. Rhea mulai memejamkan matanya ketika wajah suaminya bertambah dekat.
Namun karena lama tidak merasakan apapun, Rhea mulai membuka matanya dan ternyata suaminya tersenyum menggoda padanya dengan menunjukkan wadah garam yang dia ambil dari belakang Rhea.
"Ngapain matanya merem gitu? Ngode ya?" ucap Ustad Fariz menggoda.
"A-apaan, orang aku cuma kelilipan aja kok. Mmm... lagian ngapain tadi pake deket-deket gitu wajahnya Bie?" jawab Rhea gugup.
"Cuma mau ambil garam sayang, kan ada di belakang kamu. Kamu kira ngapain hayooo.... Ngatain orang mesum, ternyata.....," ucapan Ustad Fariz belum selesai karena tiba-tiba tangan Rhea sudah berada di mulutnya.
Rhea malu, reflek tangan Rhea membungkam mulut suaminya agar tidak meneruskan perkataannya.
Umi Sarifah yang akan ke dapur untuk membuat teh hangat mundur seketika karena melihat pasangan suami istri yang sedang menebar keromantisan di dapur.
Umi Sarifah tersenyum memperhatikan dua sejoli itu yang tidak terusik sama sekali dengan kehadirannya. Umi Sarifah pun berdoa dalam hati agar mereka berdua selalu diberikan kebahagiaan dengan keluarga mereka sampai maut memisahkan mereka berdua.
Keadaan dapur yang tadinya sunyi kini menjadi penuh canda dan tawa dari pasangan suami istri yang selalu seperti pengantin baru jika bersama.
Berbanding terbalik dengan keadaan di rumah Pak Ratmo, Paman Mirna. Mirna bermimpi Ustad Fariz bercanda dengan Rhea dan anaknya. Mereka bercanda dan tertawa layaknya keluarga yang harmonis dan sangat bahagia. Setelah itu dia bangun dan berteriak sambil melempar jam weker nya dari atas nakas ke sembarang arah.
"Aaaaaaarghhh.... Liat aja wanita sialan, aku tidak akan membiarkanmu merebut kebahagiaanku!"
__ADS_1