
Apa yang dibicarakan oleh Pandu membuat hati Ani sangat sakit. Dia tidak mengira jika suaminya bisa berkata seperti itu tentang pernikahannya dan tentang bapaknya yang telah berjasa banyak pada dirinya.
Dengan segera Ani masuk ke dalam ruang tamu untuk menghentikan pembicaraan suaminya karena dia tidak ingin mendengar lebih jauh lagi apa yang akan suaminya katakan pada mantan istrinya.
Sontak saja semua orang kaget melihat Ani masuk ke dalam ruang tamu dan ucapan Pandu pun terhenti ketika Ani bertanya pada Pandu ketika masuk ruang tamu.
"Tapi aku-"
"Mas... apa sudah selesai? Hana sepertinya rewel," Ani tiba-tiba masuk ke dalam ruang tamu mengagetkan mereka semua sehingga perkataan Pandu terhenti.
"Hana, mana dia?" tanya Pandu pada Ani yang masih berdiri di sebelah Pandu.
Ani mencoba menetralkan sikapnya meskipun hatinya terluka. Dia tidak ingin anak-anaknya tidak memiliki orang tua. Jadi, lebih baik dia yang bertahan meskipun nantinya Pandu tidak lagi bersikap baik padanya seperi dulu.
"Hana ada di dalam," jawab Ani dengan mencoba menahan kesal di dadanya.
"Ayo semuanya kita sarapan dulu. Ini makanannya sudah siap semua," tiba-tiba Umi Sarifah masuk ke ruang tamu untuk mengajak mereka semua makan.
Namun hanya ada kesunyian dalam ruang tamu tersebut setelah Umi Sarifah mengajak mereka makan. Hingga Umi Sarifah curiga, bahwa ada sesuatu yang terjadi di sana.
"Le, ajak tamu kita makan bersama di dalam," kini Umi Sarifah beralih menatap Ustadz Fariz dan berbicara padanya.
Ustadz Fariz menghela nafasnya, dia takut jika istrinya malah tidak akan bisa makan jika mereka satu meja makan dengan mantan suaminya yang kini memaksanya untuk kembali padanya.
Namun Ustadz Fariz tidak bisa membantah ucapan Umi Sarifah. Dengan berat hati dia mengajak mereka untuk makan bersama keluarga besar mereka sekarang ini.
"Ayo kita ke dalam, kita sarapan bersama dulu," ucap Ustadz Fariz sambil memegang lengan Rhea untuk membantunya berdiri.
Pandu masih saja memperhatikan Rhea, tampak raut wajah kesal ketika melihat Ustadz Fariz dan Rhea yang sangat romantis dan saling melempar senyum seperti biasanya.
"Maaf, tapi kita-"
"Turuti saja apa kata Umi, lagi pula anda sedang hamil, lebih baik isi perut anda agar bayi dalam kandungan anda tetap sehat," jawab Ustadz Fariz menyahuti Ani yang merasa keberatan makan bersama mereka.
Ustadz Fariz menggandeng Rhea seperti biasanya menuju ruang makan. Di sana terdengar celotehan Izam, Salsa dan Hana dari ruang tamu. Mereka berbicara sambil memakan bubur ayam mereka serta menonton tayangan kartun di televisi.
Tampak di ruang makan sudah duduk Shinta dan Umi Sarifah yang menunggu mereka semua untuk makan bersama mereka.
__ADS_1
Setelah duduk, seperti biasa Rhea mengambilkan Ustadz Fariz nasi dan lauk pauknya, kemudian dia mengambilkan Umi Sarifah nasi dan lauk pauknya.
"Ehem... Rhea dan Kyai Fariz yang terhormat, karena ada tamu di meja makan ini diharap kalian tidak makan sepiring berdua seperti biasanya. Takutnya nanti mereka tidak terbiasa dan baper. Apa kalian mengerti?" ucap Ustadz Jaki yang berusaha membantu Ustadz Fariz dan Rhea namun dengan candaannya.
"Sudah biarkan saja, mereka kan sudah terbiasa seperti itu. Ayo kita mulai makannya," Umi Sarifah menengahi tanpa tahu apa maksud dari Ustadz Jaki.
"Bilang aja kalau iri," seperti biasa, Shinta menimpali ucapan suaminya.
"Siapa bilang iri? Pengen kok bukan iri. Kita juga makan sepiring berdua aja yuk sayang, biar gak kalah sama mereka yang selalu menebar keromantisan dan keuwuan di mana pun mereka berada," Ustadz Jaki menanggapi ucapan Shinta.
Shinta masih sibuk mengambil nasi untuk dirinya sendiri setelah mengambilkan nasi dan lauk untuk Ustadz Jaki. Dan di saat Ustadz Jaki akan berbicara kembali, Shinta memasukkan sendok yang berisi satu sendok penuh nasi ke dalam mulut suaminya. Dan itu mengundang tawa Ustadz Fariz, Rhea, Shinta dan Umi Sarifah seperti biasanya.
Pandu yang merasa kesal masih saja memperhatikan Rhea dan dia bertambah kesal ketika melihat Rhea yang makan satu piring berdua dengan suaminya diselingi senyum serta kadang kalanya mereka saling menyuapi seperti biasanya.
Sedangkan Ani merasa sungkan, tidak enak dan tidak nyaman berada di tengah-tengah keluarga mantan istrinya. Dan ditambah lagi suaminya yang membuat dirinya sakit hati hingga nafsu makannya tidak ada dan nyeri diperutnya terasa lebih sering muncul.
"Bu... Hana udah selesai makannya," ucap Hana sambil membawa mangkuk bekas makannya tadi mendekat pada Ani.
"Sini, biar Ibu yang bawa," tukas Ani sambil mengambil mangkuk yang dibawa oleh Hana.
"Hana mau minum Bu," ucap Hana sambil meraih gelas yang berada di meja makan.
Ustadz Fariz dan Rhea tersenyum memperhatikan Hana yang masih kecil seperti Izam dan Salsa. Kemudian Ustadz Fariz dan Rhea saling menatap dan melempar senyuman.
"Mau anak perempuan?" tanya Ustadz Fariz pada Rhea.
Rhea tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah itu mereka saling tersenyum kembali. Hal itu tak luput dari pengamatan Pandu.
Dia kini diselimuti rasa kesal dan marah. Dia merasa tidak adil dengan semuanya, sehingga dia menguatkan niatnya untuk mengambil semua apa yang dia miliki di masa lalu, termasuk keluarga dan semuanya.
"Bunda....!"
"Manda...!"
Izam dan Salsa membawa mangkuk bekas makan mereka ke ruang makan untuk diberikan pada Rhea dan Shinta.
"Ehemmm.... anak-anak Abi pintar ya, makannya habis," Ustadz Fariz memuji Izam dan Salsa.
__ADS_1
"Eh anak Abi Jaki juga loh itu," sahut Ustadz Fariz sesudah menelan makanannya.
"Iya dong buatan Bunda, pasti enak dong. Iya gak Salsa?" Izam menyombongkan masakan Bundanya dan dia meminta dukungan dari Salsa.
"Masakan Bunda selalu enak. Dia aja tadi bilang enak banget. Iya kan?" Salsa menjawab pertanyaan Izam dengan menunjuk Hana.
Hana mengangguk dan berkata dengan tegas,
"Namaku Hana."
Izam dan Salsa mengangguk-anggukan kepalanya, namun setelah itu Salsa berkata,
"Tapi kita kan gak tanya namanya ya kak?"
Izam yang merasa Salsa bertanya padanya mengangguk setuju dengan ucapan Salsa. Memang Salsa terkadang menyebalkan sama seperti Ustadz Jaki jika berbicara. Dan itu biasanya membuat mereka para orang tua tertawa, namun untuk sekarang mereka menuturi Slasa karena mereka melihat Hana yang terlihat sedih mendengar ucapan dari Salsa.
Rhea memberi kode pada Shinta. Dan Shinta lah yang harus memperingatkan Salsa sebagai ibunya.
"Salsa, gak boleh gitu ya. Dia juga temannya Salsa. Iya kan Izam?" Shinta memperingatkan Salsa.
"Kan Salsa cuma bercanda. Iya kan Kak?" ucap Salsa meminta dukungan dari Izam.
"Iya, biasanya juga gitu. Ya udah yuk Salsa kita minum jus di dalam," Izam mengajak Salsa meninggalkan ruang makan.
"Mbak Atik... Izam sama Salsa minta jus...," Izam berteriak pada Mbak Atik diikuti oleh Salsa yang mengatakan persis seperti apa yang diucapkan oleh Izam.
Hana memandang mereka berdua mulai dari berjalan masuk hingga sudah tidak terlihat sosok mereka berdua, namun hanya terdengar suara mereka berdua berteriak saja. Hana merasa iri dengan mereka berdua.
"Bu, apa kita akan tinggal di sini? Hana suka tinggal di sini," ucap Hana pada Ani dan didengar oleh semua orang.
Umi Sarifah memandang Rhea dan Ustadz Fariz yang berubah ekspresi wajahnya ketika Hana berbicara pada ibunya. Umi Sarifah merasakan ada yang aneh dengan Rhea dan tamu mereka.
"Rhea, aku harap bisa meneruskan pembicaraan kita yang belum selesai tadi," ucap Pandu yang masih berada di meja makan dan melihat Rhea beranjak dari kursinya.
Rhea merasa tidak enak karena Umi Sarifah kini menatapnya dengan penuh tanda tanya. Dan Rhea sendiri juga sudah memutuskan dalam hatinya agar dia bisa membuat Pandu tidak bisa menemuinya lagi setelah ini. Rhea menghela nafasnya berat. Dia tidak mengira jika mantan suaminya akan segigih ini.
"Baiklah, tapi hanya sebentar karena masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan," jawab Rhea dengan nada datar.
__ADS_1
"Rhea, apa yang terjadi padamu hingga kamu berada di sini?" tanya Pandu setelah mereka semua berkumpul di ruang tamu seperti tadi.
"Apa hubunganmu dengan Silvi?" tanya Rhea pada Pandu, mantan suaminya.