
"Ada apa sayang?" jawab Ustad Fariz berlari tergopoh-gopoh karena mendengar teriakan dari istrinya.
"Gawat Bie," ucap Rhea dengan ekspresi sedih.
"Kenapa sayang, kamu sakit?" Ustad Fariz memperhatikan tubuh istrinya dari atas sampai bawah dan depan belakang.
"Mmmm... rice cooker nya lupa gak aku tekan tombol on nya. Hehehehe....," cengiran Rhea membuat Ustad Fariz bertambah gemas.
Saking gemasnya pada istrinya, Ustad Fariz mencubit hidung mancung istrinya itu dan memainkannya ke kanan dan ke kiri.
"Aaawww... sakit Bie...," seru Rhea membuat Ustad Fariz terkekeh.
"Ya udah kita makan di luar aja ya sekalian kita berkendara," ajakan Ustad Fariz disambut gembira oleh Rhea.
"Yeaaay.... makasih Bie," ucap Rhea senang sambil mencium pipi kanan suaminya.
Sambil tersenyum Ustad Fariz meletakkan jari telunjuknya pada pipi kirinya. Melihat itu Rhea langsung menciumi semua bagian wajah suaminya agar tidak meminta lebih lagi.
Ustad Fariz mengajak Rhea makan di luar sesuai dengan janjinya. Sebelum mereka berangkat, mereka mampir ke rumah Umi Sarifah untuk berpamitan padanya. Umi berpesan agar mereka tidak pulang larut malam, karena Rhea sedang mengandung.
Mereka pun tidak berani melanggar perintah dari Umi Sarifah yang merupakan orang tua mereka di Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Pilihan mereka berakhir di warung nasi Padang yang tidak jauh dari Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Tidak disangka, Mirna dan Pamannya juga berada di sana. Mereka datang ketika Ustad Fariz dan Rhea sedang makan.
Mirna terbakar cemburu, siang tadi saja masih belum hilang rasa kesalnya melihat mereka berkejar-kejaran seperti anak kecil, namun orang yang tau mereka adalah pasangan pasti mereka akan mengatakan bahwa mereka sangat bahagia.
Seperti sekarang ini, Mirna merasa mereka berdua makan bersama tanpa mengingat dirinya.
Jahat kamu Mas, istri tidak pulang bukannya dicari malah enak-enakan, mesra-mesraan sama istrinya yang lain. Kamu benar-benar keterlaluan Mas! Pasti wanita itu yang melarang Mas Fariz menjemput ku. Tunggu saja pembalasan dari ku.
"Mir, ini lauknya udah kebeli. Ayo pulang," ajak Pak Ratmo seraya menyadarkan lamunan Mirna.
__ADS_1
"Ta-tapi itu-"
"Udah lah Mir, kamu mau mengganggu mereka sedang makan? Kamu gak malu dilihat banyak orang. Ayo!" Pak Ratmo menarik tangan keponakannya.
Dengan terpaksa Mirna mengikuti Pamannya pergi dari tempat itu karena tangan Paman Mirna sangat kuat sekali menariknya. Padahal menurut Mirna itu tadi merupakan momen yang bagus untuk mempermalukan Rhea di muka umum.
"Mirna, Paman harap kamu jangan mempermalukan dirimu sendiri. Sudah cukup perbuatan mu selama ini. Tolong jangan buat Paman malu Mir, kamu harus bisa jadi contoh anak-anak Paman yang juga perempuan sama seperti kamu. Ibu mereka sudah tidak ada, tolong berilah contoh yang baik bagi mereka," tutur Pak Ratmo.
"Paman ini kenapa sih? Paman lihat gak tadi mereka? Mereka berdua makan dengan lahapnya tanpa ingat aku tidak ada di rumah. Mas Fariz juga kenapa tidak mencari ku, padahal dia pasti tau aku ada di sini," ucap Mirna yang masih merasa benar.
"Ya memang dia tau kamu ada di sini. Tapi dia tidak mau menjemputmu," jawab Pak Ratmo sambil meletakkan lauk di atas piring.
"Pasti wanita itu yang menghalangi Mas Fariz untuk menjemput ku. Mas Fariz tidak akan tega padaku. Aku udah hidup bertahun-tahun dengannya, jadi aku tau bagaimana sikap Mas Fariz terhadapku," dengan percaya dirinya Mirna mengatakan itu pada Pamannya.
"Mungkin dia terlalu lelah menghadapi mu Mirna. Kamu selalu menuntut hak mu pada suamimu. Apakah kamu sudah melaksanakan semua tanggung jawab mu sebagai seorang istri?" pertanyaan Pak Ratmo sangat menohok bagi Mirna, namun Mirna berkeyakinan bahwa dia selalu menjadi istri yang baik untuk suaminya.
"Paman ini ngomong apaan sih? Paman kan gak tau hubungan Mirna bagaimana dengan suami Mirna," sewot Mirna karena seolah-olah dia bukan istri yang baik menurut Pamannya.
"Memangnya Mirna kenapa? Selama ini aku selalu mendukung suamiku. Sampai-sampai dia menikah sama cinta pertamanya aja aku dukung. Kurang apa coba?" ucap Mirna sambil mengambil nasi dan lauk ke piringnya.
"Mendukung berarti menerima Mir. Apa selama ini kamu menerima pernikahan suamimu bersama wanita itu? Apa kamu bersikap baik dengannya?" pertanyaan Pak Ratmo semakin menyudutkannya.
"Tapi dia selalu merebut perhatian Mas Fariz. Dia menjauhkan Mas Fariz dari ku. Lihat saja, udah berapa hari aku di sini tapi Mas Fariz gak jemput aku," Mirna memprotes ucapan Pamannya.
"Itu karena kamu pergi tanpa ijin sama suamimu. Kamu yang salah," Pak Ratmo menyalahkan Mirna.
"Kenapa wanita itu kemarin dijemput, kenapa aku tidak?" Mirna bertanya pada Pamannya.
"Dikira Paman ini suamimu apa? Ya kamu tanya aja sendiri sama suami kamu. Udah, udah Paman pusing kalau ngomong sama kamu, selalu saja bisa menjawab, gak mau kalah," ucap Pak Ratmo menutup perbincangannya.
"Ck, pokoknya aku harus membuat Mas Fariz menyadari jika aku sangat berarti dalam hidupnya," ucap Mirna untuk menyemangati dirinya sendiri.
Pak Ratmo menggelengkan kepalanya, dia heran dan tidak mengerti dengan jalan pikiran keponakannya itu.
__ADS_1
Sudah seminggu lebih Mirna berada di rumah Pak Ratmo. Pamannya ini tidak melihat perubahan pada diri Mirna, hingga dia meminta pada Ustad Fariz agar mau menjemput Mirna.
Dengan tegas Ustad Fariz menolak keinginan Pak Ratmo. Dia sudah sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk bersikap tegas kali ini pada Mirna karena dia ingin jika istrinya itu berubah menjadi lebih baik. Tidak usah banyak, berubah sedikit saja sudah bisa membuat Ustad Fariz lebih tenang.
"Hufft... saya juga bingung Kyai, Mirna tetap bersikukuh tidak mau pulang jika tidak dijemput oleh suaminya. Tiap hari saya sudah membujuknya, tapi tetap saja dia bersikap yang sama," Pak Ratmo mengeluh pada Ustad Fariz.
"Maafkan saya Pak, saya hanya ingin Mirna berubah. Saya harap Bapak bisa mengerti posisi saya sebagai seorang suami yang ingin mendidik istrinya untuk lebih baik," ucap Ustad Fariz sebelum mereka menyudahi percakapan mereka.
Di rumah Pak Ratmo, Mirna masih sibuk dengan pemikirannya. Dia menemukan beberapa cara agar suaminya membenci Rhea ataupun mereka bertengkar dan akhirnya berpisah. Dari ide yang biasa hingga ide yang berbahaya sudah dia temukan. Dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakannya.
Siang ini di gerbang Pondok Pesantren Al-Mukmin digegerkan dengan adanya pengiriman mobil mewah. Pengirim mobil itu mengatakan bahwa mobil tersebut adalah milik Rheina Az Zahra yang diketahui satpam merupakan nama istri kedua dari Kyai mereka.
Mereka tidak bisa langsung memasukkan tamu tanpa diketahui jelas siapa mereka dan alasan mereka datang ke Pondok Pesantren tersebut. Proses tetaplah proses meskipun mereka mengatasnamakan istri dari Kyai mereka.
Seorang satpam bertugas untuk memanggilkan Ustad Fariz sebagai Kyai mereka dan Rhea sebagai istri Kyai mereka.
Beberapa satpam yang lain tetap menjaga gerbang masuk dan ada juga yang berkeliling wilayah depan dan dalam Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Seminggu ini Mirna selalu menyamar dengan memakai cadar jika keluar dari rumah Pamannya, karena Paman Mirna meminta Mirna agar tetap di rumah saja jika tidak mau mendengar orang di luaran sana membicarakannya.
Alasan Paman Mirna sangat simpel. Beberapa hari Mirna menginap sih tidak masalah karena menginap di rumah Pamannya, tapi jika lebih dari tiga hari, pasti orang-orang akan membicarakan yang tidak-tidak tentang Mirna.
Dengan mendengar alasan dari Pamannya, Mirna merasa alasan Pamannya benar, namun Mirna tidak bisa jika hanya di rumah saja terus menerus karena dia juga ingin melihat keadaan Rhea yang dianggapnya musuh.
Mirna berjalan di sekitar Pondok Pesantren Al-Mukmin dan kebetulan saat itu ada beberapa orang di depan gerbang Pondok Pesantren Al-Mukmin yang sepertinya sedang menunggu untuk dipersilahkan masuk.
Jiwa kepo Mirna meronta-ronta. Dia ingin tahu apa yang terjadi karena samar-samar dia mendengar nama Rhea dan suaminya disebut-sebut pada saat dia mencoba mencuri dengar dengan mendekat ke gerbang Pondok Pesantren Al-Mukmin dan bersembunyi di balik tembok perbatasan.
Mata Mirna membulat ketika mendengar bahwa mobil mewah tersebut merupakan mobil Rhea. Mobil itu memang masih bisa dibilang mobil baru karena memang mobil itu seperti mobil baru lainnya.
Mirna masih mengamati dan mencuri dengar semuanya dari tempat persembunyiannya saat ini. Tidak lama kemudian datanglah suaminya dan Rhea yang tersenyum ramah mengucapkan terima kasih dan memberikan beberapa lembar uang pada orang-orang yang mengantar mobil tersebut.
Dia pasti meminta dibelikan mobil baru pada Mas Fariz. Tidak bisa dibiarkan, aku akan kembali pulang dan memprotes semuanya, kalau perlu aku akan meminta hal yang sama, Mirna membatin dengan mata yang masih terpaku pada sepasang suami istri yang sedang menaiki mobil untum dimasukkan ke dalam Pondok Pesantren Al-Mukmin.
__ADS_1