Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 84 Proses yang harus dilewati


__ADS_3

Mirna merasakan hatinya sangat sakit, namun hal itu tidak membuat air matanya menetes. Dadanya terasa sesak dan sangat sakit sekali, rasanya ingin menangis tapi air matanya tidak keluar sama sekali.


Mirna duduk di depan cermin dan menatap pantulan dirinya sendiri. Lama dia menatap dan memperhatikannya, entah apa yang dipikirkannya hingga akhirnya dia menghela nafas panjang dan berat.


"Hufft... apa aku sakit hati karena ucapan-ucapan dari mereka? Kenapa aku sakit hati karena mereka? Aku tidak pernah merasakan seperti ini. Terus tadi kenapa aku tidak melawan mereka saja? Apa-apaan mereka, dulu aja mereka belain aku, sekarang mereka ngomongin aku. Dasar ibu-ibu tukang ghibah. Tapi anehnya kenapa hatiku sakit sekali mendengar omongan mereka, rasanya ingin sekali menangis, tapi kenapa air mataku tidak keluar?" Mirna mempertanyakan pada dirinya sendiri di depan cermin dengan melihat bayangan dirinya di depan cermin.


Mirna masih belum sadar pada apa yang dirasakan oleh dirinya sendiri. Hatinya merespon setiap kata-kata yang didengarnya, oleh sebab itu dia merasakan sakit hati dan sedih, namun sikap keras kepalanya membuat hatinya menjadi keras, sehingga omongan para tetangga yang mencibir dan menghujatnya pada malam itu dan omongan para ibu-ibu di warung sayur Bu Dian tadi pun tidak bisa membuat air matanya luluh.


Sikap keras kepalanya tetap membenarkan perbuatannya yang menurut orang lain tidak benar.


"Huffft.....," Mirna menghela nafasnya panjang sebelum dia akhirnya keluar dari kamarnya.


Mirna menuju dapur karena terdengar suara dari arah dapur. Dia melupakan sesuatu, bahan-bahan makanan belanjaannya tadi hanya dia tinggalkan di meja dapur.


"Nit, ini ya tadi belanjaannya?" tanya Mirna sambil duduk di kursi yang berada di dapur.


"Iya Mbak. Tinggal itu aja yang belum dipotong," jawab Anita sambil mencuci sayur yang sudah dipotongnya tadi.


Mirna mengambil pisau dan mengupas serta memotong sayuran tersebut. Anita memandang heran dan bingung pada Mirna yang sekarang sudah kembali seperti tadi pagi, seperti sebelum mereka berangkat berbelanja.


Ingin rasanya Anita bertanya pada Mirna tentang dirinya, tentang perubahan sikapnya dan tentang perasaannya, namun dia takut jika Mirna kembali mengomelinya seperti biasanya. Akhirnya Anita tidak jadi menanyakannya, dia hanya menyimpan pertanyaannya sendiri dan dia meneruskan kegiatan memasaknya.


"Assalamu'alaikum....," Pak Ratmo tergesa-gesa masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumussalam...," Anita dan Mirna menjawab salam Pak Ratmo.


"Kok tumben Pak pulang jam segini, ada apa?" tanya Anita heran pada Bapaknya yang mukanya sepertinya sedang emosi.


"Mirna, sini kamu?" Pak Ratmo berseru memanggil Mirna untuk mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Ada apa Mbak?" tanya Anita pada Mirna.


"Gak tau Nit," jawab Mirna sambil mengangkat bahunya.


"Ya udah Mbak ke sana aja, biar aku aja yang nerusin masaknya," Anita menyuruh Mirna untuk menemui Bapaknya.


Mirna pun menaruh sayuran yang dipotongnya dan berjalan ke ruang tengah menemui Pak Ratmo. Kini Pak Ratmo sudah duduk di kursi ruang tengah yang biasanya digunakan untuk menonton TV menunggu kedatangan Mirna.


"Ada apa sih Paman?" Mirna kesal melihat Pamannya memanggilnya dengan berteriak.


"Kamu tau apa kata tetangga-tetangga disekitar sini?" Pak Ratmo kembali emosi melihat Mirna yang bertanya padanya dengan kesal.


"Halah biarin aja Paman, mereka kan gak punya kerjaan selain ngomongin orang," jawab Mirna dengan wajah kesalnya.


"Bukannya begitu Mir, kamu itu harus tahu jika perbuatanmu itu bisa merugikan orang lain," jawab Pak Ratmo yang ikut kesal dengan ketidakpekaannya.


"Kamu mempermalukan Paman Mir. Sepanjang perjalanan Paman pulang tadi Paman dihujat dan dikatakan yang tidak-tidak oleh mereka, dan itu semua gara-gara perbuatan kamu selama ini, terutama kamu yang selalu menyakiti istri dari mantan suami kamu," Pak Ratmo emosi mendengar Mirna yang meninggikan suaranya ketika berbicara padanya.


"Kamu tau Mir, seberapa malu Paman pada keluarga Pondok Pesantren Al-Mukmin? Mereka sudah baik memberi pekerjaan pada Paman selama ini dan juga mereka tidak pernah mempermasalahkan perbuatanmu itu. Harusnya kamu bisa menyadari kesalahanmu dan merubah sikapmu itu agar tidak lagi berbuat seperti yang lalu. Paman capek Mir nasehatin kamu, Paman malu Mir... malu...," kini Pak Ratmo sudah mulai merendah nada bicaranya.


Sungguh terlihat lelah wajah Pak Ratmo kali ini. Helaan nafas beratnya membuat orang yang melihatnya tahu bahwa banyak beban dan pikiran yang kini dirasakannya.


Pak Ratmo pergi meninggalkan Mirna sendiri di ruangan tersebut. Mirna terdiam, rasanya hatinya kembali sakit mendapatkan bentakan dari Pamannya serta kata-kata yang dilontarkan oleh Pamannya itu tidak jauh dari omongan orang-orang tentang dirinya, tentang kesalahan-kesalahannya.


Mirna termenung, dan kali ini air matanya menetes. Segera dia usap tetesan air matanya itu agar tidak ada yang tahu kesedihan hatinya.


Keesokan harinya Mirna mengajak Anita pagi-pagi sekali ke pasar menggunakan motor milik Pak Ratmo sebelum digunakan untuk bekerja. Mirna tidak berbelanja disekitar rumah Pak Ratmo lagi karena dilarang oleh Pak Ratmo.


Ternyata di luar dugaan Pak Ratmo, di pasar pun Mirna manjadi buah bibir orang-orang yang melihatnya.

__ADS_1


Cibiran dan hujatan kembali diterimanya. Tak ayal mereka mengatai Mirna dengan sebutan yang kasar sehingga kini Mirna merasakan benar-benar malu dan sakit hati.


Sehingga Mirna dan Anita tidak jadi berbelanja, mereka lebih memilih pulang karena malu.


Sesampainya di rumah, Mirna langsung masuk dalam kamarnya, dan tanpa sadar dia menangis tersedu-sedu di atas ranjangnya.


Dia merasa seolah semua orang menyalahkannya, semua orang menghujatnya, dan semua orang menghakiminya.


"Kenapa semua orang menyalahkanku? Kenapa semua orang mencemoohku? Apa aku memang sejahat itu? Aku juga ingin bahagia. Kenapa tidak ada yang mendukungku!" Mirna menangis sambil berteriak memukul-mukul bantal sebagai pelampiasan kekesalannya.


......................


Berbeda dengan suasana di Pondok Pesantren Al-Mukmin yang sedang bersiap-siap untuk acara kelulusan para santri yang telah lulus tahun ini.


Tampak banyak santri yang sedang sibuk mempersiapkan untuk acara tersebut. Juga para Ustad dan Ustadzah yang sangat sibuk mengurusi persiapan untuk acara tersebut.


"Assalamu'alaikum...," suara Ustad Jaki mengalihkan pandangan Umi Sarifah dan Rhea yang ada di ruang tengah sedang menonton acara televisi.


"Wa'alaikumussalam....," jawab Umi Sarifah dan Rhea bersamaan tanpa menyambut kedatangan Ustad Jaki ke depan pintu.


"Umi.... kok diam aja di sini sih, bukannya disambut gitu ke sana," protes Ustad Jaki ketika sudah berada di ruang tengah.


"Lah ngapain pakai dibukakan pintu, kan kamu biasanya nyelonong sendiri masuk ke dalam rumah," jawab Umi Sarifah heran.


"Umi... lihat dong Jaki datang sama siapa," Ustad Jaki menuntun tubuh Umi Sarifah berjalan menuju ruang tamu.


"Siapa sih Ustad, heboh banget," tanya Rhea heran.


Dan pertanyaan Rhea itu hanya dijawab cengiran oleh Ustad Jaki yang membuat Rhea semakin heran.

__ADS_1


__ADS_2