
Pagi adalah awal dari hari yang akan dilalui. Begitupula dengan Pandu dan Mirna yang mengawali hari mereka dengan pergi ke pasar berboncengan berdua layaknya tukang ojek dengan penumpangnya karena Mirna duduk dengan jarak yang terkesan jauh dari Pandu.
Di pasar itu Pandu tidak hanya mengantar Mirna saja, namun dia juga mengikuti Mirna hingga berbelanja ke dalam pasar dari satu stand ke stand yang lain.
"Bu, dagingnya seperti biasanya ya," ucap Mirna pada penjual daging.
"Eh Bu Mirna, iya Bu saya siapkan dulu, tunggu sebentar ya," si penjual daging merespon pesanan Mirna.
"Sini biar saya bawakan," ucap Pandu seraya mengambil bungkusan daging yang diberikan si penjual daging pada Mirna.
"Eh itu suaminya Bu Mirna yang baru ya Bu?" tanya si penjual daging pada Mirna ketika Mirna akan berjalan meninggalkan kios dagingnya.
Mirna tidak menjawab, dia berjalan meninggalkan kios tersebut menuju kios selanjutnya.
"Kenapa gak dijawab?" tanya Pandu pada Mirna.
"Buat apa? Dijawab gak dijawab tetap jadi omongan. Lagipula mau dijawab apa? Kalau dijawab bukan, pasti mereka gak percaya. Habisnya kamu ngikuti aku belanja kayak suami beneran aja," jawab Mirna dengan sewot.
"Saya kan hanya membantu saja, sesuai perintah Pak Ratmo pada saya tadi sebelum berangkat," jawab Pandu sambil berjalan beriringan dengan Mirna.
Di kios lainnya pun Mirna mendapatkan pertanyaan yang sama dari penjualnya. Dan Mirna pun menanggapinya dengan sikap yang sama, tanpa menjawab pertanyaan mereka dia berlalu begitu saja.
"Bu, beli ayamnya seperti biasanya," ucap Mirna pada penjual ayam setelah beralih dari kios sayuran tadi.
"Siap Bu Mirna, ini sudah saya siapkan tadi," ucap penjual ayam sambil memberikan bungkusan yang berisikan ayam pesanan Mirna.
Dan hal yang sama dilakukan oleh Pandu seperti sebelum-sebelumnya di kios lainnya. Pandu mengambil bungkusan tersebut untuk dibawanya.
"Suami barunya Bu Mirna ya Bu? Pinter Bu Mirna kalau pilih suami, ganteng," ucap si penjual ayam sambil terkekeh dan mengacungkan jempolnya pada Mirna dan Pandu.
__ADS_1
Mirna pun hanya berlalu tanpa menjawab ataupun tersenyum. Dia memasang wajah datar dan berjalan meninggalkan kios tersebut.
"Suami baru? Apa kamu sudah bersuami?" tanya Pandu disela langkahnya yang beriringan dengan Mirna.
"Aku janda. Mangkanya jangan dekat-dekat biar gak dikira kamu suamiku yang baru," jawab Mirna yang masih sewot pada Pandu setiap menjawab pertanyaannya.
"Oh... pantesan kok gak pernah lihat suami kamu di rumah," ucap Pandu kemudian.
Gak tau apa kalau aku jadi janda karena dicerai, mana mungkin suamiku di rumah, yang ada di rumahnya sama istri barunya, Mirna berkata kesal dalam hatinya.
"Mau ke mana lagi kita?" tanya Pandu pada Mirna setelah tidak ada tanggapan dari Mirna atas ucapannya tadi.
"Ke warung aja sekalian," jawab Mirna dengan singkat sambil berjalan keluar dari pasar menuju parkiran motor mereka.
Pandu pun mengikuti perintah Mirna, dia mengemudikan motornya ke arah warung Mirna sesuai dengan arahan dari Mirna. Karena belum tahu arah di daerah itu, Pandu meminta Mirna untuk memberitahukan arah padanya semenjak dari rumah tadi.
"Hafalkan arahnya biar aku gak capek ngasih tau terus," ucap Mirna dengan sewot pada Pandu setelah turun dari boncengan motornya ketika sudah sampai di warungnya.
Mirna memutar bola matanya dengan malas. Dia merasa jengah karena Pandu mengantar dan mengikutinya ke pasar tadi hingga menimbulkan gosip di antara para penjual di pasar tersebut.
Mirna khawatir jika para penjual itu mengatakannya pada Mbak Atik dan Umi Sarifah ketika bertemu mereka di pasar.
Karena Mirna masih mengharapkan bisa masuk kembali dalam keluarga mereka, sehingga dia kini benar-benar menjaga sikapnya seperti yang Pak Ratmo sarankan padanya.
Pak Ratmo menyarankan agar Mirna merubah peringainya, merubah sikapnya agar lebih baik sehingga bisa mendapatkan pasangan yang tepat. Namun Mirna melakukan saran dari Pak Ratmo dengan harapan agar bisa kembali di tengah-tengah keluarga besar Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Ketika Pak Ratmo sudah berada di Pondok Pesantren Al-Mukmin, dia menemui Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki uang sedang berjalan bersama menuju ruangan Ustadz Fariz.
"Ustadz, bisakah saya bicara sebentar?" Pak Ratmo menghentikan langkah kaki Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki.
__ADS_1
Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki saling menatap heran, mereka berpikir hal yang sama, mereka takut jika yang dibicarakan oleh Pak Ratmo adalah tentang Mirna.
"Eh Pak Ratmo, silahkan Pak, kita bicara di ruangan saya saja," jawab Ustadz Fariz sambil tangannya mempersilahkan ke arah ruangannya.
"Tidak usah Ustadz, bicara di sini saja, hanya sebentar kok," ucap Pak Ratmo dengan sungkan.
"Ya sudah Pak kalau begitu. Ada apa ya Pak?" tanya Ustadz Fariz pada Pak Ratmo.
"Ini Ustadz saya mau tanya, apa di sini membutuhkan tenaga seorang laki-laki? Kebetulan ada yang sedang sangat membutuhkan pekerjaan," jawab Pak Ratmo dengan hati-hati.
"Kalau itu bertanya dengan Ustadz Jaki saja Pak, karena yang mengurusi itu Ustadz Jaki," Ustadz Fariz menanggapi pertanyaan Pak Ratmo.
"Siapa Pak?" kini Ustadz Jaki yang bertanya.
"Orang yang sedang sangat membutuhkan pekerjaan itu adalah suami dari orang yang Ustadz bantu pemakamannya waktu itu. Kasihan anak-anaknya sangat membutuhkan biaya hidup dan tempat tinggal," jawab Pak Ratmo dengan menjelaskan yang sebenarnya agar Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki iba pada Pandu dan memberikannya pekerjaan.
Menurut Pak Ratmo, keluarga Pondok Pesantren Al-Mukmin mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi, sehingga dia berharap besar agar Pandu diberikan pekerjaan karena rasa iba mereka padanya.
Ustadz Jaki menoleh ke arah Ustadz Fariz yang berada di sampingnya. Dan dari pandangan mata Ustadz Fariz dapat dibaca oleh Ustadz Jaki bahwa dia keberatan dengan kehadiran Pandu dalam lingkungan Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Ustadz Jaki sangat mengerti hal itu, dia tidak ingin Pandu kembali mengganggu Rhea dan mengganggu ketentraman keluarga Ustadz Fariz dan Rhea. Sehingga Ustadz Jaki memutuskan tanpa bertanya melalui lisan pada Ustadz Fariz.
"Maaf Pak, saya rasa untuk saat ini di Pondok Pesantren Al-Mukmin masih belum membutuhkan tenaga kerja yang baru. Bapak tanyakan ke warga sekitar saja, atau ke toko atau tempat lain. Siapa tau mereka membutuhkan tenaganya," 'Ustadz Jaki menolak dengan tegas permintaan Pak Ratmo.
"Maaf Pak, kami permisi dulu. Sekarang ini saatnya kami mengajar. Assalamu'alaikum," Ustadz Fariz menyudahi percakapan mereka dan meninggalkan Pak Ratmo diikuti oleh Ustadz Jaki yang juga memberi salam padanya.
"Assalamu'alaikum," Ustadz Jaki memberi salam sebelum mengikuti Ustadz Fariz pergi meninggalkan Pak Ratmo yang masih berada di tempat itu.
"Wa'alaikumussalam," jawab Pak Ratmo sambil memandang punggung kedua Ustadz tersebut yang pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Kenapa mereka tidak mau menolong Pandu dengan memberikannya pekerjaan? Padahal mereka membantu biaya rumah sakit dan pemakaman istrinya, Pak Ratmo bertanya-tanya dalam hatinya.