
Hana kembali menelan kekecewaannya untuk bisa dekat dengan Yasmin. Dia harus kembali kalah dengan Salsa.
Kenapa sih selalu Salsa? Dari dulu dia menjauhkan ku dari Izam dan sekarang dia menjauhkan ku dari Yasmin, Hana menggerutu dalam hatinya.
Hana pulang kembali ke rumahnya dengan perasaan kesal. Usahanya untuk lebih dekat dengan Yasmin ataupun Izam tidak pernah berhasil. Bahkan dia sudah memiliki alasan jika ingin berbicara pada Yasmin ataupun Izam.
"Kamu kenapa Hana?" tanya Mirna ketika melihat Hana masuk ke dalam rumah dengan lesu setelah menjawab salam yang diucapkan oleh Hana.
"Tidak ada apa-apa Bu," jawab Hana sambil mencium punggung tangan Mirna.
"Oh iya Hana, Ibu mau bicara," ucap Mirna bermaksud menghentikan Hana yang akan masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa Bu?" tanya Hana.
"Sebaiknya kamu ganti dulu, setelah itu kita bicara sambil menunggu Bapakmu pulang untuk makan bersama kita," jawab Mirna.
"Baik Bu," jawab Hana sebelum masuk ke dalam kamarnya.
Tidak lama dari itu Hana keluar dari kamarnya setelah membersihkan badannya dan berganti pakaian.
"Bapak belum pulang Bu?" tanya Hana ketika sudah duduk di kursi meja makan.
"Belum, mungkin sebentar lagi," jawab Mirna.
Mirna memandang Hana, dia akan mengatakan apa yang direncanakannya tadi. Dia yakin jika Hana tidak akan menolak sebab dia selalu mematuhi keinginan Mirna.
"Hana, mulai besok kamu bantuin Ibu di warung ya," pinta Mirna pada Hana.
"Di warung? Berarti mulai pagi Bu?" tanya Hana meyakinkan pendengarannya.
"Iya, kamu bantu Ibu mulai pagi sebelum warung buka sampai warung tutup. Kita berangkat dan pulang bersama," jawab Mirna dengan antusias.
"Tapi Bu, Hana kan harus membantu Ustadzah di Pondok Pesantren," ucap Hana keberatan dengan permintaan Mirna.
__ADS_1
"Halah di sana kamu juga gak ngapa-ngapain, cuma bantuin aja. Mending bantuin Ibu di warung, dapat uang dan dapat pahala kamu bantu Ibu sendiri," tukas Mirna dengan sewot.
"Tapi Bu itu kan keinginan Kakek sebelum meninggal," ucap Hana meyakinkan.
"Hana, turuti saja permintaan Ibumu. Kasihan dia tidak ada temannya menjaga warung," sahut Pandu yang baru saja datang.
Pandu sudah mendengarnya sejak tadi dari luar pintu, hanya saja dia tidak masuk ke dalam rumah. Dia sengaja ingin mendengarkan lebih jauh lagi apa yang dibicarakan anaknya dengan ibu sambungnya itu.
Hana menoleh ke arah suara Bapaknya berada. Dia tidak menyangka jika Bapaknya sendiri tidak mengetahui keinginannya.
Memang benar sih, Hana tidak dekat dengan Bapaknya semenjak dia menjadi santri di Pondok Pesantren waktu itu. Dan Pandu pun tidak mengetahui keinginan Hana yang ingin selalu berada dekat dengan Izam di Pondok Pesantren Al-Mukmin.
"Lagian Kakekmu juga sudah meninggal, jadi tidak apalah kamu sekarang meninggalkan Pondok Pesantren Al-Mukmin untuk membantu Ibu," sahut Mirna.
Hana kembali terdiam, memang benar apa yang dikatakan oleh Mirna. Dia seharusnya lebih mendahulukan membantu Ibunya daripada berada di Pondok Pesantren Al-Mukmin untuk membantu Ustadzah.
"Baiklah Bu," jawab Hana lesu.
Kemudian mereka makan dengan diam. Mirna dan Pandu mengerti jika raut wajah Hana berbeda setelah mendengar permintaan dari Mirna.
"Hana, kamu kenapa sih sebenarnya?" tanya Mirna yang penasaran dengan wajah lesu Hana.
"Tidak apa-apa Bu. Hana hanya lelah saja," jawab Hana sambil mencuci semua piring kotor yang ada di situ.
"Ya sudah kalau kamu gak mau jujur sama Ibu," ucap Mirna kesal sambil berjalan meninggalkan Hana yang masih mencuci piring.
Hana melihat punggung Mirna yang semakin menjauh. Dia menghela nafasnya. Dalam hatinya dia berkata,
Apa bisa aku menceritakan perasaanku pada Bu Mirna? Apa dia bisa menjadi tempat curahan hatiku seperti Ibu-Ibu yang lain?
Sejenak dia berpikir sambil melakukan aktifitas mencucinya. Dan dia memutuskan akan mencoba bercerita pada Mirna jika Ibu sambungnya itu bertanya kembali padanya. Dia tidak mau jika Mirna nantinya akan kesal padanya seperti kejadian yang baru saja terjadi.
"Hana kenapa sih Mas?" tanya Mirna pada Pandu ketika sudah berada dalam kamar.
__ADS_1
"Gak tau. Mungkin dia lebih suka berada di Pondok Pesantren Al-Mukmin," jawab Pandu yang enggan berbasa-basi karena capeknya.
"Ck, masa' lebih mementingkan membantu orang lain daripada membantu Ibunya sendiri?" tanya Mirna dengan sewotnya.
"Besok deh kita tanyakan lagi sama Hana. Barangkali dia sedang ada masalah," tukas Pandu sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya dan mulai memejamkan matanya.
"Mas, Mas Pandu kok malah tidur sih? Kita kan belum ngobrol Mas," ucap Mirna sambil menggoyang-goyangkan tubuh Pandu.
"Aku capek Mir, kita tidur aja ya. Besok kita lanjutkan lagi ngobrolnya," ucap Pandu sambil meraih tubuh Mirna dan membawanya dalam pelukannya agar Mirna tidak lagi mengomel padanya.
Setelah sekian lama Pandu menjadi suami Mirna, dia tahu bagaimana cara menaklukan kemarahan Mirna. Hanya dengan memberinya sentuhan saja Mirna akan melupakan kemarahannya.
Mirna tidak jadi meneruskan omelannya, dia tersenyum dan tangannya memeluk tubuh suaminya.
Cinta, Mirna tidak tahu apakah dia mencintai Pandu atau tidak. Yang dia inginkan hanya suaminya tetap menjadi miliknya, dan dia tidak mau kehilangan suaminya ataupun membaginya dengan wanita lain.
Keesokan harinya, Mirna mengajak Hana untuk membantunya di warung. Di belum berpamitan pada pihak Pondok Pesantren Al-Mukmin. Dan dia memang sengaja karena dia masih ingin memikirkan permintaan Mirna ini. Sebenarnya dia sangat berat jika harus meninggalkan Pondok Pesantren Al-Mukmin, karena dengan begitu, dirinya akan lebih jauh dari Izam.
"Hana, kamu kenapa sih dari kemarin kok tetap seperti itu?" tanya Mirna pada Hana yang melamun ketika mencuci sayuran.
Hana tersadar oleh pertanyaan Mirna yang dengan suara tidak biasa. Kemudian dia menoleh ke arah Mirna yang memandangnya dengan penuh tanda tanya sehingga membuatnya harus mengatakan apa yang dirasakannya.
"Bu, sebenarnya Hana masih ingin berada di Pondok Pesantren Al-Mukmin karena Hana...."
"Kenapa? Apa kamu lebih menyukai berada di antara orang-orang itu? Apa kamu lebih suka disuruh-suruh sama Bunda kamu itu daripada sama Ibumu sendiri?" tanya Mirna dengan kesal dan menggebu-gebu.
"Bukan Bu, bukan itu. Tapi...."
"Apa? Siapa? Atau jangan-jangan kamu menyukai Ustadz di sana ya? Atau mungkin... Kyai kamu?" tanya Mirna ragu mengingat bahwa Kyai di sana adalah mantan suaminya.
Awas aja kamu Hana kalau kamu suka sama Mas Fariz. Aku gak rela kamu menyukai dia, batin Mirna.
Mirna benar-benar tidak bisa melepas masa lalunya. Dia masih saja terobsesi untuk bisa kembali pada mantan suaminya. Namun anehnya kali ini dia tidak melakukan apapun, hanya saja dia bahagia jika melihat Rhea sedih ataupun terluka.
__ADS_1
"Izam, anak dari Bunda Rhea dan Kyai Fariz," jawab Hana lirih dengan menundukkan kepalanya.
"Apa?"