
Hana diam saja ketika Mirna bertanya padanya. Hal itu membuat Mirna menjadi penasaran. Dia mengikuti Hana yang masuk ke dalam kamarnya.
"Hana, kamu kenapa sih?" tanya Mirna menyelidik sambil memegang kedua bahu Hana dan mengarahkannya untuk menghadapnya.
Hana meneteskan air matanya, dia tidak sanggup lagi menyembunyikan kesedihannya dan rasa sakit hatinya.
"Kok kamu nangis? Kenapa sih? Ada apa Hana? Ayo bicara sama Ibu," ucap Mirna yang sangat ingin tahu.
"Sepertinya Hana memang tidak beruntung Bu," ucap Hana dengan mengusap air matanya.
"Maksud kamu apa?" tanya Mirna kembali.
"Izam akan menikah dengan Salsa Bu," jawab Hana dengan kembali meneteskan air matanya.
"Apa? Kok kamu bisa keduluan? Harusnya kamu bisa lebih cepat dari dia," ucap Mirna dengan menaikkan nada bicaranya.
"Ibu lupa kalau aku selama ini tidak ada di Pondok karena membantu Ibu?" sahut Hana dengan kesal.
"Jadi kamu menyalahkan Ibu?" tanya Mirna yang tidak kalah kesal dengan Hana.
"Bukan begitu Bu. Maafkan Hana Bu. Hana hanya sedang sedih dan tidak bisa berpikir jernih. Hana mau istirahat dulu ya Bu," ucap Hana dengan memegang tangan Mirna.
"Apa perlu Ibu datangi mereka?" tanya Mirna pada Hana yang berniat untuk membelanya.
"Untuk apa Bu? Jangan Bu, nantinya akan membuat kita malu saja jika Ibu mendatangi mereka," sahut Hana sambil memegang erat tangan Mirna yang berniat untuk menghentikannya.
"Kamu pikir Ibu memalukan?" tanya Mirna dengan emosi.
"Bukan begitu Bu. Percuma saja Ibu ke sana, mereka tidak menyakiti Hana. Hanya Hana saja yang menyukai Izam sehingga Hana sakit hati karena tidak bisa mendapatkannya," jawab Hana yang masih saja memegangi tangan Mirna dengan erat.
"Ya sudah terserah kamu. Lebih baik kamu menyukai Ustadz atau anak dari Kyai di Pondok kamu yang dulu saja, sepertinya peluangnya lebih banyak," tutur Mirna dengan suara yang tidak lagi tinggi.
__ADS_1
"Gus Ammar? Dia juga akan menikah dengan Yasmin, adik Izam," ucap Hana dengan lemas.
"Apa? Kok bisa? Ckckck... Hana... Hana... kasihan sekali kamu Nak. Sudahlah cari saja yang lain. Atau... sebelum janur kuning melengkung, kamu bisa tikung mereka," tukas Mirna sambil tersenyum melihat wajah Hana.
Menurut Mirna itu ide yang bagus darinya, tapi sayangnya Hana tidak sependapat dengannya.
Hana tidak menjawab karena takut akan membuat Mirna kembali salah sangka dengan ucapannya.
Hana merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya dan menutup seluruh mukanya dengan selimut. Melihat hal itu membuat Mirna menjadi sedikit kesal, kemudian dia meninggalkan kamar Hana karena percuma saja menurutnya, Hana sedang tidak mau membicarakan itu dengannya.
Di Pondok Pesantren Al-Mukmin, kini mereka sedang menyiapkan segala sesuatu untuk persiapan pernikahan Izam dan Salsa.
Semua orang sibuk membantu persiapan acara tersebut. Semua suka cita dirasakan mereka untuk mengantarkan dua insan tersebut bersatu dalam ikatan suci pernikahan.
Semua santri dan Ustadz serta Ustadzah pun turut serta mempersiapkannya. Meskipun kurang beberapa hari saja mereka sudah semangat sekali membantu persiapan acara pernikahan tersebut.
"Gak usah takut dan gak usah grogi," ucap Shinta ketika menemani Salsa yang sedang di make up di ruangannya.
"Kayak kamu dulu gak gitu aja Shin," sahut Rhea sambil terkekeh.
"Kak Salsa katanya gak akan grogi, gak kenal katanya sama yang namanya takut sama grogi. Nyatanya...," Yasmin meledek Salsa sambil terkekeh.
"Yasmin, awas kamu ya, sebentar lagi kamu yang akan mengalami ini. Jadi pada saatnya nanti pasti akan aku balas," tukas Salsa sambil tersenyum licik pada Yasmin.
"Eh gak boleh gitu, jadi Kakak ipar itu harus baik sama adik iparnya," ucap Yasmin sambil duduk di depan Salsa dan memegang tangannya dengan pandangan mengiba pada Salsa.
Salsa tersenyum puas disusul tawa Shinta dan Rhea sehingga mereka tidak mendengarkan jika ijab kabul yang dilakukan oleh Izam sudah selesai.
"Sah!"
"Sah!"
__ADS_1
Salsa, Yasmin, Rhea dan Shinta menghentikan tawanya dan saling menoleh.
"Kok udah sah sih? Berarti udah ijab kabul dong," ucap Yasmin sambil memandang Salsa, Shinta dan Rhea bergantian.
Mereka bertiga mengangguk dan tertawa kembali karena ulah mereka berempat, ijab kabul yang dilakukan oleh Izam tidak terdengar oleh mereka.
Kini yang mereka dengar adalah lantunan ayat suci Al Quran yang dilantunkan dengan indah oleh Izam.
Sudah saatnya Salsa keluar menemui suaminya, dia diapit oleh Shinta dan Rhea serta diikuti Yasmin di belakangnya untuk menemui Izam, yang masih berada di depan penghulu menunggu istrinya.
Setelah proses pernikahan mereka selesai, kini mereka berada di acara pesta pernikahan mereka untuk menemui para tamu yang datang memberikan doanya pada mereka.
Pesta tersebut sangat meriah dengan tamu yang datang silih berganti dari beberapa kalangan. Dari kalangan ulama, teman-teman mereka bahkan masyarakat sekitar turut hadir merayakan dan memberikan doa mereka.
Hanya Pandu, Mirna dan Hana saja yang tidak hadir. Kecuali Emir, adik Hana yang menjadi santri di sana. Dia turut serta membantu acara tersebut sama dengan santri yang lainnya.
"Izam, Salsa, nanti malam kalian sudah bisa main kuda-kudaan yang sesungguhnya, tidak seperti yang kalian lakukan sewaktu kecil," ucap Ustadz Jaki sambil terkekeh.
Semuanya hanya menggelengkan kepalanya dan ikut tertawa mendengar guyonan dari Ustadz Jaki.
"Gus Ammar gak usah sedih, sebentar lagi Yasmin sudah lulus kok. Dia siap diajak main kuda-kudaan juga," ucap Ustadz Jaki pada Ammar sambil terkekeh.
Perkataan Ustadz Jaki itu membuat tawa mereka kembali, tidak dengan Ammar dan Yasmin yang malah tersipu malu mendengar perkataan Ustadz Jaki.
Ustadz Fariz memeluk pinggang Rhea, kemudian dia berbisik di telinga istrinya.
"Akhirnya keluarga kita bisa bersama kembali dan kita bisa melihat anak-anak kita bahagia."
"Semoga Allah selalu melimpahkan kebahagian bagi keluarga kita dan anak-anak kita ya Bi," ucap Rhea sambil tersenyum pada suaminya.
"Amin. Kita doakan selalu ya sayang," ucap Ustadz Fariz dengan membalas senyum pada istrinya.
__ADS_1
Kini keluarga Ustadz Fariz dan Rhea berbahagia dengan takdir yang diberikan oleh Allah pada mereka. Kesusahan dan kesedihan telah mereka lewati selama ini. Dan kebahagiaan yang mereka rasakan sekarang adalah bayaran dari keikhlasan dan kesabaran mereka dalam setiap ujian yang diberikan oleh Allah pada mereka.
TAMAT