
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Ustadz Fariz pada dokter yang sudah selesai memeriksa Rhea.
"Istri anda baik-baik saja. Dan nanti akan kita periksa lebih lanjut setelah pasien sadar," jawab dokter tersebut menanggapi pertanyaan dari Ustadz Fariz.
"Baik dok, terima kasih," ucap Ustadz Fariz kemudian.
Dokter tersebut tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kemudian dia berjalan meninggalkan tempat tersebut.
Ustadz Fariz segera menemui istrinya. Masih dalam keadaan belum sadar, air matanya kembali menetes melihat kondisi istrinya yang terlihat sangat menyedihkan.
"Sayang, sadarlah. Aku sangat membutuhkanmu. Kita akan hadapi semuanya bersama. Sadarlah, aku mohon...."
Ustadz Fariz memohon dengan suara lirih beriringan dengan air matanya yang jatuh tak tertahankan sambil menciumi tangan istrinya yang masih belum sadar.
"Yasmin.... Yasmin.... Yasmin...."
Rhea mengigau memanggil nama anaknya dengan mata yang masih terpejam.
"Sayang... sayang... bangunlah..."
Ustadz Fariz mencoba menyadarkan Rhea dengan menggenggam tangannya dan menciumi tangan istrinya itu berharap agar matanya terbuka.
Mata Rhea perlahan-lahan terbuka dan dia mendapati suaminya tepat di depan matanya.
"Abi.....," ucap Rhea lirih dengan suara bergetar dan air mata yang luruh dari pelupuk matanya.
Seketika Ustadz Fariz memeluk istrinya dengan erat dan menenangkannya dengan mengusap-usap punggungnya.
"Bi... Yasmin Bi... Yasmin...."
Rhea menangis sesenggukan di dalam pelukan Ustadz Fariz.
"Tenang Bun, kita pasti akan menemukannya. Bunda tenang ya," ucap Ustadz Fariz kembali menenangkan istrinya.
"Bagaimana keadaannya Bi, apa Yasmin baik-baik saja? Apa mereka tidak jadi membawa Yasmin pergi?"
__ADS_1
Rhea memberondong Ustadz Fariz dengan beberapa pertanyaan yang sangat ingin dia ketahui jawabannya.
"Sebentar ya, Abi panggilkan dokternya dulu. Bunda tunggu sebentar ya."
Ustadz Fariz tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada istrinya untuk saat ini. Dia mengalihkan pembicaraannya agar istrinya tidak lagi bertanya tentang Yasmin, anak mereka yang masih belum ditemukan.
Nanti, dia pasti akan memberitahukan yang sebenarnya pada istrinya. Hanya saja menunggu kondisi Rhea stabil dan bisa menerima kenyataan meskipun sangat menyakitkan hati mereka.
Dokter memeriksa keadaan Rhea dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk kepalanya.
Di samping itu, Ustadz Jaki dan Shinta berusaha mencari baby Yasmin yang menurut kabar sedang berada di rumah sakit tersebut.
"Sayang, kita sudah mencari hampir seluruh rumah sakit ini tapi gak ketemu. Apa kita yang gak teliti ya?" tanya Ustadz Jaki pada Shinta yang sedari tadi membantu mencari baby Yasmin bersamanya.
"Sepertinya ada yang janggal. Apa mereka memang benar-benar akan menolong Yasmin? Apa mereka bukan komplotan penculik itu?"
Shinta mengeluarkan apa yang dipikirnya sedari tadi. Dia mencurigai si penolong baby Yasmin sebagai komplotan penculik baby Yasmin.
"Kenapa tidak terpikirkan oleh warga sehingga mereka membiarkan Yasmin dibawa oleh orang tadi?"
"Tapi itu hanya dugaanku saja, belum tentu juga kan kebenarannya. Kita positif thinking aja dan berusaha lebih keras lagi mencari Yasmin. Entah bagaimana nasibnya. Aku saja merasa sangat kehilangan, apalagi Ustadz Fariz dan Rhea. Kita harus membantu mencarinya sayang," ucap Shinta sambil mengusap lengan suaminya untuk menenangkannya.
"Mengapa mereka menculik Yasmin ya? Apa ada hubungannya dengan Pondok Pesantren Al-Mukmin atau Ustadz Fariz dan Rhea?"
Ustadz Jaki bertanya pada Shinta dengan memandang langit yang sangat cerah namun tidak secerah perasaan mereka saat ini.
"Belum tentu juga sih. Sekarang lagi musim penculikan bayi dan anak. Mereka menjual anak tersebut dan ada juga yang hanya menjual organnya saja."
Shinta menanggapi perkataan suaminya dengan memberikan apa yang menjadi pemikirannya. Dia tidak ingin suaminya cemas apabila memikirkan tentang penculikan baby Yasmin jika berhubungan dengan Pondok Pesantren Al-Mukmin.
"Ya udah ayo kita cari lagi."
Ustadz Jaki mengajak Shinta untuk mencari kembali baby Yasmin.
"Mau cari di mana lagi sayang, ini tadi kita udah muter-muter seluruh ruangan, dan juga kita sudah bertanya dengan para perawat dan bagian pendaftaran, tapi gak ada bayi yang masuk perawatan tadi."
__ADS_1
Shinta menghela nafasnya berat. Bukan karena dia tidak mau membantu. Memang sangat melelahkan, tapi dia benar-benar ingin menemukan baby Yasmin, hanya saja dia tidak tahu lagi harus bagaimana lagi untuk mencarinya.
Ustadz Jaki pun menghela nafasnya berat. Dia mengerti apa yang dirasakan oleh istrinya, namun dia juga harus berpikir dan bertindak agar baby Yasmin bisa ditemukan. Sungguh dia tidak bisa membayangkan bagaimana Ustadz Fariz dan Rhea jika tidak bisa menemukan anak mereka yang masih bayi dan belum berumur satu tahun.
Setelah pemeriksaan semuanya selesai, dokter memberitahukan bahwa Rhea baik-baik saja dan beruntungnya benturan kecil di kepala Rhea tidak serius sehingga bisa dikatakan kondisinya baik-baik saja.
Namun terlihat jelas bahwa Rhea mengalami syok berat. Dia masih saja terdiam dan mengeluarkan air matanya tanpa mengeluarkan suara tangisnya seraya memanggil nama baby Yamin berkali-kali.
"Yasmin.... Yasmin.... Yasmin... di mana kamu nak? Maafkan Bunda tidak bisa melindungimu. Yasmin... Yasmin...."
Selalu saja perkataan seperti itu keluar dari bibir Rhea. Dia sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi dan dia sangat syok dengan apa yang dialaminya. Semuanya terjadi dengan begitu cepat sehingga dirinya tidak bisa melindungi anaknya.
Ustadz Fariz sangat iba melihat istrinya yang sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Hingga sekarang Ustadz Fariz belum mendapatkan berita tentang Yasmin, dan Ustadz Jaki pun belum memberikan kabar padanya.
Sebagai seorang suami dan seorang ayah Ustadz Fariz sangat bingung. Dia tidak tega jika meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti itu, sedangkan dia juga sangat ingin sekali mencari anaknya yang masih belum ditemukan.
Akhirnya dia menanyakan kabar pencarian baby Yasmin pada Ustadz Jaki dengan mengirim pesan padanya.
Sayangnya balasan dari Ustadz Jaki tidak membuat hati Ustadz Fariz lega. Dan akhirnya dia meminta tolong pada Ustadz Bani agar mencari tahu tentang kecelakaan para penculik tersebut dan mencari keberadaan baby Yasmin.
Merasa pencarian mereka sia-sia, Ustadz Jaki menghubungi temannya yang menjadi polisi di daerah tersebut untuk datang ke rumah sakit membantunya mencari baby Yasmin.
Ustadz Jaki takut jika apa yang dipikirkan Shinta mengenai komplotan penculik tersebut benar-benar terjadi.
Kini di sekitar Pondok Pesantren Al-Mukmin sudah menyebar berita tentang penculikan baby Yasmin dan apa yang terjadi pada Rhea.
"Mir, apa benar berita tentang Rhea dan bayinya yang diculik itu?" tanya Pandu pada Mirna ketika mereka sudah selesai makan malam bersama di rumah mereka.
"Sepertinya sih iya. Kok Mas Pandu tau? Apa Mas Pandu selalu mencari tau tentang mantan istri Mas itu?" Mirna bertanya dengan kesal.
"Bukan Mir. Hanya saja beritanya sudah terdengar di mana-mana. Tadi di pasar hampir semua orang membicarakannya. Mangkanya aku jadi tau," jawab Pandu dengan merendahkan suaranya agar Mirna tidak marah padanya.
"Itu balasan buat dia. Mangkanya jadi sesama wanita jangan melukai perasaan wanita lain. Jadi gini kan."
Mirna menanggapinya dengan mengeluarkan kekesalannya pada Rhea selama ini.
__ADS_1
Sedangkan Pandu, dia masih saja penasaran dengan apa yang diceritakan oleh Mirna, tentang Rhea yang merebut suaminya, karena Pandu sama sekali tidak percaya jika Rhea wanita yang selama ini dicintainya bisa berbuat seperti itu.