
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Ustad Fariz pada dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"Untung saja segera dibawa kemari, karena jika terlambat, kemungkinan besar akan mengalami keguguran. Untuk sementara pasien harus istirahat total dan akan dipindahkan ke ruang perawatan. Untuk itu silahkan diurus dulu administrasinya," dokter menjelaskan hasil pemeriksaannya, kemudian berjalan meninggalkan ruangan UGD.
Setelah Ustad Fariz mengurus kamar inap Rhea, perawat memindahkannya ke kamar yang dituju.
"Bie....," Rhea memanggil suaminya dengan suara lirih.
"Zahra, kamu udah sadar sayang?" Ustad Fariz bertanya dengan kekhawatiran yang terlihat jelas di wajahnya.
Rhea mengangguk dan tersenyum dengan wajah yang agak sayu.
"Bie, bagaimana kandunganku?" tanya Rhea dengan suara lemah.
"Alhamdulillah baik sayang, tapi kata dokter kamu harus istirahat total. Kali ini kami harus menuruti perintah dokter, dan kamu tidak boleh membantah, mengerti?"
Rhea tersenyum dan mengangguk. Dia melirik tangannya yang di genggam erat oleh Ustad Fariz. Genggaman tangan dari suaminya itu menguatkannya dan memberi rasa nyaman padanya.
Umi Sarifah masuk ke dalam kamar inap Rhea dengan membawa baju dan barang-barang keperluan Rhea yang diambilnya bersama dengan Ustad Jaki tadi setelah mengantar kedua santriwati yang memberikan kesaksiannya pada Umi Sarifah.
"Umi....," Rhea memanggil Umi Sarifah dan merentangkan tangannya untuk meminta pelukan dari Umi nya.
Umi Sarifah memeluk Rhea dan mengusap kepalanya yang berbalut hijab dengan lembut untuk menyalurkan kasih sayangnya.
"Bagaimana Nduk, udah gak ada yang sakit kan?" tanya Umi Sarifah dengan khawatirnya.
"Astaghfirullahaladzim... sampai lupa belum manggil dokternya kalau Zahra sudah sadar," ucap Ustad Fariz sembari menepuk dahinya sendiri.
Kemudian Ustad Fariz segera memanggil dokter untuk memeriksa Rhea. Dokter memeriksa keadaan Rhea dan menyarankan agar Rhea dirawat selama beberapa hari sampai keadaannya kembali pulih. Setelah itu dokter memberikan resep untuk segera ditebus agar bisa segera diminum oleh Rhea.
Pada saat Rhea sedang tidur, Ustad Fariz, Ustad Jaki dan Umi Sarifah berdiskusi diluar kamar untuk membicarakan masalah Mirna yang mencelakai Rhea.
"Gimana Le, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Umi Sarifah pada Ustad Fariz.
"Huffft.... aku tidak menyangka dia sampai sejauh ini Umi," ucap Ustad Fariz dengan mendongakkan kepalanya memandang atap untuk menyembunyikan kesedihan yang terlihat jelas di matanya.
"Kita hanya manusia biasa Ustad, jadi gak bisa tau apa yang terjadi nanti," Ustad Jaki menenangkan Ustad Fariz agar tidak menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Ustad Fariz menoleh pada Ustad Jaki dan tersenyum padanya.
"Lalu apa rencana mu Le?" Umi Sarifah kembali bertanya pada Ustad Fariz.
"Sepertinya memang udah saatnya Umi, kesalahannya udah sangat fatal menurutku, dan dia udah berkali-kali melakukan kesalahan meskipun tidak sefatal ini, tapi aku takut ke depannya dia akan lebih nekat lagi," setiap kata yang diucapkan Ustad Fariz sangat berat baginya.
"Umi tau ini sangat berat bagimu. Umi hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi kalian dan semoga keputusanmu ini yang terbaik bagi kalian semua," tutur Umi Sarifah dengan mengusap-usap pundak Ustad Fariz dan tersenyum padanya.
"Kapan dibicarakan?" tanya Ustad Jaki.
"Insya Allah nanti setelah Rhea pulih. Umi dan Ustad Jaki pulang saja, biar aku saja yang menjaga Rhea di sini."
"Ya sudah, Umi dan Ustad Jaki pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa hubungi saja Umi atau Ustad Jaki," ucap Umi Sarifah seraya berdiri dari duduknya.
"Baik Umi," Ustad Fariz mengambil tangan Umi Sarifah dan mencium punggung tangannya.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumussalam...."
Hembusan nafas Ustad Fariz sangat berat menandakan masalahnya begitu berat untuknya. Dia sangat menyayangkan sikap Mirna pada Rhea saat ini padahal Rhea memperlakukannya dengan baik, layaknya kakaknya sendiri.
Selama Rhea dirawat di rumah sakit, Ustad Fariz yang menjaga Rhea bergantian dengan Bik Darmi jika Ustad Fariz sedang mengajar. Kadang kala Umi Sarifah yang menggantikan Ustad Fariz untuk menjaga Rhea ketika Ustad Fariz sedang ada kepentingan.
Dan itupun hanya sebentar karena Ustad Fariz sangat mengkhawatirkan keadaan Rhea. Dia merasa tidak bisa menjaga Rhea dan kandungannya sehingga terjadi hal seperti ini.
Lain halnya dengan Mirna, dia merasa tidak bersalah ketika mendengar berita madunya yang mengalami pendarahan sehingga harus dirawat dan beristirahat total di rumah sakit.
Mirna tidak mengetahui jika kandungan Rhea masih selamat karena tidak ada berita yang menyebutkan tentang keselamatan kandungan Rhea. Dia hanya berharap agar kandungan Rhea tidak bisa diselamatkan.
Mirna sangat puas karena dia mengira jika tindakannya itu tidak diketahui oleh orang lain karena pada saat dia melumuri lantai di sumur itu, Mirna sudah memastikan keadaan bahwa tidak ada orang lain yang berada di lokasi tersebut, sehingga dia bisa bernafas lega dan bisa mengatakan bahwa kondisinya aman.
Di rumah sakit.
"Bie, kapan kita pulang?" tanya Rhea ketika disuapi oleh suaminya.
"Nunggu kamu pulih dulu ya, turuti apa kata dokter biar dedek bayinya sehat," Ustad Fariz dengan telaten menyuapi Rhea dan mengambilkan minuman untuknya.
__ADS_1
"Udah sehat kok, janji deh gak ceroboh lagi. Ya... ya... pulang ya Bie...," Rhea merengek dengan menggoyang-goyangkan tangan Ustad Fariz.
"Nanti ya ditanyakan dokter dulu. Tapi harus janji istirahat yang cukup dan tidak boleh beraktifitas yang berlebihan."
Rhea mengangguk cepat dan tersenyum lebar sehingga memperlihatkan deretan giginya. Hal itu membuat Ustad Fariz menjadi gemas dan dia mencubit hidung Rhea hingga Rhea mengadu kesakitan.
Hari ini Rhea diperbolehkan untuk pulang. Rhea sangat senang sekali karena dia sudah merasa bosan berada di rumah sakit. Sepanjang perjalanan, senyum Rhea selalu tercetak di bibirnya.
Dengan membuka jendela kaca mobilnya, dia berkata,
"Hmmm.... bau kebebasan," ucap Rhea sambil memejamkan mata dan menghirup dalam-dalam udara yang masuk dari luar kaca jendelanya.
Ustad Fariz tertawa dan mengusap kepala Rhea dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya digunakan untuk memegang kemudi.
"Kamu itu ada-ada aja sayang," ucap Ustad Fariz sambil terkekeh.
"Beberapa hari di rumah sakit itu udah kayak di penjara tau gak Bie."
Ustad Fariz kembali tertawa mendengar perumpamaan dari istrinya itu.
"Mangkanya mulai sekarang harus hati-hati ya," ucap Ustad Fariz dengan mengusap kembali kepala Rhea yang berbalut hijab dan Rhea pun mengangguk menyetujuinya.
Sampai di Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ustad Fariz dan Rhea dikejutkan dengan adanya mobil Ayah Rhea yang terparkir di depan rumah Umi Sarifah.
Mereka terkejut karena Rhea tidak mau memberi tahu pada orang tuanya tentang dia masuk rumah sakit karena takut Ayah dan Ibunya cemas dan buru-buru menuju rumah sakit. Jarak dari rumah orang tua Rhea ke rumah sakit tempat Rhea dirawat sangat jauh, oleh sebab itu dia tidak ingin orang tuanya mengkhawatirkannya, toh juga dia tidak apa-apa dan hanya diperintahkan untuk istirahat saja oleh dokter.
"Assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikumussalam..."
"Ayah, Ibu....," Rhea berhambur memeluk Ibu dan Ayahnya bergantian dan diikuti oleh Ustad Fariz yang mencium punggung tangan Ayah dan Ibu mertuanya.
"Ayah, Ibu kapan kesini?" tanya Rhea antusias.
"Kemarin," jawab Ibu.
"Nak Ustad, masih ingat dengan janji yang waktu itu kan?" tanya Ibu Rhea.
__ADS_1