Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 129 Ingatan yang menyiksa


__ADS_3

Pandu bermimpi tersesat di dalam hutan dan tidak ada siapa-siapa yang ada bersamanya. Dia berlari menyusuri hutan tersebut mencari seseorang.


"Rhea!" Pandu berteriak memanggil nama seorang wanita dalam tidurnya yang berarti dia teriakan dalam mimpinya.


Tidak ada siapapun di hutan tersebut yang menyahut. Dia kembali berlari menyusuri hutan tersebut, namun naasnya dia malah terperosok dan jatuh berguling-guling dari atas tebing.


"Rhea, tolong aku! Di mana kamu? Rhea!" Pandu berteriak dalam mimpinya dengan memegang kepalanya yang berdarah.


"Rhea?" ucap Ani ketika terbangun dari tidurnya karena mendengar teriakan dari suaminya.


"Rhea siapa? Apa dia orang dari masa lalu Mas Pandu?" Ani masih saja bertanya dengan dirinya sendiri.


Pandu merasa melihat seorang wanita yang dia panggil dengan nama Rhea. Tangan Pandu terulur ingin menggapai wanita tersebut yang berada tidak jauh di hadapannya, namun lama kelamaan wanita tersebut memudar tidak diketahui lagi di mana keberadaannya.


"Rhea!" Pandu berteriak seraya bangkit dari tidurnya.


Keringat dingin membasahi tubuh Pandu. Nafasnya terengah-engah seolah habis berlarian dengan jarak yang tidak dekat.


"Mas... Mas Pandu kenapa Mas? Mas bermimpi? Atau ada yang sakit?" Rhea bertanya pada Pandu dengan menggoyang-goyangkan lengannya.


Pandu terperanjat kaget ketika melihat Ani yang berada di sampingnya dengan bagian atas tubuhnya yang tidak memakai apapun dan ditutupi selimut oleh tangan Ani.


"A-Ani?" ucap Pandu dengan wajah bingungnya.


"Iya Mas, ini aku, Ani istrinya Mas Pandu," Ani menjawabnya untuk meyakinkan Pandu.


Tampak wajah Pandu yang sangat bingung, sepertinya Pandu masih menggabungkan antara mimpinya dengan kenyataan yang ada di hadapannya sekarang ini.


Rhea? Siapa dia? Tapi sepertinya aku sangat sedih dan kehilangan ketika dia menghilang. Apa dia seseorang dari masa laluku? Dan kini nyatanya aku sudah menjadi suami dari Ani. Oh Ya Tuhan... apa artinya ini semua? Kenapa sangat membingungkanku? Pandu berkata dalam hatinya dengan kedua tangannya memegang kepalanya berharap agar dia bisa lebih banyak mengingat apa yang hilang dari ingatannya.

__ADS_1


"Auch...," Pandu meringis kesakitan ketika mencoba mengingat kembali ingatannya yang hilang.


"Kenapa Mas? Apa kepala Mas Pandu sakit lagi?" Ani bertanya dengan penuh kekhawatiran.


"Rasanya.... sakit sekali. Auchhh...," Pandu menjawabnya dengan menahan sakit yang sangat menyiksa di kepalanya.


"Sebentar Mas, ini minumnya Mas Pandu minum aja dulu," ucap Ani sambil memberikan gelas berisi air putih yang diambilnya dari meja di samping tempat tidurnya.


Pandu menerima gelas itu dan meminumnya. Rasa sakit di kepalanya berangsur menghilang ketika dia tidak lagi berusaha mengingat apapun.


"Besok kita minta Bapak buatin obat untuk sakit kepalanya Mas Pandu. Sekarang Mas Pandu tidur dulu ya," ucap Ani sambil membantu Pandu merebahkan badan Pandu kembali ke tempat tidur.


Perasaan Ani semakin tidak menentu, dia takut ingatan Pandu akan kembali dan meninggalkannya jika memang ada wanita lain di hatinya.


Ya Allah, apa aku akan ditinggalkan oleh Mas Pandu setelah kita menjadi suami istri? Lalu bagaimana dengan nasibku jika Mas Pandu kembali ke masa lalunya? Apa aku akan ditinggalkannya? Ani berkata dalam hatinya.


Dia tidak mau kebahagiaannya hanya dirasakannya sebentar saja. Sia ingin bahagia bersama suami dan anak-anaknya kelak. Ani menoleh ke samping di mana suaminya berbaring dan matanya sudah terpejam. Ani meletakkan kepalanya pada dada suaminya, mencari tempat ternyaman dan melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya.


Keesokan harinya, seperti yang diucapkan oleh Ani, Pak Minto membuatkan obat untuk Pandu.


"Pak, apa ada obat agar ingatan saya bisa pulih kembali?" Pandu bertanya pada Pak Minto sebelum dia meniup ramuan obat yang ada di dalam gelas batok kelapa itu.


"Bapak pernah membuatnya, tapi....," ucapan Pak Minto menggantung dan dia menoleh pada Ani yang duduk di dekat Pandu.


"Tapi kenapa Pak?" tanya Pandu yang bingung mendengar jawaban dari Pak Minto yang kini sudah menjadi mertuanya.


"Ani, bilang sama Bapak, kalau dia takut kamu tinggalkan setelah kamu mengingat kembali masa lalu kamu," Pak Minto menyampaikan kegelisahan Ani semalam.


Pandu terhenyak, dia lupa jika ada Ani di masa kini nya sekarang. Tapi dia ingin sekali mengingat siapa dirinya dan siapa wanita yang ada dalam mimpinya semalam. Karena mimpi itu terasa sangat nyata bagi Pandu.

__ADS_1


"Saya hanya ingin tau siapa diri saya yang sebenarnya Pak. Dan Ani adalah istri saya sekarang, jadi saya tidak bisa meninggalkannya," Pandu mencoba meyakinkan Pak Minto dan Ani.


"Apa Mas berjanji?" Ani kini mempertanyakan keseriusan Pandu.


Pandu mengangguk dan memegang tangan Ani untuk meyakinkannya. Pak Minto lega karena kegelisahan Ani mulai dari semalam tidak terbukti.


"Baiklah nanti Bapak buatkan obatnya. Dan ada efek samping dari obat tersebut, tapi tidak berbahaya. Nanti Bapak jelaskan jika Bapak sudah membuatnya," ucap Pak Minto, kemudian dia beranjak membawa tasnya.


"Bapak mau ke mana?" Ani bertanya pada Pak Minto ketika melihat Bapaknya akan pergi ke arah hutan.


"Bapak mau pergi mencari obat untuk Pandu sebentar," jawab Pak Minti yang menghentikan langkahnya karena pertanyaan dari Ani.


"Apa perlu saya temani Pak?" tanya Pandu yang merasa sungkan karena membebani Pak Minto untuk membuatkannya obat.


"Tidak perlu. Lebih baik kamu temani istrimu agar dia tidak berpikir macam-macam lagi karena takut kamu tinggal," Pak Minto menjawabnya sambil terkekeh dan setelah itu dia berjalan ke arah hutan.


Pandu menoleh ke sampingnya di mana istrinya duduk sekarang. Dia memandang wajah Ani yang tersipu malu padanya. Namun sekelebat wajah Ani berubah menjadi wajah Rhea, wajah wanita yang ada dalam mimpinya semalam. Dia sangat ingat wajah itu, karena wajah itu merupakan wajah wanita yang dirindukannya.


Dikerjap-kerjapkan matanya dan di usap-usap matanya namun tetap saja wajah wanita yang ada dalam mimpinya itu yang hadir di depannya saat ini. Namun ketika dia mendekatkan wajahnya, ternyata yang dia lihat saat ini wajah Ani, wanita yang sudah menjadi istrinya saat ini.


Mata Ani sudah terpejam ketika wajah suaminya mendekat padanya. Namun sudah lama mata Ani terpejam, tak ada sesuatu yang seperti harapan dari Ani. Mata Ani kembali terbuka dan melihat wajah suaminya yang sudah kembali menjauh dengan raut wajah bingung serta matanya yang diusap-usap dengan tangannya.


"Ada apa Mas? Kenapa lagi?" Ani bertanya dengan cemas dan lebih mendekat pada suaminya.


"Enggak, gak kenapa-napa kok," jawab Pandu dengan memberikan senyum palsunya pada Ani.


Kehidupan rumah tangga Pandu dan Ani berjalan seperti biasa hingga Ani mengandung anak dari Pandu. Sementara ingatan Pandu masih saja masih seperti kepingan puzzle yang harus sedikit demi sedikit disatukan.


Mimpi itu kembali lagi, Pandu bertemu dengan seorang wanita yang dia panggil dengan nama Rhea sedang berjalan bergandengan tangan dengan seorang laki-laki. Mereka berjalan menjauhi Pandu setelah wanita yang dia panggil dengan nama Rhea itu mengucapkan selamat tinggal untuknya.

__ADS_1


"Rhea jangan tinggalkan aku!" Pandu berteriak hingga terbangun dari tidurnya.


Rhea? Nama wanita itu lagi, Ani membatin sambil berpura-pura tertidur dengan masih memejamkan matanya.


__ADS_2