
"Astaghfirullahaladzim Mirna! Hentikan omong kosong mu itu. Kamu keterlaluan Mirna. Bukannya kamu yang nyuruh aku supaya menikah dengan dia? Jadi apa yang kamu lakukan sekarang?" suara teriakan Ustad Fariz mengalihkan perhatian semua orang yang ada di ruangan tersebut.
Rhea yang terdiam di tengah-tengah tangga merasa kaget oleh teriakan dan umpatan Mirna tadi, kini dia dikagetkan oleh suara teriakan Ustad Fariz. Rasanya dia tidak bisa kemana-mana, dia tidak ingin turun karena ada Ustad Fariz dan Mirna yang sepertinya mereka harus saling berbicara, dan dia juga tidak bisa ke atas karena pasti akan sangat canggung sekali.
Ustad Fariz melihat ke arah tangga dan dia sedikit terkejut melihat Rhea yang ada disitu. Dia menatap penuh penyesalan seolah pandangan matanya meminta maaf pada Rhea.
"Mas, kamu jahat, kamu akan menikah pada saat aku tidak di rumah, bahkan kamu tidak mencari ku, kamu jahat Mas, jahat," teriak Mirna menggebu-gebu dengan memukul-mukul dada Ustad Fariz.
Namun pandangan mata Ustad Fariz tetap memandang Rhea yang menundukkan kepalanya dan tetap berada di tangga.
Umi Sarifah menarik Rhea untuk turun dari tangga dan duduk di ruang tengah. Sedangkan Ustad Jaki menyuruh Ustad Fariz dan Mirna juga duduk di ruang tengah.
Memang seharusnya sudah dari sejak lama mereka harus bertemu dalam satu kesempatan agar tidak lagi terjadi salah paham yang bisa bisa menyakiti hati mereka.
Umi Sarifah membuka suara dengan menanyakan penyebab Mirna berteriak tanpa sopan santun di dalam rumah.
Mirna pun mulai menyalahkan suaminya atas perilakunya tadi. Dan juga Mirna menyalahkan Rhea sebagai wanita penyebab suaminya yang tidak lagi peduli padanya.
Ustad Fariz menyanggah semua tuduhan Mirna, tapi sebelum Ustad Fariz melanjutkan perkataannya, Ustad Jaki menyahut dengan menyalahkan Mirna yang ingkar dari tugas dan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Seorang istri harus ijin pada suaminya sebelum pergi kemana-mana dan seorang istri juga harus menepati janjinya. Apa Mbak Mirna sudah melakukan itu semua?" ucap Ustad Jaki menyindir Mirna.
"Mirna, kamu pergi tanpa ijin padaku, dan aku juga udah mencarimu, aku tau dimana kamu berada. Dan untuk masalah aku menikah dengan Rhea, kita sudah membahasnya berulang kali bukan? Siapa yang dulu menyuruhku menikahi Rhea? Kamu tidak lupa kan? Jadi sekarang apa masalahnya?" Ustad Fariz sudah tidak tahan dengan sikap Mirna yang seperti anak kecil, suka menang sendiri.
"Tapi Mas, harusnya kamu menjemputku meskipun aku tidak ijin padamu," ucap Mirna yang masih tetap tidak mau kalah.
"Sudah... sudah.. ini besok acaranya akan berlangsung, lebih baik kalian tidak meributkan hal seperti ini lagi, gak enak didengar orang lain," ucap Umi Sarifah menengahi perdebatan mereka.
"Kenapa dia tidak meminta ijinku dulu?" Mirna menunjukkan jari telunjuknya pada Rhea.
"Hah? Yang benar saja, Mbak Mirna kan udah ngijinin, ngapain Rhea harus minta ijin Mbak lagi? Minta disembah kayak ratu gitu? Atau kayak majikan?" tanya Ustad Jaki yang sudah teramat kesal dan geram dengan sikap Mirna.
"Sudahlah Ustad," Rhea menghentikan ucapan Ustad Jaki.
__ADS_1
"Mbak Mirna, aku minta maaf jika ada salah dan aku minta restu Mbak Mirna untuk pernikahan kami," ucap Rhea dengan suara bergetar menahan rasa malu dan sakit hati.
"Zahra..," Ustad Fariz tidak tega melihat Zahra nya seperti itu.
Umi Sarifah memeluk Rhea untuk memberikan kekuatannya dan membisikkan kata penyemangat untuknya.
Rhea memandang wajah Umi Sarifah, kemudian dia tersenyum dan mengangguk padanya.
Setelah itu Ustad Fariz menyuruh Mirna untuk pulang ke rumah dan tidak boleh keluar rumah tanpa ijin darinya meskipun hanya di daerah Pondok Pesantren saja.
Hari ini pun tiba, hari dimana Rhea akan berganti status menjadi seorang istri. Rasa senang, deg-degan dan haru menjadi satu menunggu kata sah dilontarkan oleh para saksi.
Disinilah Rhea berada sekarang, dia sedang duduk dengan cemas di dalam kamarnya yang berada di Pondok Pesantren Al-Mukmin. Pikirannya mengembara dimana-mana, ketakutan yang kemarin-kemarin tidak dirasakannya ketika mengambil keputusan untuk menerima lamaran dari Ustad Fariz kini tiba-tiba datang.
Tiba-tiba Rhea takut jika acara ini akan kacau dan tidak sesuai rencana. Hingga kata 'Sah!' terdengar nyaring di telinganya, Rhea sedikit bisa bernafas lega, dan ketika dia mendengar lantunan suara merdu surah Ar-Rahman yang dia yakini adalah suara dari suaminya, matanya berkaca-kaca dan air matanya menetes tanpa permisi di pipinya yang kini sudah di poles dengan make up yang sangat cantik.
Pintu kamar Rhea dibuka dan muncullah Ibu Rhea dan Umi Sarifah menjemput Rhea untuk keluar menemui suaminya.
Rhea yang dibantu berjalan untuk duduk di sebelah suaminya oleh Ibunya dan Umi Sarifah tidak berani menampakkan wajahnya, dia selalu menunduk malu dihadapan semuanya. Hingga dia duduk dan di depannya ada sebuah tangan, barulah dia mendongak dan melihat tangan itu adalah tangan suaminya yang harus dia cium sebagai tanda penghormatan.
Setelah itu Ustad Fariz mencium kening Rhea dengan penuh perasaan hingga rasa itu menggetarkan hati Rhea.
Mata mereka berdua bertemu, saling mengagumi pasangannya. Dan senyum mereka tak henti mengembang disertai ucapan syukur dalam hati mereka.
Mirna sejak tadi ingin mengacaukan suasana, dia duduk di dekat Umi Sarifah dan ingin maju ke depan penghulu untuk mengatakan bahwa dia tidak menyetujui pernikahan tersebut, namun Umi Sarifah menahan tangannya dan mengatakan padanya jika Mirna akan mengacaukan acara pastinya yang akan malu dia sendiri karena nantinya semua orang pasti akan tahu semua yang dikatakan oleh Mirna tidak benar.
Akhirnya Mirna duduk kembali di dekat Umi Sarifah dengan tidak tenang. Berkali-kali dia berpindah posisi dan bergumam lirih sehingga tidak ada yg bisa mendengarnya, hanya gumaman tidak jelas saja yang di dengar orang-orang disebelahnya.
Bu Ratih dan Pak Adrian terharu melihat kedua mempelai itu kini resmi menjadi sepasang suami istri. Tidak pernah mereka bayangkan jika akhirnya kedua insan itu bisa bersatu dalam ikatan pernikahan setelah banyaknya kepahitan yang mereka berdua rasakan hingga kini mereka dipersatukan oleh yang maha kuasa.
Namun Ayah dan Ibu Rhea masih mempunyai ketakutan akan hubungan anak mereka dengan Mirna, istri pertama dari Ustad Fariz yang sepertinya tidak menyukai Rhea, namun anehnya malah dia yang menyuruh suaminya untuk menikahinya. Pertanyaan itu tidak mampu mereka pertanyakan pada Ustad Fariz yang kini menjadi menantu mereka.
Setelah acara ijab kabul dan foto-foto selesai dilakukan, kini pengantin baru tersebut masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian, sedangkan tamu yang lain sedang menikmati hidangan yang sudah disajikan di tenda yang ada di halaman yang sudah dipersiapkan.
__ADS_1
Suasana canggung terjadi di dalam kamar pengantin. Rhea sangat malu dan canggung berada satu kamar dengan Ustad idolanya yang kini telah resmi menjadi suaminya.
Ustad Fariz tersenyum melihat Rhea yang tertunduk malu duduk di pinggiran ranjang. Ustad Fariz mengerti apa yang dirasakan oleh Rhea, karena dia pun merasakan hal yang sama seperti Rhea, grogi, deg-degan dan berdebar-debar. Rasa itu tidak dia rasakan ketika menikah dengan Mirna, istri pertamanya.
Rhea mendongakkan kepalanya melihat ke arah depan ketika Ustad Fariz bersimpuh di depannya.
"Rheina Az Zahra... istriku... sekarang kamu sudah menjadi Zahra ku," ucap Ustad Fariz yang tersenyum manis dengan menggenggam kedua tangan Rhea.
Hati Rhea berdesir dan jantungnya begitu cepat berdetak sehingga dia tidak sadar sedari tadi dia hanya menatap suaminya itu tanpa berbicara apapun.
Tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan kegiatan pandang memandang mereka. Suara teriakan dari Ustad Jaki itu menjeda momen kebersamaan mereka untuk pertama kalinya karena Ustad Jaki memberitahu agar mereka segera berganti pakaian, dan MUA mereka sudah menunggu di depan pintu.
Setelah berganti pakaian pengantin dengan model dan warna yang berbeda, kini mereka berada di pelaminan. Aura kebahagiaan pengantin baru dirasakan oleh semua orang yang hadir di acara tersebut.
Halaman di Pondok Pesantren Al-Mukmin begitu luas sehingga tenda yang didirikan menutupi semua halaman pun penuh oleh tamu undangan.
Semua para santri membantu terselenggaranya acara ini karena mereka sangat menyukai pribadi Rhea yang sangat berbeda dengan Bu Mirna, istri pertama dari Kyai mereka.
Hampir semua tamu undangan memuji kecantikan Rhea sehingga membuat telinga Mirna sangat terganggu dan hatinya sangat cemburu karena semua orang menyukai dan mengagumi Rhea.
Mirna berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Pasalnya dia ingin mengajak suaminya berada bersamanya malam ini. Dia ingin menghancurkan malam pengantin Ustad Fariz dan Rhea.
Mirna berpikir akan menggagalkan malam pertama mereka sebagai suami istri. Otaknya berpikir sangat keras. Berbagai ide dia kumpulkan untuk dipilihnya sebagai rencana awalnya malam ini.
Mirna berdandan secantik mungkin dan dia pergi ke rumah Umi Sarifah. Ustad Jaki yang masih membantu berbenah ruang tamu pun heran dengan keberadaan Mirna di sana pada jam yang seharusnya dia tidak keluar rumah.
Mirna menanyakan pada Ustad Jaki dimana suaminya berada. Dan Ustad Jaki pun mengatakan bahwa Ustad Fariz tidak ada di sana. Namun Mirna tidak putus asa, sebab dia mempunyai banyak alasan.
Ustad Jaki mengacuhkan semua omongan Mirna, dia hanya sibuk beres-beres ruang tamu, sehingga Mirna sangat kesal. Mirna naik ke kamar atas yaitu kamar yang dijadikan kamar pengantin dengan hiasan yang sangat indah di luar kamar, sehingga semua tahu jika kamar itu adalah kamar milik pengantin.
Mirna membuka pintu kamar tersebut dengan mudah dan ternyata kekecewaan dan kekesalan yang dia dapat. Kamar itu kosong tidak ada penghuninya sama sekali. Dan kamarnya masih sangat rapi seperti tidak tersentuh.
Ustad Jaki tersenyum dari bawah tangga melihat Mirna yang sedang mengomel seperti orang tidak waras karena tidak mendapati suaminya di dalam kamar tersebut.
__ADS_1