Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 179 Kedatangan Emir


__ADS_3

Sudah satu minggu ini Pandu bekerja sebagai kuli panggul di pasar. Selama bekerja, matanya selalu berkelana mencari-cari sosok Rhea yang mungkin datang ke pasar seperti waktu itu.


Namun berhari-hari sudah dia bekerja di pasar itu, tidak juga dia mendapati sosok mantan istrinya itu di sana.


Apa dia menghindariku dengan tidak datang ke pasar ini? Pandu bertanya-tanya dalam hatinya.


Setelah sore hari Pandu menerima upahnya untuk hari ini. Dan dia bergegas pulang ke rumah karena hari ini dia akan ke rumah sakit untuk menjemput Emir, anak keduanya yang ditinggalkan Ani untuknya.


"Bapak, Hana ikut ya ke rumah sakit jemput Emir?" Hana bertanya pada Pandu ketika Pandu baru masuk ke dalam rumahnya.


"Hana lebih baik di rumah saja ya, Bapak kan gendong Emir, nanti Hana bagaimana?" Pandu menolak keinginan Hana.


"Hana kan bisa jalan sendiri Pak. Hana gak perlu digendong," Hana merajuk pada Pandu.


"Bapak mandi dulu ya Hana, nanti kita bicarakan lagi," ucap Pandu sambil mengelap keringat di lehernya.


"Pokoknya Hana mau ikut ya Pak," Hana kembali merajuk.


Pandu diam saja karena dia bingung jika dia naik angkutan umum, berarti dia harus berjalan kaki hingga jalan raya untuk bisa naik angkutan umum menuju rumah sakit.


Dan jika Hana ikut, pasti akan lelah sekali untuknya. Sedangkan jika dia meminjam motor Pak Ratmo untuk ke rumah sakit, dia butuh seseorang untuk nantinya menggendong Emir. Tapi itu bukan Hana, karena Hana masih kecil dan belum bisa menggendong Emir.


Setelah Pandu membersihkan badannya, Hana selalu mengikuti Pandu ke manapun Pandu berjalan. Hingga pada saat Pandu keluar dari rumahnya, Hana menangis meminta untuk ikut dengannya ke rumah sakit.


"Hana ikut Pak... ikut....," Hana merengek sambil memegang baju Pandu ketika berjalan keluar rumah.


"Loh Hana kenapa kok nangis?" Anita bertanya ketika keluar rumah dan mendapatkan Hana menangis berpegangan pada baju Pandu seolah tidak mau ditinggalkan bapaknya.


"Hana mau ikut Bapak jemput Emir di rumah sakit," jawab Hana di sela tangisnya.


"Emir udah boleh pulang Mas?" Anita bertanya pada Pandu.


"Iya Nit, ini aku mau jemput. Tapi kalau Hana ikut aku bingung nantinya gimana. Kan aku harus gendong Emir nanti dan kita harus jalan sampai jalan raya untuk naik angkutan umum untuk bisa sampai ke rumah sakit. Kasihan Hana kalau ikut jalan kaki sampai jalan raya," Pandu menjawab dengan ragu.

__ADS_1


"Kalau gitu, naik motor Bapak aja Mas, nanti yang gendong Emir biar Anita saja," Anita memberikan idenya.


"Yeee... jadi Hana bisa ikut dong.... Yeeee...," Hana bersorak setelah menghentikan tangisnya.


Pandu tertawa melihat Hana yang bersorak kegirangan hanya karena diperbolehkan ikut menjemput adiknya di rumah sakit.


"Tunggu sebentar ya Hana, Mbak Anita mau ganti baju dulu sama ambil kunci motornya sekalian," ucap Anita sambil berjongkok di depan Hana dan mengusap jejak air mata di pipi Hana.


"Mau ke mana Nit?" Mirna bertanya pada Anita yang sudah berganti pakaian keluar dari kamarnya.


"Mau ikut Hana jemput Emir Mbak," jawab Anita sambil merapikan kembali hijabnya dengan berkaca pada kaca rak yang ada di dekat Mirna.


"Udah kayak jadi ibu sambungnya aja kamu Nit," ucap Mirna sambil terkekeh.


"Kasihan mereka Mbak, masa' mau jemput bayi naik angkutan umum, kalau pakai motor kan gak ada yang gendong bayinya. Mangkanya Anita ikut," Anita memberi alasan pada Mirna.


"Sekalian aja nikah Nit, kasihan mereka butuh ibu," sahut Mirna masih dengan kekehannya.


"Kurang ajar kamu Nit," ucap Mirna sambil melempar kulit kacang yang isinya sudah dia makan pada Anita.


Sedangkan Anita sudah berlari kecil ke luar untuk menemui Pandu dan Hana yang sedari tadi menunggunya.


Sesampainya mereka di rumah sakit, segera menuju ke ruang perawatan bayi untuk membawa Emir pulang bersama mereka. Dan tentu saja Pandu tidak membayar sepeserpun karena semua sudah dibiayai oleh dokter Shinta.


Mereka pulang dengan berkendara menggunakan motor Pak Ratmo. Anita menggendong Emir duduk diboncengan belakang, sedangkan Hana duduk di depan Pandu yang mengemudikan motornya.


"Assalamu'alaikum....," Anita mengucap salam ketika masuk ke dalam rumahnya diikuti dengan Hana yang juga mengucap salam.


"Wa'alaikumussalam....," jawab Mirna yang sedang santai menonton acara televisi.


"Mbak Mirna, tolong gendong sebentar ya, Anita mau ke kamar mandi dulu sebentar, udah gak tahan Mbak, kebelet dari tadi," ucap Anita sambil melepaskan baby Emir dari gendongannya dan meletakkannya di pangkuan Mirna.


"Loh Nit, apa-apaan ini? Nit... Nita... Anita!" Mirna berseru memanggil Anita yang sudah berlari masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Bu Mirna, Bu Mirna jangan teriak-teriak, nanti Emir bangun," Hana memberitahu Mirna.


Dan benar saja, sedetik kemudian baby Emir menangis. Hal itu membuat Mirna bingung, namun reflek saja Mirna berdiri dan menimang baby Emir sehingga seketika tangisan baby Emir pun reda.


Mirna tersenyum senang ketika usahanya untuk menenangkan baby Emir berhasil. Dilihatnya wajah damai baby Emir yang sangat menenangkan hatinya, tanpa sadar senyumnya mengembang melihat wajah baby Emir yang tidur dengan damai.


Sebenarnya Pandu sedari tadi ingin menghampiri Mirna dan mengambil baby Emir, namun dihentikannya niatan itu karena melihat Mirna yang menimang baby Emir dengan penuh kasih sayang sehingga bisa meredakan tangisan baby Emir dan menenangkannya. Dan satu lagi, senyuman Mirna pada saat melihat wajah baby Emir sangat tulus padanya.


Pandu pun tersenyum melihat Mirna menggendong baby Emir tanpa marah-marah seperti yang selama ini dia ketahui.


Sedangkan Hana menggantikan Mirna menonton televisi yang acaranya sudah diganti oleh Hana menjadi acara kartun kesukaannya.


Tadinya Anita tergesa-gesa keluar dari kamar mandi karena mendengar tangisan baby Emir, namun ketika dia sudah keluar dari kamar mandi suara tangisan baby Emir sudah tidak terdengar lagi.


Dan yang membuat Anita kaget adalah, Mirna menimang-nimang baby Emir layaknya menimang bayinya sendiri dan dengan senyumnya Mirna itu membuat Anita ikut tersenyum lega.


Sebenarnya Mbak Mirna itu orangnya baik, hanya saja dia memang keras kepala. Semoga Mbak Mirna mendapatkan suami yang bisa membuatnya berubah menjadi istri yang salihah dan tidak berakhir seperti dulu lagi, Anita tersenyum dan berkata dalam hatinya.


"Kenapa Mbak, Emir nangis ya?" tanya Anita seraya berjalan mendekati Mirna.


"Cuma sebentar, sekarang udah enggak," jawab Mirna yang masih menimang-nimang baby Emir sambil memandang wajah damainya.


"Mau digantikan Mbak gendongnya?" tanya Anita pada Mirna, karena dia takut jika nantinya Mirna mengomel padanya karena kelelahan.


"Gak usah Nit, kamu siapkan makan malam saja buat kita," jawab Mirna yang masih dalam posisi seperti tadi.


"Beneran Mbak Mirna gak capek? Tadi aja kita pulang cepat dari warung karena Mbak Mirna mengeluh badannya sakit semua," Anita kembali meyakinkan Mirna.


"Sekarang capeknya udah hilang Nit. Lihat nih wajah Emir damai sekali, bisa buat hatiku menjadi tenang ketika melihatnya," ucap Mirna tanpa sadar sambil tersenyum memandang wajah baby Emir.


Apa yang dikatakan Mirna itu membuat Pandu yang sudah ada di belakangnya menjadi senang dan tersenyum melihat banyak yang menyayangi baby Emir.


"Mas Pandu mau sekalian makan di sini?"

__ADS_1


__ADS_2