Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 239 Blighted Ovum


__ADS_3

Mirna meringkuk di sebelah tempat tidurnya dan merintih kesakitan dengan memegang perutnya.


"Mirna, apa yang terjadi?" tanya Pandu yang berjalan panik mendekati Mirna.


"Ouch...," teriak Mirna kesakitan dengan memegang perutnya.


Pandu memegang tangan Mirna, dia terkejut ketika melihat darah segar yang mengalir di kaki Mirna.


"Mirna! Ya Tuhan...," Pandu berseru dan segera berganti pakaian.


Kemudian di membopong tubuh Mirna untuk segera dibawa ke rumah sakit.


"Bapak, Ibu kenapa?" tanya Hana ketika baru saja datang dan melihat Pandu membopong Mirna dengan sangat panik keluar dari rumahnya.


"Bapak akan membawa Ibumu ke rumah sakit," jawab Pandu dengan tergesa-gesa membopong tubuh Mirna menuju motornya.


Hana berlari kecil mengejar Pandu. Kemudian dia berkata,


"Hana bagaimana Pak? Apa perlu Hana bonceng di belakang untuk memegangi Ibu?"


Pandu berpikir sebentar, kemudian dia menganggukkan kepalanya, menyetujui pendapat Hana.


Hana pun bergegas menolong Mirna untuk memeganginya duduk di boncengan motor yang dikendarai oleh Pandu.


Motor Pandu membelah jalanan malam menuju rumah sakit. Mirna merintih kesakitan di sepanjang jalan membuat Pandu dan Hana semakin tergesa-gesa untuk segera sampai di rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Pandu segera membawa Mirna ke ruang UGD. Mirna yang merintih kesakitan itu membuat seisi ruang UGD bertambah panik karena rintihan Mirna sangat keras dan membuat orang lain beralih memperhatikannya.


Dokter Dita yang merupakan dokter kandungan Mirna harus dipanggil malam itu juga atas permintaan Mirna. Dia tidak mau diambil alih oleh dokter lain kecuali dokter Dita.


Dengan masih memakai pakaian rumahan, dokter Dita segera datang ke rumah sakit dan segera menangani Mirna.


Pandu dan Hana sangat khawatir. Mereka mondar mandir di ruang VK tempat untuk bersalin. Mereka berdua takut jika terjadi sesuatu dengan kandungan Mirna. Dan mereka tidak bisa membayangkan jika itu terjadi, Mirna pasti akan sangat bersedih.


Tidak lama kemudian datanglah Anita menyusul ke rumah sakit. Tadi dia mendapat kabar dari Hana menggunakan ponsel milik Mirna. Dan segeralah dia menutup warung milik Mirna untuk datang ke rumah sakit.


Setengah jam kemudian dokter Dita keluar dari ruang VK.


"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Pandu dengan wajah khawatir.


Dokter Dita menghela nafas, kemudian dia menggelengkan kepalanya.


"Apa maksud dokter? Mirna dan kandungannya baik-baik saja kan?" tanya Pandu dengan rasa penuh ingin tahu.


"Maaf Pak, saya tidak bisa menyelamatkan janin Bu Mirna, dia keguguran dan harus segera dilakukan kuretasi," ucap dokter Dita dengan wajah penyesalan.


"Apa?!"

__ADS_1


Pandu berseru tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


Dokter Dita pun merasa ikut menyesal karena dia mengetahui seberapa besarnya Mirna menginginkan untuk mempunyai anak dan bagaimana dia melewati penyakitnya sebelum akhirnya dinyatakan hamil.


Mirna membuka matanya, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dan ternyata dia kini berada di ruang rawat rumah sakit.


Mirna mengingat apa yang terjadi padanya apa yang membuatnya berada di ruangan itu. Air matanya kembali menetes mengingat kebahagiaannya yang hancur dalam sekejap mata.


Mirna mengusap perutnya, kemudian dia berkata sambil terisak,


"Maafkan Ibu nak."


Ceklek!


Masuklah Pandu beserta Hana dan Anita ke dalam ruang perawatan Mirna.


"Mir, kamu sudah sadar?" tanya Pandu sambil berjalan mendekat ke arah Mirna yang masih terbaring di bed pasien.


"Mas... anak kita...," ucap Mirna dengan suara bergetar dan matanya yang berkaca-kaca.


Pandu tidak tega melihat istrinya seperti itu. Dia tahu bagaimana inginnya dia memiliki keturunan. Pandu segera memeluk Mirna dan mengusap punggungnya perlahan untuk menenangkannya.


"Sabar Mir, nanti pasti ada saatnya kita dipercaya menjadi orang tua," tutur Pandu.


Air mata Mirna sudah tidak bisa dibendung lagi. Air matanya keluar bagai anak sungai yang membanjiri wajahnya.


"Silahkan dok," jawab Anita mewakili Pandu dan Mirna.


Pandu segera melepaskan pelukannya dari Mirna dan mengambilkan tisu yang berada di meja sebelah bed Mirna untuk mengusap air mata Mirna.


Dokter Dita segera memeriksa keadaan Mirna secara teliti. Kemudian dia berkata,


"Keadaan Ibu Mirna sekarang baik-baik saja. Dan saya turut berduka soal keguguran Bu Mirna karena Blighted Ovum."


"Blighted Ovum dok? Apa itu?" tanya Pandu yang kaget mendengar ucapan dokter Dina.


"Blighted Ovum adalah kehamilan kosong, suatu kondisi ketika tidak ada janin didalam kantung kehamilan," jawab dokter Dita menjelaskan.


Mata Mirna terbelalak kaget mendengar jawaban dari dokter Dita. Tidak hanya Mirna saja, Pandu, Anita dan Hana pun kaget mendengar jawaban dari dokter Dina.


"Jadi, bukan karena saya jatuh dok?" tanya Mirna meyakinkan.


"Jatuh?" celetuk dokter Dina.


"Iya dok, waktu itu saya terjatuh dari tempat tidur ketika akan duduk di tepinya," jawab Mirna.


"Bukan Bu, walau jatuh juga sekalipun janin yang sudah menempel tidak akan secepat itu keguguran Bu. Itu hanya kebetulan pas Bu Mirna jatuh saja, walau Bu Mirna tidak jatuh sekalipun, janin itu tidak akan bertahan," tutur dokter Dita.

__ADS_1


Mirna jadi teringat akan peristiwa Rhea yang terjatuh, dan dalam hatinya dia berkata,


Pantas saja Rhea waktu itu tidak keguguran, ternyata tidak semudah itu jika memang janinnya sudah menempel kuat.


"Baiklah Bu, Pak, saya permisi dulu. Untuk obat-obatannya jangan lupa diminum sesuai anjuran," ucap dokter Dita sebelum dia meninggalkan ruang perawatan Mirna.


Air mata Mirna kembali menetes tatkala dia melihat perutnya. Selama beberapa hari dia dimanjakan oleh semua orang, kini kehidupannya kembali kosong


Tidak ada yang dia banggakan lagi tentang kehamilannya. Bahkan dia tidak tahu lagi bagaimana nantinya dia jika bertemu dengan Rhea yang pernah dia sombongi tentang kehamilannya.


"Sabar ya Mir, semoga nanti kamu bisa hamil lagi," ucap Pandu menenangkan Mirna dengan mengusap kepalanya yang berbalut hijab.


Hana dan Anita pun mendekat dan memeluk Mirna secara bergantian. Mereka bisa merasakan kesedihan Mirna yang mendalam.


"Ibu jangan sedih ya. Masih ada Hana dan Emir, kami anak Ibu. Dan jika Allah mengijinkan, pasti Ibu akan hamil lagi," ucap Hana sambil memeluk Mirna.


"Berarti Ibu harus berdoa terus ya Hana?" tanya Mirna pada Hana dengan suara seraknya.


Hana mengangguk karena dia tidak ingin merusak kepercayaan Mirna yang sepertinya ingin berusaha hamil kembali dan selalu berdoa pada Allah agar dia bisa hamil kembali.


"Mbak Mirna yang sabar ya," ucap Anita yang kini juga ikut meneteskan air matanya.


Di rumah Ustadz Fariz, kini keluarga mereka dan Ustadz Jaki sedang berkumpul di ruangan tengah. Mereka membahas apa saja tentang Pondok Pesantren Al-Mukmin dan yang lainnya.


Tiba-tiba saja suara notifikasi ponsel Shinta berbunyi. Dibukanya ponselnya itu dan dia sangat terkejut ketika membaca pesan yang dikirim oleh dokter Dita.


"Bu Mirna keguguran karena Blighted Ovum," ucap Shinta sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong gamisnya.


"Inna lillahi wa inna ilahi raji'un...," ucap mereka semua.


Ustadz Fariz, Ustadz Jaki, Rhea, Izam, Yasmin dan Salsa memandang Shinta penuh tanya.


"Kehamilan kosong, suatu kondisi ketika tidak ada janin didalam kantung kehamilan," tutur Shinta pada semuanya.


"Astaghfirullahaladzim...," ucap Rhea lirih.


"Apa mungkin karena sempat menyombongkan kehamilannya pada kamu waktu itu Rhea?" tanya Ustadz Jaki sambil terkekeh.


"Huss... ngawur kamu," sahut Ustadz Fariz sambil melempar kulit kacang pada Ustadz Jaki.


"Kok Ustadz tau?" tanya Rhea heran.


"Kan aku waktu itu masih ada di dalam rumah, jadi aku dengar apa yang kalian bicarakan. Sepertinya dia mendapatkan hukuman dari kesombongannya," ucap Ustadz Jaki sambil terkekeh.


"Ustadz!"


"Abi!"

__ADS_1


__ADS_2