Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 168 Sebuah syarat


__ADS_3

Sore hari ketika Ustadz Jaki sedang bersiap-siap akan menjemput Shinta, tiba-tiba saja ponsel Ustadz Jaki berbunyi.


"Assalamu'alaikum, tunggu sebentar lagi ya sayang. Suamimu ini akan datang menjemput istrinya," ucap Ustadz Jaki pada Shinta melalui panggilan telepon.


"Wa'alaikumussalam, sebentar, istrimu ini mau bertanya, penting, dan dengarkan dulu, jangan menyela. Kalau udah selesai, barulah suamiku ini diperbolehkan untuk berbicara. Mengerti suamiku?" Shinta menginstruksikan pada Ustadz Jaki untuk mendengarkan apa yang akan disampaikannya.


Shinta memang sengaja memberi perintah seperti itu agar suaminya itu tidak menyela apa yang akan disampaikan olehnya. Karena dia hafal betul suaminya yang selalu menyela setiap orang yang berbicara, walaupun dengan candaannya.


"Iya... iya... galak banget, istrinya siapa sih?" jawab Ustadz Jaki sambil terkekeh.


"Galak-galak gini kamu suka, lupa?" Shinta malah terbawa dalam candaan suaminya.


"Oh tentu tidak, bukan cuma suka, cinta banget malahan," jawab Ustadz Jaki sambil terkekeh.


"Diem, aku mau bicara sekarang. Dengarkan," ucap Shinta di seberang sana untuk mengakhiri candaannya.


Ustadz Jaki pun dengan sekejap diam dari tawanya. Dia mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Shinta. Raut wajahnya seketika menjadi serius. Ustadz Jaki yang tadinya sedang duduk santai, kini berubah menjadi duduk tegak dan dia nampak berpikir di setiap pembicaraan Shinta yang dia dengarkan.


"Kenapa tuh orang jadi tegang gitu?" Ustadz Fariz yang baru saja datang di ruang tamu bertanya pada Rhea yang juga baru saja datang membawa kue serta minuman.


"Mana aku tau Bie," jawab Rhea sambil meletakkan minuman dan kue di meja.


Ustadz Fariz masih memperhatikan Ustadz Jaki sambil memakan kue yang disiapkan oleh Rhea.


Sedangkan Rhea kembali ke ruang tengah untuk memanggil Umi Sarifah agar kumpul bersama mereka menikmati kue dan minuman hangat seperti kebiasaan mereka.


"Umi, kue sama minumannya udah Rhea siapkan di ruang tamu. Kita ke sana dulu yuk Umi," Rhea mengajak Umi Sarifah untuk berkumpul bersama mereka di ruang tamu.


"Izam sama Salsa gimana?" tanya Umi Sarifah pada Rhea.


Sebenarnya Umi Sarifah tidak mau meninggalkan cucu-cucunya. Dia ingin selalu bermain bersama Izam dan Salsa, meskipun hanya menunggui mereka bermain saja sudah membuat hati Umi Sarifah sangat bahagia dan bersyukur telah diberi kesempatan untuk memiliki cucu.


"Izam dan Salsa mau ikut gabung di ruang tamu?" Rhea bertanya pada Izam dan Salsa.


"Izam mau di sini aja Bunda sama nonton TV," jawab Izam tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.


"Salsa juga," sahut Salsa kemudian.


"Ya udah kalau gitu Bunda bawakan kue sama minuman kalian ya," Rhea menuruti kemauan Izam dan Salsa.


"Izam mau yang coklat minumnya Bunda!" Izam berseru ketika Rhea sudah berjalan satu langkah dari tempatnya tadi.


"Salsa mau yang strawberry Bunda minumnya!" Salsa pun berseru mengikuti tingkah Izam.

__ADS_1


Umi Sarifah tertawa melihat tingkah cucu-cucunya yang setiap hari mampu membuatnya terhibur.


Rhea pun datang membawa minuman dan kue kesukaan Izam dan Salsa. Dan hal itu disambut senang oleh Izam dan Salsa.


"Yeee... kesukaanku....," Izam bersorak ketika Rhea memberikan kue dan minuman kesukaannya.


"Yeee... kesukaan Salsa juga....," Salsa pun ikut bersorak meniru Izam.


Umi Sarifah bertambah gemas dan tertawa melihat tingkah cucu-cucunya itu. Sehingga Umi Sarifah tidak bisa menahan untuk mencium pipi kedua cucunya itu.


"Udah Umi nyiumnya, nanti pipi Izam habis," ucap Izam sambil memegang kedua pipinya.


"Pipi Salsa juga dihabisin sama Umi, nanti Kak Izam gak kebagian pipinya Salsa Umi....," Salsa ikut memprotes Umi Sarifah.


Dan hal itu membuat Umi Sarifah tertawa terbahak-bahak bersama Rhea.


"Umi mari ke depan, biar mereka di sini berdua. Pasti anteng kok Umi, kan ada sesajennya sama lagi nonton film kartun kesukaan mereka tuh," ucap Rhea sambil menunjuk layar televisi agar Umi Sarifah tidak mengkhawatirkan Izam dan Salsa.


Umi Sarifah pun menurut mengikuti Rhea ke ruang tamu untuk berkumpul bersama Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki menikmati kue dan minuman hangat di sore hari.


"Sayang, sebentar ya, biar aku tanyakan dulu pada Rhea dan Ustadz Fariz," ucap Ustadz Jaki pada Shinta yang sedang melakukan panggilan telepon dengannya.


"Assalamu'alaikum," Ustadz Jaki memberi salam setelah mendengar jawaban dari Shinta dan sebelum dia mematikan teleponnya.


"Ada apa Ustadz?" tanya Ustadz Fariz pada Ustadz Jaki.


"Shinta meminta solusi padaku dan pada kalian berdua karena ini menyangkut kalian berdua juga," jawab Ustadz Jaki.


"Apa itu?" kini giliran Rhea yang bertanya karena merasa sangat penasaran.


Setelah itu Ustadz Jaki menceritakan tentang istri Pandu dan tentang keinginan Pandu untuk tetap berada di daerah mereka.


Ustadz Fariz dan Rhea tampak berpikir. Sedangkan Umi Sarifah mendengarkan dengan seksama semua yang dibicarakan oleh anak-anaknya agar nanti ketika mereka meminta pendapat darinya, Umi Sarifah bisa memberikan pendapatnya yang bijak sebagai orang tua mereka.


"Gimana Rhea?" Ustadz Jaki bertanya pada Rhea.


Rhea masih tampak berpikir, dia sadar bahwa kini posisinya bukan menjadi dirinya sendiri, melainkan menjadi istri seorang Kyai Pondok Pesantren Al-Mukmin, salah satu tokoh masyarakat di daerah tersebut yang tidak boleh egois dan harus memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi, namun dia juga harus memikirkan kebahagiaan dirinya dan keluarganya.


Ustadz Fariz mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya. Dia memegang tangan istrinya untuk menenangkannya, dan Rhea yang sedang berpikir itu terperanjat kaget melihat tangan dan merasakan kenyamanan dari tangan tersebut.


Rhea melihat Ustadz Fariz yang tersenyum padanya, sangat menenangkan dan Ustadz Fariz pun mengangguk agar Rhea mau menyuarakan pikirannya.


"Aku terserah Hubby aja, karena aku yakin bahwa apa yang diputuskan oleh Hubby nanti pasti sudah dipikirkan matang-matang" Rhea menjawab dengan memandang Ustadz Fariz dan tersenyum padanya.

__ADS_1


"Apa kamu tidak keberatan jika lelaki itu masih berada di sekitar kita?" Ustadz Jaki bertanya kembali pada Rhea.


"Jujur saja, sebenarnya aku sedikit takut dan terganggu, namun aku tidak bisa egois dan melarang hak orang lain demi diriku sendiri. Dan aku percaya bahwa suamiku ini tidak akan tinggal diam jika ada yang mengganggu ketentraman keluarganya," jawab Rhea dengan melingkarkan tangannya pada lengan Ustadz Fariz.


Ustadz Fariz tersenyum dan mengusap hijab Rhea yang kini kepalanya telah menempel pada pundaknya.


"Gimana dengan Ustadz Fariz? Apa keputusan terakhirnya?" kini Ustadz Jaki bertanya pada Ustadz Fariz.


Ustadz Fariz memandang wajah Rhea yang kini sedang mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah suaminya itu. Beberapa detik Ustadz Fariz berpikir dalam diamnya.


Jujur saja, dia juga memiliki ketakutan sama seperti yang dirasakan oleh Rhea, namun dia juga sadar jika apa yang dipikirkan Rhea pun menjadi pertimbangannya.


Kini Ustadz Fariz harus berpikir sebagai Tokoh masyarakat dari daerah tersebut, seorang Kyai dari Pondok Pesantren Al-Mukmin, bukan hanya sebagai seorang suami yang sedang cemburu pada kedatangan mantan suami dari istrinya.


"Bunda, apa Abi harus mengijinkan dia berada di daerah ini?" tanya Ustadz Fariz pada Rhea untuk meminta pertimbangannya.


Rhea pun mengangguk setuju dan dia berkata,


"Apa kita boleh mengajukan syarat Bie?"


"Untuk tidak mengganggu keluarga kita?" Ustadz Fariz menebak isi pikiran istrinya.


Rhea mengangguk dengan antusias dan bertanya,


"Apa bisa?"


Ustadz Fariz menoleh pada Ustadz Jaki dan berkata,


"Bisa bukan?"


"Boleh aja, biar sama-sama enak. Dan biar Shinta juga gak merasa bersalah karena menolong istri lelaki itu hingga tuntas," jawab Ustadz Jaki.


"Bagaiman Umi, apa menurut Umi tindakan kita benar? Atau mungkin Umi punya jalan keluar lain?" sesuai dengan kebiasaan mereka, apapun mereka akan bertanya pada Umi Sarifah sebelum mereka membuat keputusan.


"Umi rasa keputusan Rhea dan Ustadz Fariz benar. Kalian boleh mengajukan syarat agar kalian merasa tenang dan kalian bisa melakukan perjanjian itu dihadapan orang banyak untuk menjadi saksinya. Bukannya apa-apa, Umi hanya tidak ingin jika keluarga kalian yang sudah bahagia ini akan menjadi goyah karena kehadiran orang lama yang sama sekali tidak kalian inginkan," Umi Sarifah memberikan pendapatnya.


Ustadz Fariz, Ustadz Jaki dan Rhea mendengarkan secara seksama apa yang dikatakan oleh Umi Sarifah.


"Baiklah Umi, kami akan berangkat ke sana. Kami titip Izam dan Salsa ya Umi," Ustadz Fariz mengatakan keputusannya.


"Sebentar, aku hubungi dulu Shinta untuk memberi tau keputusan kita," ucap Ustadz Jaki menghentikan Ustadz Fariz yang akan beranjak untuk bersiap-siap.


Kemudian Ustadz Jaki menghubungi Shinta untuk memberitahukan keputusan mereka.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Sayang lakukan saja di daerah kita. Sebentar lagi kita bertiga akan ke sana untuk berbicara pada lelaki itu dan mengatakan syarat dari kita. Apakah dia mau menerima syarat dari kita?"


__ADS_2