
Ustad Fariz berlari ke arah Rhea yang masih terduduk di tanah dengan memegangi perutnya. Rhea meringis kesakitan memegangi perutnya, dia takut jika terjadi apa-apa dengan kandungannya.
"Sayang, kamu gapapa? Apa ada yang sakit?" Ustad Fariz memeluk Rhea ketika sudah sampai di dekatnya, kemudian dia mengurai pelukannya dan bertanya dengan sangat khawatir.
Rhea hanya meringis tanpa menjawab dan matanya masih berkaca-kaca.
"Apa yang kamu lakukan Mirna?" Ustad Fariz menatap tajam Mirna dengan wajah penuh amarah.
"A-aku... aku tidak melakukan apa-apa. Dia-dia aja yang sedang akting. Aku hanya bertanya masalah ini, dan dia malah menertawaiku karena surat ini. Dia wanita jahat!" Mirna kembali emosi karena memperlihatkan surat yang dia bawa.
"Dan ini, apa maksudnya surat ini Mas? Aku gak mau diceraikan, kenapa aku harus menerima surat ini?" Mirna mendekat dan menunjukkan surat tersebut pada Ustad Fariz dengan histeris.
"Bismillahirrahmanirrahim....," Ustad Fariz mengangkat tubuh Rhea dan membawanya ke dalam rumah Umi Sarifah tanpa menjawab ataupun melihat ke arah Mirna.
"Loh.. loh kok malah pergi. Mas... mas... apa maksudnya ini? Aku gak terima. Aku gak mau diceraikan. Aku gak mau jadi janda!" Mirna mengikuti Ustad Fariz yang menggendong Rhea ala bridal style menuju ke dalam rumah Umi Sarifah.
Ustad Jaki yang berada disitu menghalangi Mirna agar tidak ikut masuk ke dalam rumah. Sedangkan Umi Sarifah mengikuti Ustad Fariz dan Rhea masuk ke dalam rumah dengan khawatir terhadap kandungan menantunya itu.
"Ngapain Mbak Mirna ke sini? Masih punya muka buat datang ke sini?" Ustad Jaki bertanya dengan amarahnya dan menatap tajam pada Mirna yang masih mencari celah jalan untuk bisa masuk ke dalam rumah.
"Aku ada urusan sama Mas Fariz. Aku gak ada urusan sama kamu!" seru Mirna dengan berusaha menyingkirkan badan Ustad Jaki dari hadapannya.
"Jangan pegang-pegang, bukan mahram," Ustad Jaki memperingatkan Mirna dengan mata yang melotot pada Mirna.
"Dih siapa yang mau megang, sok kegantengan. Cepetan minggir, aku mau ngomongin surat ini sama Mas Fariz!" Mirna tidak kalah tegas dengan Ustad Jaki.
"Woiii sadar! Mbak Mirna itu udah diceraikan sama Ustad Fariz, jadi sadar diri dong, gak usah datang-datang lagi ke sini, apalagi bikin rusuh!" Ustad Jaki sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata keras pada wanita yang ngeyel dan keras kepala seperti Mirna.
Mirna dan Ustad Jaki masih saja berdebat, Mirna ingin masuk dan bertanya masalah hasil perceraian mereka, dan Ustad Jaki masih menghalangi Mirna untuk tidak masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Sedangkan Ustad Fariz dan Umi Sarifah masih khawatir dengan keadaan Rhea dan kandungannya.
"Sayang apa ada yang sakit? Apa perlu kita ke rumah sakit?" Ustad Fariz bertanya pada Rhea dengan nada khawatir dan sedih.
Ustad Fariz tidak mengira jika Mirna akan datang ke Pondok Pesantren Al-Mukmin dan melakukan hal itu pada Rhea. Semua orang tidak menyangka hal itu bisa terjadi. Semua yang dilakukan Mirna pada Rhea selama ini diluar perkiraan mereka.
Rhea masih meringis menahan rasa keram dan sakit pada perutnya.
"Hubungi Dokter Shinta dulu aja Bie," Rhea menjawabnya dengan mendesis menahan sakit.
"Iya Le, cepetan hubungi Dokter Shinta sekarang," Umi Sarifah memberikan minuman hangat pada Rhea dan ada bulir air mata yang menetes pada pipi Umi Sarifah.
"Umi jangan nangis, Rhea juga ikut nangis kalau Umi nangis," Rhea mengatakannya dengan suara yang bergetar dan mata yang sudah berkaca-kaca, serta tangannya menghapus jejak air mata di pipi Umi Sarifah.
Ustad Fariz menarik kepala Rhea untuk mendekat ke dadanya dan mengusap rambutnya dengan pelan untuk menenangkannya, sedangkan tangan Ustad Fariz yang satunya memegangi ponsel yang masih menempel pada telinganya.
"Assalamu'alaikum.... Dok, istri saya barusan jatuh terduduk dan perutnya sepertinya sakit. Apa yang harus saya lakukan Dok? Apa Dokter Shinta bisa datang ke sini?" Ustad Fariz panik menyampaikan keadaan Rhea pada Dokter Shinta.
"Gimana Le?" tanya Umi Sarifah yang tangannya masih mengusap perut Rhea sedari tadi.
"Disuruh Dokter Shinta ke sana Umi, agar bisa diperiksa lebih lanjut," jawab Ustad Fariz setelah memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.
"Ya udah buruan bawa istrimu ke rumah sakit. Apa Umi ikut kalian?" tanya Umi Sarifah yang masih saja mengkhawatirkan Rhea dan kandungannya.
"Tidak perlu Umi, lebih baik Umi di rumah saja, biar kami diantar Ustad Jaki aja," Ustad Fariz tidak ingin membebani dan merepotkan Umi Sarifah meskipun Ustad Fariz tahu jika Umi Sarifah tidak pernah merasa terbebani dan direpotkan oleh mereka.
"Ayo Sayang kita berangkat ke rumah sakit. Bismillahirrahmanirrahim....," Ustad Fariz mengangkat tubuh Rhea untuk dibawa ke rumah sakit.
"Ustad, tolong antarkan kita ke rumah sakit," ucap Ustad Fariz ketika melewati Ustad Jaki dan Mirna yang masih saja berdebat saat Ustad Fariz dan Rhea keluar menuju mobil.
__ADS_1
"Ke rumah sakit? Kenapa? Apa Rhea pendarahan lagi?" Ustad Jaki kaget ketika Ustad Fariz meminta dirinya untuk mengantarkannya ke rumah sakit.
"Buruan Ustad, udah ditungguin sama Dokter Shinta. Ini kuncinya," Ustad Fariz memberikan kunci yang sudah dia ambil tadi sebelum mengangkat tubuh Rhea.
Ustad Jaki mengambil kunci mobil dari tangan Ustad Fariz. Dan melihat Mirna yang tersenyum licik menatap Rhea meringis kesakitan di dalam gendongan Ustad Fariz.
"Kamu, awas kamu jika berani datang ke sini lagi!" Ustad Jaki mengancam Mirna dan berjalan mengikuti Ustad Fariz di belakangnya.
Mirna menirukan ucapan Ustad Jaki hanya dengan gerakan bibirnya saja sehingga terlihat mengejek Ustad Jaki.
"Bener-bener dah tuh orang, kalau gak buru-buru pasti aku kerjain biar kapok," gerutu Ustad Jaki sambil berjalan.
"Mas... mas... ini gimana? Apa maksudnya ini?" Mirna masih saja mengejar Ustad Fariz untuk bertanya tentang surat yang dia terima.
"Itu artinya kita sudah bercerai, dan tolong jangan ganggu hidupku dan keluargaku lagi!" Ustad Fariz menjawab pertanyaan Mirna sambil berjalan menuju mobilnya.
"Tapi aku gak mau bercerai Mas!" Mirna berteriak agar Ustad Fariz mau berhenti.
"Kita sudah bercerai, tidak akan bisa bersatu lagi. Dan jangan sakiti istriku lagi. Jika ada yang terjadi dengan istriku, aku tidak akan segan-segan bertindak padamu!" Ustad Fariz mengatakannya dengan nada penuh ancaman dan melihat Mirna dengan wajah penuh amarah sebelum memasukkan Rhea ke dalam mobil setelah pintu dibukakan oleh Ustad Jaki.
Mirna diam, dia kaget dengan ancaman yang dikeluarkan Ustad Fariz padanya. Selama ini Ustad Fariz tidak pernah berkata keras padanya, apalagi mengancamnya, itu tidak pernah dilakukan Ustad Fariz padanya. Dan sekarang, Ustad Fariz marah hingga membentaknya dan yang membuat Mirna syok adalah Ustad Fariz mengancamnya.
Tiba-tiba pipi Mirna basah oleh tetesan air matanya. Hatinya sakit melihat orang yang dicintainya membela wanita yang sudah merusak rumah tangganya, dan kini wanita itu telah menggantikan posisinya sebagai istri dari mantan suaminya.
Sepenting itukah dia bagimu Mas? Apa aku sudah tidak berarti lagi bagimu? Apa aku tidak mempunyai hak seperti dia? Mirna menatap getir mobil yang ditumpangi Ustad Fariz, Rhea dan Ustad Jaki hingga mobil itu hilang dari pandangannya.
"Nduk, Mirna. Umi harap kamu bisa menyadari kesalahanmu. Jangan lakukan lagi hal yang bisa membahayakan orang lain, karena nantinya bisa mempermalukanmu. Umi berharap agar kamu bisa menata hidupmu kembali agar bisa hidup lebih baik lagi," Umi Sarifah mendekati Mirna dan memberikan sedikit wejangan untuknya.
Mirna mengusap air mata yang menetes pada pipinya. Tidak banyak memang, malah air mata itu sudah kering karena terkena angin.
__ADS_1
Mirna tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Yang dia tahu, dia hanya ingin kembali menjadi istri Ustad Fariz dan menjalani hidupnya seperti dulu.