
"Zahra anak kita Bi. Dia Yasmin anak kita yang hilang waktu itu," ucap Rhea dengan sangat antusias.
"Kamu yakin sayang? Dia punya orang tua loh," tukas Ustadz Fariz yang kini membuat senyuman di bibir Rhea pudar seketika.
"Maaf sayang, bukannya Abi ingin membuatmu bersedih dengan mematahkan harapanmu, hanya saja kita harus mencari tau lebih lanjut agar kita tidak salah orang. Dan Abi sangat senang sekali jika memang Yasmin telah kita temukan."
"Dia memiliki kalung milikku Bi. Kalung pemberian dari Kakek dan Nenekku yang aku pakaikan pada Yasmin waktu itu. Abi tau sendiri kan jika kalung itu hanya ada satu di dunia ini? Dan dia juga memiliki tanda lahir sama persis dengan milik Yasmin," ucap Rhea dengan antusias dan mata yang berkaca-kaca.
Ustadz Fariz meraih tubuh istrinya dan membawanya dalam pelukannya. Dalam hatinya dia juga berharap jika anak kedua mereka, Yasmin telah ditemukan.
"Sekarang kita tidur dulu ya. Bunda pasti lelah seharian ikut Abi. Kita istirahat dulu, besok kita bicarakan lagi dengan Zahra dan kita akan cari tau kebenarannya," ucap Ustadz Fariz dan diangguki oleh istrinya.
Ustadz Fariz mencium lama kening istrinya, kemudian dia membawa tubuh istrinya dalam pelukannya sebelum akhirnya mereka memejamkan matanya.
Keesokan harinya, Yasmin yang dipanggil sebagai Zahra itu keluar dari kamarnya menggunakan gamis dan hijab milik Rhea sewaktu Rhea baru saja memutuskan untuk berhijab, yaitu sebelum dia menikah dengan Ustadz Fariz.
"MasyaAllah Tabarakallah.... cantik sekali kamu Zahra," ucap Rhea ketika melihat Yasmin keluar dari kamarnya dan mencari Rhea untuk mencari tahu pekerjaan apa yang bisa dia lakukan di sana.
Semua mata menuju pada sosok gadis asing yang dipanggil dengan nama Zahra itu. Tak terkecuali dengan Ustadz Fariz dan Izam. Mereka berdua bagai terpanah oleh sosok gadis di hadapan mereka. Menurut mereka sosok gadis di hadapannya kini sangat mirip sekali dengan seseorang yang sangat mereka cintai.
Shinta, Ustadz Jaki dan Salsa pun menatap gadis tersebut dengan tatapan penuh tanya. Mereka tidak tahu siapa gadis tersebut dan kapan datangnya ke rumah itu, namun mereka merasa sangat akrab dengan wajah gadis tersebut.
"MasyaAllah, apa dia adik kamu Rhea? Dia mirip sekali dengan kamu waktu masih belum menikah dengan Abi nya Izam," ucap Ustadz Jaki ketika melihat Yasmin berdiri di hadapan mereka.
"Ini Zahra, dia memang memakai pakaian milikku sewaktu aku masih muda," tukas Rhea sambil mendekat pada Yasmin dan merangkul pundaknya.
"Dia mirip sekali dengan Bunda," sahut Salsa dengan menatap bergantian Rhea dan Yasmin.
__ADS_1
Rhea pun menoleh pada Yasmin dan menatapnya secara intens. Kemudian dia berkata,
"Masa' sih?"
"Kalau gak percaya, tanya aja tuh sama Pak suami dan anaknya," sahut Ustadz Jaki.
"Bener Bi?" tanya Rhea dengan mengalihkan pandangannya pada suaminya.
Ustadz Fariz tersenyum dan mengangguk. Lalu dia berucap,
"Kita sarapan dulu, setelah itu kita lanjutkan pembicaraan yang semalam."
Ustadz Fariz sangat tahu jika istrinya saat ini sangat bahagia mendengar jika mereka mengatakan bahwa gadis itu mirip sekali dengannya, seperti ketika Yasmin masih bayi, semua orang mengatakan bahwa baby Yasmin sangat mirip dengan Rhea.
Semoga saja memang dia Yasmin anak kami, sehingga kami bisa diberi kesempatan untuk mendidiknya menjadi anak yang shalihah, batin Ustadz Fariz.
"Tidak usah Bun, saya bisa ambil sendiri," ucap Yasmin yang merasa sungkan dilayani oleh Rhea, orang yang menolongnya dan memberikan tempat tinggal serta kenyamanan baginya.
Rhea tersenyum dan meletakkan kembali piring milik Yasmin di depannya. Rhea mengerti jika Yasmin sungkan padanya, namun dia memaklumi untuk sekarang ini karena semuanya masih samar dan belum jelas kebenarannya. Namun di dalam hatinya yang paling dalam, Rhea berharap jika Zahra, gadis yang kini duduk di sampingnya adalah Yasmin Zahra Mahadi, anaknya yang hilang diculik sewaktu bayi.
Setelah acara sarapan selesai, Rhea dan Shinta mencuci piring, gelas serta peralatan dapur yang kotor. Sedangkan Salsa seperti biasanya bertugas membersihkan meja makan.
"Biar saya saja," ucap Yasmin menghentikan gerakan tangan Salsa yang sedang mengelap meja makan setelah mengantarkan beberapa piring dan gelas bekas mereka makan ke dapur.
Salsa menoleh pada Yasmin dan dia memberikan senyumnya seraya berkata,
"Sudah hampir selesai, lebih baik kamu menyapu di sekitar meja makan saja, barangkali ada makanan yang terjatuh."
__ADS_1
Entah mengapa Salsa sangat ramah dan semang dengan kehadiran Yasmin di rumah itu. Biasanya Salsa terkesan cuek dan judes pada orang baru, tapi sebenarnya jika orang itu sudah dekat dengannya, dia pasti akan tahu jika Salsa sangat perhatian, penyayang dan kocak.
Semenjak Izam dan Salsa menginjak SMA, Ustadz Jaki memutuskan untuk menepati rumah yang ada di belakang. Rumah yang dulu ditempati oleh Ustadz Fariz dan Mirna di renovasi secara besar-besaran oleh Ustadz Jaki dan Shinta agar menjadi rumah impian mereka.
Namun untuk urusan makan, mereka selalu memutuskan untuk makan bersama di rumah utama, yaitu rumah Umi Sarifah yang kini ditempati oleh Ustadz Fariz, Rhea dan Izam.
Yasmin pun menuruti perintah Salsa, dia menyapu di daerah sekitar meja makan. Dan tawa canda mereka terdengar dari ruang tamu tempat Ustadz Fariz, Ustadz Jaki dan Izam berada saat ini. Dan juga terdengar hingga ke dapur di mana Rhea dan Shinta sedang mencuci piring dan peralatan dapur yang kotor.
Kebetulan sekali hari ini hari libur, sehingga mereka semua bisa berkumpul dan bersantai bersama serta bisa mendengarkan kisah hidup dari gadis yang ditolong oleh Ustadz Fariz dan Rhea semalam.
"Sepertinya mereka sudah akrab," ucap Shinta sambil mengeringkan piring dan gelas yang sudah dicuci oleh Rhea.
"Semoga mereka bisa akrab dan saling menyayangi," tukas Rhea sambil tersenyum melihat ke arah Shinta.
"Sebenarnya siapa dia?" tanya Shinta kemudian.
Rhea menghentikan pekerjaannya dan dengan sangat antusias dia menceritakan pada Shinta mulai awal pertemuannya dengan gadis tersebut hingga dia mengetahui kalung dan tanda lahir yang sama dengan milik Yasmin.
Pertanyaan yang sama juga dilayangkan oleh Ustadz Jaki pada Ustadz Fariz ketika mendengar suara tawa dan candaan dari Salsa dan Yasmin di ruang makan.
Seperti Rhea, Ustadz Fariz pun menceritakan sama dengan yang diceritakan oleh Rhea pada Shinta. Ustadz Fariz memberitahukan itu semua pada Ustadz Jaki dan Izam.
Tentu saja mereka semua kaget dan merasa penasaran dengan kebenaran akan jati diri gadis tersebut.
"Bisa saja dia dipanggil Zahra karena tulisan di kalung tersebut," ucap Ustadz Jaki kemudian.
Dan Ustadz Fariz serta Izam pun membenarkan apa yang dikatakan oleh Ustadz Jaki.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana selanjutnya?" tanya Ustadz Jaki pada Ustadz Fariz.