Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 81 Aku mau!


__ADS_3

Setelah keluar dari ruangan Dokter Shinta, Rhea dan Ustad Fariz tidak menemukan Ustad Jaki di mana pun. Ternyata Ustad Jaki menunggu mereka di parkiran.


Ustad Jaki membantu mengembalikan kursi roda ketika Rhea sudah masuk dan duduk di dalam mobil dibantu oleh Ustad Fariz.


Setelah Ustad Jaki masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk menyalakan mobilnya, tiba-tiba ada suara notifikasi pesan pada ponsel Ustad Jaki.


Diambilnya ponsel itu dari sakunya. Setelah beberapa detik, senyum mengembang pada bibir Ustad Jaki. Matanya tidak henti-hentinya memandang pesan tersebut, hingga membuat Ustad Fariz dan Rhea heran dan penuh tanda tanya.


"Ada apa Ustad?" tanya Ustad Fariz yang duduk di belakang Ustad Jaki bersama dengan Rhea.


"Hehehe... akhirnya," Ustad Jaki menoleh ke belakang dengan senyum lebarnya menampakkan kebahagiaan.


"Seneng banget, ada apaan?" Ustad Fariz bertanya mewakili Rhea yang juga bingung melihat perubahan ekspresi dari Ustad Jaki.


"Pesan dari Shinta," Ustad Jaki menunjukkan ponsel yang berada di tangannya dengan mengangkatnya sedikit ke atas.


"Cieee yang dapet pesan langsung seneng gitu. Emang Dokter Shinta ngomong apaan Ustad?" kini Rhea yang bertanya karena sudah tidak bisa lagi menahan keingintahuannya.


"Hehehe... katanya, ya aku mau," jawab Ustad Jaki dengan senyum kebahagiaan.


"Mau apa? cuma itu aja?" tanya Ustad Fariz bingung.


"Apa itu artinya....," ucapan Rhea menggantung, namun dijawab anggukan oleh Ustad Jaki.


"Beneran? Dia mau nikah sama kamu?" tanya Ustad Fariz dengan ekspresi kaget.


"Lah terus apa maksudnya kalau bukan itu?" bukannya menjawab pertanyaan dari Ustad Fariz, malah Ustad Jaki bertanya balik padanya.


"Eh tapi apa mungkin gara-gara omongan kita tadi ya Bie?" sela Rhea bertanya pada Ustad Fariz.


"Kalian ngomongin apa tadi?" Ustad Jaki ingin tahu apa yang mereka omongkan tadi sewaktu dia tidak ada di dalam ruangan Dokter Shinta.


"Emmm... padahal tadi gak sengaja ya Bie, tapi ekspresi Dokter Shinta jadi aneh. Apa mungkin dia salah paham ya Bie?" Rhea terkekeh mengingat kejadian tadi di ruang Dokter Shinta pada saat dia dan Ustad Fariz berbicara mengenai Ustad Jaki dan Ustadzah Farida.

__ADS_1


"Mungkin juga ya, tadi kan dia sempat nyebut nama....," Ustad Fariz menggantung ucapannya dan tertawa lepas bersama Rhea.


"Hahahahaha....."


"Kalian ini kenapa sih? Ada apa sebenarnya tadi?" kini Ustad Jaki sangat penasaran dengan apa yang terjadi.


"Untung aja loh Ustad gak ikut masuk tadi, jadi dapat jawaban kan tuh sekarang," bukannya menjawab pertanyaan dari Ustad Jaki, Rhea malah menggodanya dengan teka teki yang sedari tadi membuat Ustad Jaki menjadi penasaran dan bingung.


"Udah kita jalan dulu, nanti diceritain kalau udah sampai rumah," Ustad Fariz menyuruh Ustad Jaki agar segera menjalankan mobilnya.


Sesampainya di Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ustad Jaki tidak sabar lagi untuk mengetahui apa yang terjadi tadi di ruangan Dokter Shinta.


"Eh mau kemana?" tanya Ustad Jaki pada Rhea ketika tubuhnya digendong Ustad Fariz menuju kamarnya.


"Istirahat lah di kamar," jawab enteng Ustad Fariz sambil menapaki tangga untuk ke lantai atas di mana kamarnya berada.


"Eh... eh... kalian punya hutang cerita ya sama aku," Ustad Jaki melambaikan tangannya untuk memanggil Ustad Fariz dan Rhea agar mendekat ke arahnya.


"Hahahaha....," tawa Ustad Fariz dan Rhea bersamaan.


"Oh iya dong, jelas gak bisa tidur, ini kan menyangkut kelangsungan hidupku," jawab Ustad Jaki dengan nada kesal.


"Iya... iya... gitu aja ngambek, siap-siap ya kita ceritakan kejadian tadi di dalam ruangan Dokter Shinta," ucap Ustad Fariz ketika duduk di kursi ruang tengah.


"Siap-siap, kayak mau perang aja," Ustad Jaki masih kesal karena dari tadi Ustad Fariz dan Rhea menunda-nunda cerita mereka.


"Ya kali aja Ustad mau nyiapin minuman sama pop corn dulu gitu buat dengerin cerita kita," Rhea kembali terkekeh menggoda Ustad Jaki.


"Eh ada apa ini kok ramai sekali? Bagaimana keadaan Rhea?" Umi Sarifah menyela pembicaraan mereka.


"Umi... Umi nanyanya nanti aja, ini lagi ada yang penting mau dibicarakan," Ustad Jaki menyahut ketika Ustad Fariz akan menjawab pertanyaan Umi Sarifah.


"Huss... gak sopan kamu itu," Ustad Fariz memarahi Ustad Jaki dengan tatapan matanya.

__ADS_1


"Rhea baik-baik saja Umi, hanya butuh istirahat," jawab Rhea dengan senyumnya.


"Alhamdulillah... terus kenapa itu Ustad Jaki cemberut gitu?" Umi Sarifah bertanya dengan mengarahkan dagunya pada Ustad Jaki.


Kemudian Rhea dan Ustad Fariz menceritakan obrolan mereka di dalam ruang Dokter Shinta. Seketika mata Ustad Jaki berbinar, senyumnya merekah mendengar cerita dari Ustad Fariz dan Rhea.


"Ada faedahnya juga Ustadzah Farida tadi telepon lama membahas acara pelepasan santri besok," Ustad Jaki terkekeh mengingat pesan yang dia terima tadi.


"Udah di bales Ustad pesannya tadi?" Rhea ingin tahu kelanjutan hubungan Ustad Jaki dan Dokter Shinta.


"Astaghfirullahaladzim... belum, kelupaan tadi gara-gara kalian," Ustad Jaki terburu-buru mengambil ponselnya dan membalas pesan dari Dokter Shinta tadi.


"Jadi kapan kalian menikah?" Umi Sarifah tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Masih belum dibicarakan Umi," jawab Ustad Jaki sambil memandang layar ponselnya menunggu balasan dari Dokter Shinta.


"Semoga bisa disegerakan ya Le. Umi senang jika kalian semua sudah mempunyai keluarga dan hidup bahagia. Rasanya Umi bisa tenang jika semua itu sudah terjadi," Umi Sarifah tersenyum melihat wajah-wajah dari anak-anaknya. Satu-persatu wajah Ustad Fariz, Ustad Jaki dan Rhea dipandanginya dengan senyum bahagianya.


"Amin, terima kasih doanya Umi, semoga bisa diijabah doanya," ucap Ustad Jaki dengan tersenyum membalas senyum Umi Sarifah, namun setelah itu matanya kembali tertuju pada layar ponselnya.


"Lama banget ya gak dibalas-balas sama Shinta?" Ustad Jaki cemas hanya dengan menunggu balasan dari pujaan hatinya.


"Udah... samperin aja, siapa tahu dia malu mau balas pesan kamu," Ustad Fariz memberi saran pada Ustad Jaki untuk menemui Dokter Shinta.


"Iya juga ya. Ya udah aku balik ke sana dulu," Ustad Jaki berdiri hendak pamit pada Umi Sarifah namun suara notifikasi pesan pada ponsel Ustad Jaki yang berada di tangannya membuatnya kembali duduk karena tertera nama Shinta di layar ponselnya.


"Gak jadi, nanti aja ketemunya," ucap Ustad Jaki yang masih mengutak-atik ponselnya membalas pesan dari Dokter Shinta.


"Cieee yang udah janjian ketemuan," Rhea meledek Ustad Jaki yang sedang senyum-senyum membalas pesan dari Dokter Shinta.


"Cieee yang cuma bisa ngamar aja berdua," balas Ustad Jaki meledek Rhea dan Ustad Fariz.


Alhasil bantal kursi yang ada di dekat Ustad Fariz berpindah ke muka Ustad Jaki membuat Umi Sarifah tertawa bahagia. Rasanya kebahagiaan bersama seperti inilah yang dia harapkan selama ini.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum....," suara seseorang menghentikan acara tawa mereka.


__ADS_2