
Salsa segera menolong Yasmin yang sedang merintih kesakitan.
"Zahra, kamu gapapa?" tanya Salsa panik.
Hana ikut panik karena dia tidak sengaja menjatuhkan Zahra.
"I-ini...."
Bruk!
Salsa pingsan ketika melihat cairan segar berwarna merah yang mengalir di kaki Zahra. Dan Zahra merintih kesakitan karena hal itu.
"Tolong... tolong...!" seru Hana meminta pertolongan.
Hana panik sehingga dia tidak tahu harus berbuat apa. Datanglah beberapa santri yang berada di sana. Dengan segera mereka melapor pada keluarga Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki. Ada juga yang segera ke ruangan Ustadz dan Ustadzah mereka.
"Astaghfirullahaladzim Zahra, Salsa...," Rhea berseru tidak jauh dari tempat mereka berada.
"Ada apa ini?" tanya Rhea dengan panik dan matanya yang berkaca-kaca melihat kondisi Yasmin saat ini dan Salsa yang pingsan di sebelah Yasmin.
Hana panik dan dia tidak bisa berkata-kata. Dia yakin jika dia akan dipersalahkan seperti kecelakaan yang menimpa Umi Sarifah dan Izam waktu itu.
Semua yang ada di sana menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Rhea. Mereka memang tidak tahu apa yang terjadi, namun ada beberapa santri yang mengetahui kejadian tersebut.
"Astaghfirullahaladzim... ada apa ini? Kenapa Salsa bisa pingsan? Dan kenapa Zahra bisa seperti ini?" tanya Ustadz Jaki seraya mengangkat tubuh Salsa.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan dari Ustadz Jaki. Dan Ustadz Fariz yang baru datang dengan Izam akan mengangkat tubuh Yasmin, namun dihentikan oleh Izam.
"Bi, biar Izam saja yang mengangkat Zahra," ucap Izam pada Ustadz Fariz dan diangguki oleh Ustadz Fariz.
"Bismillah," ucap Izam ketika mengangkat tubuh Yasmin dan membawanya menuju klinik yang berada di Pondok Pesantren tersebut mengikuti Ustadz Jaki.
"Ada apa ini? Kenapa ini semua bisa terjadi?" tanya Ustadz Fariz pada semua santri yang berada di situ.
Semuanya menggeleng dan Hana terlihat ketakutan dengan memelintir ujung hijabnya dan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Santri yang mengetahui kejadian itu hendak menjawab, namun dia merasa kasihan pada Hana yang terlihat ketakutan.
Ah, mungkin biar dia saja yang mengakuinya, batin santri tersebut.
"Bi, nanti saja. Lebih baik kita susul mereka sekarang. Bunda takut terjadi apa-apa pada mereka," ucap Rhea dengan air matanya yang sedari tadi menetes.
Ustadz Fariz pun menyetujui permintaan dari istrinya. Mereka bergegas menuju klinik yang berada di wilayah Pondok Pesantren tersebut. Namun Ustadz Fariz memerintahkan Ustadz Bani agar mencari tahu apa yang terjadi.
Sebenarnya mereka merasa heran dan kaget karena Izam, anak dari Kyai mereka menggendong perempuan yang bukan mahramnya. Tak terkecuali Ustadz dan Ustadzah mereka yang juga ikut bertanya-tanya.
Banyak yang memanggil Izam dengan sebutan Gus, namun Izam masih merasa belum mampu untuk mengemban tugas dengan sebutan itu. Dia masih dalam tahap belajar agar tidak mempermalukan Abi nya dan Pondok Pesantren Al-Mukmin ketika menyandang gelar tersebut. Dan dia lebih suka disebut dengan sebutan Ustadz, sama seperti Abi nya kala itu.
Perhatian mereka tentang Izam yang menggendong gadis yang mereka panggil dengan nama Zahra itu membuat mereka menyimpulkan bahwa Zahra adalah calon istri Izam.
Mendengar mereka mengatakan seperti itu, Membuat Hana menjadi sedih. Dia merasakan hatinya sangat sakit. Entah mulai kapan dia menyukai Izam. Yang dia tahu perasaannya kini tumbuh menjadi cinta, sehingga dia merasakan sakit ketika Izam dekat dengan perempuan lain.
"Salsa baik-baik saja. Dia hanya pingsan. Tapi Zahra, gadis ini terkena pecahan botol kaca pada pahanya dan tusukan kacanya lumayan dalam. Saya sarankan agar dia segera dibawa ke rumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan," ucap dokter yang memeriksa Salsa dan Yasmin di klinik Pondok Pesantren mereka.
Mendengar perkataan dokter tersebut, Ustadz Fariz, Rhea dan Izam sangat panik. Dan dengan segera mereka membawa Yasmin ke rumah sakit.
"Salsa gimana?" tanya Ustadz Jaki pada Ustadz Fariz.
Entah dari mana datangnya pecahan botol kaca tersebut sehingga membuat Yasmin yang kebetulan jatuh di sana menjadi terluka karenanya.
Dalam mobil tersebut Rhea sangat panik melihat Yasmin yang semakin lemah mengeluarkan cairan segar berwarna merah itu tak henti-hentinya. Hingga dia menyuruh Izam yang mengendarai mobil tersebut agar melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Salsa yang berada di dalam mobil tersebut mulai tersadar dari pingsannya.
"Aaah... aku di mana? Zahra... Zahra... di mana dia?" ucap Salsa panik setelah tersadar dari pingsannya.
"Salsa, kamu sudah sadar nak? Ini Zahra terluka, kita akan membawanya ke rumah sakit," tukas Rhea pada Salsa.
"Zahra kamu...."
Bruk!
__ADS_1
Salsa kembali pingsan setelah melihat cairan segar berwarna merah yang berada di kaki dan gamis Yasmin.
"Salsa!" seru Rhea ketika melihat Salsa kembali pingsan.
"Owalah, ternyata dia pingsan karena melihat itu. Pantas saja dia pingsan tadi. Berarti traumanya masih belum bisa dia atasi," ucap Ustadz Jaki sambil menolong Salsa untuk berada di tempatnya semula.
Sesampainya di rumah sakit, mereka segera membawa Yasmin ke ruang UGD begitupun dengan Salsa. Dan Shinta ternyata sudah berada di sana setelah Ustadz Jaki menghubunginya dan menjelaskan apa yang terjadi.
"Gawat, sepertinya tusukan botol kaca itu dalam sekali sehingga darahnya keluar terus menerus," ucap salah satu dokter yang sedang memeriksanya.
Dan beberapa saat setelah itu Yasmin lemas dan pingsan karena darah yang keluar tidak juga berhenti.
"Segera siapkan darah lebih banyak lagi," ucap dokter tersebut sambil melakukan pertolongan pada paha Zahra.
"Kenapa lama sekali?" seru dokter tersebut panik.
Tiba-tiba seorang perawat yang ditugaskan untuk mengambil darah berlari menghampiri dokter tersebut tanpa membawa apapun. Dengan nafas yang tersengal-sengal perawat tersebut mengatakan sesuatu,
"Dok gawat, darah pasien B negatif , sedangkan persediaan darah tersebut tidak ada sama sekali. Bagaimana ini?"
"Sudah hubungi bank darah?" tanya dokter tersebut tak kalah panik dengan perawat itu.
"Sudah dok, kami akan mengambilnya. Apa masih ada waktu dok?" tanya perawat tersebut panik.
"Tidak banyak waktu, tolong beritahukan keluarga pasien agar mendonorkan darah mereka untuk pasien," jawab dokter tersebut.
"Baik dok," ucap perawat tersebut.
Perawat tersebut memberitahukan keadaan Yasmin dan menyampaikan apa yang dokter perintahkan.
"Pasien sangat membutuhkan banyak darah karena dia kehilangan banyak darah. Sedangkan persediaan darah yang sesuai dengan golongan darah pasien tidak ada sama sekali. Apakah ada golongan darah keluarga yang sama dengan golongan darah pasien?"
Sontak saja Rhea lemas mendengar perkataan dari perawat tersebut. Tentu saja yang lainnya juga sangat kaget dan tidak percaya karena Yasmin yang baru saja mereka temukan sekarang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
"Golongan darahnya apa sus?" tanya Ustadz Fariz pada perawat tersebut.
__ADS_1
"Golongan darahnya B negatif," jawab perawat tersebut.
"Bi!" seru Rhea dengan mata yang berkaca-kaca.