
Dua bulan sudah kepergian suami Rhea. Andri, suami Rhea diputuskan meninggal dunia oleh polisi yang menangani kasus kecelakaan tersebut.
Waktu itu Andri sedang tugas keluar kota, namun keesokan harinya Rhea mendapatkan kabar dari kepolisian bahwa suaminya meninggal dunia karena kecelakaan, mobil yang dikendarai oleh Andri masuk ke dalam jurang.
Di dalam mobil tersebut terdapat seorang wanita yang menurut data kepolisian dia adalah sekretaris Andri ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan terdapat banyak luka di badannya. Namun tubuh Andri tidak diketemukan di dalam mobil.
Polisi menyatakan bahwa tubuh Andri terlempar dari mobil karena pintu pada tempat duduk sopir yang di duga dikemudikan oleh Andri terbuka.
Menurut para karyawan tempat kerja mereka, memang mereka berdua sering kali melakukan tugas luar kota yang bisa berminggu-minggu, dan tidak hanya itu, mereka mengatakan bahwa Andri dan Silvi, sekretarisnya itu mempunyai hubungan spesial.
Jadi mereka yakin jika memang yang berada di dalam mobil itu Andri dan Silvi, mengingat bahwa mereka sedang dalam perjalanan ke kota Bogor.
Mata Rhea terpejam erat, matanya begitu panas mendengar semua kenyataan yang ada. Dia tidak menduga bahwa suami yang begitu mencintainya bisa mengkhianatinya dan meninggal bersama dengan wanita tersebut tanpa memberikan kejelasan hubungan mereka padanya.
Air mata Rhea jatuh tak terbendung. Air matanya tidak bisa dia tahan lagi. Pertahanannya kini sudah hancur. Dia tidak mengira jika dirinya akan merasakan ini semua di usianya yang masih bisa dibilang muda dan belum dikaruniai seorang anak.
Pernikahannya pun masih belum lama. Dia tidak bisa berpikir jernih lagi. Semuanya datang begitu cepat padanya. Hingga dia menunggu kepastian dari kepolisian tentang pencarian tubuh suaminya.
Lima bulan sudah berlalu. Hari berlalu dirasakan oleh Ustad Fariz dengan penuh perjuangan. Berjuang untuk menghilangkan rasa cintanya pada wanita yang selama ini namanya terukir indah dalam hatinya.
Ustad Fariz menjadi Ustad idola terutama kaum hawa di Pondok Pesantren Al-Mukmin karena parasnya yang tampan dan pembawaannya yang humoris ketika mengajar dan berdakwah dan juga tentunya suaranya yang begitu indah ketika melantunkan ayat-ayat Allah.
Dua minggu yang lalu Kyai Farhan meninggal dunia. Beliau menyerahkan kepengurusan Pondok Pesantren pada Ustad Fariz yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri.
Ustad Fariz memang sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh Kyai Farhan dan Umi Sarifah karena Ustad Fariz yang begitu ramah, penurut dan hormat pada orang yang lebih tua darinya.
Oleh sebab itu Umi Sarifah setuju dengan keputusan suaminya untuk menyerahkan kepengurusan Pondok Pesantren Al-Mukmin pada Ustad Fariz dan Kyai Farhan berpesan agar Ustad Fariz dan Mirna mengurus dan menyayangi Umi Sarifah sebagai Ibu mereka sendiri.
Kini Ustad Fariz dipanggil Kyai oleh para santri. Namun dia tetap meminta untuk dipanggil Ustad oleh Ustad yang lain karena panggilan itu begitu damai untuknya, mengingatkannya akan sosok Rheina Az Zahra.
Dan Mirna dipanggil Ibu oleh mereka. Karena Ustad Fariz sendiri yang meminta agar mereka memanggil istrinya dengan sebutan Ibu, dia berharap agar istrinya bisa segera mengandung anak darinya. Dan juga agar Ustad Fariz tetap teringat dengan Bu Ratih yang dipanggilnya dengan sebutan Ibu.
Sudah selama ini usia pernikahan mereka namun belum juga mereka dikaruniai seorang anak. Umi Sarifah selalu menghibur mereka agar mereka bersabar, namun Umi Sarifah juga mengatakan pada mereka bahwa dia ingin memiliki cucu sebelum beliau meninggal.
Tapi Umi Sarifah tidak menekan mereka, beliau membesarkan hati mereka dengan mengatakan bahwa mereka sedang mendapat ujian dari Allah agar mereka bersabar.
Di suatu pasar di daerah pedesaan, Rhea memilih sayur-sayuran dan buah-buahan. Satu tahun sudah dia dinyatakan menjadi seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya. Andri dinyatakan meninggal oleh kepolisian karena jasadnya tidak juga ditemukan.
Sudah satu tahun dan polisi menyatakan Andri meninggal. Rhea ingin melupakan semua kepahitan hidupnya dan ingin memulai hidup baru dengan berpindah dari kota kelahirannya, kota yang memberikan kebahagiaan dan juga kesedihan dalam hidupnya.
Ayah dan Ibu tidak menyetujui keputusan Rhea, namun mereka akhirnya mengikhlaskan Rhea untuk hidup di kota lain dan mengantarkan Rhea ke tempat tersebut dengan harapan anaknya bisa menemukan kebahagiaannya di tempat yang baru itu.
Dengan hati riang Rhea membawa belanjaannya menuju rumahnya. Rhea menempati rumah Neneknya yang sudah tiada. Rumah itu masih terawat dengan baik karena ada Bik Darmi dan Pak Sardi yang sedari dulu merawat rumah tersebut. Kini Rhea tinggal di rumah neneknya ditemani oleh Bik Darmi dan Pak Sardi yang siap membantu dan mengantar Rhea kemanapun.
Rhea memang tidak bekerja, karena sudah lama dia resign dari pekerjaannya menjadikan dia sulit untuk mencari kerja. Namun berkat hobi dan keahliannya, kini dia mempunyai kesibukan dan penghasilan dari hobi dan keahliannya itu.
Rhea mempunyai YouTube channel yang mempunyai followers yang banyak, dia meraih keuntungan dari acaranya itu. Rhea memperlihatkan dirinya yang sedang memasak makanan, membuat kue dan berbagi tips lainnya seputar kuliner di channel-nya itu.
Selain itu dia menjadi penulis buku. Awalnya hanya sebagai hobi saja, dia menggoreskan kisah hidupnya melalui tinta pada kertas, namun tanpa sadar seorang temannya yang awalnya main ke rumah dan membaca coretan kisah Rhea itu menjadi tertarik.
__ADS_1
Teman Rhea adalah seorang editor di sebuah percetakan buku. Dia menjadi tertarik pada tulisan Rhea setelah membacanya. Dia meminta ijin pada Rhea untuk mengajukannya pada perusahaannya.
Dan rezeki pun datang tak terduga. Penerbit merasa tertarik dengan tulisan Rhea dan setelah mereka revisi maka buku Rhea pun terbit dan mendapatkan respon positif dari pembaca.
Zahra, nama pena dan nama channel milik Rhea. Nama itu adalah nama panggilan dan nama yang tersimpan di kontak ponsel Ustad Fariz.
Entah mengapa Rhea memakai nama itu sebagai awal barunya, dan dia pun merasa terberkahi dengan nama itu, buku dan channel-nya mendatangkan banyak keuntungan yang bisa menopang biaya kehidupannya kini yang tanpa suami.
"Non Rhea mau masak sekarang?" tanya Bik Darmi dengan mengeluarkan semua barang belanjaan Rhea dari kantong plastik.
"Iya Bik, sebentar lagi, ini mau Rhea siapin dulu. Bik Darmi istirahat aja dulu gapapa," Rhea tersenyum menatap Bik Darmi yang sudah seperti Bu Dhe nya sendiri.
"Bik Darmi disini aja Non, bantuin Non Rhea. Bik Darmi seneng banget Non Rhea ada disini, rumah jadi rame, Bibik juga ada temennya disini," Bik Darmi tersenyum dan Rhea memeluk Bik Darmi dengan perasaan sayang.
"Rhea juga seneng banget tinggal disini Bik. Bik Darmi udah seperti Budhe Rhea sendiri. Pak Sardi juga sangat membantu Rhea disini. Rhea senang memiliki kalian disini. Makasih ya Bik...," Rhea melepaskan pelukannya dan memakai apronnya.
Kini Rhea mulai merekam kegiatan memasaknya untuk channel You Tube-nya. Dan di malam harinya Rhea kembali dengan hobinya sebagai penulis.
Hari ini Ustad Fariz pergi ke toko buku yang berada di Pasar. Dia berbelanja buku untuk kebutuhan perpustakaan di Pondoknya. Begitu banyak buku yang dia bawa sampai-sampai buku yang menggunung di tangannya jatuh karena menabrak seseorang di depannya.
Bruuk...
Buku Ustad Fariz jatuh berserakan. Dia memunguti buku-bukunya dan mengumpulkannya kembali. Namun ada suara yang tidak asing di dengarnya.
"Maaf.... saya tidak sengaja, ini....," suara seorang wanita terdengar tidak asing oleh pendengaran Ustad Fariz.
Mata mereka bertemu, mereka berdua sama-sama terkejut mendapati cinta pertama mereka yang sudah lama tidak mereka jumpai sekarang berada di hadapan mereka. Tangan Rhea masih terulur di depan Ustad Fariz, memberikan bukunya yang tadi terjatuh.
"Ustad..."
"Rhea.... Zahra...."
Mereka terbuai dengan pandangan mata mereka yang beradu untuk beberapa menit. Hingga mereka tersadar ketika pegawai toko buku tersebut membantu mengumpulkan semua buku Ustad Fariz yang berserakan di lantai dan menyerahkannya padanya.
"Ustad.... Ustad kenapa ada disini?" Rhea bertanya dengan canggung. Debaran jantungnya masih sama seperti yang dulu, namun kali ini dadanya tidak merasakan sakit seperti saat terakhir mereka bertemu. Kini hati Rhea merasa bahagia bertemu dengan Ustad Fariz. Entah mengapa bisa seperti itu Rhea juga tidak mengerti.
Ustad Fariz juga merasakan hal yang sama dengan Rhea. Jantungnya kembali berdebar tak karuan dan hatinya merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan cinta pertamanya itu.
"Aku tinggal disini sekarang. Kamu apa kabar? Kenapa ada disini?" Ustad Fariz jadi terbawa canggung seperti Rhea.
"Hah tinggal disini? Seriusan? Kok bisa?" Rhea menjadi dirinya sendiri, kini dia sudah banyak bicara tanpa rasa canggung karena kaget mengetahui Ustad Fariz tinggal di desa yang sama dengan dirinya.
"Satu-satu tanyanya cantik...," tanpa sadar sebutan itu kembali dia ucapkan untuk Rhea setelah sekian lama tidak dia pergunakan.
Dulu ketika mereka masih dekat, Ustad Fariz selalu memanggil Rhea dengan sebutan cantik ketika menggodanya. Itu karena Rhea sendiri yang selalu menyebut dirinya gadis cantik. Jadi Ustad Fariz menyebutnya cantik ketika menggodanya.
"Ish Ustad mah gak berubah, masih ingat aja sebutan itu buat Rhea, hehehe.... oiya kenapa Ustad bisa ada disini?" Rhea benar-benar lupa jika mereka pernah saling jauh.
"Aku sekarang mengurus Pondok Pesantren disini. Kamu sendiri kenapa ada disini?" Ustad Fariz tak berkedip melihat paras cantik Rhea yang bertambah kadar kecantikannya menurutnya.
__ADS_1
"Aku pindah ke rumah nenek yang ada disini Ustad," Rhea tersenyum manis seperti biasanya.
"Rumah nenek kamu? Dengan siapa? Ayah sama Ibu ikut? Atau dengan suami kamu?" pertanyaan dilayangkan Ustad Fariz bertubi-tubi pada Rhea.
"Aku tinggal disini sendiri Ustad, ada Bik Darmi dan Pak Sardi yang menemaniku di rumah. Ayah dan Ibu tetap di sana," Rhea menjawab pertanyaan Ustad Fariz tanpa menyebutkan suaminya, luka yang ingin dia tutup.
"Emmm... apa suami kamu kerja disini sehingga kamu pindah ke tempat ini?" entah kenapa Ustad Fariz ingin mengetahui semua yang terjadi selama ini pada Rhea.
"Tidak," Rhea membuka sampul buku yang dia pegang dan membubuhkan tanda tangannya di sana, dia menghindari tatapan Ustad Fariz, dia takut lukanya akan dengan mudah diketahui oleh Ustad Fariz.
"Rhea Az Zahra... apa kamu menyembunyikan sesuatu?" Ustad Fariz menatap wajah Rhea dengan lekat.
"Emmm... Ustad, ini buku buat Ustad. Udah aku tanda tangani juga. Dibaca ya," Rhea menyerahkan buku yang sudah ditanda tanganinya barusan.
Ustad Fariz memandang heran buku yang diberikan Rhea untuknya. Rhea mengerti wajah kebingungan dari Ustad Fariz.
"Disitu semua akan terjawab," Rhea tersenyum menenangkan hati Ustad Fariz.
"Bisa kamu ceritakan garis besarnya saja? Nanti buku ini pasti akan aku baca," Ustad Fariz mencoba bernegosiasi dengan Rhea.
"Huffft.... itu buku saya Ustad, nanti Ustad pasti tau semua yang terjadi padaku selama ini. Dan saya single Ustad. Hehehe....," Rhea mencoba tegar dan tertawa untuk menutupi luka dan kesedihannya yang mendalam, namun matanya berkaca-kaca menggambarkan luka di hatinya.
Ustad Fariz menatap dalam mata Rhea. Dia seperti terhipnotis, yang ada dipikirannya hanya Rhea dan kebahagiaannya.
Ustad Fariz ingin bertanya lebih banyak pada Rhea, namun Rhea seperti menghindar, dia segera berpamitan pada Ustad Fariz dan membayar buku yang diberikannya pada Ustad Fariz.
Tenggorokan Ustad Fariz seolah tercekat tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Dia hanya bisa menatap punggung Rhea dan kepergian Rhea yang menimbulkan banyak tanya padanya.
Rhea masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Pak Sardi. Dia tidak menyangka jika dia bisa bertemu dengan cinta pertamanya itu di desa tempat neneknya.
Tadinya Rhea ke toko buku tersebut untuk mengetahui bukunya yang dijual di toko tersebut. Namun takdir berkata lain, dia dipertemukan dengan orang yang selama ini dia rindukan dalam hatinya.
Ustad Fariz segera kembali ke Pondok Pesantren dan langsung saja dia memberikan buku yang dia beli tadi pada petugas perpustakaan.
Setelah itu dia pergi ke ruangannya, dia memperhatikan dengan seksama buku yang diberikan oleh Rhea sebelum dibaca. Tertera di sana, di cover utama buku tersebut, ZAHRA nama sang penulis dengan judul
The Secret of My Life .
Mata Ustad Fariz terbelalak melihat nama penulisnya.
Apakah yang menulis buku ini Zahra ku? Rhea Az Zahra? tapi dia tadi menyuruhku membaca buku ini agar tau apa yang terjadi padanya. Aku harus membacanya, batin Ustad Fariz menyuruhnya untuk membacanya.
Air mata Ustad Fariz jatuh begitu membaca buku yang ditulis oleh Rhea. Dia tidak menyangka dengan semua yang tertulis dalam buku itu. Dia ingin menanyakan kebenarannya pada Rhea. Karena dia takut jika buku itu tidak sepenuhnya kehidupan Rhea.
Ustad Fariz hendak menghubungi nomer Rhea, namun dia segan, sudah lama dia tidak menghubungi nomer tersebut. Dia juga takut jika nomer itu sudah tidak digunakan oleh Rhea.
Diletakkannya kembali ponselnya di atas meja. Dibukanya kembali perlahan-lahan buku tersebut, hingga matanya tertuju pada lembar pertama setelah cover buku. Di sana tertera huruf yang tertulis indah dengan pena dan sebuah tanda tangan yang seingatnya tadi ditulis oleh Rhea. Dia terbelalak melihat tulisan itu, dan segeralah dia ambil ponselnya dan menekan nomer Rhea yang di milikinya sejak dulu.
Tuuut... tuuut...
__ADS_1