Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 200 Maaf


__ADS_3

"Salsa, gak boleh seperti itu sayang. Salsa minta maaf ya sama Hana."


Shinta memberi nasehat pada putrinya agar dia tidak mengatakan hal yang membuat sakit hati dan sedih pada orang lain.


"Gara-gara menyelamatkan dia, Umi sama Kak Izam sekarang di sana," jawab Hana yang kini kembali menangis mengatakannya karena terbayang akan Umi dan Izam yang tertabrak di depan matanya.


Shinta segera memeluk Salsa yang benar-benar terpukul dan syok melihat kejadian itu tepat di depan matanya.


Tangisan Salsa semakin membuat hati Rhea pilu. Putra pertamanya yang selalu menemani harinya dengan tingkah lucunya itu, sekarang harus terbaring lemah berjuang untuk kembali sadar. Dan Umi Sarifah yang sudah menjadi ibunya itu sangat dekat dan menyayanginya melebihi ibunya sendiri.


Tubuh Rhea seketika lemas seperti tak bertulang. Ustadz Fariz yang merasakan tubuh lemah istrinya segera menggendongnya untuk didudukkan di kursi tunggu yang terdapat tidak jauh dari ruang UGD tersebut.


Untung saja Ustadz Fariz selalu melingkarkan tangannya pada pundak ataupun pinggang istrinya, sehingga di saat seperti itu tadi Rhea tidak sampai jatuh ke lantai karena tidak kuat menopang tubuhnya sendiri.


Kondisi Rhea sangat memprihatinkan. Dia diam dan hanya mengeluarkan air mata tanpa mengeluarkan suara tangisnya.


Sedangkan Hana, dia merasa bersalah dan bersembunyi di belakang Pak Ratmo.


"Sebenarnya apa yang terjadi Pak?" tanya Ustadz Jaki pada pak Ratmo.


Pak Ratmo mengeluarkan Hana dari balik tubuhnya. Kemudian dia menunduk agak sama tingginya dengan Hana.


"Hana, kamu minta maaf ya sama semuanya," ucap Pak Ratmo sambil mengusap rambut Hana agar dia tidak lagi ketakutan.


"Ma-maaf," ucap Hana dengan suara lirih sambil menundukkan kepalanya.


Dahi Ustadz Jaki mengerut mendengar apa yang dikatakan oleh Pak Ratmo dan Hana. Dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


Ustadz Fariz pun demikian. Dari tempatnya duduk sekarang dia tidak jauh mendengarkan mereka dan ingin tahu apa yang terjadi.


"Pak, bisa ceritakan pada kami apa yang terjadi sebenarnya? Dan kenapa Umi bisa sampai ada di sekolah Izan dan Salsa, bukankah Pak Ratmo yang saya utus untuk menjemput mereka?"


Ustadz Fariz bertanya pada Pak Ratmo karena pertanyaan dari Ustadz Jaki belum dijawab olehnya.


Pak Ratmo melihat Hana kemudian dia menghela nafasnya dengan berat dan mulailah dia bercerita mengenai Umi Sarifah yang meminta ikut menjemput Izam dan Salsa hingga kejadian kecelakaan itu terjadi.


Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki memejamkan matanya ketika mendengar cerita pak Ratmo tentang kejadian kecelakaan tersebut.

__ADS_1


Sedangkan Rhea air matanya bertambah deras mengalir membasahi wajahnya tanpa suara tangis yang dikeluarkannya.


Shinta ikut meneteskan air matanya sambil memeluk Salsa mendengar cerita dari pak Ratmo.


Umi Sarifah, ibu terbaik mereka yang memberikan kasih sayang, cinta, perhatian dan pelajaran hidup melebihi ibu kandung mereka sendiri kini terbaring lemah tak berdaya.


Dan Izam, seorang anak laki-laki yang sangat menghidupkan suasana rumah mereka kini juga terbaring lemah tak berdaya karena melindungi neneknya.


Air mata pun jatuh di kedua pipi Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki. Mereka sangat menyayangkan kejadian ini. Namun semua atas kehendak Nya. Mereka tidak bisa menghalangi apa yang sudah digariskan oleh Nya.


"Dokter Shinta, maaf kami harus membawa mereka ke ruang operasi sekarang juga," ucap dokter Dion yang dibelakangnya sudah ada dua brankar pasien dan di atasnya terdapat tubuh Umi Sarifah serta Izam.


Tangis mereka pecah ketika melihat tubuh tak berdaya Umi Sarifah dan Izam melewati mereka.


Mereka semua mengikuti brankar tersebut hingga masuk ke dalam ruang operasi.


Rangkaian doa tak henti-hentinya mereka panjatkan untuk keberhasilan operasi Umi Sarifah serta Izam dan kesembuhan mereka berdua.


Berjam-jam mereka menunggu operasi tersebut di kursi tunggu luar ruang operasi, hingga Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki bergantian shalat di masjid rumah sakit untuk berjaga-jaga jika operasi yang dilakukan sudah selesai.


Hal itulah yang membuat mereka tidak berdaya melakukan apapun jika Umi Sarifah dan Izam sudah selesai keluar dari ruang operasi, sehingga Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki tidak mau meninggalkan mereka sendirian di sana.


Suara pintu ruang operasi yang terbuka membuat mereka semua menatap ke arah ruang operasi tersebut.


"Dok, bagaimana keadaan Umi dan Izam?" tanya Ustadz Fariz yang menopang tubuh istrinya ketika berdiri mendekati dokter Dion yang keluar dari ruang operasi beserta staf yang lainnya menyusul di belakangnya.


"Untuk sekarang kami sudah melakukan yang terbaik, dan kita harus menunggu ke depannya untuk mengetahui kondisi mereka lebih lanjut setelah mereka sadar," jawab dokter Dion.


Kemudian dia menyambung kembali ucapannya,


"Sekarang kami akan pindahkan pasien terlebih dahulu ke ruang ICU. Permisi."


Semuanya hanya diam. Hanya air mata yang keluar dari mata mereka mewakili isi hati mereka saat ini.


Mereka pun mengikuti Umi Sarifah dan Izam yang sedang dipindahkan ke ruang ICU.


Pak Ratmo dan Hana sedari tadi masih menunggu di sana untuk mengetahui keadaan Umi Sarifah dan Izam yang telah menyelamatkan Hana.

__ADS_1


Mirna telah dihubungi oleh Pak Ratmo dan menceritakan apa yang telah terjadi, namun Pak Ratmo melarang Mirna dan Pandu untuk datang ke rumah sakit karena takut jika kedatangan mereka nantinya akan lebih memperkeruh suasana.


Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki melakukan shalat di masjid rumah sakit. Tak henti-hentinya mereka memanjatkan doa dan melaksanakan shalat sunnah ketika pada waktunya.


Sedangkan Shinta dan Rhea melakukan shalat di ruangan Shinta.


Ustadz Fariz, Ustadz Jaki, Rhea dan Shinta berlomba-lomba membaca Al-quran untuk Umi Sarifah dan Izam agar mereka cepat sadar dan kembali sehat.


"Aw...ahhh....uhhh....," Rhea menahan rasa yang tidak nyaman di perutnya.


Perut, pinggang dan punggungnya sangat tidak nyaman untuknya. Namun Rhea sedari tadi menahannya. Dalam situasi seperti ini dia berharap agar anaknya bisa lahir setelah Umi Sarifah dan Izam sadar kembali.


"Kenapa sayang?" tanya Ustadz Fariz pada Rhea yang memegang belakang pinggangnya dan perut bawahnya.


"Gapapa Bie, cuma sepertinya sudah terasa saja. Mungkin sebentar lagi waktunya," jawab Rhea sambil berdesis menahan rasa sakit.


"Benarkah? Coba periksa saja, jangan sampai kamu kelelahan. Istirahat saja di ruangan Shinta, biar Abi aja yang jaga Umi dan Izam di sini," ucap Ustadz Fariz sambil memengusap-usap punggung istrinya yang terasa tidka nyaman.


"Rhea, kamu udah terasa?" tanya Shinta yang mendengar percakapan Ustadz Fariz dengan Rhea.


"Sepertinya sih begitu Shin. Tapi entahlah, sekarang sudah gak terasa lagi," jawab Rhea dengan wajah yang menahan sakit.


"Sepertinya memang benar. Ayo kita ke ruanganku untuk periksa keadaanmu," ucap Shinta sambil menggandeng tangan Rhea.


"Bie," ucap Rhea sambil memandang suaminya dengan wajah cemasnya.


"Gak usah khawatir, Abi sama Ustadz Jaki di sini menunggu Umi dan Izam. Bunda sama Shinta ya, sekalian saja istirahat di ruangan Shinta," tutur Ustadz Fariz yang kini tangannya mengusap rambut Rhea dengan lembut penuh dengan kasih sayang.


Hana kini sudah berada dalam gendongan Ustadz Jaki yang masih belum terbangun dari tidurnya.


Tiba-tiba saja Hana berada di depan Rhea dan Shinta yang akan berjalan menuju ruangan Shinta.


"Maaf," ucap Hana dengan suara lirih pada Rhea dan Shinta.


Bruk!


"Rhea!"

__ADS_1


__ADS_2