
Malam ini Rhea merasakan rindu yang teramat sangat dan kesepian yang sangat membuatnya ingin menemui suaminya
Dilihatnya berkali-kali ponsel yang berada di genggamannya. Tidak ada pesan ataupun telepon dari suaminya.
"Hubby kemana sih? Tumben gak ada kabar. Gak tau orang kangen apa? Awas aja kalau sampai nanti gak ada kabar," Rhea menggerutu sendiri di dalam kamarnya karena sedari tadi dia menunggu kabar dari suaminya.
Menunggu... menunggu... dan menunggu.... sungguh pekerjaan yang sangat membosankan dan menyebalkan. Rhea menunggu kabar dari suaminya hingga ketiduran.
Pukul tiga dini hari Rhea terbangun. Matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Dan dia berdiam beberapa detik untuk mengumpulkan ingatannya sebelum dia tertidur. Ketika sudah terkumpul semua ingatannya, segera dia melihat ponselnya, ternyata tidak ada kabar juga dari suaminya.
Rhea bertambah kesal pada suaminya, tapi dia sangat merindukan suaminya. Akhirnya dia melaksanakan shalat malam dan berdoa pada sang khalik agar semuanya berjalan dengan lancar dan kehamilannya pun diberikan kesehatan sampai melahirkan.
Rhea tidak bisa memejamkan matanya kembali karena kerinduannya pada suaminya yang terlalu dalam. Dengan perasaannya yang tak menentu itu dia menuju ke dapur untuk membuat minuman hangat agar pikirannya kembali rileks.
Entah kenapa dia ingin sekali pergi menemui suaminya. Dan pikirannya tidak tenang karena tidak ada kabar dari suaminya.
"Loh Rhea udah bangun?" Ayah mengagetkan Rhea dengan pertanyaannya ketika Rhea sedang mengaduk minumannya.
"Eh Ayah, udah bangun, abis shalat gak bisa tidur," jawab Rhea sambil meneruskan mengaduk minumannya.
"Banyak pikiran atau lagi kangen?" Ayah terkekeh bertanya pada Rhea.
"Dua-duanya Yah. Mmm... Ayah, boleh gak Rhea pulang ke Pondok Pesantren Al-Mukmin?" tanya Rhea ragu pada Ayahnya.
Pak Adrian berpikir sejenak, kemudian dia berkata, "Sekarang?"
Rhea meminum sedikit demi sedikit minumannya sambil duduk di kursi yang ada di dekatnya.
" Boleh ya Yah," Rhea menatap penuh harap pada Ayahnya.
Sebenarnya Pak Adrian tidak tega melihat Rhea bersedih seperti sekarang ini, namun sesuai pesan Ustad Fariz bahwa dia akan menjemput Rhea setelah semuanya selesai.
"Tapi kata suamimu dia akan menjemputmu jika semuanya sudah selesai. Apa tidak sebaiknya kamu tunggu saja?" Ayah mencoba membujuk Rhea agar tidak meminta pulang sekarang.
"Dari semalam suami Rhea gak kasih kabar Yah, Rhea jadi khawatir. Bisa kan Yah ngantar Rhea pulang?" Rhea kembali memelas pada Ayahnya.
"Sebentar, Ayah tanya Ibumu dulu ya," Ayah berjalan ke kamar meninggalkan Rhea setelah mendapatkan anggukan dari Rhea.
Rhea meminum minumannya dengan masih memandangi ponselnya. Ingin rasanya dia menghubungi suaminya, namun dia dalam mode ngambek dan ingin tahu sejauh mana suaminya akan mendiamkannya.
__ADS_1
Ingin juga dia menghubungi Ustad Jaki untuk sekedar bertanya tentang Ustad Fariz, namun dia tidak berani karena takut Ustad Fariz salah paham.
Tadinya Rhea sudah menghubungi Umi Sarifah, namun ponsel Umi Sarifah tidak aktif, mungkin sedang di charge.
Rhea semakin mantap untuk kembali pulang, dia menyalahkan dirinya karena pada saat tempo hari Ustad Fariz berkunjung, mobil Rhea akan ditinggal oleh Ustad Fariz, tapi tidak diperbolehkan Rhea karena dia tidak tega jika suaminya pulang menggunakan kereta. Dan sekarang dia benar-benar membutuhkan mobilnya.
Ceklek!
Pintu kamar Ayah dan Ibu terbuka, menampakkan Ayah dan Ibu yang keluar dari kamar mereka berjalan menuju Rhea.
"Kenapa Sayang? Kangen sama suami?" tanya Ibu pada Rhea sambil mengusap rambut Rhea yang tidak tertutup hijab.
Rhea memang tidak memakai hijabnya jika di rumah orang tuanya pada jam-jam tertentu, pada jam-jam dimana tidak ada pekerja di rumah, hanya ada anggota keluarga inti saja, Ayahnya, Ibunya dan Rendi.
Rhea mengangguk dan menceritakan keresahannya pada ibunya. Bu Ratih pun mengerti keresahan anaknya pada suaminya, apalagi sudah beberapa minggu lamanya mereka tidak bertemu.
"Ya udah Yah, kita antar Rhea saja habis subuh gimana?" Bu Ratih meminta pendapat Pak Adrian.
"Apa tidak apa-apa? Kan suami Rhea berjanji akan menjemput Rhea jika urusannya sudah selesai," Pak Adrian bertanya kembali pada Bu Ratih.
"Ibu rasa tidak apa-apa Yah. Sebenarnya kan suami Rhea akan ke sini jika tidka sedang sibuk. Karena kesibukannya itu dia jadi gak bisa datang ke sini. Ya sudah kalau gitu kita aja yang antar Rhea pulang. Daripada Rhea kepikiran terus dan berimbas pada kandungannya, mending kita antar saja dia pulang Yah," Bu Ratih memberikan penjelasan yang sangat panjang pada Pak Adrian..
Akhirnya Pak Adrian dan Bu Ratih mengantar Rhea pulang kembali ke Pondok Pesantren Al-Mukmin. sedangkan Rendi tidak ikut karena dia harus bersekolah.
Perjalanan yang ditempuh dari rumah kedua orang tua Rhea menuju Pondok Pesantren Al-Mukmin terasa sangat lama bagi Rhea. Berbeda dengan waktu itu pada saat Rhea bersama Ustad Fariz, rasanya waktu terasa sangat cepat bagi mereka. Ternyata cinta itu sangat indah. Sangat menyenangkan jika mencintai dan dicintai secara bersamaan.
"Assalamu'alaikum....," Rhea memberi salam ketika berada di depan pintu rumah Umi Sarifah dan diikuti pula oleh Ayah dan Ibunya.
"wa'alaikumussalam...," jawab seseorang dari dalam rumah dan keluar untuk membukakan pintu.
"Rhea? Loh ada Bapak dan Ibu juga? " Umi Sarifah kaget melihat Rhea sudah berada di depan pintu rumahnya, sedangkan Ustad Fariz saja belum pulang dari persidangan perceraiannya.
Rhea mengambil tangan Umi Sarifah dan mencium punggung tangannya.
"Ayo masuk dulu, baru kita ngobrol," Umi Sarifah mengajak Rhea untuk berjalan menuju ruang tamu dengan merangkul pundaknya.
"Ustad Fariz kemana Umi?" tanya Rhea pada Umi Sarifah sambil berjalan.
"Ehemmm... sepertinya ada yang rindu nih," Umi Sarifah menggoda Rhea hingga wajahnya merona karena malu.
__ADS_1
"Ah Umi...," Rhea malu karena tebakan Umi Sarifah memanglah benar.
"Suamimu sedang menghadiri sidang perceraiannya," Umi Sarifah memberitahukan pada Rhea.
"Bapak, Ibu mari duduk, sebentar ya, akan saya ambilkan minum dulu," Umi Sarifah akan berdiri namun dicegah oleh Rhea.
"Rhea aja Umi yang ngambil," Rhea berdiri dan berjalan menuju dapur, di sana dia bertemu dengan Mbak Atik dan seperti biasanya, Mbak Atik melarang Rhea membuat minum untuk tamu, karena Mbak Atik lah yang akan membuatkan minuman untuk mereka.
Pak Adrian dan Bu Ratih bercerita pada Umi Sarifah tentang keadaan dan kesibukan Rhea selama di sana. Dan Umi Sarifah pun tersenyum senang karena apa yang dirasakan oleh Rhea sama persis dengan Ustad Fariz di sini.
"Assalamu'alaikum...," Ustad Fariz mengucap salam tanpa melihat depan pada saat masuk rumah, karena sedari tadi pandangan matanya tertuju pada ponselnya.
"Wa'alaikumussalam...," jawab beberapa orang yang diantara suaranya Ustad Fariz sangat kenal dan sangat dia rindukan.
Ustad Fariz mengalihkan pandangannya dari ponselnya pada orang yang menjawab salamnya.
"Zahra? Sayang...," Ustad Fariz berhambur memeluk erat tubuh Rhea, dia sangat merindukan istrinya yang sudah berminggu-minggu lamanya tidak ditemuinya.
Ustad Fariz mengurai pelukannya, memperhatikan dengan seksama wajah wanita yang sangat dirindukannya.
"Apa aku bermimpi?" celetuk Ustad Fariz membuat semua orang yang ada disitu terkekeh mendengarnya.
"Hubby gak kangen sama aku? Kenapa dari kemarin gak ada kabar? Apa Hubby baik-baik aja?" Rhea memberondong Ustad Fariz dengan banyak pertanyaan yang sedari kemarin ada di benaknya dan ingin dia tanyakan jika bertemu dengan suaminya.
Bukannya Ustad Fariz menjawab pertanyaan istrinya, dia malah tersenyum dan memeluk erat kembali tubuh istrinya itu.
"Rindu banget aku sama kamu," Ustad Fariz mengucapkannya ketika memeluk istrinya.
Namun setelah beberapa detik kemudian dia mengurai pelukannya kembali untuk memandang wajah istrinya kembali dan berkata, "Kangeeeeeen banget sama istriku."
Perlakuan dan perkataan Ustad Fariz membuat Rhea menjadi senang sekaligus malu. Terdapat semburat rona merah karena malu pada wajah kebahagiaan Rhea.
"Gimana sidangnya Le?" Umi Sarifah bertanya bukan bermaksud untuk membuyarkan acara kangen-kangenan sepasang suami istri yang ada di hadapannya itu, hanya saja Umi Sarifah ingin mengetahui perkembangan sidang perceraian Ustad Fariz dengan Mirna.
"Alhamdulillah sudah resmi bercerai Umi, tinggal tunggu akta perceraiannya aja," Ustad Fariz menjawab dengan sumringah dan wajah gembiranya itu tidak bisa dia sembunyikan.
"Alhamdulillah...," ucap syukur keluar dari mulut semua orang yang ada disitu dengan lega.
"Lalu kenapa Hubby dari kemarin gak ada kabar? Gak tau apa kalau aku sangat khawatir sekali?"
__ADS_1