Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 54 Pelakon handal


__ADS_3

"Ini masakan kamu Mirna?" tanya Pak Ratmo ketika makan malam bersama Mirna dan anak sulung Pak Ratmo yang baru keluar dari Pondok Pesantren di kota XY.


"Beli tadi di warung depan," sahut Anita anak Pak Ratmo.


"Mirna, bukannya kamu bisa masak? Biar sekalian dibantuin sama Anita," Pak Ratmo memberi saran pada Mirna.


"Ribet Paman, cuma makan bertiga aja mending beli di warung. Lagian ini Anita yang beli tadi, lauk-lauknya ini semua pilihan Anita," jawab Mirna sambil mengunyah makanannya.


"Kan Mbak Mirna yang nyuruh, duitnya dikasih kan tadi sama Mbak Mirna," sahut Anita yang tidak mau disalahkan oleh Mirna.


"Ya udah, gak baik ribut di depan makanan. Lain kali kalian masak ya berdua, kalian kan perempuan, biar terbiasa masak," tutur Pak Ratmo sambil meneruskan makannya.


Anita melirik Mirna sambil memasukkan makanan yang ada di sendoknya ke dalam mulutnya. Mirna hanya cuek saja tanpa menjawab apa yang dikatakan oleh Pak Ratmo.


Sampai makanan mereka habis pun Pak Ratmo tidak memberikan lagi nasehatnya pada Mirna. Rasanya percuma saja menasehati orang yang tidak mendengarkan ucapan kita, terasa seperti buang-buang energi dan pikiran.


Sesuai dengan perintah Pak Ratmo, Anita mengajak Mirna berbelanja di tukang sayur yang tidak jauh dari rumah mereka. Terdengar kasak-kusuk yang membicarakan Mirna.


Ada yang sengaja berbicara keras agar Mirna mendengar, dan ada pula yang berbisik-bisik namun masih bisa di dengar orang di sekelilingnya.


Mereka semua menggunjingkan Mirna karena diceraikan oleh suaminya. Anita yang mendengar gunjingan mereka merasa malu, namun berbeda dengan Mirna yang cuek, dan satu lagi yang membuat Anita takjub pada Mirna, yaitu Mirna bisa kamuflase menjadi pihak yang teraniaya.


Dengan memasang wajah sedih, Mirna menceritakan bahwa dia menjadi korban fitnah dari pihak Rhea


"Wanita itu ingin menjadi istri satu-satunya dan dia ingin menguasai suami saya. Jadi dia banyak memfitnah saya. Apalagi saya belum mempunyai anak, jadi dengan mudahnya dia bisa menyingkirkan saya," ucap Mirna dengan mata yang berkaca-kaca terlihat sangat sedih.


Semua ibu-ibu yang berbelanja berkumpul membentuk lingkaran untuk mendengarkan kisah pilu yang dikarang oleh Mirna.


Mereka semua bersimpati melihat Mirna yang tersiksa batinnya oleh kelakuan dan fitnah yang diberikan Rhea pada Mirna.


"Bu Mirna yang sabar ya, pasti nanti dia dapat balasannya sendiri," ucap Bu A.


"Bu Mirna kenapa terima aja sih digitukan? Kalau saya nih Bu, pasti udah saya labrak, saya jambak, saya pluntir itu mulutnya," ucap Bu B dengan menirukan adegan yang diucapkannya.

__ADS_1


"Kok suami Bu Mirna bisa percaya sama mulut wanita itu sih Bu? Kan Bu Mirna istri pertamanya, harusnya Bu Mirna yang lebih berhak dong daripada dia," ucap Bu C dengan nada kesal.


"Suami saya sudah tidak percaya lagi sama saya Bu, dia sudah terhasut oleh wanita itu. Sepertinya hatinya sudah sepenuhnya milik wanita itu," Mirna kembali lagi menitikkan air matanya.


"Kok Kyai gitu sih? Katanya kalau poligami harus adil? Ini malah gak bisa adil kok malah jadi Kyai. Ngisin-isini. Gimana kalau yang lain nyontoh dia? Kan dia seorang Kyai yang menjadi panutan jamaahnya," ucap Bu D yang ikut terbawa emosi.


"Mungkin karena dia lebih muda dan lebih cantik Bu, jadi Kyai lebih suka dan lebih cinta sama dia," ucap Bu E seolah menjawab pertanyaan dari Bu D.


Uwasyeem Ibu ini, pakai muji-muji Rhea lagi. Nagapain coba pakai ngomong kalau Rhea lebih muda dan lebih cantik dari aku? Bikin aku tambah kesal aja, Mirna membatin kesal namun mukanya tetap dibuat sedih agar mereka semua percaya padanya.


"Kenapa Bu Mirna gak bales aja sih dia? ikutan gedek loh saya," Bu C ikut menimpali.


Mirna hanya menggeleng sambil memasang muka sedihnya.


"Saya sudah tidak kuat Bu difitnah terus menerus, hati saya sakit Bu. Tiap wanita itu kenapa-napa selalu saya yang disalahkan, padahal itu ulahnya dia sendiri Bu," ucap Mirna dengan suara yang tersendat-sendat supaya terlihat dia seperti sedang menahan tangis.


"Ternyata wanita itu tidak seperti wajahnya yang cantik ya, ternyata hatinya busuk," ucap Bu A yang kini ikut emosi.


"Udah-udah pada bubar. Gak pada masakin buat suami apa?" Ibu pemilik warung sayur membubarkan ibu-ibu yang bergibah.


"Iya yuk, nanti kalau suami kita gak dimasakin bisa-bisa jajan diluar lagi," ucap Bu D yang siap-siap mengambil kantong belanjanya.


"Iya, bisa-bisa diambil pelakor kayak suami Bu Mirna," ucap Bu B yang sudah menenteng kantong belanjanya.


"Pelakor jaman sekarang cantik-cantik Bu, jadi kita gak boleh kalah cantik," ucap Bu A sebelum meninggalkan mereka.


"Ya udah yuk pulang, dandan yang cantik di depan suami biar gak diambil pelakor," Bu D ikut menimpali sebelum pergi dari tempat itu.


"Wooo... Mbak Mirna hebat sekali aktingnya. T-o-p-b-g-t," Anita mengacungkan kedua jempolnya ketika mereka sudah berjalan pulang.


"Kamu apa-apaan sih? Bisa diem gak?" sentak Mirna pada Anita.


"Ya kali Mbak diem aja, kan punya mulut. Hehehe....," Anita nyengir tanpa dosa.

__ADS_1


Baru kali ini ada yang bisa menandingi perkataan Mirna selain Ustad Jaki. Mirna merasa harus hati-hati, sama dengan dia menghadapi Ustad Jaki.


Ini anak bisa ngacau rencanaku, aku harus hati-hati. Tapi, gimana caranya aku bisa lepas dari ini anak? orang dia ngintilin aku terus, Mirna menggerutu dalam hati sepanjang jalan hingga tidak terasa mereka sampai di rumah.


Pak Ratmo tersenyum melihat Mirna dan Anita pulang dengan membawa kantong plastik. Pak Ratmo berharap agar Mirna bisa berubah setelah kejadian yang dihadapinya dan dia bisa menata hidupnya kembali.


"Kalian dari mana?" tanya Pak Ratmo basa-basi.


"Dari belanja Pak. Bapak mau berangkat?" Anita mengambil tangan Pak Ratmo dan mencium punggung tangannya.


Pak Ratmo mengangguk dan melihat wajah ponakannya yang sepertinya agak kesal tapi pada saat masuk ke dalam rumah Mirna malah bernyanyi-nyanyi. Pak Ratmo mengikuti pergerakan Mirna dengan matanya, dan dia menggeleng heran dengan sikap ponakannya yang berubah-ubah, tidak bisa ditebak.


"Kenapa itu Mirna?" tanya Pak Ratmo pada Anita.


"Biasa Pak, kalau lagi seneng kan gitu kayak abis menang lotre," jawab Anita.


Pak Ratmo mengernyit heran. Dia menoleh kembali ke arah dalam rumah, kemudian kembali memandang Anita.


"Memangnya ada apa?" tanya Pak Ratmo heran.


"Itu Pak, tadi pas belanja-"


"Anita..... ayo cepet sini bantuin!" teriak Mirna dari arah pintu.


Anita kaget karena tadinya Mirna sudah ada di dalam ruman, mendadak sekarang ada di depan pintu dengan mata yang setengah melotot dan senyum yang dipaksakan.


Pak Ratmo memandang heran pada mereka berdua.


"Ada apa Nit?" tanya Pak Ratmo.


"I-itu Pak.. mmm... itu tadi-"


"Nita.... ayo bantuin masak se-ka-rang!!!"

__ADS_1


__ADS_2