
"Oh iya Sayang, tadi kamu belum cerita tentang mantan suaminya Rhea yang bertemu kamu di rumah sakit," Ustadz Jaki mengingatkan kembali pada Shinta setelah Shinta keluar dari kamar mandi.
"Tadi itu aku tiba-tiba dipanggil ke UGD karena ada pasien yang sedang membutuhkan pertolonganku," jawab Shinta sambil duduk di depan cermin dan menyisir rambutnya.
"Terus....," ucap Ustadz Jaki dengan penasarannya.
Kemudian Shinta mulai menceritakan semuanya pada Ustadz Jaki. Dia bercerita mulai dari keadaan istri mantan suami Rhea hingga apa saja yang dia dengar ketika mantan suami Rhea berbicara dengan istrinya.
"Sayang, aku kasihan sama istrinya," tukas Shinta setelah bercerita pada Ustadz Jaki.
"Ya kamu sebagai dokternya harus bantu dia. Karena kamu adalah malaikat tak bersayapnya Jaki Al Fathir," Ustadz Jaki menimpali ucapan Shinta dengan rayuannya.
Shinta menahan tawanya mendengar rayuan receh dari suaminya. Kemudian dia beranjak naik ke atas ranjang, dan hal itu membuat Ustadz Jaki tersenyum senang. Namun detik berikutnya senyum Ustadz Jaki pudar ketika melihat Shinta masuk ke dalam selimut dan memejamkan matanya.
"Loh Sayang, kok merem sih?" tanya Ustadz Jaki dengan menggerak-gerakkan lengan Shinta.
"Malaikat tak bersayap kamu ini sedang capek habis bertugas menolong orang sejagad raya," jawab Shinta yang masih memejamkan matanya sambil menahan tawanya.
"Lah kan tadi udah setuju mau mengadakan konferensi program kesejahteraan keluarga berencana, kok jadi merem sekarang. Ini masih sore loh," Ustadz Jaki merengek, dia tidak terima jika acaranya dibatalkan.
Namun tak ada balasan suara dari Shinta. Dilihatnya wajah istrinya itu yang sepertinya benar-benar sedang tertidur. Benar saja memang Shinta sedang berpura-pura tidur karena dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya jika tahu istrinya itu sedang tertidur.
"Ya udah kamu istirahat dulu aja. Hitung-hitung charge tenaga dulu, biar nanti bisa gasss poool...," ucap Ustadz Jaki sambil beranjak dari ranjang dan keluar dari kamarnya.
Setelah terdengar suara pintu yang ditutup, Shinta mulai membuka matanya dan dia tersenyum geli mendengar ucapan suaminya sebelum keluar dari kamar tadi.
Sedangkan di rumah Pak Ratmo, Anita beserta Pak Ratmo sedang membujuk Mirna untuk memeriksakan kembali penyakitnya. Mereka ingin Mirna benar-benar terbebas dari penyakit tersebut.
"Mbak Mirna pokoknya besok harus mau ke rumah sakit," ucap Anita dengan tegas.
__ADS_1
"Kok jadi kamu yang ngatur sih Nit? Mbak gak mau ah bolak-balik ke rumah sakit. Tadi aja pas ketemu dokternya di sana Mbak disuruh periksa Mbak alasan sama dokternya. Mangkanya Mbak tadi langsung pulang. Mbak ogah diperiksa-periksa lagi," Mirna berucap sewot menanggapi ucapan dari Anita.
"Benar kata Anita Mir. Anita itu sayang sama kamu. Dia ingin kamu segera sembuh dan terbebas dari penyakit itu," kini Pak Ratmo yang memberi Mirna pendapatnya.
"Tapi kan selama ini udah baik-baik aja dan rasa sakitnya juga jarang datang," Mirna masih saja mengelak.
"Itu karena Mbak Mirna rajin minum obat. Coba kita periksakan supaya tau penyakitnya masih ada atau memang udah sembuh. Biar jelas Mbak. Dari pada Mbak Mirna keterusan minum obat, eh ternyata Mbak Mirna gak tau kalau Mbak Mirna udah sembuh, percuma kan Mbak," Anita mencoba membuat Mirna mau memeriksakan dirinya ke rumah sakit kembali.
Mirna terdiam, dia tidak menjawab perkataan Anita seperti sebelumnya. Anita menahan senyumnya karena dia melihat Mirna tampak berpikir.
Semoga Mbak Mirna memikirkan ucapanku dan dia mau memeriksakan dirinya kembali ke rumah sakit, Anita berdoa dalam hatinya.
"Ya udah deh, tapi besok anterin ya ke rumah sakitnya," ucap Mirna pasrah.
Anita dan Pak Ratmo tersenyum karena akhirnya usaha mereka untuk membujuk Mirna bisa membuahkan hasil. Akhirnya setelah sekian lama mereka membujuk Mirna, kini Mirna mau untuk memeriksakan dirinya kembali.
Memang dulu Mirna sudah pernah melakukan operasi, namun selang kurang lebih satu tahun rasa sakitnya kembali dirasakannya. Sehingga pada saat Mirna memeriksakannya, dia diagnosa dengan penyakit yang sama.
Pak Ratmo banyak memberikan wejangannya pada Mirna. Dia berharap agar Mirna bisa legowo, ikhlas dan berusaha menyembuhkan penyakitnya, serta dia berharap agar Mirna bisa merubah sikapnya agar lebih baik.
"Mungkin ini teguran Allah buat kamu Mir," ucapan Pak Ratmo setelah mendengar diagnosa penyakit Mirna kembali ini selalu terngiang di benak Mirna ketika Mirna menyesali hidupnya.
"Paman, Mirna berangkat ke rumah sakit dulu. Doain ya Paman semoga penyakit Mirna bisa sembuh total," Mirna berpamitan pada Pak Ratmo dan meminta doanya.
"Paman selalu mendoakan kamu Mir. Kamu tenang saja tidak usah memikirkan hal lainnya agar kamu cepat sembuh," Pak Ratmo menjawab permintaan doa Mirna.
Setelah itu Mirna dan Anita berangkat ke rumah sakit dengan menggunakan motor milik Pak Ratmo.
"Bu Mirna....!"
__ADS_1
"Mbak Anita....!"
Hana berlari dan berhambur ingin memeluk Mirna dan Anita, namun Mirna tidak menunduk ketika Hana berlari ke arahnya, sehingga Hana memeluk kaki Mirna ketika sudah berada di dekatnya.
Berbeda dengan Anita yang menunduk dan mensejajarkan tinggi badannya dengan tinggi badan Hana agar Hana dengan mudah memeluknya setelah memeluk Mirna.
"Mbak Anita sama Bu Mirna lama sekali datangnya, Hana jadi kesepian. Hana juga lapar, pengen makan," ucap Hana dengan sedikit merengek pada Anita dan Mirna.
Kenapa bisa ketemu anak ini lagi sih? Nyusahin aja deh. Malah jadi tambah bad mood aja. Gak tau apa kalau aku lagi deg-degan mau periksa, Mirna mengomel dalam hatinya dengan menatap malas pada Hana.
"Yuk Nit buruan, kita belum masak apapun untuk warung nanti," ucap Mirna pada Anita dengan nada malas.
"Hana, Bu Mirna sama Mbak Anita mau ke sana dulu ya. Kita mau periksa ke dokter. Hana sama Bapak Hana dulu aja ya," Anita melepas pelukan Hana dan memberitahu Hana dengan sabarnya.
"Loh Mbak Anita sama Bu Mirna sakit?" tanya Hana dengan polosnya.
"Bu Mirna yang sedang sakit. Sekarang Bu Mirna mau periksa lagi agar Bu Mirna cepat sembuh," Anita menjelaskan pada Hana dengan telaten.
Hana mengangguk-anggukkan kepalanya seolah dia sudah mengerti apa yang dibicarakan oleh Anita.
"Jadi gak sih Nit? Kalau gak jadi mending aku pulang sekarang," ucap Mirna dengan sewotnya.
"Jadi Mbak...," jawab Anita dengan sabarnya setelah itu dia menghela nafas karena dia merasa berbicara dengan Mirna sama dengan berbicara dengan Hana, jadi dia harus bisa momong Mirna layaknya anak kecil.
"Hana!" Pandu memanggil Hana dari jarak yang sedikit jauh.
Kemudian dia berlari menghampiri Hana yang sedang bersama Mirna dan Anita.
"Maaf Mbak, kalian jadi repot karena Hana. Terima kasih juga karena kalian mau repot-repot meluangkan waktu datang ke sini," ucap Pandu malu-malu.
__ADS_1
"Siapa yang mau datang ke sini karena situ?" Mirna menggerutu lirih sambil berjalan, dan hal itu terdengar oleh telinga Pandu meskipun terdengar lirih.