Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 108 Pencarian terowongan


__ADS_3

Malam pengantin, malam pertama, malam yang sangat ditunggu-tunggu oleh Ustadz Jaki kini menjadi malam gelap yang menghentikan ritual malam mereka.


"Kenapa lampunya mati Sayang?" tanya Shinta yang tanpa sadar memanggil Ustadz Jaki dengan sebutan sayang untuk pertama kalinya.


Ustadz Jaki tersenyum senang meskipun tidak bisa dilihat oleh Shinta ketika mendengar Shinta memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Kok bisa padam ya? Gak mungkin kan mereka jahilin aku?" ucap Ustadz Jaki yang menghentikan kegiatannya disaat sedang nanggung hendak membobol benteng pertahanan istrinya.


"Siapa?" tanya Shinta bingung.


"Siapa lagi kalau bukan mereka berdua," tuduh Ustadz Jaki pada Ustadz Fariz dan Rhea.


"Gak boleh suudzon. Lagian gak mungkin mereka ngelakuin ini. Kurang kerjaan aja," ucap Shinta.


"Astaghfirullahaladzim... ini gara-gara kemarin ngomongin masalah karma saat malam pertama, jadi suudzon kan aku," ucap Ustadz Jaki yang tidak dimengerti oleh Shinta.


"Maksudnya?" tanya Shinta kembali karena bingung dengan ucapan suaminya.


"Nanti aja ceritanya. Ini nanggung loh, diselesaikan dulu ya," ucap Ustadz Jaki yang penuh dengan pengharapan.


"Periksa dulu di luar. Kali aja ada yang konslet atau apa gitu," Shinta menolak usulan suaminya.


"Ya udah deh, bentar aku pakai baju dulu," ucap Ustadz Jaki sambil turun dari ranjang.


"Sayang, bajuku di mana ya?" tanya Ustadz Jaki sambil meraba-raba mencari bajunya.


"Mana aku tau. Tadi kamu kan yang melempar bajunya," jawab Shinta.


"Sayang, coba senterin pakai HP dong," Ustadz Jaki meminta bantuan pada Shinta.


Shinta meraba nakas, dan menemukan ponselnya. Kemudian dia menyalakan senter dari ponselnya dan mengarahkannya pada Ustadz Jaki.


"Hiyaaaaaaaaaaaaa.......," Shinta berteriak ketika mengarahkan senter ponselnya pada tubuh Ustadz Jaki.


"Sayang, kenapa?" tanya Ustadz Jaki cemas.


"Itu... itu belalai kamu, tutupiiiiin...," ucap Shinta sambil menutupkan tangan kirinya pada matanya.


"Belalai?" ucap Ustadz Jaki heran, kemudian dia melihat arah senter ponselnya berfokus pada bagian bawah tubuhnya sehingga memperlihatkan dengan jelas miliknya yang bersinar diantara kegelapan.

__ADS_1


Seketika Ustadz Jaki tertawa dengan apa yang terjadi. Kemudian dengan segera dia meraih ponsel dari tangan Shinta untuk mencari bajunya.


Setelah memakai bajunya, Ustadz Jaki mendekati Shinta, duduk di dekatnya dan melepaskan tangan Shinta dari matanya.


"Udah selesai. Buka matanya," perintah Ustadz Jaki pada Shinta.


Shinta pun mulai membuka matanya dan melihat wajah Ustadz Jaki yang berada di depannya.


"Ngapain di tutupi sih Sayang? Kan udah lihat tadi," Ustadz Jaki tersenyum menggoda istrinya.


"Ya kaget aja," jawab Shinta yang wajahnya tersorot oleh senter dari ponsel yang dipegang oleh Ustadz Jaki.


"Besar kan?" tanya Ustadz Jaki jahil.


Dan dengan polosnya Shinta mengangguk tanpa sadar. Hal itu membuat Ustadz Jaki kembali tertawa. Dan membuat Shinta bertambah malu. Seketika Shinta menutupi wajahnya dengan selimut.


"Aku lihat di luar dulu ya," ucap Ustadz Jaki sambil terkekeh.


"Umiiiiiii.....," teriak Ustadz Jaki dari depan pintunya.


Beberapa menit kemudian Ustadz Fariz keluar dari kamarnya dan menepuk punggung Ustadz Jaki yang kembali akan berteriak.


"Kenapa lampunya mati sih?" tanya Ustadz Jaki dengan kesal.


"Hahaha... kayaknya karma langsung terbayar tunai," Ustadz Fariz terkekeh melihat wajah Ustadz Jaki yang kesal tersorot senter dari ponsel yang dipegang oleh Ustadz Fariz.


"Pasti kerjaan Ustadz ya biar aku gagal memperlihatkan keperkasaanku," Ustadz Jaki menuduh Ustadz Fariz.


"Ngawur! Main tuduh aja. Dulu pada saat malam pengantinku juga sama, lampu tiba-tiba mati, dan ternyata pulsa token nya habis. Untung udah selesai," ucap Ustadz Fariz disertai kekehannya mengingat malam pengantinnya waktu itu.


"Hahahaha.... beneran? Tapi masih mending udah selesai, lah ini baru separuh jalan," ucap Ustadz Jaki jadi kembali kesal setelah menertawakan Ustadz Fariz.


"Kalian panggil Umi?" suara Umi Sarifah dari lantai bawah menghentikan obrolan Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki.


Kini Umi Sarifah berada di bawah tangga sambil memegangi senter yang diarahkan ke arah Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki.


"Jaki Umi, ketakutan lampunya tiba-tiba mati," Ustadz Fariz menjawab pertanyaan Umi Sarifah.


"Enak aja. Bohong Umi, Jaki cuma nanya kenapa lampunya tiba-tiba mati," Ustadz Jaki membela dirinya.

__ADS_1


"Kalian ngapain disitu?" tanya Umi Sarifah pada mereka berdua.


"Jaki lagi curhat Umi," jawab Ustadz Fariz sambil terkekeh.


"Ngapain malam-malam mati lampu malah curhat-curhatan? Coba kalian lihat. Mbak Atik sepertinya sudah tidur, kelelahan mungkin," ucap Umi Sarifah.


"Ayo kita lihat, daripada nanti cuma separuh jalan," ledek Ustadz Fariz pada Ustadz Jaki sambil berjalan dan merangkul pundak Ustadz Jaki.


"Gak akan, pasti nanti akan aku selesaikan," ucap Ustadz Jaki dengan penuh percaya diri.


Dan ketika mereka membuka pintu rumah, ternyata semua area di luar gelap gulita. Karena merasa belum yakin, mereka keluar dari rumah, dan benar saja jika semua lampu di setiap rumah dan jalan mati semua. Itu berarti terjadi pemadaman dari pusat.


"Kok mati semua sih? Ya.... gagal dong," ucap Ustadz Jaki lesu.


"Buktikan ucapanmu yang tadi wahai saudaraku," ucap Ustadz Fariz sambil menepuk-nepuk punggung Ustadz Jaki yang kini merasa lesu.


"Bagaimana Le?" tanya Umi Sarifah ketika Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki masuk ke dalam rumah.


"Sepertinya ada pemadaman listrik Umi," jawab Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki masih lesu karena tidak bisa menerima keadaan bahwa terjadi pemadaman listrik sekarang ini.


"Owalah... ya sudah kalian kembali ke kamar aja, istirahat, pasti kalian capek," tutur Umi Sarifah.


"Tuh, dengerin kata Umi. Istirahat!" ucap Ustadz Fariz menekankan kata istirahat yang membuat Ustadz Jaki mendengus kesal.


Di dalam kamar, para istri masih menunggu suaminya sembari saling berbalas pesan. Awalnya Shinta mengirim pesan pada Rhea menanyakan tentang lampu yang tiba-tiba padam, namun lama-lama mereka jadi saling curhat dan tertawa ketika membaca pengalaman yang saling mereka ceritakan tentang malam pengantin mereka.


"Sayang, ternyata ada pemadaman listrik dari pusat," ucap Ustadz Jaki ketika masuk ke dalam kamar.


"Ya udah kita tidur aja yuk," ucap Shinta sambil merapikan selimutnya dan bersiap untuk tidur.


"Eh... eh.. jangan tidur dulu," Ustadz Jaki segera mendekati istrinya yang sudah terbaring di ranjang.


"Lah terus ngapain kalau gak tidur Sayang...," Shinta kini kembali duduk sambil mengeratkan selimutnya ke tubuhnya.


"Ya nerusin yang tadi dong, nanggung," ucap Ustadz Jaki dengan gaya menggoda.


Shinta bingung, mereka akan meneruskan bagaimana dengan situasi segelap itu. Karena tidak ada jawaban dari Shinta, Ustadz Jaki langsung masuk ke dalam selimut yang di pakai oleh Shinta dan melakukan kembali proses awal sebelum melakukan kegiatan intinya.


"Sayang, ini terowongannya di mana?" tanya Ustadz Jaki yang membuat Shinta menutup matanya dengan kedua tangannya, ingin rasanya dia tertawa namun dia takut dosa menertawakan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2