Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 180 Pembawa kedamaian


__ADS_3

"Bi, kenapa dia masih ada di sekitar sini? Apa dia tinggal di sini?" tanya Rhea pada Ustadz Fariz pada saat mereka berada di dalam kamar.


"Apa Bunda terganggu jika dia berada di sekitar sini?" Ustadz Fariz tidak menjawab pertanyaan Rhea, dia malah bertanya balik pada Rhea.


"Ya enggak sih Bi, cuma....," ucapan Rhea menggantung karena ragu-ragu meneruskannya.


"Abi tau, Bunda pasti tidak nyaman dan khawatir kan?" Ustadz Fariz menebak apa yang dipikirkan oleh istrinya.


Rhea pun mengangguk. Dia yakin jika kegundahannya juga dirasakan oleh suaminya.


"Pada saat Abi tanya sih katanya dia memang tinggal di daerah sini, tapi lebih tepatnya di mana dia tinggal Abi kurang tau. Mungkin juga tinggal di sekitar rumah Pak Ratmo-"


"Hah?! Kok bisa Bi?" Rhea menyela perkataan Ustadz Fariz karena terkejut mendengar apa yang diucapkan Ustadz Fariz padanya.


Ustadz Fariz tersenyum, dia tahu istrinya saat ini sedang gundah dan khawatir akan kehadiran mantan suaminya itu.


Diraihnya tubuh istrinya yang berada di hadapannya itu, dan dibawanya ke dalam pelukannya, diusap punggungnya dan dikecup sekilas keningnya untuk menenangkannya.


"Kemarin itu Pak Ratmo sempat bertanya pada Abi dan Ustadz Jaki mengenai lowongan pekerjaan di Pondok Pesantren Al-Mukmin, katanya untuk suami dari istri yang kita tolong pemakamannya pada waktu itu," Ustadz Fariz menjeda penjelasannya untuk melihat bagaimana reaksi dari istrinya.


"Lalu, apa Abi kasih dia pekerjaan di sini?" tanya Rhea dengan wajah khawatir ketika mendongak melihat wajah Ustadz Fariz.


Ustadz Fariz tersenyum dan menggelengkan kepalanya, kemudian dia berkata,


"Abi tau Bunda gak akan setuju karena Bunda pastinya gak akan nyaman jika selalu bertemu dengannya di tempat tinggal kita ini."


Masih dengan posisi yang sama, Rhea tersenyum pada suaminya. Dia sangat bersyukur mempunyai suami yang selalu mengkhawatirkannya dan tahu apa yang terbaik untuknya.


"Abi... Abi... jangan ditekan perutnya Bunda, nanti adeknya penyet di dalam situ!" tiba-tiba saja Izam berseru ketika masuk ke dalam kamar dan melihat Abi dan Bundanya berpelukan erat.


Ustadz Fariz dan Rhea yang kaget mendengar suara Izam menoleh padanya yang berada di tengah pintu. Mereka tertawa melihat ekspresi Izam yang sangat lucu, matanya membola, pipinya yang tembem itu menggembung karena merasa kesal dengan Abi nya.


"Izam, sini," Rhea memanggil Izam agar mendekat padanya.


"Izam lapar Bunda, semuanya mau makan tapi nunggu Abi sama Bunda gak datang-datang," Izam berkata dengan cemberut ketika berada di dekat Abi dan Bundanya.

__ADS_1


"Maaf ya Izam sayang.... ya udah yuk kita ke sana sekarang," Ustadz Fariz menggendong Izam dan menggandeng tangan Rhea untuk berjalan menuju ruang makan.


Tampak semuanya sudah berkumpul di meja makan menunggu Ustadz Fariz, Rhea dan Izam untuk makan bersama.


"Kenapa tuh jagoan kok cemberut gitu?" Ustadz Jaki meledek Izam yang terlihat masih cemberut dengan pipi tembemnya yang semakin menggembung.


Ustadz Fariz dan Rhea melihat Izam yang masih dalam gendongan Ustadz Fariz, dan benar saja Izam masih menampakkan wajah lucunya ketika cemberut, sehingga membuat mereka tertawa, namun itu membuat Izam semakin kesal.


"Kenapa Izam kok cemberut gitu?" kini giliran Umi Sarifah yang bertanya pada Izam ketika Izam didudukkan di kursi makan oleh Ustadz Fariz.


"Abi tuh Umi, masa' Bunda di peluk sampai gini, kan kasihan adeknya yang diperut, kalau penyet gimana? Pasti sakit kan adeknya di dalam perut Bunda," Izam menjawab sambil meletakkan kedua telapak tangannya berhadapan dan berdempetan untuk mempraktekan Abi dan Bundanya yang sedang berpelukan erat.


Semuanya yang ada di meja makan itu tertawa kecuali Izam dan Salsa yang tidak mengerti mengapa mereka semua malah tertawa mendengar cerita dari Izam.


"Mangkanya kalau mau pelukan jangan di depan anak," Ustadz Jaki meledek Ustadz Fariz sambil terkekeh.


"Itu masih mendingan Kak, kemarin aja mulutnya Manda dimakan sama Abi. Kan kasihan Manda, pasti mulutnya sakit. Untungnya mulut Manda masih utuh sekarang," celetuk Salsa yang disambut tawa semua orang di meja itu kecuali Shinta dan Ustadz Jaki yang menahan malu akibat dari ocehan anaknya.


"Mangkanya kalau mau ciuman jangan di depan anak," kini giliran Ustadz Fariz yang meledek Ustadz Jaki.


"Udah ngobrolnya, yuk makan," Umi Sarifah menghentikan mereka yang masih tertawa dan saling meledek.


...----------------...


Berbeda halnya dengan kondisi di meja makan yang ada di rumah Pak Ratmo. Di rumah Umi Sarifah, acara makan mereka menjadi menyenangkan karena candaan yang mereka layangkan.


Sedangkan di rumah Pak Ratmo, kondisi meja makan itu menjadi sunyi, hanya suara dentingan piring dengan sendok, suara kerupuk yang dimakan dan celotehan Hana yang membuat keadaan di meja makan itu sedikit hidup.


"Hana mau ayamnya lagi," ucap Hana setelah menelan makanannya dan berusaha menggapai ayam goreng yang berada di tengah-tengah meja makan.


Anita segera mendekatkan piring yang berisi beberapa potong ayam goreng pada Hana.


"Terima kasih Mbak Anita," ucap Hana sambil tersenyum lebar dengan mata yang berbinar ketika mengambil ayam goreng yang disodorkan Anita padanya.


Anita pun tersenyum pada Hana. Dan menoleh pada baby Emir yang sedang ditidurkan di kasur bayi yang kemarin sempat Anita belikan untuk baby Emir setelah mendapat kabar dari Pandu jika baby Emir akan pulang ke rumah esok hari.

__ADS_1


"Emir pintar ya, dia gak pernah rewel kecuali pada saat dia lapar dan haus," Anita memuji baby Emir sambil tersenyum melihat ke arah baby Emir yang masih saja tertidur pulas.


"Iya, wajahnya damai sekali kalau lagi tidur," sahut Mirna di sela kunyahan makannya.


"Semoga dengan adanya Emir di tengah-tengah kita bisa membawa kedamaian di rumah ini," Pak Ratmo menanggapi ucapan Mirna.


"Terima kasih semuanya sudah mau menerima kami, bahkan mau membantu kami dan disusahkan oleh kami," ucap Pandu sambil menunduk, merasa sungkan jika melihat Pak Ratmo, Mirna dan Anita yang berada di meja makan itu bersamanya.


"Tidak usah sungkan begitu. Kita sebagai manusia harus saling tolong menolong," Pak Ratmo menanggapi perkataan dari Pandu.


"Mbak Anita, Hana kangen sama Ibu. Apa Mbak Anita mau menyuapi Hana?" tiba-tiba saja Hana membuat permintaan pada Anita.


Anita tersenyum mendengar permintaan Hana padanya.


"Tentu saja boleh Hana, itu bukan hal yang sulit," ucap Anita sambil mendekatkan kursinya pada kursi Hana dan mengambil piring Hana untuk menyuapinya.


Pandu merasa tidak enak dan sungkan pada Anita, namun dia tersenyum bahagia melihat Anita dengan telatennya menyuapi Hana dan selalu tersenyum ketika menyuapi Hana.


Pandu jadi teringat saat tadi dia ditawari oleh Anita untuk makan bersama mereka dan sekarang dia menyuapi Hana layaknya anaknya sendiri.


Dia wanita yang baik, sabar dan keibuan. Pasti nantinya akan menjadi ibu dan istri yang baik, sama seperti Ani. Dan satu lagi wanita yang sangat baik dalam perannya sebagai seorang istri dan seorang ibu, Rhea, dia pasti tidak akan pernah membuat anaknya dan suaminya bersedih. Ah... aku jadi teringat lagi pada Rhea, Pandu berkata dalam hatinya sambil memandang Anita yang menyuapi Hana.


Setelah mereka makan, baby Emir masih tidur pulas dalam kasur bayinya. Sedangkan Hana menjalankan rutinitasnya tiap hari bersama Anita. Mulai dari awal mereka tinggal di sana, Anita setiap hari meluangkan waktunya untuk mengajari Hana mengaji dan shalat yang benar.


Pandu sangat terharu melihat kebaikan keluarga Pak Ratmo padanya. Dan dia bersyukur Ani telah mempertemukan mereka pada keluarga Pak Ratmo.


"Ini Paman kopinya," ucap Mirna sambil meletakkan kopi di meja depan Pak Ratmo dan Pandu yang sedang menonton acara televisi.


"Silahkan diminum Mas kopinya," Mirna mempersilahkan Pandu untuk meminum kopi buatannya pada saat meletakkan kopi di meja depan Pandu dan dia tidak sadar memanggil Pandu dengan sebutan Mas mengikuti Anita yang memanggil Pandu seperti itu.


Tentu saja Pandu kaget mendengar Mirna yang dengan ramahnya memberikannya kopi dan memanggilnya dengan sebutan Mas sama seperti Anita.


Kemudian Mirna meletakkan singkong rebus kesukaan Pak Ratmo di atas meja tersebut, dan bersiap akan meninggalkan tempat itu.


"Terima kasih," ucap Pandu pada Mirna ketika Mirna akan berjalan meninggalkan mereka.

__ADS_1


Mirna mengangguk dan tersenyum tanpa sadar sebelum dia berjalan untuk meninggalkan mereka.


Ternyata Mirna baik juga, sebenarnya apa benar dia tidak suka dengan kehadiran kami di sini? Tapi sepertinya dia tidak memperlihatkan kebaikannya pada kami, mungkin dia malu, mangkanya kadang-kadang dia bersikap judes pada kami, Pandu bertanya-tanya dalam hatinya sambil melihat kepergian Mirna.


__ADS_2