
Kesedihan karena kepulangan Umi Sarifah untuk selamanya itu masih saja menyelimuti Pondok Pesantren Al-Mukmin. Mereka merasa sangat kehilangan sosok ibu mereka di Pondok Pesantren Al-Mukmin itu.
Bahkan masyarakat sekitar masih membicarakan sosok Umi Sarifah semasa hidupnya. Banyak sekali pelajaran hidup yang mereka ambil dari penuturan dan pemecahan masalah yang diberikan oleh Umi Sarifah pada mereka pada setiap kesempatan.
"Mbak, Mbak Mirna gak merasa kehilangan Umi Sarifah?"
Anita bertanya pada Mirna pada saat memasak di warungnya.
"Maksud kamu apa sih Nit? Kenapa kamu bertanya seperti itu padaku?"
Mirna menanggapi pertanyaan Anita dengan kesal.
"Bukan seperti itu Mbak, hanya saja Anita tidak pernah mendengar Mbak Mirna membicarakan Umi Sarifah. Sedangkan orang-orang di luar sana masih mengenang kebaikan Umi Sarifah."
Anita menjelaskan maksud perkataannya tadi pada Mirna.
"Halah mereka itu hanya ingin kelihatan baik di mata keluarga Pondok Pesantren Al-Mukmin. Sekarang aja saat orangnya udah gak ada, mereka mengelu-elukan Umi Sarifah. Duku gimana? Apa mereka mengelu-elukan Umi Sarifah sama seperti sekarang?"
Mirna menanggapi ucapan Anita dengan sewot, seolah dia mempunyai dendam pada orang yang dibicarakannya.
"Masa' sih Mbak? Mereka selalu memuja apa yang dikatakan oleh Umi Sarifah setelah mereka mendapatkan ilmu dari beliau. Selesai pengajian juga mereka selalu memuja Umi Sarifah, mereka kagum atas semua penuturan dan semua jawaban atas pertanyaan yang mereka ajukan. Masa' Mbak Mirna gak tau sih? Bukannya Mbak Mirna selalu ikut pengajian ya?"
Anita tanpa sadar mengucapkan semua yang ada di pikirannya, dan itu membuat Mirna semakin kesal mendengarnya.
"Mbak gak tau dan gak mau tau!"
Mirna mengucapkannya dengan seruan kesal.
Anita mengernyitkan dahinya. Dia heran mendengar apa yang diucapkan oleh Mirna.
"Kenapa Mbak Mirna seperti itu Mbak? Apa Mbak Mirna punya masalah dengan Umi Sarifah?"
__ADS_1
Anita merasa penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang sikap Mirna yang terlihat kesal mendengar nama Umi Sarifah.
"Umi tidak seperti yang mereka bicarakan. Mereka bisa bicara seperti itu karena mereka tidak tau aja yang sebenarnya. Aku yang bersama dengannya selama beberapa tahun bisa melihat yang sebenarnya. Jadi jangan bicarakan tentang ini lagi."
Ucapan Mirna ini semakin membuat Anita menjadi penasaran dan semakin ingin tahu apa yang terjadi dengan Mirna dan Umi Sarifah yang sebenarnya.
"Sebenarnya ada apa sih Mbak? Mbak Mirna harus cerita supaya Anita tau yang sebenarnya dan agar Anita tidak membicarakannya lagi."
Kini Anita memberanikan diri untuk meminta Mirna menceritakan apa yang terjadi dengannya dan Umi Sarifah semasa mereka hidup berdampingan bersama di dalam wilayah Pondok Pesantren Al-Mukmin.
"Umi itu tidak seadil yang mereka bicarakan. Buktinya dia tidak pernah membelaku. Dia malah menyetujui Mas Fariz menikah lagi dengan Rhea. Lihat saja, mereka bahagia di atas kesedihanku. Umi lebih dekat dengan Rhea, dia lebih menyayangi Rhea daripada aku. Padahal aku kan istri pertama Mas Fariz. Lalu kenapa dia tidak bisa sedekat dan sesayang itu padaku? Apa itu yang dinamakan selalu adil dan tidak memihak dalam menyelesaikan masalah?"
Mirna menjelaskan pada Anita dengan berapi-api. Ternyata pikiran buruknya yang membuatnya kesal itu bisa mendorong Mirna untuk bersemangat sekali menjelaskan hal itu pada Anita.
Astaghfirullahaladzim, ternyata Mbak Mirna berpikiran seperti itu. Pantas saja dia sangat kesal mendengar kebaikan Umi Sarifah dibicarakan oleh orang-orang. Mbak Mirna ini sebenarnya sudah sadar apa belum sih? Kok pikirannya masih seperti itu? Apa dia tidak bisa menelaah kesalahan dirinya sendiri sehingga dia menjadi seperti sekarang ini?
Anita berkata dalam hatinya, dia memandang wajah Mirna yang memang merasa tidak ada beban apapun.
Astaghfirullahaladzim..... pantas saja Mbak Mirna tidak merasa kehilangan ataupun berduka pada saat pemakaman. Berbeda sekali dengan Mbak Rhea yang sangat terpukul pada saat pemakaman waktu itu, pasti dia sangat merasa kehilangan, mangkanya dia pingsan waktu itu.
Anita memang bergantian menjaga dengan Mirna. Anita yang ingin sekali mengantar kepergian Umi Sarifah untuk yang terakhir kalinya itu meminta Mirna untuk menjaga baby Emir dan setelah acara pemakaman selesai, giliran Mirna dan Pandu yang bertakziah ke rumah duka. Sedangkan baby Emir bersama dengan Anita.
Sebenarnya Mirna enggan datang ke sana, karena dia enggan bertemu dengan Rhea, yang artinya Pandu akan kembali bertemu dengan mantan istrinya.
Namun Mirna juga ingin bertemu dengan mantan suaminya. Dia berharap bisa menghibur Ustadz Fariz yang sudah pasti sangat berduka atas kepergian Umi Sarifah.
Apa yang diharapkan oleh Mirna tidak terjadi sama sekali. Rhea tidak mempedulikan Pandu, bahkan kehadiran Pandu di sana pun Rhea tidak mengetahuinya.
Dan Mirna, dia tidak mempunyai sama sekali kesempatan untuk mengucapkan bela sungkawa pada mantan suaminya.
Dia bertanya pada Pak Ratmo di mana keberadaan Ustadz Fariz pada saat itu, namun jawaban dari Pak Ratmo membuatnya kesal.
__ADS_1
Dia baru tahu jika Rhea baru saja melahirkan anak keduanya, dan mantan suami Mirna yaitu Ustadz Fariz menunggunya di dalam kamar karena Rhea belum sadar dari pingsannya pada saat pemakaman Umi Sarifah.
Mendengar hal itu, Pandu merasa khawatir pada Rhea. Entah kenapa, jika mendengar nama Rhea mengingatkannya kembali akan kisah pernikahan mereka.
Selama hampir satu tahun mereka menikah, mereka sudah berusaha agar Rhea bisa hamil. Namun usaha mereka tidak ada yang berhasil. Entah apa yang menjadi rencana Allah pada pernikahan mereka.
Pandu mengingat saat-saat dirinya dan Rhea berangan-angan memiliki anak serta mereka masing-masing membuat nama untuk anak mereka. Hana dan Gibran, nama pilihan dari mereka untuk anak-anak mereka kelak.
Mungkin inilah suratan takdir mereka. Kini mereka sama-sama sudah dianugerahi dua orang anak dari pasangan mereka masing-masing.
Hanya Mirna saja di sini yang belum mempunyai anak, namun dia memiliki Hana dan Emir yang menjadi anaknya kini sebagai ibu sambung mereka.
"Nit, sudah selesai masaknya?"
Pertanyaan Mirna ini membuat Anita sadar dari lamunannya.
"Eh belum Mbak," jawab Anita dengan tersenyum kikuk karena dipandang oleh Mirna dengan pandangan kesal.
"Terus dari tadi kamu ngapain aja?" tanya Mirna dengan suara agak meninggi.
Suara Mirna berhasil membangunkan baby Emir yang sedang tidur. Memang baby Emir selalu ikut dengan Mirna dan Anita di warung sebelum Pandu pulang kerja.
Di warung tersebut telah dibuatkan oleh Pak Ratmo box bayi dari kayu untuk tempat tidur baby Emir jika berada di warung tersebut.
"Ck, kamu sih Nit. Jadi bangun Emirnya," ucap Mirna dengan kesal setelah itu dia mengambil baby Emir dari box bayinya untuk menenangkannya dan menidurkannya kembali.
Lama tangisan baby Emir tidak berhenti meskipun sudah diberikan susu hangat oleh Mirna.
"Sini Mbak, coba Anita yang gendong Emir."
Anita mendekat pada mereka dan mengarahkan tangannya untuk mengambil alih baby Emir dari gendongan Mirna.
__ADS_1
"Gak usah, kamu masak sana aja, biar aku yang menggendong anakku."
Mirna berkata ketus pada Anita dan dia menekankan kata 'anakku' agar bisa didengar oleh Anita dengan jelas.