Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 236 Titik terang


__ADS_3

"MasyaAllah Tabarakallah...," ucap Ustadz Fariz setelah mendengar golongan darah Yasmin dari perawat.


"Ambil darah saya saja sus, darah saya B negatif," tutur Ustadz Fariz kemudian.


"Saya juga sus, B negatif. Ambil darah saya juga," tukas Izam pada perawat yang ada di hadapan mereka.


"Baiklah, kita harus secepatnya melakukannya. Silahkan ikuti saya," ucap perawat tersebut sembari berjalan cepat menuju ruangan untuk mengambil darah mereka.


"Rhea, bukankah ini saatnya kita melakukan tes DNA untuk membuktikannya?" tanya Shinta pada Rhea.


Dengan wajah cemas dan air mata yang mengalir, Rhea mengangguk dan berkata,


"Tolong lakukan Shin. Semoga hasilnya sesuai dengan harapan kita."


Shinta pun mengangguk dan segera masuk ke dalam ruang UGD untuk memberitahukan pada dokter yang sedang menangani Yasmin.


Beberapa saat berlalu, mereka sudah memberikan darah milik Ustadz Fariz dan Izam yang diambil tadi untuk Yasmin.


Kini mereka menunggu Yasmin yang masih belum sadarkan diri dari pingsannya. Namun mereka merasa lega karena Yasmin sudah tertolong.


Tadinya mereka ketakutan ketika perawat mengabarkan jika Yasmin sangat membutuhkan stok darah yang persediaannya sedang tidak ada di rumah sakit tersebut.


Namun Allah berkehendak lain. Mungkin Allah memberikan musibah tersebut untuk memberitahukan bahwa Zahra adalah Yasmin yang selama ini mereka cari. Yasmin yang selama ini ada di dekat mereka dan Yasmin yang membuat mereka mencari tahu siapa sebenarnya jati diri Zahra sebenarnya.


Setelah beberapa lama Yasmin terbangun. Matanya terbuka dan mengerjap-ngerjap untuk menyesuaikan binar cahaya lampu yang masuk ke dalam retina matanya.


"Zahra."


Suara Salsa membuat Yasmin menoleh padanya.


"Aku di mana?" tanya Salsa dengan suara lirih.


"Kamu di rumah sakit. Dan kamu sudah baik-baik saja. Lukamu sudah diobati. Sekarang akan aku panggilkan dulu dokternya. Kamu tunggu di sini ya," ucap Salsa yang terlihat bahagia karena Yasmin sudah sadar dari pingsannya.


Hanya dalam selang beberapa menit saja dokter sudah datang untuk memeriksa kondisi Yasmin saat ini. Dan setelah mengatakan jika kondisi Yasmin baik-baik saja untuk sekarang ini, dokter itu pun berpamitan untuk melakukan tugasnya yang lain.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Rhea, Ustadz Fariz, Izam, Ustadz Jaki dan Shinta masuk ke dalam kamar Yasmin saat ini.


Ya, Yasmin saat ini sudah dipindahkan ke kamar inap pasien. Kini semua ketegangan telah berlalu. Luka Yasmin sudah ditangani, darah yang begitu banyak keluar sudah diatasi dengan donor darah dari Ustadz Fariz dan Izam dan Yasmin pun kini sudah sadar.


Binar bahagia terlihat dari semua wajah yang ada di dalam ruangan kamar tersebut. Terutama Rhea, Ustadz Fariz dan Izam. Mereka teramat sangat bersyukur karena Yasmin sudah mereka temukan.


"Yasmin....," ucap Rhea sambil memeluk Yasmin.


Dengan wajah bingungnya Yasmin menerima pelukan dari Rhea dan membalas pelukan tersebut karena dia merasa nyaman berada dalam pelukan Rhea.


"Bunda, Bunda kenapa nangis?" tanya Yasmin yang masih memeluk Rhea.


Rhea mengurai pelukannya dan memandang wajah Yasmin dengan teliti. Dia pandangi satu demi satu bagian wajah Yasmin. Kemudian dia ciumi seluruh bagian wajah Yasmin.


Yasmin semakin heran dan bingung, namun dia tidak ambil pusing. Diusapnya jejak air mata dari wajah Rhea yang ada di hadapannya.


"Bunda gak boleh nangis. Zahra sudah baik-baik saja," ucap Yasmin sambil memberikan senyuman manisnya pada Rhea.


Semua pasang mata yang ada di ruangan tersebut ikut menangis terharu melihat seorang ibu kandung yang telah menemukan kembali anak kandungnya yang telah hilang belasan tahun lamanya.


Yasmin semakin tidak mengerti dengan situasi yang terjadi. Hingga rasa sakit yang ada pada kakinya pun tidak dirasakannya ketika dia pakai untuk bergerak.


"Yasmin, peluk Kakak," ucap Izam pada Yasmin dengan merentangkan kedua tangannya agar bisa memeluk Yasmin.


"Yasmin? Kakak?" celetuk Yasmin dengan wajah bingungnya.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Yasmin, Izam memeluk Yasmin. Tentu saja Yasmin kaget dan tidak membalas pelukan dari Izam. Bahkan tangannya pun tidak bisa bergerak karena kaget dengan pelukan mendadak yang diberikan oleh Izam.


Salsa yang tidak mengerti apa-apa merasa kaget dan ingin melepaskan pelukan Izam dengan Yasmin. Namun Shinta menghentikan Salsa dengan memegang tangannya dan menggelengkan kepalanya pada Salsa.


Salsa hendak mengatakan sesuatu, namun suara Izam terlebih dahulu terdengar di sana.


"Kamu adalah Yasmin Zahra Mahadi, anak dari Fariz Mahadi dan Rheina Az Zahra, yang berarti kamu adalah adik aku," tutur Izam yang sudah mengurai pelukannya dan menatap intens mata Yasmin.


Yasmin dan Salsa kaget. Mereka sama-sama baru tahu fakta yang telah ditemukan.

__ADS_1


"A-apa? Aku... aku... ti-tidak mungkin. Lalu bapak dan ibuku yang sudah meninggal, siapa mereka?" tanya Yasmin dengan menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar dan matanya berkaca-kaca hingga sekali saja dia berkedip, maka air matanya akan jatuh di pipinya.


"Yasmin sayang, kamu tenang dulu ya. Nanti perlahan kami akan ceritakan semuanya. Yang paling terpenting sekarang adalah kami sudah menemukanmu dan kamu harus cepat sembuh agar kita bisa kembali berkumpul sebagai keluarga," tutur Rhea sambil mengusap kepala Yasmin yang berbalut hijab.


Entah kenapa hati Yasmin sangat bahagia dan sangat nyaman dengan situasi yang dia rasakan saat ini. Hingga tak terasa air matanya luruh saat dia mengedipkan matanya.


Suasana haru itu terjadi tidak lama, karena suara dering ponsel Ustadz Fariz menyita perhatian semuanya.


"Siapa Bi?" tanya Rhea setelah Ustadz Fariz mengakhiri pembicaraannya di telepon.


"Ustadz Bani," jawab Ustadz Fariz sambil tersenyum menatap istrinya.


Kemudian Ustadz Fariz mengalihkan pandangannya untuk menatap Yasmin. Seperti ada keraguan dalam tatapan Ustadz Fariz untuk mengatakan sesuatu pada Yasmin.


"Ada apa Bi?" tanya Rhea ketika melihat ada sesuatu dari tatapan suaminya pada putri mereka.


"Mmm... Yasmin, apa benar tadi Hana yang mendorong kamu hingga jatuh terkena pecahan botol kaca?" tanya Ustadz Fariz ragu.


Sontak saja semua yang ada di sana terkejut kecuali Salsa. Dia bahkan lupa memberitahu kejadian tadi pada mereka semua. Dan mereka pun lupa untuk bertanya pada Salsa karena kebahagiaannya menemukan Yasmin.


"Apa benar itu Yasmin?" tanya Ustadz Jaki yang juga ingin mengetahui kebenarannya.


Yasmin diam sejenak untuk memikirkan jawaban yang akan diberikannya pada mereka.


"Yasmin...," panggil Rhea pada Yasmin yang masih diam berpikir.


Yasmin pun melihat ke arah mereka semua satu persatu. Kemudian dia tersenyum dan berkata,


"Tidak, Hana tidak melakukan apapun. Dia hanya tidak sengaja dan aku saja yang tidak bisa menahan tubuhku sehingga jatuh."


"Bohong! Tangannya memang mengenaimu sehingga membuatmu jatuh," sahut Salsa sambil berjalan mendekat ke arah Yasmin.


"Tapi aku yakin dia tidak sengaja Salsa," ucap Yasmin.


"Jika tidak sengaja, kenapa tenaganya besar sekali sehingga bisa menjatuhkan tubuhmu hingga jadi seperti ini?"

__ADS_1


"Salsa!"


__ADS_2