
"Mir, Paman mau membicarakan sesuatu denganmu," ucap Pak Ratmo ketika melihat pintu kamar Mirna yang sedikit terbuka.
"Eh Paman, ada apa Paman?" tanya Mirna sambil meletakkan baby Emir kembali ke ranjangnya.
Tadinya Mirna akan membawa baby Emir keluar dari kamarnya dan diberikan pada Anita agar diberikan pada Pandu, bapaknya baby Emir.
Namun Pak Ratmo, Pamannya Mirna masuk ke dalam kamarnya untuk berbicara padanya. Baby Emir pun diletakkannya kembali di atas ranjangnya.
"Mir, dengarkan Paman. Ini sangat penting, jadi dengarkan dulu apa yang Paman bicarakan dan jangan menyela dulu sebelum Paman selesai berbicara," ucap Pak Ratmo sebelum menceritakan apa yang akan dia bicarakan pada Mirna.
Mirna pun mengangguk setuju, dan mulailah Pak Ratmo menceritakan apa yang tadinya menjadi kekhawatiran dan pikirannya saat ini. Dia menceritakan apa yang dia bicarakan dengan pak RT dan wakil dari masyarakat sekitar mereka.
Tiba-tiba saja Anita masuk ke dalam kamar Mirna dengan pelan-pelan dan sangat hati-hati mengangkat tubuh baby Emir untuk dibawanya keluar dari kamar Mirna.
Mirna hanya melirik Anita yang sedang mengambil baby Emir yang berada di atas ranjang tempat dia duduk di sebelahnya.
"Bagaimana Mir, apa kamu bersedia menikah dengan Pandu?" tanya Pak Ratmo pada Mirna.
"Kenapa bukan Anita aja sih Paman? Kenapa harus Mirna?" tanya Mirna dengan kesal pada Pak Ratmo.
Anita mendengar ucapan dari Mirna yang menyebut namanya, namun dia mengacuhkannya agar Mirna tidak menyalurkan kekesalannya padanya. Anita tetap berjalan keluar kamar Mirna dengan membawa baby Emir pada Pandu yang sedang menunggunya di ruang menonton televisi.
"Yang mereka bicarakan itu kamu Mir, bukan Anita. Dan mereka meminta untukmu dan Pandu keluar dari desa ini jika kalian tidak menikah, karena mereka takut jika terjadi hal yang bisa mencoreng nama baik desa ini," Pak Ratmo kembali menjelaskan pada Mirna.
"Kenapa mereka kolot sekali seperti itu sih?" Mirna menanggapinya dengan kesal.
"Kamu lupa jika ini di desa Mir? Mereka memang seperti itu dan Paman sudah mencoba untuk bernegosiasi pada mereka tapi mereka tetap dengan keputusan yang telah mereka buat," Pak Ratmo menyahuti ucapan Mirna.
Mirna hanya diam dengan mengerutkan dahinya dengan nafasnya yang naik turun dan hidungnya kembang kempis karena kekesalan yang dia rasakan saat ini.
"Paman kasihan jika harus membiarkan Pandu dan kedua anaknya yang masih kecil itu tidak mempunyai tempat tinggal. Bisa kamu bayangkan mereka akan tinggal di mana nantinya? Hana yang akan bersekolah tahun ini dan Emir yang masih bayi, apa kamu tega membiarkan mereka tidak mempunyai tempat tinggal yang tepat?" Pak Ratmo bertanya kembali pada Mirna.
__ADS_1
"Mereka bisa menyewa rumah lainnya Paman, gak harus di daerah sini," ucap Mirna dengan ketus.
"Lalu bagaimana dengan Hana dan Emir? Siapa yang menjaga mereka? Apa kamu tega pada Hana dan Emir?" tanya Pak Ratmo dengan suara merendah mengingat nasib Hana dan baby Emir nantinya.
Mirna hanya diam, dia tidak menjawab pertanyaan Pak Ratmo karena dia juga sedang berpikir tentang nasib Hana dan baby Emir nantinya setelah mereka tidak lagi berada di rumah Pak Ratmo.
Mirna membayangkan Pandu yang bekerja dan tidak bisa mengurusi anaknya, sehingga Hana dan baby Emir menjadi anak terlantar yang tinggal di jalanan.
Gambaran itu yang ada dipikiran Mirna saat ini, sehingga dia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan gambaran-gambaran yang ada di kepalanya saat ini.
"Kamu pasti kasihan kan Mir sama Hana dan Emir?" tanya Pak Ratmo pada Mirna yang sedang melamun memikirkan nasib Hana dan baby Emir.
Mirna pun menganggukkan kepalanya karena dia memang kasihan pada kedua anak itu, karena mengingatkan akan nasibnya saat itu ketika ditinggal oleh ibunya yang juga meninggal di saat melahirkan dirinya.
"Kamu sayang kan Mir sama Hana dan Emir?" tanya Pak Ratmo kembali.
Mirna pun menganggukkan kembali kepalanya membenarkan apa yang Pak Ratmo tanyakan padanya.
"Bagaimana Mir, apa kamu bersedia menikah dengan Pandu?" tanya Pak Ratmo pada Mirna.
"Alhamdulillah... kalau begitu Paman akan segera membicarakan hal ini pada Pandu," ucap Pak Ratmo dengan perasaan lega.
Mirna masih terdiam karena pikirannya sendiri hingga dia tidak menyadari jika Pak Ratmo sudah keluar dari kamarnya.
Segera Pak Ratmo mencari Pandu ketika keluar dari kamar Mirna.
"Nduk, Pandu ada di rumahnya?" tanya Pak Ratmo pada Anita yang berada di meja makan sedang menyiapkan makan untuk Pak Ratmo.
"Barusan habis dari sini Pak ngambil Emir," jawab Anita yang menghentikan kegiatannya untuk menjawab pertanyaan bapaknya.
"Apa kamu bisa memanggil Pandu kemari? Dan tolong jaga Hana dan Emir di rumahnya agar Bapak bisa berbicara serius dengan Pandu dan Mirna," ucap Pak Ratmo kemudian.
__ADS_1
"Baik Pak, ini makanannya juga sudah siap. Barangkali Bapak mau makan, Anita sudah siapkan di meja," Anita mengatakannya sebelum dia beranjak pergi menuju rumah Pandu yang terletak di belakang rumah mereka.
Anita memanggil Pandu sesuai dengan perintah dari bapaknya. Dan dia menggantikan Pandu untuk menjaga Hana dan baby Emir yang sudah tertidur nyenyak.
"Pak Ratmo memanggil saya?" Pandu bertanya pada Pak Ratmo ketika sudah ada di dekatnya.
"Kamu sudah makan?" tanya Pak Ratmo pada Pandu sambil menyelesaikan suapan terakhirnya.
"Sudah Pak tadi makan bersama Anita dan Mirna," jawab Pandu dengan sungkan.
"Baiklah kalau gitu kita langsung saja berbicara," ucap Pak Ratmo sambil berdiri dan beranjak menuju ruang untuk menonton televisi.
Pandu pun mengikuti Pak Ratmo, dia duduk di kursi sebelah Pak Ratmo dan bersiap mendengarkan apa yang akan dibicarakan Pak Ratmo dengannya.
"Pandu, apa kamu tidak berniat untuk memberikan ibu sambung bagi Hana dan Emir?" tanya Pak Ratmo padanya.
Apa ini berarti Pak Ratmo benar-benar akan menikahkanku dengan Anita? Pandu bertanya-tanya dalam hatinya.
"Maunya sih gitu Pak, tapi....," Pandu ragu untuk meneruskan ucapannya.
"Tapi kenapa?" tanya Pak Ratmo penasaran.
"Tapi siapa Pak yang mau menjadi istri saya? Bapak tau sendiri kan keadaan saya bagaimana? Pekerjaan saya cuma sebagai kuli panggul di pasar dan saya mempunyai dua orang anak yang masih sangat kecil dan kebutuhan mereka juga sangat banyak, belum juga saya mampu untuk membeli rumah Pak. Jadi.. saya rasa tidak ada yang mau untuk menjadi ibu sambungnya Hana dan Emir," Pandu menjawab dengan menundukkan kepalanya.
"Apa kamu mau menikah dengan-"
"Saya mau Pak, saya bersedia jika dia mau menikah dengan saya," Pandu menyela ucapan Pak Ratmo yang belum selesai.
"Alhamdulillah.... Bapak sangat lega sekali mendengar kamu mau menikah dengan Mirna," ucap Pak Ratmo dengan senyum kelegaan yang terbit di bibirnya.
"Hah? Mi-Mirna?"
__ADS_1