Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 79 Kejahilan Ustad Jaki


__ADS_3

Di rumah sakit, Dokter Shinta segera memeriksa kandungan Rhea. Semua kekhawatiran dan kepanikan mereka segera hilang ketika Dokter Shinta memberitahukan bahwa kandungan Rhea baik-baik saja.


"Alhamdulillah kandungan Bu Rhea baik-baik saja. Untung saja segera dibawa ke sini jadi bisa cepat ditangani. Dan untung saja Bu Rhea rajin meminum vitaminnya, jadi kandungannya kuat. Beruntung tidak terjadi pendarahan, hanya saja rasa sakitnya memang masih terasa. Nanti saya kasih obat sama vitaminnya ya Bu, diminum secara teratur biar kandungannya sehat. Dan jangan terlalu kelelahan ya Bu," Dokter Shinta mengatakan pada Ustad Fariz dan Rhea dengan senyum yang selalu mengembang.


Namun senyuman itu membuat hati Ustad Jaki meleleh. Pandangan matanya hanya tertuju pada wajah Dokter Shinta, terutama pada saat Dokter Shinta tersenyum, secara tidak sadar Ustad Jaki ikut tersenyum.


"Alhamdulillah... terima kasih Dok," Ustad Fariz bersyukur karena Rhea dan kandungannya baik-baik saja.


Dokter Shinta hanya tersenyum menjawab ucapan terima kasih dari Ustad Fariz dan Rhea. Berbeda dengan Ustad Jaki yang masih betah memandang wajah pujaan hatinya.


Merasa ada yang memperhatikannya, Dokter Shinta kikuk, merasa canggung sendiri, ingin rasanya dia menoleh ke arah yang memperhatikannya, namun lagi-lagi dia tidak berani memandang Ustad Jaki.


Dokter Shinta memang belum menjawab ungkapan hati Ustad Jaki pada waktu itu karena dia masih ragu dengan perasaannya. Memang Dokter Shinta selama ini tidak pernah berpacaran, dia hanya mengejar pendidikan dan karirnya saja. Jadi sewaktu Ustad Jaki menyatakan keinginannya untuk meminangnya, Dokter Shinta bingung dan takut untuk menjawabnya.


"Dokter... Dok... ini udah?" Ustad Fariz bertanya pada Dokter Shinta karena sepertinya dari tadi Dokter Shinta sedang memikirkan hal lain.


"Eh.. i-iya Pak, ini resepnya Bu Rhea bisa ditebus di apotek," Dokter Shinta memberikan kertas resep obat tersebut pada Ustad Fariz.


"Saya permisi dulu Dok, ayo Sayang kita tebus obatnya," Ustad Fariz mengajak Rhea keluar dari ruangan Dokter Shinta.


"Ustad gak ikut keluar?" Ustad Fariz bertanya pada Ustad Jaki ketika Ustad Fariz berdiri hendak membantu Rhea berdiri dari kursinya.


"Aku disini dulu sebentar, ada yang perlu aku tanyakan pada Dokter Shinta," Ustad Jaki menjawab pertanyaan Ustad Fariz namun pandangannya masih mengarah pada Dokter Shinta.


Dokter Shinta canggung dan kikuk di pandang seperti itu oleh Ustad Jaki, dan mendengar perkataan Ustad Jaki membuat hati Dokter Shinta berdegup tak karuan.


Dokter Shinta bingung akan berbicara apa dengan Ustad Jaki. Dengan spontan dia mengatakan,


"Bu Rhea, Bu Rhea tunggu di sini saja, daripada menunggu di sana tidak nyaman, lebih baik menunggu di sini," Dokter Shinta mengatakannya dengan spontan tanpa memikirkan perasaan Ustad Jaki.


Ustad Jaki menatap Dokter Shinta dengan senyum liciknya. Ustad Jaki tidak marah padanya, hanya saja dia merasa sikap Dokter Shinta lucu, jadi ingin sekali Ustad Jaki menjahilinya.


Ustad Fariz melihat Ustad Jaki meminta pendapatnya, dan Ustad Jaki pun mengangguk setuju dengan saran dari Dokter Shinta.


"Emang gak ada pasien Dok?" Ustad Fariz bertanya sebelum meninggalkan Rhea di ruangan Dokter Shinta.

__ADS_1


"Sudah selesai Pak, perawatnya juga udah tidak ada di sini," Dokter Shinta menjawab pertanyaan Ustad Fariz dengan kikuk karena tatapan Ustad Jaki sangat mengganggunya.


"Baiklah, saya titip istri saya di sini dulu ya Dok," Ustad Fariz menyetujui saran dari Dokter Shinta dan mendapatkan anggukan dari Dokter Shinta.


"Sayang, aku tinggal dulu sebentar ya, kalau ada apa-apa telepon aja ya," Ustad Fariz mengusap lembut kepala Rhea yang berbalut hijab ketika berpamitan dan Rhea pun mengangguk sebelum keluar dari ruangan Dokter Shinta.


Baru satu menit Ustad Fariz keluar dari ruangan tersebut, namun Rhea menemukan kertas resep obat Rhea masih ada di meja Dokter Shinta. Tadi memang Ustad Fariz sempat menaruhnya kembali di meja Dokter Shinta ketika mendengarkan saran dari Dokter Shinta agar Rhea tetap berada di ruangannya.


"Astaghfirullahaladzim, Ustad, gawat. Ini kertas resep obatnya gak dibawa sama Ustad Fariz," Rhea menunjukkan kertas resep tersebut pada Ustad Jaki.


"Biar aku aja yang ngantar ke sana, kasihan kalau Ustad Fariz balik lagi ke sini," Ustad Jaki mengambil kertas resep obat tersebut dari tangan Rhea.


"Shinta, aku nitip kakak ipar aku dulu di sini. Jaga kakak ipar kamu ini baik-baik ya," Ustad Jaki menggoda Dokter Shinta dengan menyebut Rhea sebagai kakak iparnya.


Terlihat semburat merah merona di pipi Dokter Shinta. Dia tidak mampu menjawab ucapan Ustad Jaki padanya. Ketika dia memberanikan diri melihat Ustad Jaki, dia malah salah tingkah karena Ustad Jaki memberikan senyum manisnya padanya.


Ustad Jaki keluar dari ruangan Dokter Shinta menuju apotek untuk menemui Ustad Fariz. Ternyata Ustad Jaki bertemu dengan Ustad Fariz tidak jauh dari apotek. Kemudian Ustad Jaki memberikan kertas resep obat tersebut pada Ustad Fariz.


"Gak balik ke dalam?" tanya Ustad Fariz pada Ustad Jaki.


"Sepertinya dia masih bingung dengan perasaannya, setiap aku melihatnya, dia pasti gugup dan bingung. Tapi lucu sikapnya, aku suka melihatnya seperti itu, ngegemesin," senyum terbit di bibir Ustad Jaki tatkala dia membayangkan sikap Dokter Shinta yang canggung, bingung, kikuk dan merona malu ketika dia menggodanya.


"Ck, belum ada kemajuan juga ternyata," Ustad Fariz tersenyum meremehkan Ustad Jaki dan dibalas tatapan kesal dari Ustad Jaki.


Drrrt... drttt... drrtt...


Getaran ponsel Ustad Jaki mengalihkan kekesalannya pada Ustad Fariz. Diambilnya ponselnya itu dan dilihat layar ponsel itu ternyata ada nama Ustadzah Farida di sana.


"Ustadzah Farida, aku angkat teleponnya dulu ya," Ustad Jaki mengangkat teleponnya dan nama Rhea pun disebut petugas apotek.


Segera Ustad Fariz mengambil obat tersebut kemudian memperlihatkan obat tersebut pada Ustad Jaki dan menunjuk arah ruangan Dokter Shinta dengan telunjuknya untuk memberitahukan bahwa obatnya sudah diambil dan dia akan menjemput Rhea di ruangan Dokter Shinta.


Ustad Jaki mengangguk dan dia masih menyelesaikan teleponnya dengan Ustadzah Farida.


"Assalamu'alaikum....," Ustad Fariz mengucapkan salam ketika masuk ruangan Dokter Shinta.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam..," jawab Rhea dan dokter Shinta bersamaan.


"Udah Bie?" tanya Rhea ketika Ustad Fariz sudah duduk di sebelahnya.


"Udah, yuk pulang, biar kamu bisa istirahat," Ustad Fariz mengajak Rhea untuk cepat pulang.


"Ustad Jaki kemana Bie?" tanya Rhea sambil melirik Dokter Shinta yang sepertinya punya pertanyaan yang sama dengannya.


"Ada di depan sedang menerima telepon dari Ustadzah Farida," jawab Ustad Fariz.


"Jadi acaranya? Ustad Jaki setuju?" tanya Rhea pada Ustad Fariz.


Dokter Shinta merasa aneh dengan pertanyaan Rhea. Rasanya ditelinga Dokter Shinta pertanyaan Rhea itu bermakna ganda, sehingga Dokter Shinta menebak-nebak arti dari pertanyaan Rhea pada suaminya tersebut tentang Ustad Jaki dan Ustadzah Farida.


"Sepertinya jadi, mungkin lusa acaranya dilakukan. Lebih cepat lebih baik, agar kita semua bisa lega tidak ada beban lagi," jawab Ustad Fariz.


"Acaranya jadi di aula Pondok Pesantren Al-Mukmin Bie?" tanya Rhea penasaran.


Ustad Fariz mengangguk dan berdiri dari duduknya.


"Ustadzah Farida? A-apa mereka....," celetuk Dokter Shinta tanpa sadar.


"Kenapa Dok?" tanya Rhea curiga.


"Hah? Eh ti-tidak, tidak apa-apa," Dokter Shinta gugup seperti ketahuan sedang melakukan sesuatu.


"Emmm kalau gitu kita pulang dulu ya Dok. Terima kasih," ucap Rhea yang sudah berdiri, namun dihentikan oleh Dokter Shinta.


"Bu Rhea pakai kursi roda aja ya sampai parkiran. Ini kursinya," Dokter Shita mengambilkan kursi roda yang ada di pojokan ruangannya yang memang dipersiapkan untuk pasiennya jika membutuhkannya.


"Terima kasih Dok," ucap Ustad Fariz dan Rhea pada Dokter Shinta.


"Untuk sementara istirahat dulu ya Bu, aktifitas yang berat dikurangi agar kandungannya tetap sehat," Dokter Shinta tersenyum, namun dalan hatinya dia merasa tidak tenang dan ingin bertanya pada Ustad Fariz dan Rhea, namun dia malu.


Akhirnya dia memberanikan diri untuk menghubungi Ustad Jaki, namun ponsel Ustad Jaki sedang sibuk.

__ADS_1


Jangan-jangan dia masih berbicara dengan Ustadzah Farida. Aku harus gimana? Kenapa aku jadi tidak tenang begini? Apa aku harus menjawabnya sekarang? Dokter Shinta bertanya-tanya dalam hati dan tanpa dia sadari, dia mengirim pesan pada Ustad Jaki.


__ADS_2