Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 110 Minat poligami?


__ADS_3

Makan siang mereka menjadi lebih menyenangkan dengan hadirnya anggota baru dalam keluarga mereka. Umi Sarifah memandang satu-satu wajah anak-anaknya dan menantu-menantunya dengan senyum bahagia. Rasanya seperti mimpi berada bersama mereka semua, dan hanya hal kecil seperti inilah yang sangat diinginkan oleh Umi Sarifah selama ini.


Setelah makan siang usai, Ustadz Jaki dan Ustadz Fariz kembali ke Pondok Pesantren untuk kembali melaksanakan tugas mereka. Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki berjalan bersama menuju Pondok Pesantren, namun mereka berpisah ketika Ustadz Jaki harus mengambil buku-bukunya di ruang pengajar dan Ustadz Fariz harus ke ruangan kantornya untuk mengambil perlengkapan mengajarnya.


"Kyai tunggu, saya mau berbicara," suara seorang wanita membuat Ustadz Fariz menghentikan langkahnya.


Ustadz Fariz menoleh dan terkejut melihat Ustadzah Indri yang telah menghentikannya. Kemudian dia menghela nafas berat, rasanya dia ingin segera pergi dari tempat itu.


"Ada apa Ustadzah, buruan saya sudah tidak punya banyak waktu," ucap Ustadz Fariz datar.


"Kyai, apa Kyai punya keinginan untuk berpoligami lagi? Jika memang ada, saya siap menjadi istri Kyai," ucap Ustadzah Indri dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.


"Astaghfirullahaladzim... saya tidak akan menduakan istri saya. Hanya dia yang saya cintai sampai kapanpun. Lebih baik Ustadzah cari saja lelaki lain yang mau berpoligami dengan Ustadzah," ucap Ustadz Fariz dengan tegas dan kesal, serta raut wajahnya mencerminkan kemarahannya.


"Rhea!" teriak Shinta ketika menangkap tubuh Rhea yang tiba-tiba limbung dan pingsan.


Teriakan Shinta membuat Ustadz Fariz dan Ustadzah Indri menoleh ke belakang mereka. Dan ternyata di sana mereka melihat tubuh Rhea sudah ditangkap oleh kedua tangan Shinta.


"Zahra!" Ustadz Fariz segera berlari dan menggendong tubuh istrinya menuju rumah Umi Sarifah.


"Kamu kenapa Sayang?" tanya Ustadz Fariz dengan gelisah sambil berjalan menggendong Rhea ke rumah Umi Sarifah.


Shinta yang ikut panik segera menghubungi Ustadz Jaki dan mengabarkan bahwa Rhea pingsan. Segera Ustadz Jaki berlari ke rumah Umi Sarifah.


Tubuh Rhea diletakkan Ustadz Fariz di ranjang kamar tamu di bawah. Shinta segera mengambil peralatannya di kamarnya. Dan Umi Sarifah tergopoh-gopoh berjalan dari dapur ketika melihat Ustadz Fariz menggendong Rhea ke dalam kamar dengan terburu-buru.


"Ada apa Le? Istrimu kenapa?" raut wajah Umi Sarifah sangat cemas melihat Rhea tidak sadarkan diri ketika tubuhnya di letakkan di ranjang oleh Ustadz Fariz.


"Fariz tidak tau Umi, tiba-tiba saja Rhea pingsan," ucap Ustadz Fariz sambil mengusap-usap telapak tangan Rhea dan menciuminya dengan sangat cemas.


"Tadi Rhea kan bersama kamu Shinta. Lalu kenapa tiba-tiba dia pingsan?" Umi Sarifah bertanya penuh kecemasan.


"Maaf Umi saya periksa Rhea dulu, setelah itu saya akan ceritakan apa yang terjadi," ucap Shinta sambil mengeluarkan stetoskopnya dari tas peralatannya.


Umi Sarifah pun mengangguk setuju dan berdiri tidak jauh dari ranjang.


"Ada apa ini?" tiba-tiba Ustadz Jaki datang dengan nafas yang tersengal-sengal.


Tidak ada yang menjawab, mereka masih menunggu Shinta yang sedang memeriksa Rhea. Ustadz Jaki pun mengerti, dia tidak lagi bertanya dan dia mulai mengatur nafasnya agar lebih tenang.


"Alhamdulillah... Rhea tidak apa-apa, hanya saja jika ingin memeriksa kandungannya lebih lanjut, kita harus ke rumah sakit. Kita harus berdoa agar tidak berpengaruh apa-apa pada bayinya," ucap Shinta setelah memeriksa Rhea.


"Sebenarnya apa yang terjadi Nduk?" kini Umi Sarifah mulai menanyakan kembali pada Shinta.

__ADS_1


Ustadz Fariz masih berada ditempatnya, duduk di ranjang sambil menggenggam erat tangan istrinya dan menciuminya dengan berdoa dalam hatinya.


"Tadi kita menyusul Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki ke Pondok Pesantren setelah makan karena HP Ustadz Fariz tertinggal di kamar tadi. Rhea mengajakku untuk mengantarkan HP Ustadz Fariz sekalian mengajakku berkeliling Pondok Pesantren Al-Mukmin. Tapi sayangnya kita berdua melihat Ustadz Fariz berbicara dengan Ustadzah Indri, dan parahnya lagi Rhea sepertinya akan pingsan ketika mendengar Ustadzah Indri meminta Ustadz Fariz untuk menikah dengannya. Setelah mendengar itu Rhea memegang pelipisnya dan matanya berputar-putar. Aku tau dia akan pingsan setelah melihatnya seperti itu, dan beberapa detik kemudian badannya limbung dan pingsan. Untung saja aku tau jadi bisa menangkap tubuhnya, jika tidak pasti tubuhnya akan jatuh ke tanah," Shinta menceritakan dengan gamblang semuanya.


"Pasti HP ku tertinggal pada saat aku ganti di kamar tadi," ucap Ustadz Fariz yang merasa sangat bersalah pada istrinya.


Tak henti-hentinya Ustadz Fariz mengucapkan kata maaf di telinga Rhea dengan suara yang serak menahan tangis dan berkali-kali pula dia menciumi tangan Rhea berharap istrinya itu akan cepat tersadar dari pingsannya.


Umi Sarifah sangat sedih melihat anaknya yang sangat sedih dan merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi pada istrinya. Dan dia juga sedih melihat menantunya yang kembali merasa sedih dan tertekan dengan masalah yang sama.


"Nekat sekali wanita itu. Umi, apa kita harus diam saja? Apa kita tidak bisa mengeluarkannya dari Pondok Pesantren Al-Mukmin?" Ustadz Jaki sangat kesal dengan Ustadzah Indri yang kembali membuat istri saudaranya menjadi sedih.


"Umi, Fariz harap dia tidak bisa mengganggu rumah tangga kami. Tolong Fariz Umi, Fariz takut terjadi apa-apa dengan anak dan istri Fariz. Dan Fariz tidak akan bisa memaafkan diri Fariz jika itu terjadi," Ustadz Fariz memohon pada Umi Sarifah.


Ustadz Fariz memang Kyai yang bertanggung jawab di Pondok Pesantren Al-Mukmin, namun segala putusan harus dibicarakan dahulu dengan Umi Sarifah karena beliaulah istri dari Kyai Farhan, pemilik dan penanggung jawab dari Pondok Pesantren Al-Mukmin sebelum Kyai Farhan meninggal. Oleh sebab itu semua orang di Pondok Pesantren Al-Mukmin menuruti semua keputusan yang dibuat oleh Umi Sarifah yang terkenal sangat bijak dalam mengatasi sesuatu.


"Kita bicarakan lagi nanti setelah Rhea sadar ya Le. Tidak baik kita membicarakan hal seperti ini di depan orang yang masih pingsan. Biarkan istrimu sadar dulu, baru kita bicarakan. Umi pasti akan membantu kalian. Tenang saja," ucap Umi Sarifah sambil memberikan senyuman hangatnya dibalik wajah cemasnya.


Ustadz Fariz mengangguk setuju. Kemudian Umi Sarifah mendekati Rhea dan mengusap kepalanya dengan sayang serta mencium dahi Rhea dan membisikkan sesuatu di telinga Rhea. Entahlah apa yang dibisikkan oleh Umi Sarifah, Ustadz Fariz pun tidak bisa mendengarnya, entah itu doa atau kata-kata untuk menyuruhnya segera bangun, Ustadz Fariz tidak bertanya, dia hanya berharap istrinya segera sadar dan bangun dari pingsannya.


Perlahan mata Rhea mengerjap menyesuaikan dengan binar cahaya lampu yang masuk ke retina matanya.


"Sayang, kamu sudah sadar?" suara Ustadz Fariz membuat Rhea benar-benar tersadar.


"Sayang, kamu gapapa?" tanya Ustadz Fariz panik.


"Apa ada yang sakit?" tanya Shinta yang kini mendekat ke arah Rhea.


Rhea berusaha duduk, namun...


"Auuuuh....," Rhea mengeluh kesakitansambil memegangi perutnya.


"Ada apa Sayang?" tanya Ustadz Fariz panik.


"Kenapa?" Shinta bertanya dengan nada khawatir.


Umi Sarifah dan Ustadz Jaki ikut khawatir dan panik mendengar rintihan Rhea yang kesakitan memegang perutnya. Mereka semua takut terjadi apa-apa dengan kandungan Rhea.


"Perutku sedikit kram," ucap Rhea sambil meringis menahan sakit.


"Shin, dia kenapa?" tanya Ustadz Fariz panik.


"Biar aku periksa lagi," ucap Shinta.

__ADS_1


Shinta kembali memeriksa Rhea dan bertanya pada Rhea,


"Apa yang sebelah sini yang sakit?"


Rhea mengangguk, dan Shinta mulai memeriksanya kembali.


"Tidak apa-apa, hanya tegang saja, mungkin karena ibunya syok tadi. Tapi alangkah lebih baiknya kita bawa saja ke rumah sakit, biar aku bisa memeriksanya lebih lanjut," Shinta mengatakan hasil pemeriksaannya.


"Baiklah, ayo kita ke rumah sakit" Ustadz Fariz langsung menyetujui usulan Shinta.


"Cepatlah jangan sampai terjadi apa-apa dengan menantu dan cucu Umi," Umi tak kalah paniknya dengan Ustadz Fariz.


Ustadz Fariz segera menggendong tubuh Rhea untuk dibawa masuk ke dalam mobil.


"Ustadz, tolong kemudikan mobilnya," Ustadz Fariz memberi perintah sebelum dia berjalan keluar kamar diikuti oleh Umi Sarifah.


"Pakai mobil siapa?" tanya Ustadz Jaki.


"Terserah," teriak Ustadz Fariz yang sudah berjalan keluar kamar.


"Masa' gitu aja tanya," ucap Shinta sambil mengambil tas peralatannya.


"Kali aja mau pakai ambulans, biar keren," ucap Ustadz Jaki sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.


Shinta menggelengkan kepalanya mendengar ucapan suaminya yang konyol tapi selalu membuatnya rindu.


"Udah ayo buruan," Shinta menarik tangan Ustadz Jaki yang tersenyum bahagia sambil melihat tangannya yang digandeng oleh Shinta.


Ustadz Jaki tetap sebagai pengemudi dan Shinta berada di sampingnya. Sedangkan Rhean dan Ustadz Fariz duduk di belakang dengan kepala Rhea yang menempel pada dada Ustadz Fariz dan tangan Ustadz Fariz melingkar ke pinggang Rhea.


"Perasaan sebelum aku nikah dan sesudah nikah sama aja jadi sopir kalian berdua. Lihat, kalian selalu bermesra-mesraan seperti itu," Ustadz Jaki menggerutu sambil mengemudi.


"Beda, itu kursi yang sebelah udah ada orangnya," jawab Ustadz Fariz.


"Ck, sama aja gak bisa seperti kalian bisa sender-senderan gitu," ucap Ustadz Jaki ya g merasa tidak terima.


"Udah ih kayak anak kecil aja pakai protes-protes," sahut Shinta.


Dengan seketika Ustadz Jaki diam, bibirnya mengatup tidak berani berbicara lagi, karena takut jika kesejahteraannya tidak akan terpenuhi.


Gawat kalau sampai marah. Nurut aja ah biar dapat jatah, Ustadz Jaki berkata dalam hatinya sambil fokus melihat jalan dan memegang kemudi.


Sesampainya di rumah sakit, Shinta segera mengarahkan Rhea untuk masuk ke dalam ruangan periksa miliknya.

__ADS_1


"Mas Fariz!" suara itu membuat Ustadz Fariz yang sedang menggendong Rhea menoleh ke belakang.


__ADS_2