Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 207 Kabar yang ditunggu


__ADS_3

Wa'alaikumussalam, ananda sudah sadar Pak. Untung saja tadi pada saat ananda sadar, bertepatan pada saat dokter sedang memeriksa keadaannya.


Suara perawat di seberang sana memberitahukan keadaan Izam saat ini.


"Alhamdulillah... kami akan segera ke sana sekarang.


Baik Pak. Assalamu'alaikum...


Perawat tersebut pun mengakhiri pembicaraannya.


"Wa'alaikumussalam....," jawab Ustadz Fariz sebelum mematikan teleponnya.


"Bi....," Rhea menatap Ustadz Fariz dengan penuh tanya.


"Alhamdulillah, Izam sudah sadar sayang."


Ustadz Fariz dengan segera memberitahukan kabar bahagia itu karena melihat istrinya itu menatapnya seolah ingin tahu pembicaraannya dengan seseorang di telepon tadi.


"Beneran Bi? Alhamdulillah... Ayo Bi kita ke rumah sakit sekarang."


Dengan semangatnya, Rhea beranjak dari ranjang. Tujuannya saat ini adalah menemui Izam, anak pertamanya yang kini sudah sadar pasca operasi waktu itu.


Ustadz Fariz memapah Rhea karena badannya yang masih lemah, namun dia tidak mau jika digendong untuk masuk ke dalam mobil.


"Banyak orang Bi, malu kalau orang-orang di sana melihat Abi gendong Bunda," ucap Rhea ketika Ustadz Fariz akan menggendongnya.


"Ngapain malu? Kita suami istri, udah halal. Lagian kamu masih lemas. Abi gak mau kalau Bunda sampai pingsan lagi."


Ustadz Fariz mencoba memberi pengertian pada istrinya agar mau menuruti keinginannya. Namun tetap saja Rhea menolaknya dengan alasan malu karena banyaknya sekali orang yang berada di dalam Pondok Pesantren Al-Mukmin.


Akhirnya Ustadz Fariz pun hanya memapah Rhea agar bisa membantunya menahan tubuhnya yang masih sangat lemah.


Ustadz Fariz memanggil Ustadz Jaki dengan suara pelan, kemudian dia berkata ketika Ustadz Jaki telah berada di depannya,


"Ustadz, kami akan pergi ke rumah sakit. Izam sudah sadar."


"Alhamdulillah.... iya Ustadz, cepatlah berangkat, kasihan Izam sendirian di sana," jawab Ustadz Jaki dengan lega mendengar Izam sudah sadar.


"Abi, Bunda... Salsa ikut menemui Kak Izam."


Salsa yang berada tidak jauh dari mereka mendengar kabar Izam yang sudah sadar. Dia segera meminta untuk ikut ke rumah sakit bersama Ustadz Fariz dan Rhea.


Ustadz Fariz.dan Rhea melihat ke arah Ustadz Jaki yang berada di depan mereka dan Shinta yang berada di belakang Salsa.


"Ayo Bunda, buruan.... Kak Izam pasti nyariin kita," Salsa merengek mengajak Ustadz Fariz dan Rhea agar cepat berangkat ke rumah sakit.


"Ya sudah, sebaiknya kalian cepat berangkat."


Ustadz Jaki menyuruh agar mereka cepat berangkat, itu berarti Ustadz Jaki memberi ijin pada Salsa untuk ikut ke rumah sakit dengan Ustadz Fariz dan Rhea.


"Rhea, tunggu. Ibu gak diajak?"


Shinta menghentikan mereka yang akan berangkat.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim... tolong beritahu Ayah dan Ibuku Shin. Kami tunggu di mobil ya," ucap Rhea kemudian.


Ustadz Fariz, Rhea dan Salsa terlebih dahulu keluar dari rumah.


Dalam perjalanannya ke luar rumah, Salsa melihat di dalam ruang tamu yang dibuat lesehan kini berada beberapa tamu yang mengaji untuk Umi Sarifah.


Matanya tertuju pada seseorang yang membuat ekspresi sedihnya kini berubah menjadi bengis.


"Dasar pembunuh!"


Salsa menunjuk pada Hana yang sedang melihat ke arahnya.


"Salsa."


Rhea segera meraih tubuh Salsa untuk dipeluknya dan menenangkannya. Dan Ustadz Fariz pun segera membawa mereka untuk keluar dari rumah.


Hana ketakutan melihat tatapan kebencian Salsa padanya. Dan benar memang dia bersalah atas kejadian semua ini. Meskipun itu murni kesalahan sopir yang sedang mengantuk, tapi jika Hana tidak melamun pasti tidak akan terjadi hal demikian. Itu yang membuat Hana merasa bersalah.


Sebenarnya Pak Ratmo sudah menenangkan Hana agar tidak menyalahkan dirinya. Namun dengan adanya Salsa yang menyalahkan Hana, kini Hana kembali menyalahkan dirinya.


Pandu yang berada di sisi lain bersama dengan Mirna yang juga ikut bertakziah merasa kesal dan tidak terima melihat Hana disalahkan seperti itu.


Padahal di dalam hati mereka yang paling dalam, mereka mengakui mungkin jika mereka jadi anggota keluarga Umi Sarifah dan Izam, pasti mereka akan menyalahkan Hana.


Namun ketika melihat Hana disalahkan, mereka sebagai orang tuanya tidak terima. Bahkan sampai sekarang pun mereka berdua belum mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Umi Sarifah dan terima kasih karena Umi Sarifah dan Izam menyelamatkannya.?


Dasar anaknya Ustadz Jaki, sama kayak bapaknya, tukang nyebelin, Mirna berkata kesal dalam hatinya.


"Salsa, Salsa kan anak yang baik. Salsa tidak boleh lagi mengatakan itu ya."


"Kenapa? Ada apa dengan Salsa?"


Shinta berlari dari dalam rumah menuju ke arah mereka setelah mendengar suara teriakan Salsa.


"Gapapa Shin. Kami berangkat sekarang ya. Maaf kami tidak bisa membantu di sini sekarang. Kamu bantu Ustadz Jaki ya, dan kalau ada apa-apa tolong hubungi saya."


Ustadz Fariz menjawab pertanyaan Shinta, setelah itu dia mengambil tubuh Salsa yang masih menangis berpelukan dengan Rhea untuk digendongnya di tangan kirinya, serta tangan kanannya menggandeng Rhea.


Shinta pun hanya mengikuti dari belakang untuk berjaga-jaga apabila mereka membutuhkan bantuannya.


Tidak lama setelah mereka masuk ke dalam mobil. Ayah dan ibu Rhea pun masuk ke dalan mobil mereka.


Mobil dikemudikan Ustadz Fariz dengan kecepatan sedang. Dia memilih berhati-hati karena beberapa kejadian telah menimpa keluarga mereka saat ini, hingga dia tidak mau hal yang sama terulang lagi.


"Izam.."


Suara Rhea bergetar memanggil nama anaknya ketika berada di dekat bed Izam yang masih tertidur karena pengaruh obat.


"Izam, anak Bunda. Buka matamu Izam, Bunda dan Abi ada di sini."


Rhea kembali bersuara agar Izam mau membuka matanya.


Perlahan Izam membuka matanya. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan sinar cahaya lampu yang masuk ke dalam retina matanya.

__ADS_1


"Izam, kamu sudah bangun nak?"


Rhea sangat senang hingga dia mengabaikan siapa pun yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Kak Izam, Salsa kangen sama Kak Izam. Kenapa Kak Izam lama sekali tidurnya? Salsa kesepian tau gak?"


Salsa mengeluarkan semua yang ingin dia katakan pada Izam.


"Kak Izam, Salsa sedih, Um-"


Dengan secepat kilat Ustadz Fariz menutup mulut Salsa agar tidak menyampaikan berita tentang kepergian Umi Sarifah untuk selamanya pada Izam.


Bukan untuk menutupinya dari Izam, hanya saja Ustadz Fariz tidak mau kondisi Izam kembali memburuk setelah sadar. Biarlah nanti dirinyalah yang sebagai abi nya akan menjelaskannya pada Izam.


"Rhea, ini putrimu sepertinya lapar. Stok ASI yang kamu tinggalkan sudah habis."


Tiba-tiba saja Bu Ratih, ibu Rhea masuk ke dalam ruangan tersebut dengan menggendong adik Izam yang dia ambil dari ruang perawatan bayi.


Ya, memang Rhea dan Ustadz Fariz menitipkan putri mereka di ruang perawatan bayi karena sebenarnya Rhea belum diijinkan untuk pulang, hanya saja dia pulang karena memaksa dan hanya untuk pemakaman saja. Jika kondisinya memang sudah memungkinkan, dia diperbolehkan untuk kembali pulang ke rumah.


Dan juga mereka masih harus di rumah sakit karena menjaga Izam yang masih butuh perawatan pasca operasi di rumah sakit tersebut.


Kini Izam memang sudah dipindahkan ke ruangan VIP atas permintaan Shinta pada saat di hubungi oleh perawat ICU yang sudah mengenal Shinta.


"Astaghfirullahaladzim.... putri Bunda, maaf ya Bunda lupa."


Rhea menerima tubuh mungil baby Yasmin untuk digendongnya.


"Izam... ini adik Izam, cantik ya?"


Rhea menunjukkan baby Yasmin pada Izam yang masih lemas dan hanya bisa tersenyum serta mengedipkan matanya saja.


"Cantik seperti Bunda kan Izam? Namanya Yasmin Zahra Mahadi. Bagus gak Izam nama adiknya Izam?"


Ustadz Fariz menyahuti perkataan Rhea untuk memberitahukan nama putri mereka pada semuanya.


"Um... um...um.."


Salsa mencoba melepaskan tangan Ustadz Fariz yang masih membekapnya.


"Astaghfirullahaladzim, maaf Salsa," ucap Ustadz Fariz dengan senyum lebar pada Salsa yang terlihat kesal padanya.


"Abi Fariz suka gitu sama-"


Lagi-lagi ucapan Salsa tidak bisa berlanjut karena Ustadz Fariz yang jahil kembali membekap mulutnya.


"Anak siapa sih cerewet sekali?" ucap Ustadz Fariz sambil terkekeh.


"Yasmin Zahra Mahadi?"


Rhea mengulang nama yang diberikan Ustadz Fariz pada anaknya.


Ustadz Fariz mengangguk dan tersenyum pada istrinya.

__ADS_1


"Bagus namanya," ucap Pak Adrian, ayah Rhea menanggapi nama tersebut.


"Pasti sengaja ya ada nama bunda dan abi nya. Zahra dan Mahadi," Bu Ratih pun ikut menanggapi nama tersebut.


__ADS_2