
"Dikasih nama siapa putri kalian?" tanya Pak Minto ketika Pandu dan Ani membawa anak mereka yang baru saja lahir beberapa hari yang lalu di depan rumah untuk dijemur di bawah sinar matahari pagi.
"Hana Safa Maulida," jawab Pandu dengan senyum yang terukir di bibirnya.
"Bagus Mas, kapan Mas Pandu mempersiapkan nama itu?" Ani bertanya dengan senyum bahagianya.
"Entahlah sudah lama sepertinya. Ada nama anak perempuan dan laki-laki yang sepertinya telah aku siapkan. Hana untuk nama anak perempuan dan Gibran untuk nama anak laki-laki. Setelah kamu melahirkan dan aku mengetahui jika dia perempuan, aku hanya menambahi saja untuk nama belakangnya," jawab Pandu dengan senyum sambil memainkan jari anaknya sedari tadi.
"Sepertinya?" celetuk Ani dengan berwajah heran.
"Iya. Tiba-tiba saja nama itu selalu ada di pikiranku. Dan sepertinya aku telah memberitahukanmu. Karena seingatku aku dan seorang wanita membicarakan masalah anak, dan aku memberi nama Hana untuk nama anakku yang perempuan dan wanita itu memberi nama Gibran untuk nama anak laki-laki. Siapa lagi jika wanita itu bukan kamu," jawab Pandu dengan memainkan jari-jari anaknya.
Seketika Ani memandang pada Bapaknya. Pak Minto mengerti jika yang dibicarakan oleh Pandu bukanlah Ani, melainkan wanita lain, mungkin wanita dari masa lalu Pandu.
Pak Minto memang setiap hari memberikan obat untuk Pandu agar ingatannya kembali pulih. Namun sepertinya Pandu tidak bisa membedakan antara ingatan masa lalunya dengan ingatan masa kini.
"Tenanglah," ucap Pak Minto tanpa mengeluarkan suara ketika Ani melihat pada Pak Minto.
Pandu tidak sadar jika sedikit demi sedikit ingatannya telah kembali. Sekarang dia merasa bahwa hidupnya bahagia dengan adanya Hana dalam hidupnya.
Putri kecilnya itu sangat cantik dan menuruni wajah Pandu. Ketika Pandu melihat wajah mungil dan cantik dari bayi perempuan itu, dia sangat damai dan bahagia.
__ADS_1
"Hana mirip sekali denganmu Pandu," ucap Pak Minto ketika mendekati cucunya.
"Iya benar Pak, Hana mirip dengan Mas Pandu," jawab Ani dengan tersenyum bahagia.
"Aku kan Bapaknya Hana. Iya kan Hana?" Pandu menyahuti ucapan Ani dengan tak henti-hentinya memandang wajah Hana dan tangannya masih menyentuh bagian tubuh Hana.
Ani bahagia melihat suaminya yang sangat mencintai dan menyayangi anaknya. Dia sekarang yakin jika Pandu tidak akan pernah meninggalkannya karena ada Hana yang pastinya akan menahannya untuk pergi dari sisi mereka.
Sedikit demi sedikit selama kurang dari setahun ini ingatan Pandu datang tanpa dia sadari. Karena ingatan itu tidak hanya datang pada mimpinya saja, namun kadang-kadang ingatan itu datang ketika dia masih sadar, seolah mengingat hal yang sudah pernah dia lakukan sebelumnya.
Namun ingatan yang paling menyiksanya ketika dia bermimpi tentang seorang wanita cantik yang dia panggil dengan nama Rhea. Senyum Rhea tidak bisa hilang dari ingatannya meskipun dia sedang sadar.
Hingga sering sekali senyum itu hadir ketika Pandu sedang melakukan hubungan suami istri dengan Ani. Wajah Ani samar-samar menjadi wajah Rhea yang sedang tersenyum kepadanya. Dan anehnya Pandu lebih merasa bersemangat ketika melihat wajah dan senyum Rhea yang hadir menggantikan wajah Ani pada saat itu.
Memang Pandu masih mencari-cari dalam ingatannya siapakah sebenarnya Rhea yang ada dalam ingatannya dan selalu hadir dalam mimpinya sehingga itu membuatnya tersiksa. Menyiksa karena Rhea selalu pergi dan tidak mau mendengarkannya ataupun menolongnya pada saat dalam mimpinya.
Hingga suatu ketika, Pandu pergi mencari kayu bersama Pak Minto ke dalam hutan. Mereka berpencar namun Pandu tetap dalam pengawasan Pak Minto karena takut menantunya itu tersesat di dalam hutan.
Sekelebat ingatan Pandu muncul dengan tiba-tiba. Tentang dirinya yang berada dalam mobil bersama seorang wanita, kemudian mobil tersebut masuk ke dalam jurang hutan yang ada disekitarnya saat ini. Ingatan yang tiba-tiba datang itu membuat kepala Pandu sangat sakit. Dia mengeram kesakitan dengan kedua tangannya yang memegang kepalanya dan menjambak rambutnya.
Pak Minto segera berlari ke arah Pandu dan membawanya duduk di bawah pohon yang ada di dekat mereka.
__ADS_1
"Ada apa Pandu?" tanya Pak Minto yang cemas ketika melihat Pandu berteriak kesakitan.
"Kepalaku... kepalaku sakit sekali," jawab Pandu dengan menahan rasa sakitnya.
"Apa kamu mengingat sesuatu?" tanya Pak Minto pada Pandu yang masih meringis kesakitan.
"Sepertinya aku mengingat sesuatu Pak," jawab Pandu dengan mata terpejam dan masih merasakan sakit di kepalanya meskipun sudah sedikit berkurang.
"Jangan dipaksakan karena hanya akan menyiksamu saja. Semakin kamu berusaha mengingatnya, semakin sakit kepalamu. Jadi biarkan ingatan itu perlahan datangnya," Pak Minto memberikan nasehat pada Pandu.
Pandu pun mencoba untuk rileks dan benar saja, perlahan sakit di kepalanya sedikit demi sedikit menghilang.
"Pandu, Bapak harap kamu tidak akan meninggalkan istri dan anak kamu meskipun ingatanmu sudah kembali. Bapak sudah tua Pandu, Bapak hanya bisa menitipkan mereka padamu karena mereka sekarang menjadi tanggung jawabmu. Tolong bahagiakan mereka," ucap Pak Minto ketika Pandu sudah merasa lebih tenang dan tidak merasakan sakit kembali.
"Pandu janji Pak. Bapak dan Ani sangat baik pada saya. Kalian menolong saya meskipun tidak mengenal siapa diri saya yang sebenarnya. Terima kasih Pak atas pertolongan Bapak dan mau menampung saya selama ini di rumah Bapak," ucap Pandu dengan tulus memandang Pak Minto yang tersenyum padanya.
"Sudahlah, ayo kita pulang saja. Sepertinya kayu-kayu ini juga sudah cukup," ucap Pak Minto sambil beranjak dari duduknya.
Pak Minto dan Pandu pulang ke rumah dengan membawa kayu-kayu hasil dari pencarian mereka tadi di dalam hutan. Dan Pandu berjalan dengan perasaan yang sangat tidak nyaman karena dia ingin sekali mengetahui apa yang terjadi setelah mobil mereka masuk ke dalam jurang waktu itu.
Hari-hari setelah itu, Pandu selalu mencuri-curi kesempatan masuk ke dalam hutan ketika Pak Minto sedang bepergian ke desa-desa untuk menawarkan pengobatannya pada warga sekitar. Sejak saat itu Pak Minto melarang Pandu masuk ke dalam hutan, karena takut Pandu mengingat sesuatu lagi dan kepalanya kembali sakit ketika tidak bersamanya. Namun Pandu benar-benar ingin mengingat apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya hingga dia bisa berada di hutan itu.
__ADS_1
Dia juga ingin mengetahui siapa sebenarnya dirinya serta siapa wanita yang bernama Rhea dan hubungan apa yang mereka miliki sehingga Rhea selalu datang dalam mimpi dan ada dalam ingatannya.
Rhea, apa wanita itu yang ada di dalam mobil bersamaku ketika mobil itu jatuh ke dalam jurang itu? Dan siapa kamu sebenarnya? Kenapa sepertinya aku sangat bahagia ketika bersamamu? Pandu berkata dalam hati sambil melihat jurang yang ada dalam ingatannya saat mobil yang dia tumpangi jatuh ke dalam jurang tersebut.