
Kepergian Ustadzah Farida dari Pondok Pesantren Al-Mukmin menjadi bahan omongan semua orang di Pondok Pesantren Al-Mukmin. Siapapun tidak bisa melarang mereka untuk tetap membicarakannya.
Kehidupan rumah tangga Ustadz Fariz dan Rhea serta rumah tangga Ustadz Jaki dan Shinta berjalan dengan harmonis dan kebahagiaan selalu hadir di dalam rumah Umi Sarifah. Canda tawa mereka dan kejahilan mereka membuat hiburan tersendiri untuk Umi Sarifah. Oleh sebab itu Umi Sarifah tidak memperbolehkan mereka pindah rumah sebelum anak-anak mereka sudah agak besar.
Ustadz Jaki selalu was-was karena dokter Randi masih bekerja di rumah sakit yang sama dengan Shinta, namun Shinta selalu menghindar jika di dekati ataupun berpapasan dengan dokter Randi.
"Awww... Bie.. bie... perutku rasanya sakit sekali," Rhea membangunkan suaminya dengan mengguncang-guncang lengan suaminya.
"Emmm... kenapa Sayang, apanya yang sakit?" Ustadz Fariz segera bangun dengan cemas dan memegangi kedua pundak istrinya.
"Perutku Bie, sepertinya.... sepertinya mau melahirkan," Rhea menjawabnya dengan berdesis menahan sakit.
"Sebentar, akan aku panggilkan Shinta," Ustadz Fariz segera beranjak dari ranjang dan berjalan ke kamar Ustadz Jaki.
Tok... tok... tok...
Ustadz Fariz mengetuk pintu Ustadz Jaki dengan tergesa-gesa dan terus menerus tanpa jeda.
Ceklek!
Pintu kamar pun di buka, tampak Ustadz Jaki yang baru memakai kaosnya dan sarungnya. Kemudian Ustadz Jaki keluar dari kamarnya dan menutup pintunya kembali.
"Apaan sih, malam-malam ganggu orang mulu," Ustadz Jaki sewot berbicara pada Ustadz Fariz dengan membenarkan sarungnya.
"Eh abis ngapain, ngadon ya? Ck, ngadon mulu, jangan sering-sering entar gak jadi-jadi," Ustadz Fariz menggoda Ustadz Jaki dengan candaannya, sepertinya dia lupa akan tujuannya.
"Sok tau, ngapain sih ke sini, cepetan, tanggung nih," ucap Ustadz Jaki kesal sambil melihat miliknya yang masih tegak berdiri di dalam sarungnya.
Ustadz Fariz pun mengikuti arah pandang Ustadz Jaki yang sedang melihat ke bawah di mana miliknya berada. Seketika Ustadz Fariz tertawa melihat milik Ustadz Jaki yang masih berdiri tegak di dalam sarungnya.
"Hahaha... belum kelar?" tanya Ustadz Fariz sambil tertawa.
"Separuh jalan. Ngapain ke sini, cepetan, nggedor pintu kamar kayak orang kesetanan," Ustadz Jaki masih berucap kesal pada Ustadz Fariz.
"Oh iya, gawat, darurat, cepetan bantuin. Sepertinya Zahra mau melahirkan. Cepat panggil Shinta," Ustadz Fariz kini kembali panik.
"Hah, lahiran?" Ustadz Jaki mencoba membenarkan pendengarannya dengan bertanya kembali pada Ustadz Fariz.
Ustadz Fariz mengangguk cepat dan mendorong tubuh Ustadz Jaki masuk ke dalam kamarnya untuk memanggil Shinta.
__ADS_1
"Cepetan panggil Shinta. Aku tunggu di kamar," setelah mengucapkan itu Ustadz Fariz bergegas kembali ke kamarnya.
"Sayang, ada iklan. Kamu disuruh ke kamar sebelah, sepertinya Rhea mau melahirkan," Ustadz Jaki dengan santainya mengatakannya pada Shinta.
"Apa? Melahirkan?" Shinta bertanya untuk memastikan sambil beranjak mengambil pakaiannya di lemari.
"Iya, barusan Ustadz Fariz bilang gitu," Ustadz Jaki masih berbicara dengan santai.
"Issh... kamu tuh santai banget ngomongnya. Cepetan ganti baju. Aku tunggu di kamar mereka," Shinta tergesa-gesa memakai pakaiannya.
"Ngapain buru-buru sih, kita kan belum selesai," ucap Ustadz Jaki sambil menaik turunkan alisnya.
"Kamu lupa aku dokternya," jawab Shinta dengan geram melihat suaminya yang selalu lupa semuanya jika melakukan ritual ranjang mereka.
"Ck, gak suami gak istrinya selalu ganggu proses perkembangbiakan kita," Ustadz Jaki menggerutu sambil memakai baju dan celananya yang baru dia ambil dari lemari.
Shinta tidak mau ambil pusing dengan gangguan suaminya karena jiwanya sebagai dokter telah memanggilnya. Dia tergesa-gesa menuju kamar Ustadz Fariz. Tanpa mengetuk pintu kamar tersebut, Shinta masuk ke dalam kamar tersebut.
"Ups... sorry...," ucap Shinta kemudian membalikkan badannya kembali ke arah pintu.
Tampak Rhea yang sedang meringis kesakitan sambil berbaring menekuk lututnya dan kepala suaminya masuk ke dalam rok daster yang dipakai oleh Rhea.
Kepala Ustadz Fariz keluar dari rok istrinya setelah mendengar suara Shinta.
Shinta pun membalikkan badannya dan berjalan mendekati mereka.
"Sedang apa Ustadz?" tanya Shinta ragu, dia takut jika terjadi sesuatu dengan Rhea.
"Gapapa, cuma lihat aja, barang kali bayinya udah keluar," jawab Ustadz Fariz sambil memperlihatkan ponselnya yang menyalakan lampu senter.
Shinta menahan tawanya, begitupula Rhea yang menahan tawa karena merasakan sakit. Sedangkan Ustadz Jaki yang berada di pintu tertawa mendengar ucapan Ustadz Fariz.
"Kelihatan gak?" tanya Ustadz Jaki yang masih dengan tawanya.
Ustadz Fariz hanya meringis, menyadari kebodohannya yang tertangkap basah oleh mereka.
"Halah modus!" Ustadz Jaki mengolok Ustadz Fariz yang sedang kikuk terlebih dilihat istrinya sambil menahan sakit.
"Sekarang kita bawa Rhea ke rumah sakit. Bawakan sekalian tas perlengkapan yang sudah disiapkan," Shinta memerintahkan Ustadz Fariz setelah memeriksa keadaan Rhea dan kandungannya.
__ADS_1
"Sayang, kamu buruan siapkan mobilnya," Shinta memerintah Ustadz Jaki dan dengan segera Ustadz Jaki pergi dari kamar tersebut untuk menyiapkan mobil.
"Ustadz biar saya yang bawa tasnya. Ustadz cepat gendong Rhea ke bawah," ucap Shinta ketika melihat Ustadz Fariz kewalahan membawa tas dan akan menggendong istrinya.
Saat itu juga mereka berangkat ke rumah sakit tanpa memberitahu Umi Sarifah. Mereka kelupaan untuk memberitahu Umi Sarifah karena terburu-buru.
Tiba di rumah sakit, Rhea segera dibawah ke ruang persalinan dengan Shinta yang menjadi dokternya. Ruang persalinan sudah disiapkan karena Shinta menghubungi pihak rumah sakit pada saat berada di dalam mobil.
Proses berlangsung sebentar, karena saat itu Rhea sudah hampir melahirkan, beruntung segera sampai di rumah sakit, jika tidak kemungkinan besar Rhea akan melahirkan di mobil.
Suara bayi terdengar nyaring dari dalam ruang persalinan.
"Alhamdulillah....," ucap syukur dari mulut Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki.
Tiba-tiba dering ponsel Ustadz Fariz berbunyi, tertera nama Umi Sarifah pada layar ponsel tersebut.
"Siapa?" tanya Ustadz Jaki yang heran pada jam seperti itu ada yang menelepon Ustadz Fariz.
"Umi," jawab Ustadz Fariz seraya menerima telepon tersebut.
"Ooo... gawat, Umi belum dikasih tau," Ustadz Jaki berseru karena kaget.
Ustadz Fariz pun memelototkan matanya menyadari tindakan mereka yang benar-benar melupakan Umi Sarifah karena tergesa-gesa.
Ustadz Fariz pun memberitahu pada Umi Sarifah ketika Umi Sarifah bertanya keberadaannya dan Rhea. Umi Sarifah pun mempunyai firasat bahwa Rhea sedang melahirkan, jadi dengan cemasnya Umi Sarifah menghubungi Ustadz Fariz.
Tadi Umi Sarifah akan melaksanakan shalat malam, namun ketika dia ingin mengambil minum di dapur sebelum shalat, Umi Sarifah melihat lampu di semua ruangan menyala, padahal sebelum mereka tidur, semua lampu dimatikan. Dengan perasaan heran Umi Sarifah naik ke lantai atas untuk bertanya pada anak-anaknya.
Namun Umi Sarifah melihat pintu kamar Ustadz Fariz terbuka dan tidak ada Ustadz Fariz ataupun Rhea di sana. Sedangkan kamar Ustadz Jaki tertutup. Umi Sarifah tidak berani mengetuk pintu Ustadz Jaki karena takut mengganggu di jam seperti itu.
Umi Sarifah mencari-cari Ustadz Fariz dan Rhea di seluruh ruangan dengan memanggil-manggil nama mereka tapi tidak ada yang menyahut baik Ustadz Fariz ataupun Rhea. Umi Sarifah cemas karena menduga bahwa Rhea saat ini sedang melahirkan. Oleh sebab itu Umi Sarifah menghubungi Ustadz Fariz untuk menanyakan keberadaan mereka.
Sesuai dengan permintaan Ustadz Fariz, Shinta segera memberikan bayi tersebut pada Ustadz Fariz.
"Laki-laki," ucap Shinta pada Ustadz Fariz tanpa bersuara.
Ustadz Fariz meminta Shinta setelah bayi lahir harus diserahkan padanya untuk segera di dengarkan azan oleh Ustadz Fariz. Dia ingin suara pertama yang didengar oleh anaknya ketika baru lahir adalah suara azan.
Ustadz Fariz segera menggendong bayi laki-laki itu dan mengumandangkan azan di telinga bagian kanan dan Iqomah bagian kiri serta memberikan doa pada bayi yang baru lahir tersebut dengan menghadap kiblat. Setelah itu Ustadz Fariz memberikan kembali bayi tersebut pada Shinta untuk segera dibersihkan.
__ADS_1
"Sayang, Zahra, terimakasih sudah melahirkan anak laki-laki kita ke dunia ini, insya Allah dia akan menjadi anak yang saleh. Aku mencintaimu Zahra ku. Aku sangat mencintaimu istriku. Terima kasih...," Ustadz Fariz meneteskan air matanya mengucapkan kalimat tersebut pada istrinya dengan menciumi tangan istrinya dan kening istrinya berkali-kali.
Para perawat yang berada di tempat itu yang masih membersihkan bagian bawah tubuh Rhea merasa ikut senang dan sedikit iri melihat Ustadz Fariz yang terlihat sangat mencintai istrinya.