
Keesokan harinya Pandu mengikuti Pak Minto kembali untuk mengobati bapaknya Bimo. Dengan langkah ringan dan hati yang sangat gembira Pandu melangkahkan kakinya disertai senyumnya yang terus mengembang membayangkan sebentar lagi dia akan mengetahui tentang dirinya dan tentang wanita yang bernama Rhea dan diketahuinya sebagai istrinya sebelum kecelakaan itu terjadi.
Sayangnya senyum Pandu redup ketika berada di rumah Bimo dan mengetahui jika Bimo sudah kembali ke kota kemarin malam. Seketika sirna sudah harapan Pandu, semangat yang sudah membara sebelum berangkat tadi telah pudar, kini berganti dengan rasa frustasi yang benar-benar ingin dia tuntaskan.
Selama Pak Minto mengobati bapaknya Bimo, selama itu pula Pandu mencari warga yang bisa dia pinjam ponselnya, namun nihil, karena keluarga Bimo lah keluarga terkaya di desa itu. Pandu pun tidak bisa menyerah begitu saja, dia menyusun rencana bagaimana caranya dia bisa pergi ke kota atas ijin Pak Minto dan Ani. Bagaimanapun mereka sangat berjasa untuk Pandu dan juha sudah ada Hana yang mengikatnya untuk tidak bisa begitu saja pergi meninggalkan mereka.
......................
Di Pondok Pesantren Al-Mukmin dihebohkan dengan tingkah Ustadz Jaki yang cemas karena mendapatkan undangan reuni dari teman sekolah SMA nya yang berarti teman Shinta juga. Ustadz Jaki cemas karena pastinya nanti di sana Shinta akan bertemu dengan lelaki-lelaki yang dulu menyukainya, bahkan setahu Ustadz Jaki pun ada yang sebagian masih menyimpan keinginan untuk menjadikan Shinta sebagai istrinya.
Namun itu sebelum Shinta menikah dengan Ustadz Jaki, dan setelah mereka menikah, Ustadz Jaki tidak mengetahui lagi bagaimana perasaan mereka terhadap wanita yang sekarang sudah menjadi istrinya.
"Sayang... gak usah datang ya ke acara reuni besok," ucap Ustadz Jaki yang sedang merayu Shinta.
Saat ini Ustadz Jaki sedang tiduran dengan kepalanya berada di pangkuan Shinta dan menghadap ke perut Shinta, mengusap-usapnya dengan lembut dan sesekali menciumi perut Shinta.
"Kamu gak mau datang ke acara reuni? Kenapa? Perasaan malah kamu yang selalu jadi panitia dulu sebelum kita menikah," Shinta bertanya dengan heran pada Ustadz Jaki.
"Itu karena aku pengen ketemu sama kamu," jawab Ustadz Jaki dengan tegas.
"Ah tapi setiap acara reuni berlangsung kamu malah asyik sama teman-teman kita yang lain tuh, sama cewek-ceweknya juga," Shinta mengoreksi jawaban dari Ustadz Jaki.
"Kan aku panitianya, tapi aku selalu ngawasin kamu dari jauh, dan kamu selalu bersama teman-teman kita yang berjenis kelamin laki-laki," ucap Ustadz Jaki dengan sewot.
"Kan aku manis, jadi dikerubuti kayak gula dikerubuti banyak semut," ucap Shinta dengan bangganya sambil tersenyum dan mengedip-ngedipkan matanya.
"Mangkanya itu aku gak mau gulaku dikerubuti sama semut-semut lain, cukup aku saja yang menggigit semua tubuhmu ini," ucap Ustadz Jaki sambil menggigit-gigit tangan Shinta tanpa terkena giginya.
"Iiih geli tau...," Shinta berteriak kegelian sambil memukul-mukul Ustadz Jaki.
Ustadz Jaki tidak membalas pukulan Shinta, melainkan dia mengungkung badan Shinta sehingga Shinta berada di bawahnya. Dengan jahilnya Ustadz Jaki kembali mengecup-ngecup dan menggigit-gigit tanpa terkena giginya di kulit badan Shinta.
"Aw... aw... tolong... lepasin....," seru Shinta yang sedang bercanda dengan Ustadz Jaki.
"Shin, kamu kenap-" ucapan Rhea terhenti.
Rhea mengerjap-ngerjapkan matanya ketika melihat Ustadz Jaki dan Shinta sedang dalam posisi yang seperti itu.
"Astaghfirullahaladzim... masih pagi kalian udah nganu. Ustadz Jaki gak ikut kerja bakti? Hari minggu malah enak-enakan. Itu Abinya Izam sama santri-santri semuanya pada kerja bakti di luar. Sana cepetan ikut kerja bakti," Rhea malah mengomel pada Ustadz Jaki yang masih dalam posisi mengungkung Shinta.
__ADS_1
Shinta dan Ustadz Jaki masih dengan posisi yang sama hanya menoleh pada Rhea dan memandang heran pada Rhea yang tidak henti-hentinya mengomel pada Ustadz Jaki.
"Sayang, apa kalau wanita udah melahirkan itu berubah menjadi seperti itu?" tanya Ustadz Jaki pada Shinta yang masih dalam posisi yang sama dengan dua tangan Shinta yang masih ditahan oleh kedua tangan Ustadz Jaki.
"Seperti apa?" tanya Shinta bingung.
"Jadi suka ngomel dan nyuruh-nyuruh. Besok-besok kamu jangan kayak gitu," jawab Ustadz Jaki yang belum mengubah posisinya.
"Eits... pada ngomongin orang, di depannya lagi. Dosa tau gak? Udah Ustadz Jaki cepetan keluar, ikut kerja bakti," Rhea kembali mengomel pada Ustadz Jaki.
Dengan wajah cemberut Ustadz Jaki melepaskan tangan Shinta dan turun dari ranjang sambil menggerutu.
"Ngapain sih ke sini kayak gak ada kerjaan aja," gerutu Ustadz Jaki sambil menatap Rhea.
"Yeee... orang aku ke sini nyariin Shinta. Udah sana ikut kerja bakti," Rhea mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir Ustadz Jaki.
"Astaghfirullahaladzim... ini kamarku nyonya Fariz yang terhormat, malah diusir-usir," Ustadz Jaki masih saja menggerutu seiring langkahnya keluar dari kamarnya.
Shinta menatap Rhea dengan wajah yang penuh pertanyaan. Rhea mengerti arti tatapan Shinta padanya.
"Mau ngajak masak sayur daun katuk buat kita. Yuk bantuin ambil di kebun," Rhea mendekati Shinta dan menarik tangannya untuk mengajaknya ke kebun Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Ustadz Fariz yang sedang ikut kerja bakti dengan para santri, tersenyum melihat istrinya berada di kebun, dia berjalan ke arah kebun untuk menemui istrinya.
"Sayang, Izam mana?" suara Ustadz Fariz membuat Rhea mengalihkan perhatiannya dari pohon katuk pada sosok orang yang kini ada di sampingnya.
"Lagi sama Umi, aku tinggal sebentar buat ngambil ini," jawab Rhea sambil tersenyum memperlihatkan daun katuk yang dia ambil barusan.
"Sini biar Abi aja, Bunda ke rumah aja. Nanti kalau udah selesai ngambilnya pasti Abi antarkan," ucap Ustadz Fariz sambil mengambil alih wadah yang berisi daun katuk yang sudah diambil Rhea tadi.
"Gak usah Bie, ini sebentar lagi juga udah selesai," ucap Rhea sambil mengambil kembali wadah tersebut dari tangan Ustadz Fariz.
"Udah nurut aja, ndablek banget sih kalau diomongin," tiba-tiba ada suara Ustadz Jaki yang menghentikan perdebatan Rhea dan Ustadz Fariz.
Ustadz Jaki mengambil alih wadah yang dibawa oleh Shinta berniat untuk meniru Ustadz Fariz.
"Udah Sayangnya Jaki pulang aja ya, sebentar lagi pasti kita antar sayuran ini pulang," ucap Ustadz Jaki sambil mengarahkan badan Shinta ke arah jalan pulang.
Ustadz Fariz pun meniru Ustadz Jaki, dia pun mengarahkan badan Rhea sama dengan Shinta dan menyuruh mereka untuk cepat pulang. Dengan senang hati Rhea dan Shinta pulang untuk menunggu para suami mereka mengambilkan mereka sayuran.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki pulang dengan membawa dua wadah daun katuk yang menggunung dalam wadah tersebut. Rhea dan Shinta melongo melihat daun katuk yang segitu banyaknya diambil oleh suami mereka.
"Sayang... ini sayurannya. Masak yang enak ya, kita lapar," ucap Ustadz Jaki dengan bangganya menyerahkan hasil sayuran yang dia ambil di kebun.
"Segini cukup kan Sayang?" tanya Ustadz Fariz pada Rhea.
"Ini mah lebih dari cukup Bie," Rhea menjawab sambil terkekeh, dia tidak bisa membayangkan siapa yang akan memakan sayur daun katuk yang segitu banyaknya.
Setelah Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki selesai bersih-bersih badan, mereka bermain dengan Izam di ruang tamu sambil menunggu istri mereka menyiapkan makanan untuk mereka.
Setelah makanan terhidangkan di meja makan, Rhea dan Shinta memanggil suami mereka untuk segera makan. Sedangkan Baby Izam bersama Umi Sarifah.
"Sayang, ini sayur apaan?" tanya Ustadz Jaki pada Shinta dengan mengambil sayur yang ada dalam mangkuk sayur dengan sendok sayur.
"Sayur daun katuk," jawab Shinta yang sedang mengambilkan nasi untuk Ustadz Jaki.
"Daun katuk? Kok kayaknya kita belum pernah makan itu ya," jawab Ustadz Fariz sambil menerima piring yang sudah berisi nasi dari Rhea.
"Iya, yang kalian berdua ambilkan tadi," jawab Rhea.
"Kok belum pernah makan ya kita Ustadz? Menu baru kamu ya Rhea?" ucap Ustadz Jaki yang bertanya pada Ustadz Fariz dan Rhea.
"Ini kan biasanya untuk melancarkan asi, jadi kalian pasti belum pernah memakannya," jawab Rhea sambil memakan makanannya.
Sontak saja Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki tersedak makanannya karena kaget mendengar apa yang diucapkan oleh Rhea.
"Makan! Awas kalau dilepeh atau gak dimakan," Rhea mengancam Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki agar memakan makanannya.
"Galak bener sih istrinya Ustadz Fariz," ucap Ustadz Jaki lirih di sebelah Ustadz Fariz.
"Makan," ucap Ustadz Fariz sambil membulatkan matanya menyuruh Ustadz Jaki memakan makanannya, dia marah mendengar Ustadz Jaki mengatakan istrinya galak.
"Lagian tadi siapa yang ambil daun katuknya sebanyak itu? Orang kita berdua tadi mau ambil daun katuk untuk kita berdua dan daun singkong untuk kalian. Berhubung kalian cuma bawa daun katuk aja, ya udah kalian makan sayur daun katuk ini aja sama kayak kita. Mubazir kan kalau dibuang," ucap Rhea panjang lebar dan Shinta hanya menahan tawanya sambil memakan makanannya.
"Kamu sih yang ngajak banyak-banyakan dapetnya. Ini jadinya sayur segini banyaknya siapa yang mau habiskan?" Ustadz Fariz menggerutu pada Ustadz Jaki.
"Lah situ mau aja diajakin lomba banyak-banyakan ngambil sayurnya, ya udah dinikmati aja biar asinya banyak," jawab Ustadz Jaki membela dirinya.
"Lagian nih ya, gak usah makan daun katuk juga Ustadz Fariz bisa tuh bikin asi kamu banyak. Iya gak Ustadz?" Ustadz Jaki terkekeh melihat Ustadz Fariz kembali tersedak makanannya.
__ADS_1
"Itu tuh yang aku kasih tau kemarin, kan aku diajarin sama Shinta gerakannya gimana," ucap Ustadz Jaki yang kini membuat Shinta menjadi tersedak.