Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 175 Sebuah pesan


__ADS_3

"Rumahnya sama kayak rumah kita dulu ya Pak?" Hana memandang ruangan tersebut dengan senang.


"Hana suka?" tanya Pandu dengan tersenyum dan mengusap rambut Hana dengan lembut.


"Iya Pak. Apa kita akan terus tinggal di sini Pak?" Hana memandang Pandu dengan wajah penasaran.


"Kalian boleh tinggal di sini sampai kalian mempunyai tempat tinggal yang baru," tiba-tiba terdengar suara Pan Ratmo yang sudah berada di belakang mereka.


"Kakek!" Hana berseru memanggil Pak Ratmo dan berlari memeluknya.


Pak Ratmo tersenyum mendengar dirinya dipanggil Kakek oleh Hana. Dia pun menyambut Hana dengan gembira dalam pelukannya.


"Terima kasih Kakek," ucap Hana, kemudian dia mencium pipi Pak Ratmo sebagai ucapan terima kasihnya.


Pak Ratmo tertawa senang, dia membawa Hana ke dalam gendongannya. Badan Hana memang kecil, sehingga semua orang yang menggendongnya tidak akan mengeluh keberatan.


"Terima kasih Pak atas semua kebaikan Bapak dan keluarga Bapak. Saya akan berusaha untuk mencari kerja besok. Apa mungkin Bapak mengetahui ada yang membutuhkan tenaga saya untuk bekerja?" Pandu merasa sungkan pada Pak Ratmo.


"Bapak belum tau. Tapi besok Bapak akan coba tanyakan pada warga sekitar sini. Kamu berdoa saja ya, supaya cepat mendapatkan pekerjaan," Pak Ratmo memberikan saran pada Pandu.


"Iya Pak, terima kasih," Pandu mengucapkan terima kasih kembali pada Pak Ratmo.


"Ya sudah, sekarang Hana tidur dulu ya, sudah malam," ucap Pak Ratmo pada Hana yang masih berada dalam gendongannya.


Hana pun mengangguk ketika Pak Ratmo memandangnya dan menyuruhnya untuk segera tidur.


"Terima kasih Kek. Hana senang bisa tinggal di sini dengan kalian semua," ucap Hana dengan wajah polosnya yang tersenyum tulus pada Pak Ratmo.


"Tidak usah berterima kasih. Hana sudah kakek anggap sebagai cucu kakek sendiri," jawab Pak Ratmo sambil mencium pipi Hana dengan gemasnya sehingga membuat Hana tertawa kegelian.


Setelah itu Pak Ratmo pergi meninggalkan mereka setelah menurunkan Hana dari gendongannya.


Hana dan Pandu tidur di sebuah ranjang yang memang sudah ada di rumah tersebut. Rumah itu memang kecil, namun sangat nyaman dengan semua barang dan perlengkapan yang masih ada di sana.

__ADS_1


Rumah kecil yang sudah lama tidak dihuni itu sekarang menjadi layak huni setelah Pandu membersihkannya.


"Mas... Mas Pandu... Mas... bangun Mas...," Ani membangunkan Pandu dari tidurnya dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya.


"A-ani? Ini benar kamu?" tanya Pandu pada wanita di hadapannya dengan mengusap-usap matanya seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Wanita dihadapannya yang di panggil Ani oleh Pandu itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis pada Pandu.


"Mas, aku mau bicara sama kamu. Aku mohon kamu mengikhlaskan masa lalu kamu Mas.... Dan aku ingin Mas Pandu membesarkan anak kita dengan baik. Jaga mereka berdua dan didiklah agar menjadi anak yang salihah dan saleh. Beri nama Emir untuk anak kita Mas. Aku titipkan Hana dan Emir padamu. Jika memang ada ibu sambung yang sayang dan cocok dengan mereka, nikahilah dia Mas, aku ikhlas. Tapi aku mohon jangan merusak kebahagiaan mantan istrimu, biarkan mereka bahagia agar Mas Pandu bisa merasakan bahagia bersama keluarga Mas Pandu yang baru nantinya."


Setelah mengucapkan itu semua, tiba-tiba Ani menghilang dari hadapan Pandu.


"Ani!" Pandu berteriak memanggil nama Ani dalam tidurnya dan seketika dia bangun dengan bercucuran keringat di dahi dan pelipisnya.


Biasanya jika Pandu bermimpi tentang masa lalunya, terutama tentang Rhea, pasti Ani yang berada di sampingnya ikut terbangun dan menenangkan Pandu.


Namun kini berbeda, Pandu bermimpi tentang Ani dan tidak ada yang menenangkannya ketika terbangun dan berteriak dalam tidurnya.


Pandu menatap wajah polos Hana saat tidur dan dia ingat akan pesan Ani yang hadir dalam mimpinya.


Hufftt... sebenci itukah kamu jika aku mengingat masa laluku? Kamu memang tidak pernah setuju jika aku mendekati Rhea kembali. Tapi kenapa kamu meninggalkanku bersama dua anak kita Ani? Apa kamu tidak kasihan padaku? Pandu berkata dalam hatinya.


Kemudian dia menertawakan dirinya sambil berkata dalam hatinya,


Menikah? Menikah dengan siapa? Kamu tau An, uang saja aku tidak punya, bahkan tempat tinggal saja aku harus menumpang pada Pak Ratmo. Lalu bagaimana aku bisa menikah? Siapa yang mau menikah denganku? Aku jadi teringat kisah ku pada saat hilang ingatan dan ditolong olehmu dan bapakmu An. Kalian baik sekali padaku. Sama seperti sekarang, Aku dan anak-anak kita ditolong oleh Pak Ratmo dan anaknya. Apa yang kamu maksud itu Anita? Dia baik sekali, sama sepertimu An. Dia sayang pada Hana. Berbeda sekali dengan Mbaknya, tapi Mirna itu sepertinya sayang dan perhatian pada Hana, tapi sangat ketus denganku.


"Ah... mikir apa sih aku ini, Ani aja baru meninggal kemarin, kenapa aku jadi memikirkan ibu sambung buat anak-anakku? Ini semua gara-gara Ani yang berpesan lewat mimpiku. Tapi kenapa bukan Rhea? Aku rasa jika Rhea memang mau, tidak maslah bukan?" Pandu berkata sendiri di tengah kesunyian kamarnya.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Pandu sudah bersiap mencari pekerjaan. Hana yang memang sudah terbiasa bangun subuh, dengan senang hati mengikuti Pandu untuk dititipkan pada keluarga Pak Ratmo.


Tok... tok... tok...


Pandu mengetuk pintu belakang rumah Pak Ratmo.

__ADS_1


Ceklek!


Tampak Mirna yang sudah rapi membukakan pintu tersebut.


"Ada apa pagi-pagi buta gini udah namu ke rumah orang," Mirna bertanya pada Pandu dengan sedikit kesal.


"Maaf, saya hanya ingin menitipkan Hana saja karena saya akan mencari pekerjaan sekarang," jawab Pandu yang merasa tidak enak dengan Mirna.


"Loh, jam segini mau nyari pekerjaan di mana Nak? Sini masuk dulu," Pak Ratmo melambaikan tangannya pada Hana dan Pandu menyuruh mereka masuk ke dalam rumah.


Hana pun menggandeng tangan Mirna dan menggandengnya masuk.


"Bu Mirna, ayo masuk," ucap Hana sambil menarik tangan Mirna agar masuk ke dalam rumah bersamanya.


Mirna pun menurut, karena dia tidak bisa menolak jika itu keinginan Hana. Entah mengapa, setidak sukanya Mirna pada Hana, namun jika Hana mendekatinya, Mirna pasti akan luluh dengannya.


Kepolosan wajah Hana membuatnya tidak tega untuk menolaknya. Namun dalam hatinya dia merutuki dirinya yang menurut pada Hana.


"Ayo sini, minum kopi dulu sama makan singkong dulu untuk mengganjal perut," Pak Ratmo mengajak Pandu untuk bergabung dengannya menikmati kopi sambil mengobrol bersama.


"Anita mana Mir, kok tumben gak kelihatan?" Pak Ratmo bertanya pada Mirna.


"Tadi katanya perutnya sedang tidak enak Paman, biasa... tamu bulanannya datang. Tadi Anita juga bilang, Paman disuruh Anita mengantar Mirna ke pasar untuk berbelanja kebutuhan bahan makanan warung," jawab Mirna disela kegiatannya meniupkan teh hangat untuk Hana.


"Kalau begitu kebetulan sekali, kamu diantar Nak Pandu saja ke pasar untuk berbelanja kebutuhan warung," Pak Ratmo menyampaikan idenya.


"Paman ini bagaimana sih, kita kan bukan mahram, apa kata tetangga nanti?" Mirna menolak ide dari Pak Ratmo dengan sedikit kesal.


"Anggap saja saya ojek Mbak, kan tukang ojek gak perlu jadi mahram dulu," Pandu menyahuti pembicaraan Pak Ratmo dengan Mirna karena Pandu ingin membalas kebaikan Pak Ratmo padanya, namun sebenarnya Pandu sendiri juga tidak menyukai ide dari Pak Ratmo itu.


"Nah bener itu. Ya sudah nanti kamu ke pasar diantar sama Pandu. Dan Pandu nanti biar Paman yang bayar. Hitung-hitung ini pekerjaan awal buat Pandu. Nanti, Bapak akan tanyakan di tempat kerja Bapak, siapa tau mereka membutuhkan seseorang untuk bekerja," ucap Pak Ratmo pada Mirna dan Pandu.


Beneran ini diantar sama dia? Kalau ketemu sama Mas Fariz gimana? Eh tunggu, gak mungkin kayaknya ketemu Mas Fariz, kan tujuan kita ke pasar, ngapain Mas Fariz ke pasar.

__ADS_1


__ADS_2