
Pencarian baby Yasmin masih saja berlanjut. Rhea seolah hidup tanpa bernyawa. Dirinya sungguh hancur, dia merasa semua terjadi karena kesalahannya.
Setelah pulang dari rumah sakit pun Rhea masih saja sama seperti sebelumnya. Dia hanya berdiam diri, air matanya menetes tanpa disertai suara tangisnya, dan nama Yasmin selalu disebutnya.
Ustadz Fariz, Ustadz Jaki dan Shinta sangat sedih melihat keadaan Rhea saat ini. Terutama Ustadz Fariz yang sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Istrinya dalam keadaan syok seperti itu dan anaknya masih belum juga ditemukan. Hingga segala upaya di lakukannya agar bisa menemukan baby Yasmin dan bisa mengembalikan kesadaran Rhea seperti semula.
Sedangkan di tempat lain, Pak Anto dan Bu Yati meninggalkan baby Yasmin di klinik karena baby Yasmin masih belum diijinkan untuk pulang oleh dokter Randi.
Pak Anto dan Bu Yati harus bekerja untuk menyambung hidup mereka dan membayar hutang yang digunakan untuk membiayai perawatan dan pengobatan baby Yasmin.
Bos Leo adalah seorang rentenir dan juga pemilik dari klub malam yang terletak di depan rumah Pak Anto dan Bu Yati.
Mereka berdua sudah bekerja di sana sebagai tukang bersih-bersih semenjak klub malam itu didirikan.
Sejak bangunan klub malam itu didirikan di sana, lingkungan tempat tinggal Pak Anto dan Bu Yati kini menjadi tidak sehat.
Banyak kehidupan malam yang membuat lingkungan sekitar menjadi terseret ke dalamnya.
Keinginan mereka untuk mendapatkan uang yang lebih banyak membuat mereka ikut terjerumus dalam kehidupan malam yang bersumber pada klub malam tersebut.
Tidak ada kehidupan agamis di daerah itu, hanya segelintir orang tertentu saja yang masih menjaga keimanannya agar tidak bisa diiming-imingi dengan kenikmatan dunia malam.
Rumah Pak Anto dan Bu Yati berada tepat di belakang bangunan klub malam tersebut, sehingga Bos Leo mengenal baik mereka. Dan dia pun memberikan pekerjaan sebagai tukang bersih-bersih di sana.
"Pak, Zahra sudah boleh pulang besok. Kekurangan biayanya bagaimana ya Pak? Apa kita meminjam kembali pada Bos Leo ya?" tanya Bu Yati pada Pak Anto ketika mereka sedang beristirahat dari pekerjaannya.
"Bu, yang kemarin saja kita belum bisa membayarnya. Bagaimana kita bisa meminjam kembali? Bapak takut jika kita tidak bisa membayar semuanya Bu," jawab Pak Anto.
"Nanti kita bayar pada saat gajian Pak. Bos Leo sudah tau itu kan?"
Bu Yati menanggapi perkataan dari suaminya sambil memakan nasi bungkus yang dia beli tadi dalam perjalanan dari klinik menuju tempat kerjanya.
"Ibu yakin bisa membayar semuanya?" tanya Pak Anto kembali.
__ADS_1
"Yakin saja Pak. Kita saja dulu punya hutang lebih dari itu pada Bos Leo bisa bayar Pak. Bapak gak lupa kan?" Bu Yati kembali meyakinkan suaminya.
"Iya Bu, dan itu baru lunas bulan lalu. Apa Ibu gak pengen kita hidup enak dari hasil gaji kita? Biar gak buat bayar hutang melulu," Pak Anto kembali memberi pengertian pada istrinya.
"Bagaimana kalau kalung yang dipakai bayi itu saja kita jual untuk membayar biaya pengobatannya?"
Bu Yati mengatakan pemikirannya pada suaminya.
"Lebih baik jangan Bu, jika nanti kita tidak bisa memberikannya apa-apa, paling tidak dia memiliki kalung itu," jawab Pak Anto.
"Aku ingin punya anak Pak agar nanti ada yang merawat kita pada saat kita tua nanti," jawab Bu Yati dengan raut wajah sedih.
"Hufffttt... baiklah Bu, Bapak akan meminjam kembali pada Bos Leo," ucap Pak Anto dengan berat hati.
Pak Anto beranjak dari duduknya ketika nasi bungkusnya sudah habis dimakannya. Kemudian dia memantapkan hatinya untuk menemui Bos Leo dengan tujuan meminjam uang.
Tentu saja Bos Leo meminjaminya berapa pun Pak Anto menginginkannya. Karena bagi Bos Leo adalah pembayarannya. Dia seorang rentenir dan peminjam pasti sudah tahu berapa yang harus dibayarkan dan tahu konsekuensinya jika tidak membayarnya.
"Ini Bu uangnya. Dan sepertinya kita harus bekerja lebih keras lagi untuk bisa membayarnya," ucap Pak Anto seraya memberikan uang dari amplop coklat yang diberikan Bos Leo tadi padanya.
"Kita harus bekerja dua kali lipat Bu. Jam kerja kita ditambah," jawab Pak Anto sambil terduduk lemas di kursi dekat istrinya berada.
"Dua kali lipat? Jadi kita di sini mulai sebelum buka sampai klub ini tutup Pak?" tanya Bu Yati penasaran.
Pak Anto pun mengangguk lemah dan menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Lalu Zahra bagaimana Pak?" tanyanya kembali.
"Bapak juga gak tau Bu," jawab Pak Anto lemah dengan wajahnya yang masih dia tutupi dengan kedua telapak tangannya.
"Ya sudah Pak, kalau memang kita harus di sini seharian, kita bawa saja Zahra ke tempat ini," ucap Bu Yati sambil menatap suaminya.
Pak Anto pun membuka telapak tangannya setelah mendengar perkataan dari istrinya. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
"Beneran Bu? Apa Ibu yakin membawa Zahra ke tempat ini? Dia masih bayi loh Bu."
Pak Anto merasa tidak percaya dengan apa yang dibicarakan oleh istrinya.
"Justru dia masih bayi Pak belum mengerti apa-apa. Jika sudah remaja pastikan dia tidak menginjak tempat ini," jawab Bu Yati kemudian.
"Terserah Ibu saja. Lagipula apa mereka mengijinkan kita membawa bayi ke tempat ini?" tanya Pak Anto kembali.
"Kita bilang saja jika tidak ada yang menjaganya. Pasti mereka mengijinkan. Bayi bisa apa sih Pak, kan gak mungkin bayi bisa mengatakan apa yang terjadi di dalam sini kepada polisi."
Jawaban dari Bu Yati ini membuat Pak Anto berpikir. Memang benar jika bayi tidak bisa melakukan apa-apa sehingga mereka harus membawanya ke tempat kerja mereka.
Tapi mengingat tempat kerja mereka adalah klub malam, Pak Anto sangat berat menyetujuinya. Karena di samping lingkungannya yang tidak sehat dengan banyaknya asap rokok, kehidupan dalam klub malam itu juga menjadi pertimbangan baginya.
Namun tidak ada pilihan lain, Pak Anto pun mengambil keputusan yang sama dengan istrinya.
Pagi harinya Pak Anto dan Bu Yati membawa uang tersebut ke klinik dokter Randi untuk membawa pulang baby Yasmin.
"Bu, Pak mohon dijaga baik-baik anaknya agar tidak terbentur ataupun jatuh yang mengakibatkan kepalanya kembali terluka. Karena usianya masih sangat rentan, jadi sebisa mungkin mohon diperhatikan."
Dokter Randi melepas kepulangan baby Yasmin dengan berat hati. Dia juga menyukai baby Yasmin sejak pertama kali merawatnya. Wajah baby Yasmin sangat menarik perhatiannya.
"Baik dok, kami permisi dulu," ucap Bu Yati pada dokter Randi.
"Terima kasih dok," ucap Pak Anto sebelum pergi dari tempat itu.
Dokter Randi pun menganggukkan kepalanya dengan diiringi senyumannya pada Bu Yati dan Pak Anto.
Setelah kepergian Bu Yati dan Pak Anto dengan membawa baby Yasmin, dokter Rendi mengeluarkan ponselnya dan tersenyum ketika melihat layar ponselnya yang terdapat foto dirinya bersama baby Yasmin.
"Cantik ya dok?" tanya seorang perawat yang ikut melihat foto pada ponsel dokter Randi.
Dokter Randi pun tersenyum dan mengangguk. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
"Kecilnya aja cantik. Apalagi besarnya. Ah jadi ingin punya anak perempuan yang cantik seperti ini," ucap dokter Randi sambil terkekeh dan matanya masih menatap foto dirinya bersama baby Yasmin.
"Tapi dok, kok bayi tadi tidak mirip dengan Bapak Ibunya ya? Apa bayi itu benar-benar anak mereka?"