Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 228 Pertemuan Zahra


__ADS_3

Hari ini Ustadz Fariz menghadiri undangan dari kota lain untuk mengisi acara pengajian. Semenjak kejadian hilangnya Yasmin, Ustadz Fariz selalu mengajak Rhea ke mana pun dia pergi. Dia tidak mau istrinya kembali sedih dan selalu merasa bersalah jika teringat Yasmin.


Acara itu dihadiri oleh banyak ulama, sehingga mereka pulang hingga larut malam.


Di tengah perjalanan, mobil mereka tiba-tiba dihadang oleh seseorang dengan menggunakan jaket dan hoodie yang menutupi kepalanya.


Tiba-tiba kaca mobil mereka diketuk terus menerus oleh orang itu dengan memperlihatkan kepanikannya.


Tok.... tok... tok..


"Tolong saya. Tolong bawa saya pergi dari tempat ini. Bebaskan saya dari mereka. Cepat, mereka akan menangkap saya. Saya mohon!"


"Bi, bagaimana ini? Apa kita harus menolongnya?"


Rhea yang ikut panik melihat orang di luar mobilnya itu bertanya pada suaminya.


"Bagaimana kalau dia komplotan penjahat yang menghadang kita Bun?" jawab Ustadz Fariz tak kalah panik dengan istrinya.


"Tapi sepertinya dia benar-benar butuh pertolongan Bi," ucap Rhea sambil memegang erat lengan suaminya karena ketakutan.


Yasmin, orang yang ada di luar mobil mereka itu kembali mengetuk-ngetuk kaca mobil mereka dengan kepanikan yang luar biasa.


Dan di saat ada seseorang yang dari jauh seperti mengejarnya, Yasmin menangkupkan kedua telapak tangannya sambil berkata,


"Saya mohon, tolong bantu saya."


"Bi, buka pintunya," ucap Rhea memerintah pada Ustadz Fariz.


Entah mengapa tanpa berpikir panjang Ustadz Fariz membuka kunci pintu mobilnya dan membuka kaca jendelanya. Kemudian dia berkata,


"Masuklah!"


Secepat kilat Yasmin membuka pintu mobil bagian belakang dan masuk ke dalam mobil tersebut.


"Cepat Pak, cepat lajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi," ucap Yasmin setelah masuk ke dalam mobil tersebut.


Ustadz Fariz pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil membaca doa dalam hatinya.

__ADS_1


Terlihat orang tersebut memang mengejar Yasmin dan orang tersebut melampiaskan kekesalannya dengan menendang batuan kecil ketika gagal mengejar Yasmin. Itu semua terlihat dari kaca spion mobil Ustadz Fariz.


"Ah gagal. Sialan! Siapa orang yang berani membawa Zahra? Mereka bukan orang suruhan Bos Leo kan? Gawat jika mereka bisa menangkap Zahra. Bagaimana ini?!"


Tian, anak Maria menyerukan kekesalannya karena gagal mengejar Zahra.


"Terima kasih Pak, Bu sudah menolong saya," ucap Yasmin dengan suara bergetar dan nafasnya yang masih terengah-engah namun dia sudah lega duduk di dalam mobil tersebut dan sudah jauh dari orang yang mengejarnya.


"Kamu perempuan?" tanya Rhea ketika mendengar suara Yasmin yang mengucapkan terima kasih pada mereka.


"I-iya Bu," jawab Yasmin sambil melepaskan hoodie penutup kepalanya.


"Sebenarnya kamu siapa? Dan kenapa ada orang yang mengejarmu?" tanya Ustadz Fariz yang masih menghadap depan berkonsentrasi pada jalanan yang gelap.


"Maaf Pak, Bu, bisakah saya meminta tolong untuk mencarikan saya tempat yang aman agar mereka tidak bisa menemukan saya? Tapi.... saya tidak memiliki uang. Nanti saya akan ceritakan pada Bapak dan Ibu tentang saya. Atau jika perlu saya bekerja saja di rumah Bapak dan Ibu. Berapapun gajinya saya akan terima. Dan jika saya tidak digaji pun tidak masalah selama saya bisa tinggal dan tidak ditemukan oleh mereka."


Yasmin memohon meminta perlindungan pada Ustadz Fariz dan Rhea dengan suara yang mengiba pada mereka.


"Bi, bagaimana?" tanya Rhea pada suaminya.


Sejenak Ustadz Fariz berpikir, dia tidak ingin sembarangan lagi menerima orang untuk bekerja. Sejauh ini rumah tangganya sudah tenang setelah ujian-ujian yang berhasil mereka lewati. Hanya saja Yasmin, anak kedua mereka belum mereka temukan hingga sekarang.


"Kamu masih mempunyai orang tua?" tanya Ustadz Fariz kemudian.


"Bapak saya baru tadi pagi dikuburkan, dan Ibu saya...." Yasmin menjeda ucapannya, dia tidak bisa melanjutkan ucapannya mengingat apa yang dilihatnya tadi.


Yasmin memang sempat mengintip dari celah jendela ruang tamu mereka. Dan dia melihat adegan orang suruhan Bos Leo dan Bu Yati saling berebut pisau dan akhirnya Bu Yati tergeletak di lantai.


Setelah mengetahui Bu Yati tergeletak di lantai dengan pisau tertancap di perutnya, Yasmin segera berlari dengan kecepatan penuh agar tidak tertangkap oleh orang suruhan Bos Leo itu.


"Ibu saya sepertinya sudah meninggal," sambungnya kembali dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca.


"Inna lillahi wa inna ilahi raji'un....," ucap Ustadz Fariz dan Rhea bersamaan.


"Sepertinya?" celetuk Ustadz Fariz yang ingin bertanya tentang keragu-raguan Yasmin dalam menyampaikan kematian ibunya.


"Tadi, saya lihat mereka menusuk perut Ibu dan Ibu tergeletak di lantai dengan pisau yang ada di sini," Yasmin menjawab pertanyaan Ustadz Fariz dengan suara lirih dan bergetar serta air mata yang menetes di pipinya menunjuk ke arah perutnya.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim Bi.....," ucap Rhea seraya menoleh ke arah suaminya dan memegang lengan suaminya dengan erat.


Ustadz Fariz mengerti apa yang dirasakan oleh istrinya. Terlebih lagi remaja yang mereka tolong saat ini seorang gadis yang mungkin seumuran dengan anak mereka yang hilang.


"Apa kamu tidak keberatan jika kamu menceritakan semuanya pada kami?" tanya Ustadz Fariz pada Yasmin.


Yasmin pun mengangguk meskipun dia tahu jika sepasang suami istri yang berada di depannya itu tidak melihatnya menganggukkan kepalanya.


Ustadz Fariz sedikit melihat melalui kaca spion yang berada di tengah. Dia melihat gadis yang mereka tolong itu menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, untuk malam ini kami akan membawamu ke rumah kami. Tapi kami harap kamu bisa bercerita pada kami tentang apa yang terjadi agar kami bisa menolongmu."


Ustadz Fariz mengatakan keputusannya untuk menolong gadis tersebut. Sebenarnya dia tidak ingin tahu tentang gadis itu, hanya saja dia tidak ingin ada masalah untuk ke depannya, sehingga dia perlu mengetahui tentang orang yang ditolongnya.


Sesampainya di Pondok Pesantren Al-Mukmin, Rhea turun dari mobil setelah Ustadz Fariz membukakan pintu mobil untuknya.


"Turunlah," ucap Rhea lembut dengan senyumnya yang mengembang membukakan pintu mobil untuk gadis yang telah ditolongnya.


"Terima kasih," ucap gadis itu sambil melihat-lihat sekelilingnya.


"Pondok Pesantren?" celetuk Yasmin ketika melihat tulisan Pondok Pesantren Al-Mukmin terpampang dengan besarnya di bangunan yang tidak jauh dari tempatnya berada.


"Iya, kami tinggal di sini. Oh iya, nama kamu siapa?" ucap Rhea sambil memegang lengan gadis tersebut agar ikut berjalan masuk ke dalam rumah bersamanya.


"Zahra," jawab Yasmin.


Seketika Rhea merasa kaget dan dia tidak bisa menjaga keseimbangannya. Untungnya Ustadz Fariz ada di sampingnya dan merangkul pundak istrinya itu sehingga pada saat Rhea kaget dan tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, Ustadz Fariz menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


"Bi...," ucap Rhea lirih dengan suara yang bergetar menatap suaminya.


"Belum tentu Bun, kita berdoa saja semoga kita segera dipertemukan dengannya," ucap Ustadz Fariz sambil memapah istrinya masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Yasmin merasa heran dan bingung dengan apa yang mereka bicarakan, dan dia hanya menurut saja mengikuti Ustadz Fariz dan Rhea masuk ke dalam rumah.


Ceklek!


Suara pintu terbuka dan menampakkan sosok Izam di sana.

__ADS_1


"Abi... Bunda...," ucap Izam sambil mencium punggung tangan mereka kedua orang tuanya.


"Dia siapa Bi?"


__ADS_2