Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 98 Radar wanita


__ADS_3

"Ustadzah, kok Kyai Fariz jarang berkumpul dengan kita ya sekarang? Biasanya selalu mengadakan evaluasi satu minggu sekali," tiba-tiba Ustadzah Indri datang menghampiri Ustadzah Anisa dan Ustadzah Farida yang sedang berdiskusi tentang santri mereka.


Ustadzah Indri merasa aneh karena akhir-akhir ini tidak pernah bertemu dengan Ustadz Fariz. Dia merasa usahanya untuk lebih dekat dengan Ustadz Fariz jadi melambat.


"Enggak ngerti juga sih Ustadzah, Kyai Fariz sekarang hanya berada di ruangan kantornya saja setelah beliau mengajar. Memangnya ada apa Ustadzah Indri mencari Kyai Fariz?" Ustadzah Anisa menjawab pertanyaan Ustadzah Indri dengan heran.


"Ya aneh aja Ustadzah kok gak pernah lihat aja, gak seperti yang biasanya. Kenapa ya?" Ustadzah Indri kembali bertanya karena penasaran.


"Mungkin lagi sibuk kali. Udah kita urus pekerjaan kita aja, gak usah ngurusin yang lain," Ustadzah Anisa kembali menjawab pertanyaan Ustadzah Indri.


"Eh tapi Ustadzah, Ustadz Jaki juga jadi jarang ke ruangan pengajar. Kenapa ya?" kini Ustadzah Farida juga ikut bertanya tentang Ustadz Jaki.


"Ya mungkin lagi sama-sama sibuk kali, mereka kan keluarga," Ustadzah Anisa menjawab dengan malas.


"Apa ada masalah sama keluarga mereka?" Ustadzah Indri kembali bertanya.


"Astaghfirullahaladzim... Ustadzah jangan doain yang jelek-jelek ih," Ustadzah Anisa mengalihkan kegiatan menulisnya, kini dia melihat ke arah Ustadzah Indri.


"Kan cuma nanya aja Ustadzah....," Ustadzah Indri membela dirinya.


"Ya mungkin lagi seneng-senengnya pulang ke rumah, kan istrinya sedang hamil, jadi kali aja pengen cepet-cepet pulang," Ustadzah Anisa kembali menjawab dengan malas.


Jam pelajaran sudah berakhir beberapa menit yang lalu, namun Ustadz Fariz masih berada di dalam kelas karena masih ada yang harus dia jelaskan. Setelah sekitar dua puluh menit, Ustadz Fariz keluar dari kelas tersebut dan berjalan menuju ruangannya.


"Eh itu Kyai Fariz, sebentar ya aku ada perlu dulu sama beliau," Ustadzah Indri meninggalkan Ustadzah Anisa dan Ustadzah Farida tanpa menunggu jawaban dari mereka.


"Ustadzah, lebih baik jangan lebih dari itu," seru Ustadzah Anisa memperingatkan Ustadzah Indri seraya kepergiannya dengan berlari kecil, entah di dengar atau tidak oleh Ustadzah Indri.


"Sepertinya dia sudah nekat Ustadzah," ucap Ustadzah Farida yang masih memandang kepergian Ustadzah Indri menuju Ustadz Fariz yang sedang berjalan di lorong kelas menuju ruangannya.


"Aku sudah memperingatkannya, tapi dia seolah menutup telinganya," Ustadzah Anisa seperti menyerah mengingatkan Ustadzah Indri.


"Apa perlu kita ceritakan tentang Bu Mirna pada Ustadzah Indri?" Ustadzah Farida memberikan pendapatnya.


"Untuk apa? Kita juga belum tentu benar ketika menyampaikannya, kan kita tidak tau yang sebenarnya. Takut malah jadi fitnah," Ustadzah Anisa menolak.


Ustadzah Farida mengangguk-anggukkan kepalanya sambil melihat Ustadzah Indri yang sedang mendekati Ustadz Fariz.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Kyai...," Ustadzah Indri menyapa Ustadz Fariz dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Wa'alaikumussalam... Ada apa Ustadzah kok sampai lari-lari gitu? Apa ada masalah dengan santri?" ucap Ustadz Fariz yang kini sudah berhenti berjalan.


"Itu Kyai...emm...," ucap Ustadzah Indri dengan memberikan senyum manisnya, dia bingung memulai dari mana pembicaraannya.


Waduh gawat ini, kenapa dia jadi nekat lagi menghentikan jalanku seperti waktu itu? Bagaimana kalau Zahra melihat? Ustadz Fariz berkata resah dalam hatinya.


"Bolehkah saya-"


"Bie... udah selesai ngajarnya?" Rhea berjalan cepat menuju tempat Ustadz Fariz dan Ustadzah Indri yang sedang mengobrol saat ini.


Ustadz Fariz dan Ustadzah Indri menoleh ke arah sumber suara. Mereka melihat Rhea sedang berjalan cepat ke arah mereka berada.


Astaghfirullahaladzim... benar-benar terjadi. Bagaimana ini jika Zahra salah paham lagi? Ustadz Fariz mengeluh dalam hatinya.


"Udah Sayang, sini...," ucap Ustadz Fariz dengan memperlihatkan senyum manisnya dan melambaikan tangannya ke arah istrinya.


Huuufffttt... gagal lagi deh. Apa aku harus ngomong langsung aja ya ke istrinya supaya dia mengijinkan suaminya menikah lagi? Ustadzah Indri membatin sambil tersenyum ketika Rhea tersenyum padanya.


"Ustadzah maaf, kita mau permisi dulu. Jika ada hal yang ditanyakan atau hal yang penting silahkan berbicara langsung pada Ustadz Jaki saja. Assalamu'alaikum...," Ustadz Fariz melingkarkan tangannya ke pinggang Rhea dan mengajaknya untuk berjalan.


"Wa'alaikumussalam...," Ustadzah Indri menjawabnya lirih dan dengan nada lemas.


Dilihatnya punggung Ustadz Fariz dan Rhea yang berjalan menjauhinya dengan tertawa dan bercanda seiring mereka berjalan.


Ustadzah Indri berjalan gontai di lorong menuju tempat Ustadzah Anisa dan Ustadzah Farida berada.


"Bagaimana Ustadzah? Apa sudah mengerti jika hubungan mereka berdua sulit untuk dimasuki? Mereka berdua sangat kelihatan sekali saling mencintai. Jadi menurutku Ustadzah Indri menyerah saja. Masih banyak lelaki lain yang mungkin saja diantara mereka itu jodoh Ustadzah Indri," Ustadzah Anisa mencoba kembali menyadarkan Ustadzah Indri.


"Mereka berdua itu pasangan yang jika kita hanya dengan melihatnya saja, pasti kita langsung tau jika mereka sangat saling mencintai dan tentunya sangat romantis," Ustadzah Farida menyetujui ucapan Ustadzah Anisa.


"Tau dari mana Ustadzah Farida jika mereka sangat saling mencintai dan sangat romantis?" Ustadzah Indri tidak terima begitu saja pernyataan dari Ustadzah Farida.


"Pernah saya dengar waktu Ustadz Jaki meledek Kyai Fariz dihadapan Ustadz Bani ketika mereka sedang bercanda. Ustadz Jaki mengatakan bahwa Kyai Fariz cintanya sudah mentok sama istrinya, bahkan Ustadz Jaki sering dibuat iri dengan kemesraan mereka berdua," Ustadzah Farida mengatakan apa yang dia dengar.


Ustadzah Indri diam mendengarkan Ustadzah Farida yang berbicara, sepertinya dia sedang berpikir.

__ADS_1


"Tapi itu kan masih katanya, kita kan belum tau sendiri itu benar atau tidak," Ustadzah Indri kembali menampik pernyataan Ustadzah Farida.


"Ya sudah, cari tau aja sendiri kalau gitu. Ayo Ustadzah kita makan dulu, sebelum jam istirahat keburu habis," ucap Ustadzah Farida kesal pada Ustadzah Indri dan menarik tangan Ustadzah Anisa untuk pergi dari tempat tersebut meninggalkan Ustadzah Indri sendiri.


Di dalam ruangan Ustadz Fariz, Rhea duduk di sofa menunggu suaminya yang sedang membuat rancangan soal untuk ulangan harian murid-muridnya.


"Bie, tadi Ustadzah Indri bicara apa?" Rhea ragu untuk bertanya.


Ustadz Fariz menghentikan pekerjaannya dan dia berjalan menuju sofa untuk duduk di dekat istrinya. Diambilnya kedua tangan Rhea dan digenggamnya, kemudian dia tersenyum pada istrinya.


"Kamu gak curiga kan? Aku kira tadi kamu diam aja gak bahas soal Ustadzah Indri karena kamu baik-baik saja, ternyata kepikiran ya?" Ustadz Fariz menatap intens manik mata Rhea agar istrinya itu percaya padanya.


Rhea pun mangangguk dan berkata, " Kan aku udah bilang kalau aku pasti kepikiran meskipun aku percaya 100% sama Hubby."


"Sayang... mulai sekarang kamu jangan kepikiran hal apapun. Jika ada hal yang ingin ditanyakan, langsung tanyakan saja ya, apapun itu. Aku gak mau kamu kepikiran dan ini, dedek bayinya nanti jadi ikutan sedih loh," Ustadz Fariz berkata sangat lembut agar istrinya merasa nyaman dan tidak kepikiran hal apapun sambil memegang perut Rhea yang sudah mulai tampak membesar, namun tidak terlalu terlihat karena Rhea memakai gamis yang terlihat kebesaran di tubuh kecilnya.


Rhea mengangguk dan meletakkan kepalanya pada pundak suaminya untuk mencari kenyamanan.


"Tadi itu tiba-tiba aja Ustadzah Indri menghentikanku ketika berjalan di lorong keluar dari kelas selepas aku mengajar. Tapi dia belum mengatakan apapun karena sewaktu dia akan berbicara, kamu datang menghentikan dia yang akan berbicara. Entah apa yang akan dia bicarakan," Ustadz Fariz menjelaskan kejadian tadi agar Rhea tidak berpikiran macam-macam.


"Aku senang Hubby menceritakan semuanya tanpa aku minta untuk bercerita," kini Rhea melingkarkan kedua tangannya pada pinggang suaminya yang duduk di sebelahnya.


"Oh iya Sayang, aku lebih senang jika kamu seperti tadi. Jika Ustadzah Indri mendekatiku, kamu langsung saja datang seperti tadi. Serasa aku yang diselamatkan jadinya," Ustadz Fariz terkekeh sambil mengusap hijab istrinya.


"Itu karena tadi aku tiba-tiba saja ingin bertemu dengan Hubby. Sudah ku bilang kan, firasat seorang wanita itu tajam. Jadi jangan coba-coba untuk macam-macam," ucap Rhea sambil mendongakkan kepalanya melihat wajah suaminya yang juga melihat padanya.


"Gak akan pernah Sayang... gak akan pernah mencoba untuk macam-macam selain dengan istriku yang tercinta ini," ucap Ustadz Fariz yang setelah itu menggesek-gesekkan hidungnya pada hidung Rhea yang ada tepat di depan wajahnya.


"Astaghfirullahaladzim... jam segini mataku udah ternodai. Ingatlah wahai saudaraku, saudaramu ini masih dibawah umur," ucap Ustadz Jaki yang kaget ketika masuk ke dalam ruangan Ustadz Fariz dan mendapati sepasang suami istri itu sedang bermesraan.


"Ck, ganggu aja Ustadz ini kerjaannya. Masuk ruangan itu salam dulu Ustadz...," Ustadz Fariz berwajah kesal pada Ustadz Jaki.


"Ya maaf, aku kira seperti biasanya sendirian. Eh malah ada ibu negara di sini. Sedang apa Bu?" Ustadz Jaki melayangkan candaannya pada Rhea ketika duduk di hadapan Ustadz Fariz dan Rhea.


"Tadi tiba-tiba aja aku pengen ketemu suamiku ini, eh ternyata firasatku benar, dia sedang ngobrol sama Ustadzah Indri di lorong," Rhea menjelaskan pada Ustadz Jaki yang terkesan seperti sedang curhat padanya.


"Terus... terus...," ucap Ustadz Jaki yang mulai penasaran.

__ADS_1


"Istriku ini menyelamatkan suaminya dari orang yang dia waspadai," Ustadz Fariz menjawab dengan bahasa konyol ketika bersama mereka berdua.


"Wah hebat.... beli di mana itu radarnya? Shinta kasih radar gitu juga dong supaya dia bisa menyelamatkan calon suaminya ini dari serangan musuh yang mengincarnya," ucap Ustadz Jaki mengikuti logat dan bahasa dari Ustadz Fariz.


__ADS_2