Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 243 Kebingungan Izam


__ADS_3

Izam diberi kesempatan untuk berbicara dengan Adiba dan tentunya dengan ditemani oleh Ammar, kakak dari Adiba.


Mereka berjalan menyusuri taman sambil saling bertanya jawab. Hingga akhirnya langkah mereka membawanya ke danau tempat Salsa dan Yasmin berada.


Sedari tadi Salsa dan Yasmin masih betah duduk di tepi danau itu. Setelah melihat Salsa sudah tenang, Shinta meninggalkan mereka untuk kembali ke rumah Ustadz Fariz.


"Salsa, Yasmin, ternyata kalian ada di sini," ucap Izam yang baru datang ke danau itu bersama dengan Adiba dan Ammar.


Sontak saja Salsa dan Yasmin menoleh ke arah belakangnya. Di sana mereka melihat Izam bersama dengan seorang laki-laki yang tidak kalah tampan dengan Izam dan seorang gadis bercadar yang dijodohkan dengan Izam.


Seketika Salsa menoleh kembali ke arah danau. Dia tidak mau melihat Izam bersama dengan gadis bercadar yang bernama Adiba itu.


"Kak Izam, Kak Izam mau ngapain di sini?" tanya Yasmin yang masih dalam posisi duduk menoleh ke arah belakang.


"Kita jalan-jalan sambil ngobrol aja. Oh iya, Salsa kamu gak kenapa-kenapa kan? Tadi kenapa kamu lari seperti itu?" ucap Izam sambil mendekati Salsa dan berjongkok di sebelah Salsa serta menengadahkan wajahnya pada Salsa untuk melihat wajah Salsa.


Salsa masih memandang lurus ke depan danau, dia tidak mau memandang Izam. Bahkan hanya dekat dengan dirinya saja membuat hati Salsa seperti teriris.


"Salsa, lihat Kakak," ucap Izam sambil memegang atas kepala Salsa yang berbalut hijab dan ditengokkan ke arahnya agar Salsa melihat wajahnya.


"Apaan sih, udah ah aku mau pergi. Ayo Yasmin," ucap Salsa kesal sambil menarik tangan Yasmin agar mau pergi dengannya.


"Tunggu. Kalian harus berkenalan terlebih dahulu," tukas Izam menghentikan langkah kaki Salsa dan Yasmin.


Langkah kaki Salsa dan Yasmin terhenti. Dengan rasa kesal dan malas Salsa mengikuti permintaan Izam. Dari dulu dia tidak bisa mengacuhkan perintah Izam. Apa yang Izam perintahkan pasti akan dilakukannya, tidak pernah sekalipun dia membantahnya.


Yasmin menarik tangan Salsa mendekati Adiba bermaksud untuk mengajaknya berkenalan.


"Yasmin," ucap Yasmin sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Adiba.


Adiba pun menjabat tangan Yasmin dan menyebutkan namanya,


"Adiba."


Yasmin menyenggol lengan Salsa agar dia mau mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Adiba.


Salsa pun mengulurkan tangannya dan menyebutkan namanya tanpa memperlihatkan senyuman manisnya seperti biasanya.


"Salsa," ucapnya.

__ADS_1


"Adiba," ucap Adiba sambil menjabat tangan Salsa.


Segera Salsa lepaskan jabatan tangan mereka setelah Adiba menyebutkan namanya.


Salsa menarik tangan Yasmin, namun Izam kembali menghentikannya.


"Itu Ammar, kakak dari Adiba," ucap Izam berniat memperkenalkan Ammar dengan Salsa dan Yasmin.


Langkah kaki Yasmin dan Salsa kembali terhenti oleh Izam. Mereka berdua menangkupkan kedua tangan mereka di depan dada sambil menyebutkan nama mereka.


"Salsa," ucap Salsa dengan nada datar dan tanpa ekspresi.


"Yasmin," ucap Yamin dengan menampilkan senyum manisnya.


"Ammar," ucap Ammar dengan tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipinya.


"Udah kan? Aku mau pergi dulu sama Yasmin," ucap Salsa dengan sedikit kesal pada Izam.


Kemudian dia pergi dari tempat itu dengan menarik tangan Yasmin agar pergi dengannya.


"Kenapa mereka?" tanya Ammar yang sedari tadi penasaran dengan wajah kesal Salsa setelah acara perjodohan tadi.


Ammar menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari Izam.


"Bisa aja kamu Zam," ucapnya sambil terkekeh.


Adiba pun tersenyum dalam cadarnya. Dia merasa terhibur dengan perkataan Izam yang sama sekali bukan guyonan.


Adiba semakin yakin jika dia mau dijodohkan dengan Izam. Menurutnya selain Izam seorang yang shaleh dan tampan, dia juga menyenangkan.


Namun, dia tidak yakin jika Izam mau menerima perjodohan itu. Karena sedari tadi Adiba tidak pernah melihat ketertarikan dari mata Izam padanya.


Izam menatap kepergian Salsa dan Yasmin dengan perasaan yang tidak biasa. Dia merasakan ada hal yang tidak dia ketahui dari Salsa.


Biasanya Salsa yang periang, ceria dan cenderung cerewet itu kini menjadi pendiam, dingin dan tidak ramah padanya.


Ada apa dengan Salsa ya? tanya Izam dalam hatinya.


Setelah kepergian Salsa dan Yasmin dari tempat itu, Izam sudah tidak berniat untuk melanjutkan mengobrol dengan Adiba. Malah dia ingin sekali mengejar Salsa dan Yasmin untuk bertanya ada apa dengan perubahan sikap Salsa padanya.

__ADS_1


Izam pun mengajak Ammar dan Adiba untuk kembali ke rumahnya. Ternyata mereka sudah ditunggu untuk makan bersama.


Mata Izam tidak berhenti mencari sosok Salsa dan Yasmin. Memang benar mereka berdua tidak ada di sana karena Salsa menolak untuk kembali ke tempat pertemuan dua keluarga besar itu.


Salsa lebih memilih pergi ke kamarnya dan Yasmin tidak mungkin meninggalkan Salsa sendiri di saat dia terpuruk seperti itu.


Yasmin menemani Salsa yang sedang menangis di kamar Yasmin. Dia sungguh iba dan tidak tega melihat Salsa seperti itu. Bahkan Yasmin bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Salsa. Mereka benar-benar sudah sangat dekat, seperti kakak adik dan sahabat.


"Kak Salsa jangan nangis lagi ya. Yasmin ikut sedih kalau Kak Salsa nangis," ucap Yasmin dengan suara bergetar dan matanya yang sudah berkaca-kaca.


Salsa melepaskan bantal yang dia tutupkan ke wajahnya. Dia melihat Yasmin yang benar-benar akan menangis karenanya.


Dipeluknya tubuh Yasmin dan dia kembali menangis di pelukan Yasmin, sama seperti waktu di tepi danau tadi.


"Bunda, Yasmin dan Salsa di mana?" tanya Izam pada Rhea yang sedang menyiapkan makan di meja makan.


"Tadi Yasmin bilang Salsa agak gak enak badan, mangkanya dia ditemani Yasmin di kamarnya," jawab Rhea sambil menata makanan di meja makan.


"Izam menemui mereka dulu ya Bun," ucap Izam sambil berjalan cepat.


"Izam, kamu gak ikut makan?" tanya Rhea sedikit berseru.


"Nanti aja Bun," jawab Izam sambil berjalan menuju kamar Yasmin.


Ceklek!


Pintu kamar Yasmin dibuka oleh Izam. Dan dia kaget melihat Salsa menangis di pelukan Yasmin.


"Salsa, kamu kenapa?" tanya Izam sambil berjalan cepat mendekat ke arah Salsa dan Yasmin berada.


Salsa segera menghapus air matanya yang seperti aliran sungai itu. Dia tidak mau terlihat lemah karena perasaannya pada Izam.


"Gapapa," jawab Salsa ketus.


"Salsa, kamu kenapa sih? Aku ada salah sama kamu?" tanya Izam yang kini sudah duduk di depan Salsa dan menatapnya dengan intens.


"Gak perlu tau," jawab Salsa ketus.


"Aku salah apa sama kamu?" tanya Izam kembali pada Salsa dengan lebih mendekatkan wajahnya di depan wajah Salsa dan menatapnya lebih intens lagi.

__ADS_1


"Dasar gak peka!" ucap Salsa sambil beranjak dari ranjang dan berjalan keluar kamar Yasmin.


__ADS_2