Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 199 Pembawa Bencana


__ADS_3

Beberapa hari setelah itu kehidupan mereka masih berlanjut seperti biasanya. Mirna yang selalu merasa cemburu dan tidak aman ketika Anita berada di sekitarnya dan Pandu, juga masih tersimpan rasa kesal pada Rhea dan Ustadz Fariz. Bahkan kadang ada rasa ingin membalas Rhea dan Ustadz Fariz jika bertemu dengan mereka.


Hana memang bersekolah di tempat yang sama dengan Izam dan Salsa, namun Hana yang selalu mendekati mereka dan meniru apa yang sedang mereka kerjakan membuat Salsa tidak menyukainya.


"Kenapa sih kamu selalu mengikuti kita?" tanya Salsa dengan ketus pada Hana.


"Aku gak mengikuti kamu, aku mengikuti Izam," jawab Hana yang tersenyum pada Izam ketika Izam menoleh padanya karena mendengar namanya disebut.


Izam tidak mempedulikan Hana, dan dia lebih memilih untuk meneruskan langkahnya. Sedangkan Salsa menatap Hana dengan tatapan kesalnya.


"Gak usah senyum-senyum gitu ke Izam. Gak cantik juga. Jelek tau gak?"


Salsa mengeluarkan kekesalannya melalui kata-katanya, setelah itu dia berjalan cepat mengikuti Izam meninggalkan Hana yang merasa kesal mendengar ucapan Salsa padanya.


Hana memandang punggung Izam dan Salsa yang berjalan menjauhinya, kemudian dia berkata seorang diri,


"Sebenarnya aku salah apa sih? Aku kan hanya ingin dekat sama kalian. Dan aku ingin dekat dengan Izam. Soalnya dia baik, gak seperti yang lainnya suka mengejek aku."


Perut Rhea sudah membesar, dia hanya menunggu waktu kelahirannya saja. Ustadz Fariz melarang Rhea untuk pergi keluar rumah meskipun hanya untuk mengantar dan menjemput Izam serta Salsa dari sekolahnya.


Jika kemana-mana Rhea harus menunggu Ustadz Fariz untuk mengantarkannya. Dan itu sudah tidak bisa dibantah lagi oleh Rhea.


Siang ini Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki sedang ada kegiatan di Pondok Pesantren Al-Mukmin, sehingga mereka tidak bisa menjemput Izam dan Salsa di sekolah.


"Pak Ratmo, saya minta tolong untuk menjemput Izam dan Salsa di sekolah ya," ucap Ustadz Fariz pada Pak Ratmo.


"Jam berapa Ustadz?" tanya Pak Ratmo pada Ustadz Fariz.


Ustadz Fariz melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, kemudian dia berkata,


"Lebih baik Bapak berangkat sekarang saja supaya tidak telat nanti sampai di sana."


"Ya sudah Ustadz saya berangkat sekarang. Assalamu'alaikum...," ucap Pak Ratmo berpamitan pada Ustadz Fariz.


"Wa'alaikumussalam...," Ustadz Fariz menjawab salam dari Pak Ratmo.


Ketika Pak Ratmo mengambil kunci mobil di rumah, Umi Sarifah bertanya padanya,


"Mau ke mana Pak?"


"Mau menjemput Izam dan Salsa, Umi. Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki sedang ada kegiatan yang tidak bisa ditinggal di Pondok, jadi saya diutus oleh Ustadz Fariz untuk menjemput mereka sekarang," jawab Pak Ratmo.


"Tunggu sebentar Pak. Saya ingin ikut menjemput cucu-cucu saya," ucap Umi Sarifah sambil bergegas ke kamarnya.


Pak Ratmo menunggu Umi Sarifah di depan rumah setelah mengeluarkan mobil dari garasi di rumah Umi Sarifah.

__ADS_1


"Ayo Pak kita berangkat," ucap Umi Sarifah setelah masuk ke dalam mobil.


Mobil yang dikemudikan oleh Pak Ratmo diparkir di depan sekolahan. Umi Sarifah masuk ke dalam sekolah untuk menjemput Izam dan Salsa.


"Umi......!"


"Umi.....!"


Izam dam Salsa berteriak memanggil Umi Sarifah ketika melihat Umi Sarifah yang baru masuk dari gerbang sekolah.


"Jangan lari-lari! Awas jatuh!"


Umi Sarifah berseru ketika melihat Izam dan Salsa berlari menuju ke arahnya.


Hana memandang Izam dan Salsa yang memeluk Umi Sarifah dan mereka berdua yang sedang diciumi pipinya oleh Umi Sarifah.


"Seandainya aku punya nenek seperti mereka, pasti aku akan senang," ucap Hana lirih.


Hana berjalan melewati Izam dam Salsa yang masih bercerita banyak pada Umi Sarifah. Mereka terlihat sangat bahagia dan hal itu membuat Hana menjadi iri.


Langkah kaki Hana sangat berat, dia merasa jika hatinya selalu sedih melihat kebahagiaan Izam dan Salsa.


Tanpa sadar dia sudah berjalan keluar dari gerbang sambil melamun.


"Hana!!!"


Hana pun menoleh dan dia baru sadar jika ada mobil yang dengan kecepatan penuh berjalan ke arahnya.


Dengan segera Umi Sarifah yang berada tidak jauh di belakang Hana berlari untuk menyelamatkan Hana.


"Umi...!!!"


"Umi....!!!"


Izam dan Salsa berteriak memanggil Umi Sarifah yang berlari untuk menolong Hana.


Dengan secepat kilat Izam berlari untuk melindungi Umi Sarifah.


Brakkk!!!


Tubuh Umi Sarifah dan Izam tergeletak karena tertabrak mobil dengan kecepatan tinggi.


Sedangkan Hana tubuhnya berada jauh dari Umi Sarifah dan Izam karena Umi Sarifah mendorong tubuh Hana untuk menolongnya. Dan Izam melindungi Umi Sarifah dengan cara memeluknya.


Naasnya Umi Sarifah dan Izam tidak sempat menghindar dari mobil tersebut, sehingga kini tubuh Izam tergeletak dengan memeluk Umi Sarifah di jalanan bersimbah dengan cairan merah yang keluar dari kepala dan beberapa anggota tubuhnya.

__ADS_1


"I-zam," ucap Umi Sarifah lirih terbata-bata melihat cucunya menyelamatkannya.


"Umi.... Kak Izam...!!!"


Salsa berteriak berurai air mata melihat Umi Sarifah dan Izam tergeletak tidak berdaya di depannya.


Pak Ratmo yang panik segera meminta bantuan orang-orang yang mengerubungi mereka dan ada sebagian orang yang menahan sopir mobil tersebut.


Sedangkan Hana, tubuhnya bergetar ketakutan melihat tubuh Umi Sarifah dan Izam tergeletak tidak berdaya hanya karena menolongnya.


Mereka membawa Umi Sarifah dan Izam ke rumah sakit terdekat dengan mengunakan mobil yang dikendarai Pak Ratmo.


Sesampainya di rumah sakit, Pak Ratmo segera menghubungi Ustadz Fariz setelah memastikan Umi Sarifah dan Izam ditangani di ruang UGD rumah sakit tersebut.


"Salsa!"


Shinta berseru memanggil nama anaknya setelah mendapat kabar dari Ustadz Jaki jika Umi Sarifah dan Izam sedang berada di UGD tempat Shinta bekerja.


"Manda!"


Salsa berlari ke arah Shinta yang juga berlari ke arahnya.


"Kenapa? Ada apa? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Shinta yang cemas melihat tubuh Salsa bergetar ketakutan.


"Umi... Kak Izam.... mereka....," Salsa tidak bisa meneruskan perkataannya karena kini dia sudah menangis tersedu-sedu di pelukan Shinta.


Hana terbayang bagaimana dengan cepatnya mobil itu menghantam tubuh Umi Sarifah dan Izam di depan matanya.


Bayangan itu membuat Salsa menangis lebih keras. Dia tidak bisa bercerita apa-apa pada Shinta yang kini sedang menenangkannya dalam pelukannya.


Ustadz Fariz, Ustadz Jaki dan Rhea bergegas menuju ke UGD.


"Shinta, di mana Umi dan Izam berada?"


Ustadz Jaki bertanya pada Shinta dengan nafas yang tersengal-sengal karena berlari menuju UGD. Sedangkan Ustadz Fariz masih berada jauh di belakang Ustadz Jaki karena berjalan cepat dengan menggandeng Rhea yang sedang hamil besar.


"Mereka masih ada di dalam. Ayo kita ke sana," jawab Shinta sambil menggendong Salsa yang masih menangis di pelukan Shinta.


Di luar pintu UGD terdapat Pak Ratmo dan juga Hana yang mendapat luka kecil karena di dorong oleh Umi Sarifah menjauh dari tempatnya berada sehingga Umi Sarifah menggantikannya dan Izam melindungi Umi Sarifah.


Tidak lama kemudian Ustadz Fariz dan Rhea pun segera masuk untuk melihat Umi Sarifah dan Izam. Namun mereka semua tidak diperbolehkan mendekat karena petugas medis masih berusaha menyelamatkan Umi Sarifah dan Izam.


Ustadz Fariz, Rhea, Ustadz Jaki, Shinta dan Hana berjalan lemah keluar dari ruang UGD


Salsa menatap bengis Hana ketika berpapasan dengan Hana dan Pak Ratmo di depan pintu UGD.

__ADS_1


"Dasar pembawa bencana!"


__ADS_2