
"Mmm... oh iya Bapak harus liat ini deh," Anita memperlihatkan ponselnya yang menampilkan video yang sedang dimainkan.
"Apa itu?" tanya Pak Ratmo.
"Bapak nepi dulu aja Pak kalau mau lihat, tapi kalau mau lihat nanti ya gapapa Pak, nanti aja lihatnya," ucap Anita.
"Sebentar, Bapak nepi dulu ya di sana sekalian isi bensin dulu," ucap Pak Ratmo sambil mengarahkan mobilnya ke arah pom bensin.
Setelah mengisi bensin, Pak Ratmo menepikan mobilnya di rest area yang ada di pom bensin tersebut.
"Mana coba Bapak lihat," Pak Ratmo mengulurkan tangannya meminta ponsel Anita.
"Astaghfirullahaladzim.... ini beneran?" Pak Ratmo tidak percaya dengan apa yang dilihatnya pada video yang diputar di ponsel Anita.
"Ya iyalah Pak, masa' Anita sama Mbak Mirna syuting sinetron," ucap Anita tidak terima.
Pak Ratmo menggelengkan kepalanya mendengar jawaban anaknya.
"Kapan ini?" tanya Pak Ratmo yang masih melihat video tersebut.
"Itu pas hari pertama kita belanja Pak, tapi tiap hari Mbak Mirna jadi ditungguin ibu-ibu untuk ditanya-tanya lagi sama mereka," jawab Anita sambil menerima ponselnya yang dikembalikan oleh Pak Ratmo padanya.
"Tolong kirimkan video itu ke Bapak ya," ucap Pak Ratmo seraya mengambil ponselnya dari saku celananya.
Anita mengangguk sambil mengirimkan video tadi pada nomer Bapaknya.
"Udah Pak," ucap Anita setelah berhasil mengirimkan video tersebut.
Pak Ratmo melihat video yang dikirimkan oleh Anita tadi, setelah itu dikirimkannya pada nomer Ustad Fariz dan Ustad Jaki. Pak Ratmo merasa banyak berhutang pada mereka dan banyak sekali merepotkan mereka, terutama karena Mirna dia merasa sangat malu pada keluarga besar Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Kemudian Pak Ratmo menyalakan kembali mobilnya menuju Pondok Pesantren tempat adik Anita menimba ilmu.
Di Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ustad Fariz dan Ustad Jaki masih membahas siapa-siapa saja yang kemungkinan mereka minta hadir dalam memberikan pernyataan kebenaran tentang perceraian Ustad Fariz dan Mirna.
Tring!
Bunyi notifikasi ponsel Ustad Fariz dan Ustad Jaki bersamaan. Mereka saling memandang heran karena mendapatkan pesan secara bersamaan,
"Pak Ratmo?" ucap Ustad Fariz dan Ustad Jaki secara bersamaan dan saling memandang heran kembali.
Namun mereka segera membuka pesan tersebut, kemudian secara bersamaan mata mereka beradu pandang dan tersenyum.
Video yang dikirimkan oleh Pak Ratmo itu mereka lihat bersamaan. Video yang dikirimkan oleh Pak Ratmo sama persis tidak ada bedanya, sehingga mereka tersenyum lega telah mempunyai satu bukti tambahan dari perbuatan Mirna.
Sekarang tinggal mereka persiapkan dengan matang acara pertemuan dengan perangkat desa dan perwakilan warga sekitar untuk meluruskan kesalahpahaman tentang berita yang diberikan Mirna sehingga menjadi gosip yang beredar di masyarakat luas.
Keesokan harinya, di Pondok Pesantren Al-Mukmin, Rhea berdiri di balkon kamarnya.
"Bosan juga ya gak ngapa-ngapain. Eh kenapa gak bikin kue lagi aja kan udah beberapa hari ini aku belum bikin video buat channel aku. Mmm... enaknya buat kue apa ya," Rhea berpikir di tengah kebosanannya.
"Oke, aku liat dulu bahan-bahannya," Rhea beralih ke dapur untuk melihat bahan-bahan yang tersedia di dapur.
"Yaaa pada abis, harus beli dulu ya," gumam Rhea.
"Lagi nyari apa sayang?" tiba-tiba Ustad Fariz berada di belakang Rhea.
Rhea kaget dan menoleh ke belakang.
"Eh Bie, tak kirain siapa."
"Lagi nyari apa, kok kayaknya sibuk banget nyarinya sampai gak tau kalau ada orang datang.
"Hehehe... ya maaf. Ini loh lagi nyari bahan buat kue biar gak bosen, sekalian mau di share ke channel YouTube aku," jawab Rhea.
"Ingat gak boleh kecapekan ya. Kalau capek langsung istirahat, gak usah diterusin," tutur Ustad Fariz pada Rhea.
"Tapi Bie, ini bahannya aja gak ada. Boleh ya aku beli di pasar dulu," Rhea meminta ijin pada suaminya.
"Sayang, di pasar itu....," Ustad Fariz nampak berfikir, tidak mungkin dia memberitahu Rhea yang sebenarnya jika gosipnya sudah menyebar di pasar juga.
"Kenapa Bie?" tanya Rhea penasaran.
"Emmm gak, gapapa. Beli disekitar sini aja ya? Atau kalau gak gitu suruh Mbak Atik aja yang belanja. Kamu di rumah aja ya sayang," Ustad Fariz mencoba membujuk Rhea.
__ADS_1
"Enakan beli sendiri Bie, jadi bisa milih sekalian beli apa-apa yang kurang. Kadang itu, kalau dicatat pas di rumah kayak udah cukup gitu, tapi pas di sana liat barangnya malah keinget mau beli ini itu, gitu Bie. Boleh ya... ya...," Rhea mencoba merayu suaminya agar diperbolehkan ke pasar untuk membeli bahan.
"Tapi aku gak bisa ngantar loh, ini sebentar lagi harus ngajar. Suruh Mbak Atik aja ya," Ustad Fariz masih mencoba merayu Rhea agar tidak pergi ke pasar.
"Kenapa sih Bie, janji kok gak bakalan kecapekan," sedangkan Rhea juga mencoba merayu suaminya agar diperbolehkan ke pasar.
Ustad Fariz berpikir sejenak, akhirnya dia mempunyai ide, namun dia sendiri belum yakin ide itu akan berhasil atau tidak.
"Yuk ikut," Ustad Fariz menggandeng tangan istrinya untuk mengikutinya masuk ke dalam kamar.
"Mau kemana Bie," tanya Rhea yang berjalan mengikuti suaminya ke arah kamar.
Ustad Fariz menoleh sambil tersenyum, kemudian meneruskan berjalan menuju kamar mereka.
Sesampainya di dalam kamar, Ustad Fariz mendudukkan Rhea di sofa yang terdapat pada kamar mereka. Ustad Fariz mengambil sesuatu di dalam lemari dan memberikannya pada Rhea.
"Apa ini Bie?" tanya Rhea sembari menerima sesuatu yang dia tidak tahu itu apa, namun berbentuk kain.
"Pakai ini ya nanti kalau ke pasar," Ustad Fariz memperlihatkan barang tersebut.
"Cadar?" ceplos Rhea heran.
"Iya, pakai ya supaya kamu tidak dikenali orang-orang yang menggunjingkan kita," Ustad Fariz memakaikan cadar itu pada istrinya.
"Masya Allah Cantik sekali, istri siapa sih ini?" goda Ustad Fariz pada Rhea.
"Istrinya orang" jawab Rhea.
Ustad Fariz terkekeh mendengar jawaban Rhea, dan dia mencubit hidung Rhea dengan gemas.
"Aww.. ih Bie kebiasaan deh suka nyubit-nyubit hidung sama pipi, sakit tau," ucap Rhea yang bibirnya sudah manyun melihat suaminya malah terkekeh menertawakannya.
"Lagian buat apa Bie aku disuruh pakai cadar? Kan cuma beli bahan kue aja di toko bahan kue di pasar, gak pakai ke stand-stand sayuran dan daging kok," ucap Rhea yang belum terbiasa memakai cadar, dia merasa risih memakainya.
"Gapapa ya, dipakai aja biar lebih aman," pinta Ustad Fariz.
"Baiklah Bie, aku pakai," Rhea menyerah, toh dia memakainya hanya sebentar, dan dia merasa senang jika bisa menyenangkan dan menenangkan hati suaminya.
Ustad Fariz tersenyum senang melihat istrinya menurutinya dan dia bisa agak sedikit lega karena kemungkinan besar orang lain tidak mengenalinya.
"Udah dari dulu, cuma belum sempat aku berikan ke kamu," jawab Ustad Fariz dengan memegang kedua pundak istrinya dan menatapnya dengan intens.
"Dari dulu?" tanya Rhea heran.
Ustad Fariz mengangguk dan berkata, "Coba kamu lihat ini, ada tulisan nama kamu, Zahra."
Rhea tersenyum senang, tangannya memegang bordiran namanya pada cadar yang dipakainya. Ternyata selama ini Ustad Fariz yang menjadi Ustad idolanya itu masih menyimpan kenangan bersamanya.
"Ya udah Bie, aku berangkat dulu ya ke pasar, mau beli bahan kue," Rhea meraih tangan Ustad Fariz dan mencium punggung tangannya, kemudian Ustad Fariz mencium lama kening istrinya itu untuk menyalurkan segenap rasa cintanya.
"Hati-hati ya, aku mau berangkat ngajar dulu. Kalau ada apa-apa langsung kabari ya," Ustad Fariz mengusap lembut kepala istrinya yang berbalut hijab, dan Rhea pun menganggukkan kepalanya.menyetujui perkataan suaminya.
"Mbak Atik, ikut Rhea ke pasar ya diantar sama Pak Ratmo," Rhea mengajak Mbak Atik ketika berada di dapur.
Mbak Atik menatap heran dan bingung, hingga tidak mengedipkan matanya. Rhea akhirnya mengerti bahwa penampilannya lah yang membuat Mbak Atik tidak mengenalinya.
"Ini aku Mbak, Rhea," ucap Rhea sambil menyikap cadarnya memperlihatkan sebagian wajahnya.
"Owalah... Mbak Rhea toh. Pakai cadar jadi pangling Mbak," Mbak Atik nyengir merasa bersalah tidak mengenali Rhea sejak tadi.
"Iya Mbak ini buat ke pasar Mbak, sama suamiku disuruh pakai ini. Mbak Atik ikut ya temani Rhea belanja," ucap Rhea sambil membenarkan letak sling bag nya.
"Tapi Mbak di pasar... anu.. itu Mbak," ucap Mbak Atik ragu.
"Kenapa Mbak? Mbak Atik sakit?" tanya Rhea.
"Bukan Mbak, cuma di pasar nanti takutnya... itu Mbak...," Mbak Atik ragu mengatakannya karena Ustad Jaki kemarin berpesan bahwa Mbak Atik tidak diperbolehkan memberitahu Umi Sarifah dan Rhea.
"Gapapa Mbak, cuma ke toko bahan kue aja kok, cuma sebentar dan aku udah dapat ijin dari suamiku Mbak," Rhea meyakinkan Mbak Atik.
Setelah mempertimbangkannya, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan oleh Mbak Atik jika Ustad Fariz sudah memberi istrinya ijin, dan tugas Mbak Atik hanya menemani dan menjaganya.
Berangkatlah mereka diantar oleh Pak Ratmo menuju pasar, dan Pak Ratmo menunggu mereka di parkiran, sedangkan Mbak Atik dan Rhea berjalan menuju toko bahan kue.
__ADS_1
"Loh Mbak, Mbak yang biasanya sama Umi Sarifah kan?" tanya seorang ibu-ibu pembeli di toko bahan kue yang sedang di datangi Rhea dan Mbak Atik.
Mbak Atik hanya tersenyum, karena merasa dejavu dengan keadaan ini.
"Ayo Mbak buruan, ini udah semua kan?" tanya Mbak Atik pada Rhea dengan buru-buru menuju kasir untuk membayar barang yang mereka bawa.
"Eh Mbak kok buru-buru, ini siapa? Dari Pondok Pesantren Al-Mukmin juga ya? Ustadzah atau calonnya Ustad Jaki, atau mungkin.... calon istri ketiganya Kyai ya?" ibu-ibu pembeli itu memberondong Mbak Atik dengan beberapa pertanyaan dengan nada menyelidik dan terkekeh ketika diakhir kalimat menyebut nama Kyai.
"Maaf Bu, kita buru-buru," Mbak Atik segera meraih tangan Rhea dan mengajaknya untuk segera keluar dari toko tersebut.
"Eh Mbak, gak dikenalin dulu? Dari matanya aja cantik loh Mbaknya ini, pasti kalau cadarnya dibuka tambah cantik deh," ibu-ibu pembeli tadi masih menghalangi kepergian Mbak Atik dan Rhea.
"Ibu dikenalin juga gak bakalan kenal," ucap Mbak Atik kesal sambil menarik kencang tangan Rhea keluar dari toko tersebut.
"Gaya banget sih Mbak cuma kerja di Pondok Pesantren Al-Mukmin aja bangga," teriak ibu-ibu pembeli tadi mengiringi langkah kaki Mbak Atik dan Rhea menjauh dari toko tersebut.
"Mbak Atik, Mbak... Aww...," Rhea mengadu kesakitan tangannya ditarik dengan kencang dan berjalan dengan cepat oleh Mbak Atik.
"Eh.. eh.. ma-maaf Mbak, gak sengaja. Abisnya Mbak Atik kesel banget Mbak sama ibu-ibu yang pada julid itu. Sok pada bener padahal mereka-"
"Udah Mbak gapapa, ayo kita pulang," kini Rhea yang menggandeng Mbak Atik yang tadi sempat berhenti berjalan.
Mbak Atik memberikan barang belanjaannya pada Pak Ratmo, kemudian mereka menuju Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Sesampainya di Pondok Pesantren Al-Mukmin, Rhea segera membuka cadarnya karena tidak terbiasa, setelah itu dia mengeluarkan barang belanjaannya tadi dibantu oleh Mbak Atik.
"Loh gula halusnya mana?" Rhea mengeluarkan seluruh barang belanjaannya dari kantong belanjanya.
"Gak ada ya Mbak?" tanya Mbak Atik mendekati Rhea.
"Iya Mbak, sepertinya kita kelupaan gara-gara terburu-buru tadi," jawab Rhea.
"Ya sudah saya belikan di toko depan aja ya Mbak, kalau di mini market pakai nyebrang jalan soalnya," Mbak Atik meminta persetujuan Rhea.
"Iya gapapa Mbak, ini uangnya Mbak. Maaf ya Mbak jadi ngerepotin," Rhea memberikan selembar uang lima puluh ribuan pada Mbak Atik.
"Ih apaan sih Mbak, ini kan udah kerjaan saya Mbak," jawab Mbak Atik kemudian dia melangkah pergi.
Rhea kembali mempersiapkan bahannya. Dan sialnya lagi margarin nya tadi tidak jadi diambil oleh Rhea karena tangan Rhea segera ditarik Mbak Atik menuju kasir sewaktu tadi di toko bahan kue ibu-ibu pembeli tadi bertanya-tanya tentang Rhea.
"Yaelah, gak diambil kan tadi margarin nya. Gimana ini, mana Mbak Atik udah berangkat lagi. Aku susulin aja kali ya," gumam Rhea sambil menyambar dompetnya dari dalam tasnya.
"Mbak Atik sekalian margarin nya ya, tadi lupa," ucap Rhea ketika sudah berada di belakang Mbak Atik.
"Loh Mbak, kenapa nyusul ke sini?" tanya Mbak Atik lirih sambil melihat ke arah ibu-ibu yang ada di depan toko sedang memperhatikan mereka.
"Margarin nya kelupaan tadi Mbak," jawab Rhea sambil tersenyum, dia lupa tadi tidak memakai cadarnya pada saat akan keluar menyusul Mbak Atik.
"Cadarnya Mbak Rhea mana?" Mbak Atik kembali berbisik.
Rhea meraba wajahnya dan dia kaget karena tidak memakai cadarnya.
"Astaghfirullahaladzim, aku lupa Mbak, sepertinya karena belum terbiasa," jawab Rhea menyesal.
"Ya udah sekarang kita cepat pulang ya Mbak," ucap Mbak Atik.
"Bu jadi berapa gula halus sama margarin nya?" tanya Mbak Atik pada ibu pemilik toko tersebut.
"Ini Mbak dua puluh tiga ribu," jawab ibu penjual tersebut sambil mengantongi belanjaan Mbak Atik.
"Loh ini istri Kyai ya?" tanya Ibu penjual tersebut ketika menyerahkan kantong belanjaan pada Mbak Atik.
Rhea hanya tersenyum manis. Tangan Rhea kembali ditarik oleh Mbak Atik setelah Mbak Atik memberikan uang pas pada ibu penjual tersebut.
"Eh.. eh.. itu ya yang katanya suka menzalimi Bu Mirna? Kasian ya Bu Mirna jadi janda karena dia," ucap salah satu ibu-ibu yang sedang berkumpul duduk-duduk di depan toko tersebut.
Mbak Atik segera menarik tangan Rhea sehingga perbincangan ibu-ibu yang lainnya hanya seperti angin lewat bagi Mbak Atik dan Rhea.
"Udah Mbak jangan di dengarkan, mereka memang tukang ghibah suka julidin orang," Mbak Atik mencoba menghibur hati Rhea.
Rhea hanya tersenyum getir, jujur saja dia merasa risih dan sedikit sakit hati, namun seperti yang sering diucapkan suaminya padanya jika ikhlas adalah jalan yang terbaik meskipun ilmu ikhlas itu sangat sulit.
"Mbak Atik, bukannya tadi uangnya lima puluh ribu ya? Kok gak nunggu uang kembaliannya Mbak?" Rhea mengalihkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Tadi saya pakai uang pas Mbak, pakai uang saya dulu, kelamaan nanti kalau nungguin kembalian, pasti nanti ditanya-tanya lagi," jawab Mbak Atik kesal.
"Ya udah itu uangnya buat Mbak Atik aja, gak usah dikembaliin kembaliannya."