Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 184 Apa kamu menyetujui pernikahan ini?


__ADS_3

"Eh bukan, kami bukan suami istri!" Mirna berseru pada semua orang.


Mirna segera menarik tangan Pandu yang sedang menggendong baby Emir ke dalam rumah dan dengan cepat dia menutup pintunya agar tidak mendengar kembali ocehan-ocehan dari orang-orang yang ada di depan rumah mereka.


"Lagian Mas Pandu ini ngapain sih bawa-bawa Emir keluar dari rumah? Dan ngapain juga pakai jaket sama topi kayak gini? Kan jadi aku gak tau kalau itu kamu. Aku kira kamu penculik yang mau menculik Emir," Mirna memberondong Pandu dengan beberapa pertanyaan dan tidak lupa mengomel padanya.


"Saya membawa Emir keluar untuk mencarimu. Dan saya pakai jaket dan topi ini karena panas di luar sana. Apa ada larangan untuk saya agar tidak memakai jaket dan topi?" Pandu merespon dengan sedikit kesal ucapan Mirna.


"Bukan gitu, kan aku gak bisa ngenali kamu tadi. Lagian tadi pagi kan Mas Pandu gak pakai jaket sama topi, terus kenapa sekarang pakai, kan jadi gak ngenali kamu tadi, apalagi aku lihatnya dari belakang," Mirna menjelaskan maksud perkataannya pada Pandu.


"Tadi mau pulang panas banget, kebetulan ada uang cukup buat beli jaket sama topi, ya udah aku beli aja. Lumayan biar bisa punya jaket sama topi," Pandu menjelaskan pada Mirna sambil meletakkan kembali baby Emir ke dalam kasur bayinya.


"Lagian siapa yang mau menculik bayi yang bukan dari keluarga kaya?" Pandu meneruskan pembicaraannya dengan Mirna.


"Eh jangan salah, jaman sekarang itu orang menculik anak atau bayi bukan untuk meminta tebusan. Mereka menjual bayi atau anak itu ada yang untuk diperbudak dan bahkan ada yang untuk diambil organ tubuhnya," jawab Mirna dengan antusias.


"Masa' sih? Serem ya ternyata. Kalau gitu kamu jangan ninggalin Emir seperti tadi sendirian di sini," ucap Pandu kemudian.


"Aku gak ninggalin Emir sendiri, aku cuma ninggalin Emir sebentar aja buatin minumannya dia di belakang. Lagian kenapa Mas Pandu gak ngucap salam sih tadi pas masuk ke dalam rumah? Coba aja kalau kamu tadi ngucap salam, pasti aku tau kalau ada kamu datang," Mirna membela dirinya.


"Tadi aku udah manggil-manggil kamu tapi kamu gak nyahut, mangkanya aku cari kamu di luar rumah sama Emir," jawab Pandu tidak mau kalah dari Mirna.


"Mangkanya ucapin salam kalau mau masuk rumah," ucap Mirna yang masih saja tidak mau mengalah.


"Udahlah. Kamu butuh sesuatu gak? Aku mau berangkat kerja lagi. Sekarang udah hampir selesai jam istirahatku," ucap Pandu sambil berdiri dari duduknya.


"Gak ada. Nanti jemput Anita sama Hana sorean aja biar aku ada yang gantiin jaga Emir," perintah Mirna pada Pandu.


"Ya udah, aku pergi dulu sekarang," pamit Pandu pada Mirna seraya pergi berjalan keluar pintu.


"Salam!" teriak Mirna pada Pandu hingga membuat Emir kaget.

__ADS_1


Namun Pandu mengacuhkan teriakan Mirna dan segera pergi untuk kembali bekerja.


Pak Ratmo yang juga khawatir pada baby Emir dan Mirna yang sendirian di rumah, pada saat waktu luangnya Pak Ratmo pulang ke rumah untuk melihat keadaan baby Emir dan Mirna.


"Pak, Pak Ratmo, apa bapak punya waktu untuk berbicara dengan saya?" seseorang menghentikan Pak Ratmo ketika berjalan menuju rumahnya.


"Maaf Pak RT, ada apa ya? Apa harus sekarang? Soalnya saya sedang terburu-buru," jawab Pak Ratmo.


"Kalau begitu nanti malam saja Pak. Silahkan Bapak meneruskan kegiatan Bapak terlebih dahulu. Dan nanti malam saya tunggu Bapak di rumah saya," jawab pak RT tersebut.


"Insya Allah Pak, nanti malam saya ke rumah Bapak," ucap Pak Ratmo yang kemudian meneruskan langkahnya menuju rumahnya.


"Assalamu'alaikum....," Pak Ratmo mengucap salam sebelum masuk ke dalam rumah.


Tidak ada sahutan dari Mirna dan itu membuat Pak Ratmo menjadi semakin khawatir. Dicarinya Mirna ke seluruh ruangan, namun Mirna dan Emir tidak ada di mana pun. Hingga Pak Ratmo membuka pintu kamar Mirna yang sedikit terbuka.


Dilihatnya Mirna yang sedang tidur bersama baby Emir dengan tangan yang tidak lepas memeluk tubun baby Emir, persis seperti seorang ibu yang tidur bersama bayinya.


Pak Ratmo tersenyum melihat pemandangan yang jarang sekali dia lihat pada Mirna. Dalan hati Pak Ratmo dia bersyukur dengan adanya baby Emir di rumah itu bisa membuat Mirna merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu.


Kemudian Pak Ratmo menutup kembali pintu kamar Mirna dan kembali menuju Pondok Pesantren Al-Mukmin.


Mirna terkesiap seperti mendengar orang yang berbicara di sana, namun dia tidak mendapati siapapun di dalam kamarnya itu. Kemudian dia menoleh pada baby Emir yang masih terlelap dalam tidurnya.


Tidur lagi aja mumpung Emir masih tidur, Mirna berkata dalam hatinya.


Sore harinya Anita pulang daei warung bersama dengan Hana ketika mereka dijemput oleh Pandu.


"Assalamu'alaikum....," Anita dan Hana memberi salam ketika masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumussalam...," jawab Mirna dari dalam kamarnya.

__ADS_1


Kemudian Mirna keluar dari dalam kamarnya sambil menggendong baby Emir yang baru saja digantikan bajunya oleh Mirna setelah dimandikan tadi.


"Emir gimana keadaannya Mbak? Apa dia rewel? Udah gak panas lagi kan Mbak?" Anita memberondong Mirna dengan beberapa pertanyaan.


"Satu-satu nanyanya Nit. Kamu gak sabaran banget jadi orang," Mirna memberikan jawaban yang bukan menjadi jawaban dari semua pertanyaan yang diajukan oleh Anita.


"Hehehe... maaf Mbak. Habisnya dari tadi aku khawatir sama Emir, dan khawatir kalau Mbak Mirna kerepotan," ucap Anita sambil terkekeh.


"Wih... Emir udah ganteng, baru mandi ya sayang?" Anita menyapa Emir dan mencium pipinya.


"Mandi dulu sana Nit, habis itu gantian Mbak yang mandi," ucap Mirna yang masih menggendong baby Emir.


"Mbak Mirna dulu aja deh, aku masih kangen sama Emir, pengen gendong sekarang," Anita menolak perintah Mirna.


"Gak boleh gendong Nit, kamu habis dari luar harus bersih-bersih badan dulu," Mirna melarang dengan tegas ketika Anita akan meminta baby Emir untuk digendong.


"Iya... iya... Eh tapi ini tadi Mbak Mirna sendiri yang mandiin Emir?" tanya Anita pada Mirna sebelum melangkahkan kakinya.


"Ya iyalah, masa' Emir bisa mandi sendiri?" ucap Mirna dengan sewotnya.


"Wah... Mbak Mirna jago ya, baru aku ajari satu kali aja udah langsung bisa sendiri. Hebat nih Mbak Mirna," Anita memuji Mirna hingga membuat Mirna tersenyum bangga pada dirinya sendiri.


Sedangkan Pandu yang sedari tadi berada di situ untuk mengajak Hana dan Emir pulang ke rumahnya menjadi terpaku dan melamun dengan pemikirannya sendiri.


Aku benar-benar seperti memiliki dua istri yang akur. Kalau disuruh milih, bakalan pilih yang mana ya? Anita atau Mirna? Kalau Anita sih memang tidak usah diragukan lagi, dia sama seperti Ani. Kalau Mirna.... Ah, aku masih belum bisa mengetahui perasaannya dan bagaimana sebenarnya dia. Kadang baik, kadang suka marah-marah. Eh aku sedang mikirin apa sih? Kenapa aku jadi mikirin mereka berdua? Harusnya aku mikirin Rhea, gimana caranya supaya dia mau balik lagi sama aku, Pandu berkata dalam hatinya ketika sedang melamun melihat Mirna dan Anita bersama dengan Emir.


"Assalamu'alaikum....," Pak Ratmo memberi salam ketika masuk ke dalam rumah.


Seketika Pak Ratmo mencari Anita dan memintanya untuk berbicara dengannya di dalam kamar.


"Bagaimana Nit, apa kamu menyetujui pernikahan ini? Dan apakah Pandu mau melakukannya?" tanya Pak Ratmo pada Anita.

__ADS_1


Pada saat Pandu melewati kamar Anita untuk mengambil baby Emir, dia mendengar apa yang Pak Ratmo tanyakan pada Anita.


Apa Pak Ratmo akan menikahkan aku dengan Anita? tanya Pandu dalam hatinya.


__ADS_2