Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 73 Rindu yang menyiksa


__ADS_3

Ustad Fariz merasakan rindu yang luar biasa pada istrinya, Rheina Az Zahra, yang kini sedang berada di kota asalnya, tepatnya di rumah kedua orang tuanya.


Kerinduan itu semakin memuncak tatkala Ustad Fariz melakukan panggilan video bersama istrinya. Hanya melihatnya saja mampu membuatnya ingin memeluknya dengan sangat erat sekali. Apalagi sekarang dia merasa lebih merindukan istrinya itu ketika dia mendapatkan gombalan dari istrinya.


Akhirnya Ustad Fariz membuat keputusan untuk datang menemui istrinya itu meskipun hari sudah malam.


Jam di dinding menunjukkan pukul tujuh malam, namun itu tak menyurutkan niatnya untuk datang menemui istrinya meskipun dia harus menempuh jarak yang jauh.


"Umi, Fariz pamit dulu, mungkin besok baru pulang," Ustad Fariz berpamitan pada Umi Sarifah dan mencium punggung tangannya sebelum berangkat.


"Loh... loh.. loh... Le mau kemana malam-malam begini?" Umi Sarifah heran dan bingung ketika Ustad Fariz terburu-buru berpamitan pada Umi Sarifah.


"Mau ke rumah Rhea Umi, Fariz kangen. Assalamu'alaikum...," dengan senyum malunya Ustad Fariz berjalan keluar menuju mobil milik Rhea yang dibawanya pulang setelah mengantar Rhea ke rumah orang tuanya tempo hari.


"Wa'alaikumussalam....," Umi Sarifah tidak menyangka jika Ustad Fariz bisa bertingkah seperti itu, karena selama ini dia tidak pernah bertingkah seceria dan seperti anak ABG yang baru mengenal cinta.


Kali ini Ustad Fariz berangkat sendiri karena dia tidak ingin mengganggu Ustad Jaki. Biarlah Ustad Jaki besok yang mengurus Pondok Pesantren Al-Mukmin selama dirinya belum kembali.


Sesampainya di rumah Rhea, Ustad Fariz ragu akan mengetuk pintu rumah tersebut atau menghubungi orang rumah karena Ustad Fariz takut jika kedatangannya menggangu mereka yang sudah tertidur.


Wajar saja lampu rumah Rhea sudah padam karena sekarang jam menunjukkan pukul setengah dua pagi. Namun Ustad Fariz kaget ketika lampu ruang tamu tiba-tiba menyala.


Ternyata Ayah mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah. Ayah memang belum tidur karena sedang mengurusi banyaknya acara pernikahan yang di kerjakan oleh wedding organizer nya.


Ayah membukakan pintu untuk Ustad Fariz setelah melihat dari jendela Ustad Fariz sedang berdiri di samping mobil Rhea.


"Assalamu'alaikum...," Ustad Fariz mencium punggung tangan Ayah mertuanya.


"Wa'alaikumussalam... kenapa tadi berdiri disitu? Harusnya langsung mengetuk pintu atau menghubungi kita saja biar bisa membukakan pintu," Ayah merangkul pundak Ustad Fariz dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Sudah jam segini Yah, pasti semuanya sudah tidur, jadi saya takut mengganggu tidur semuanya," Ustad Fariz merasa tidak enak pada Ayah Rhea karena kenekatannya datang ke sana tanpa memperhatikan waktu.


"Ayah tau, pasti ada yang lagi kangen ya sampai jam segini dibela-belain datang menempuh jarak yang tidak dekat," Ayah menyempatkan dirinya untuk menggoda Ustad Fariz sebelum dia masuk ke dalam kamarnya.


Ustad Fariz hanya tersenyum malu sambil menggaruk tengkuk kepalanya.


"Sudah, cepat temui istrimu, tadi katanya lagi sakit mala rindu tropi kangen," Ayah terkekeh sambil menutup pintu kamarnya.


Ustad Fariz jadi tambah bersemangat setelah mendengar dari Ayah mertuanya jika Rhea sedang merindukannya.


Ceklek!


Pintu kamar Rhea dibuka oleh Ustad Fariz, memperlihatkan sosok wanita yang dicintainya sedang tidur dengan nyenyak memeluk gulingnya.

__ADS_1


Senyum Ustad Fariz merekah melihat sang istri yang dirindukannya memegang foto pernikahan mereka.


Ustad Fariz membersihkan diri dahulu di kamar mandi yang ada di dalam kamar Rhea, setelah itu dia melaksanakan shalat malam, kemudian dia bergabung dengan istrinya untuk menyusulnya ke dunia mimpinya.


"Hubby? Apa benar ini kamu Bie?" Rhea merasa tidak percaya dengan penglihatannya, dia kira dia masih bermimpi saat ini.


Ustad Fariz merasa ada pergerakan dari tubuh Rhea. Dilihatnya remang-remang Rhea sedang berbalik ke arahnya. Mata Ustad Fariz kembali terpejam karena memang dirinya masih mengantuk saat ini.


Jam masih menunjukkan pukul setengah empat, dan itu menunjukkan bahwa Ustad Fariz baru tertidur sekitar satu jam lebih.


Rhea masih mengira bahwa dia bermimpi karena saking rindunya pada suaminya. Berminggu-minggu mereka tidak bertemu membuat Rhea teramat sangat rindu pada cinta pertamanya sekaligus ustad idolanya itu yang kini telah menjadi suami yang sangat dicintainya.


Jari Rhea menari di setiap lekuk wajah suaminya. Jari tangan Rhea bergerak mengikuti setiap bagian wajah suaminya mulai dari alis hidung, dan bibirnya.


"Tampannya suamiku," ucap Rhea sambil mengecup sekilas bibir Ustad Fariz.


Ustad Fariz yang menahan dirinya sedari tadi akhirnya menyerah, dia tidak tahan jika harus berpura-pura tidur dalam situasi seperti ini. Jujur saja sebagai manusia biasa, tepatnya sebagai pria normal, Ustad Fariz sangat ingin melakukan hal yang lebih di saat dia merindukan istrinya yang sudah berminggu-minggu tidak ditemuinya.


Mata Ustad Fariz terbuka membuat Rhea kaget dan membelalakkan matanya. Rhea sungguh kaget ternyata yang disentuhnya memang benar-benar suaminya.


"Loh kok bisa? Bukannya... bukannya ini hanya mimpi?" Rhea seperti terciduk sedang melakukan hal yang membuatnya merasa malu.


Ustad Fariz tersenyum melihat istrinya yang sedang kebingungan. Diraihnya tubuh istrinya itu dan dipeluknya erat-erat.


"Kangen kamu istriku...," ucap Ustad Fariz dan setelah itu dia mengecup semua bagian wajah istrinya dan terakhir dia mencium lama bibir istrinya sehingga mereka berdua larut akan kerinduan mereka.


Senyum puas dan bahagia mereka merekah ketika kegiatan ranjang mereka telah usai. Kini mereka memejamkan mata mereka sebentar sambil berpelukan erat sebelum adzan subuh berkumandang.


Setelah membersihkan diri dan shalat subuh bersama, Rhea menuju dapur untuk membuatkan Ustad Fariz secangkir kopi yang menjadi favoritnya semenjak menikah dengan Rhea.


"Ehem... yang suaminya datang tadi pagi langsung keramas ya," Ibu menggoda Rhea ketika melihat rambut Rhea yang basah.


"Eh..," reflek Rhea memegang rambutnya yang memang masih basah karena belum sempat mengeringkannya.


"Ibu iih... kan Rhea jadi malu," pipi Rhea bersemu merah mendengar perkataan dari Ibunya.


"Buru-buru banget ya sampai gak sempat ngeringin rambutnya?" ibu menggoda kembali Rhea yang masih tersenyum malu.


"Buru-buru bikinin kopi suami dulu Bu. Rencananya abis bikin kopi sebentar, Rhea ngeringin rambut. Eh lah kok ada Ibu di sini. Biasanya jam segini kan lagi pada di depan," Rhea menjawab pertanyaan Ibunya sambil membuatkan Ustad Fariz kopi.


"Rhea ke atas dulu ya Bu, mau ngeringin rambut dulu, mumpung masih belum ada orang di sini, Rhea lupa gak pakai hijab. Nanti Rhea ke sini lagi bantuin Ibu," Rhea membawa kopi buatannya menuju kamarnya yang berada di lantai atas.


"Gak usah bantuin Ibu. Kamu puas-puasin aja bareng suami kamu mumpung ada di sini, daripada nanti kangen lagi setelah ditinggal pulang," seru ibu mengiringi langkah kaki kepergian Rhea menuju kamarnya.

__ADS_1


"Ini kopinya Bie," Rhea meletakkan kopi buatannya di meja yang ada di balkon kamarnya.


Saat ini Ustad Fariz dan Rhea sedang menikmati suasana pagi di balkon kamar Rhea. Mereka bernostalgia kembali dengan daerah dimana mereka bertemu dan mulai dekat dengan sendirinya.


Karena perasaan itu tidak bisa dikendalikan siapapun tak terkecuali dirinya sendiri. Mereka tidak memilih untuk mencintai dan dicintai. Namun perasaan suka, sayang dan cinta itu datang dengan sendirinya. Mereka juga tidak tahu apakah itu sudah menjadi takdir mereka untuk bersama.


"Itu Masjid Nurul Iman kan Sayang?" Ustad Fariz menunjuk suatu bangunan megah dan bertanya pada Rhea yang kini sudah duduk di sebelahnya.


"Iya Bie benar, kenapa?" tanya Rhea yang membenarkan pertanyaan Ustad Fariz padanya.


"Jadi keinget waktu itu. Seandainya waktu itu aku gak ngisi pengajian di Masjid Nurul Iman, bisakah kita bertemu? Bisakah kita menjadi suami istri seperti sekarang?" Ustad Fariz menerawang jauh melihat bangunan Masjid Nurul Iman, setelah itu dia mengalihkan pandangan pada wajah wanita yang berada di sebelahnya yang sekarang menjadi istrinya.


"Bertemunya dengan cara lain mungkin?" ucap Rhea dengan tersenyum.


"Dengan cara gimana contohnya?" tanya Ustad Fariz kembali pada Rhea.


"Bertemu pada saat ziarah mungkin?" Rhea menjawab dengan menampilkan ekspresi berpikir


Ustad Fariz terkekeh dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Mungkin juga ya kita bertemu untuk pertama kalinya di sana," Ustad Fariz menyetujui perumpamaan Rhea.


"Ngomongin masalah ziarah, jadi ingat pada saat ziarah waktu itu. Sepertinya ada yang sombong gak mau nyapa, seneng banget lagi dikerumuni cewek-cewek," Rhea mengeluarkan unek-uneknya sewaktu dulu yang belum sempat dia sampaikan pada Ustad Fariz.


"Gak usah diinget, udah masa lalu," Ustad Fariz tidak ingin mengingat kebodohannya waktu itu.


"Lah emang iya kan. Ngapain sih waktu itu sombong banget?" Rhea tanya dengan penuh keingintahuannya mengenai perasaan Ustad Fariz saat itu.


"Bukannya sombong, cuma lagi menata hati aja," jawab Ustad Fariz.


"Menata hati? Emang kenapa hatinya?" tanya Rhea heran.


"Hancur berkeping-keping karena seorang gadis," jawab Ustad Fariz kesal.


"Oooh kasihan....," Rhea mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda dia mengerti.


"Untungnya sekarang gadis itu udah jadi wanita cantik yang bisa aku miliki karena wanita itu udah jadi istri aku," Ustad Fariz tersenyum sambil memainkan hidung Rhea yang dia cubit dengan gemasnya hingga Rhea mengadu kesakitan.


"Mau kemana Bie?" tanya Rhea ketika melihat Ustad Fariz beranjak dari duduknya.


"Mau ke dapur dulu buatin kamu susu ibu hamil. Masa' aku minum kopi tapi kamu gak minum susu ibu hamil? Kamu tunggu di sini aja ya, biar aku aja yang turun," ucap Ustad Fariz sebelum pergi menuju dapur untuk membuatkan Rhea susu ibu hamil.


......................

__ADS_1


Di rumah Pak Ratmo, Mirna sedang uring-uringan karena menerima kembali surat panggilan sidang yang berikutnya.


"Kenapa aku selalu dikirimi surat panggilan untuk sidang sih? Aku kan udah bilang gak mau cerai. Pokoknya aku gak mau cerai!"


__ADS_2